Chapter Six
Kelebihan Porsi dari Sekretariat
POV: Renata
Sekretariat OSIS SMA Negeri 4 tidak pernah memiliki kelebihan porsi.
Saya perlu menegaskan ini di awal, karena apa yang akan saya ceritakan berikutnya melibatkan sebuah pernyataan yang, secara teknis, tidak sesuai fakta.
Pada hari kesembilan, saya membawa dua kotak makan ke atas gudang.
Latar belakangnya begini.
Pada hari kedelapan, saya melakukan pengamatan berikut: Saudara Andhika membuka kotak bekalnya pada pukul 09.50, yaitu jam istirahat pertama. Saya tidak melihat ini secara langsung; saya menyimpulkannya dari fakta bahwa ketika saya tiba pukul 12.40, kotak tersebut sudah dalam keadaan kosong, tertutup, dan disimpan di dalam tas.
Ini berarti dalam rentang pukul 09.50 hingga — saya perkirakan, mengingat dia masih berada di atas gudang ketika saya turun — sekurang-kurangnya pukul 14.00, dia tidak mengonsumsi apa pun.
Empat jam sepuluh menit.
Data tambahan: pada hari keenam, ketika berdiri, dia menopang dirinya dengan satu tangan ke tembok selama kira-kira satu detik. Saya mencatatnya waktu itu sebagai perilaku tidak signifikan.
Saya merevisi catatan tersebut pada hari kedelapan.
Maka pada hari kesembilan, saya meminta ibu saya menyiapkan dua kotak.
Ibu saya bertanya untuk siapa. Saya menjawab: untuk keperluan rapat.
Itu juga tidak sesuai fakta. Saya mulai menyadari bahwa jumlah pernyataan tidak sesuai fakta yang saya keluarkan dalam sembilan hari terakhir melebihi jumlah yang saya keluarkan dalam enam tahun sebelumnya.
Wisnu juga bertanya, karena Wisnu melihat saya membawa dua kotak makan ke ruang OSIS pukul 07.10 dan Wisnu memiliki kemampuan luar biasa untuk memperhatikan hal-hal yang tidak perlu dia perhatikan.
“Ketua bawa dua?”
“Ya.”
“Ketua makan dua?”
“Wisnu.”
“Ya, Ketua?”
“Notulen rapat kemarin sudah selesai?”
“Belum, Ketua.”
“Kerjakan.”
Dia pergi. Ini adalah teknik yang telah saya gunakan selama dua tahun sebelas bulan dan yang belum pernah gagal.
Saya mencatat bahwa saya baru saja menggunakan otoritas jabatan untuk menghindari pertanyaan mengenai kotak makan.
“Ini kelebihan porsi dari sekretariat.”
Saya meletakkan kotak itu di lantai semen, kira-kira satu meter dari posisinya, dan mundur.
Dia melihat kotak itu. Lalu melihat saya.
“Sekretariat OSIS masak?”
“Ada konsumsi rapat.”
“Rapat jam berapa?”
“Pagi.”
“Rapat pagi konsumsinya nasi kotak?”
“Ya.”
“Terus sisanya satu?”
Saya berdiri diam selama, saya perkirakan, dua detik.
“Ya.”
Dia mengangguk sekali. Lalu dia mengambil kotak itu, membukanya, dan makan.
Saya menghembuskan napas dan segera menyesalinya karena hembusan napas tersebut terdengar.
“Kamu bohongnya kaku,” katanya, tanpa menoleh.
“Saya tidak berbohong.”
“Oke.”
“Saya menyampaikan informasi yang tidak lengkap.”
“Oke.”
“Anda mengatakan ‘oke’ lagi.”
“Iya.” Dia mengunyah. “Makasih.”
Dan saya tidak tahu harus menjawab apa untuk itu.
Saya perlu mencatat sesuatu di sini mengenai caranya makan.
Dia makan cepat. Bukan rakus — tidak ada suara, tidak ada gerakan berlebih. Cepat dalam pengertian efisien, seperti orang yang terbiasa memiliki jendela waktu yang sempit.
Dan dia menghabiskannya. Seluruhnya. Termasuk potongan wortel yang, dari pengalaman saya mengamati konsumsi rapat selama tiga tahun, adalah komponen pertama yang ditinggalkan oleh sembilan puluh persen manusia.
Ketika selesai, dia menutup kotak itu, mengelapnya dengan tisu dari sakunya, dan mengembalikannya kepada saya dalam keadaan bersih.
“Anda mencucinya?”
“Ngelap doang. Nanti kalau dicuci di sini airnya kotor.”
“Anda tidak perlu melakukan itu.”
“Nanti kamu yang nyuci.”
“Ada yang mencuci di rumah saya.”
Dia berhenti sebentar.
“Oh,” katanya. “Ya udah. Kebiasaan.”
Dan dia memasang earphone-nya, dan saya duduk di sudut barat daya dan berbaring dan menutup mata selama dua belas menit tanpa tidur sedetik pun.
Bukan karena anginnya. Bukan karena lantainya keras.
Karena saya sedang berusaha memahami mengapa kalimat “nanti kamu yang nyuci” membuat saya merasa seperti orang yang baru saja melakukan kesalahan, padahal secara logika saya tidak melakukan kesalahan apa pun.
Saya harus menjelaskan mengenai agenda saya.
Agenda saya adalah buku bersampul kulit sintetis berwarna cokelat tua, dibagi per hari, dengan kolom setiap lima belas menit dari pukul 04.30 hingga 22.00. Saya mulai menggunakannya sejak semester pertama kelas sepuluh. Saya memiliki enam buku yang sudah terisi penuh, disimpan di rak kamar, berurutan.
Setiap blok memiliki keterangan. Setiap keterangan memiliki tujuan. Setiap tujuan dapat saya pertanggungjawabkan apabila ditanya oleh ayah saya, yang memeriksa buku itu — dahulu setiap minggu, sekarang setiap bulan, karena hasilnya selalu memuaskan.
Blok pukul 12.40 saat ini bertuliskan Gudang, dengan kolom keterangan kosong.
Pada hari kesebelas, saya duduk selama sembilan menit memandangi kolom kosong itu, dan mencoba mengisinya.
Istirahat terjadwal. — Tidak akurat. Saya tidak beristirahat; saya berbaring sambil menghitung napas orang lain. Optimasi kognitif. — Ini yang saya tulis di kolom serupa tahun lalu. Tidak lagi berlaku, karena efisiensi kognitif saya pada jam pelajaran kelima justru menurun sejak hari kesembilan. Pengawasan area. — Tidak dapat dipertanggungjawabkan. Koordinasi dengan siswa kelas XI IPA 3. — Secara teknis benar. Namun apabila ayah saya membaca ini, akan ada pertanyaan lanjutan yang tidak dapat saya jawab.
Saya menutup buku itu dengan kolom keterangan tetap kosong.
Ini adalah satu-satunya blok kosong dalam enam buku agenda saya.
Hari kedua belas, saya melakukan sesuatu yang tidak terjadwal.
Saya naik pukul 12.36, empat menit lebih awal.
Alasan resmi: rapat sebelumnya selesai lebih cepat. Alasan sebenarnya: saya ingin mengetahui apa yang dia lakukan di atas sana ketika saya tidak ada.
Yang saya temukan adalah dia sedang membaca.
Bukan buku. Kertas — lembaran lepas, hasil fotokopi, dijepit klip di sudut. Saya mengenali formatnya. Itu bukan materi sekolah kami.
Dia menyimpannya begitu mendengar tangga.
“Anda melangkahi anak tangga kelima,” kata saya.
“Kamu juga.”
“Saya bertanya sesuatu.”
“Belum.”
“Saya akan bertanya sesuatu.”
“Silakan.”
“Apa itu?”
“Soal.”
“Soal apa?”
“Olimpiade. Tahun lalu.”
Saya berdiri di tempat. “Anda ikut olimpiade?”
“Nggak.”
“Lalu mengapa Anda mengerjakan soalnya?”
Dia berpikir sebentar. Saya sudah mulai terbiasa dengan jeda ini dan saya mulai menyadari bahwa jeda ini bukan karena dia lambat. Dia sedang memutuskan berapa banyak yang akan dia berikan.
“Buat ngisi waktu.”
“Anda mengisi waktu dengan soal olimpiade fisika.”
“Iya.”
“Orang lain mengisi waktu dengan ponsel.”
“Iya.”
Saya menunggu kelanjutannya. Tidak ada kelanjutannya.
Saya berjalan ke sudut saya, meletakkan tas, dan sebelum berbaring, saya bertanya satu hal lagi yang tidak saya rencanakan.
“Berapa nomor yang sudah Anda kerjakan?”
“Semua.”
“Berapa yang benar?”
Jeda. Kali ini lebih panjang.
“Nggak tau,” katanya. “Kunci jawabannya nggak ikut kefotokopi.”
Saya perlu mencatat satu kejadian lagi dari hari kedua belas, karena kejadian tersebut mengubah sesuatu yang belum dapat saya rumuskan.
Setelah percakapan mengenai soal olimpiade, terjadi keheningan selama kurang lebih empat menit. Saya belum berbaring; saya masih duduk, karena saya menyadari bahwa berbaring segera setelah percakapan akan memberi kesan bahwa saya menghindari percakapan tersebut.
Dia memasang earphone-nya. Kemudian dia berhenti, dan melepas yang sebelah kiri, dan mengulurkannya ke arah saya.
“Yang kiri buat kamu.”
Saya menatap benda itu.
“Mengapa?”
“Kamu nggak bisa tidur dari tadi.”
“Saya belum mencoba tidur.”
“Kamu udah tiga kali ngeliat jam.”
Saya tidak menyadari bahwa saya melihat jam tiga kali. Saya menyadari bahwa dia menyadarinya.
“Apakah musik meningkatkan probabilitas seseorang tertidur?”
“Nggak tau.”
“Lalu mengapa Anda menawarkannya?”
Dia mengangkat bahu sedikit. “Biar ada yang didengerin selain kepala kamu sendiri.”
Saya mengambil earphone itu.
Saya memasangnya di telinga kiri saya, karena kabelnya pendek dan karena itu satu-satunya konfigurasi yang memungkinkan tanpa mengurangi jarak duduk kami secara signifikan.
Ada lagu yang sedang berputar. Saya tidak mengenalinya. Kualitas rekamannya kurang baik dan ada satu bagian di tengah yang kosong selama dua detik.
Saya berbaring sambil tetap memakainya.
Saya tertidur dalam waktu kurang dari empat menit, yang merupakan rekor.
Saya berbaring. Alarm getar saya nyalakan.
Dan pada hari ketiga belas, sesuatu terjadi yang tidak ada dalam perhitungan saya.
Saya terbangun bukan karena alarm.
Saya terbangun karena ada sesuatu yang menutupi bahu saya.
Jaket. Abu-abu. Bahannya kasar dan baunya seperti kertas — bukan kertas baru, tapi kertas yang sudah lama disimpan, bercampur sesuatu yang tajam seperti tinta.
Saya bangkit terlalu cepat.
Dia sedang duduk di sudutnya, empat meter, menghadap ke depan, memakai seragam lengan pendek.
“Ini jaket Anda.”
“Iya.”
“Mengapa?”
“Anginnya kenceng dari jam setengah satu.”
“Saya tidak meminta.”
“Iya.”
Saya melipat jaket itu. Saya melipatnya dengan sangat rapi — dua lipatan lengan ke dalam, lalu dilipat dua, lalu dilipat dua lagi — karena saya membutuhkan sesuatu untuk dikerjakan tangan saya selama saya menyusun kalimat berikutnya.
Saya tidak berhasil menyusun kalimat berikutnya.
Saya meletakkan jaket itu di lantai, di dekatnya, dan berkata, “Terima kasih.”
“Hm.”
Alarm saya berbunyi. Empat menit terlambat dari perhitungan saya, yang berarti saya tertidur selama sebelas menit penuh, yang berarti ini adalah tidur terpanjang saya di sekolah dalam dua tahun.
Saya mengambil tas. Saya berjalan ke tangga.
Lalu saya berhenti, karena ada satu hal yang harus saya selesaikan hari ini juga.
“Saudara Andhika.”
“Hm.”
“Saya ingin memperjelas sesuatu.” Saya berbalik menghadapnya. “Saya datang ke sini pukul 12.40 dan pergi pukul 12.55. Saya tidak akan mengganggu Anda di luar rentang tersebut. Apabila Anda merasa keberadaan saya menghambat—”
“Renata.”
Saya berhenti.
Dia tidak mengatakan Ketua.
Dalam dua tahun sebelas bulan, orang yang memanggil saya dengan nama saya berjumlah empat: ayah saya, ibu saya, wali kelas saya pada saat rapat orang tua, dan seorang perawat di klinik ketika saya mengambil hasil laboratorium.
Bukan lima. Empat.
“Ya,” kata saya, dan suara saya keluar setengah nada lebih tinggi dari biasanya, yang mana adalah kegagalan teknis yang akan saya evaluasi nanti.
“Lima belas menit aja,” katanya. “Nggak usah dijadwalin siapa yang boleh ada di sini.”
Dia memasang kembali earphone-nya.
Saya turun.
Saya melangkahi anak tangga kelima. Saya berjalan menuju ruang OSIS dengan kecepatan normal. Saya membuka pintu, duduk, dan menarik agenda saya dari dalam tas.
Saya membuka halaman hari ini.
Dan pada kolom keterangan pukul 12.40 yang telah kosong selama dua belas hari, saya menuliskan satu kata, dengan tangan yang, saya akui, tidak sepenuhnya stabil:
Andhika.
Lalu saya menutup buku itu dan duduk memandangi sampulnya selama tujuh menit, karena saya baru menyadari bahwa selama dua belas hari terakhir, saya telah menyusun seluruh jadwal siang saya di sekitar lima belas menit itu — dan bukan sebaliknya.
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat reading
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu