Chapter Thirty Five
3 Februari
POV: Renata
Pesan dari Sekar masuk pukul 05.12 pagi tanggal 3 Februari.
sekar: mbah ratmi masuk rs semalem sekar: ambulans jam 1 sekar: aku denger. seluruh gang denger
Saya membaca pesan tersebut pada pukul 05.12 karena saya bangun pukul 04.30 setiap hari, dan saya membalasnya dalam waktu sembilan detik.
Renata: Rumah sakit mana?
sekar: RSUD. kelas 3
Renata: Diagnosis?
sekar: belum tau. aku nggak berani nanya
Renata: Apakah dia masuk sekolah hari ini?
Jeda dua menit.
sekar: nggak tau
sekar: renata
Renata: Ya.
sekar: tolong jangan bawa map
Saya menatap layar itu selama sekitar dua puluh detik.
Renata: Baik.
Dia masuk sekolah hari itu.
Saya mengetahuinya karena saya berdiri di dekat gerbang pukul 06.50, yang mana adalah tindakan yang tidak dapat saya pertanggungjawabkan kepada siapa pun, termasuk kepada diri saya sendiri.
Dia turun dari angkot pukul 07.02.
Seragamnya rapi. Rambutnya rapi. Tasnya di bahu kanan sebagaimana biasa.
Dan cara berjalannya persis sama seperti tiga bulan terakhir, dengan panjang langkah yang identik satu sama lain, dan apabila saya tidak mengetahui apa yang terjadi pukul satu dini hari saya tidak akan mampu menyimpulkan apa pun.
Itu yang paling mengganggu saya sepanjang hari itu.
Bukan bahwa dia datang.
Bahwa dia datang dan tidak terlihat berbeda sama sekali, yang berarti seluruh tiga bulan terakhir — dan mungkin seluruh tiga tahun sebelumnya — dia juga tidak terlihat berbeda pada hari-hari yang sama buruknya.
Dan kami semua tidak pernah tahu.
Saya tidak menemuinya sampai pukul 12.40.
Saya naik. Anak tangga kelima saya lewati.
Dia ada di sana.
Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh sembilan hari, orang itu berada di atas atap gudang pada pukul 12.40, duduk di sudut timur laut, dengan earphone terpasang di kedua telinga.
Saya berdiri di ujung tangga.
Dia menoleh. Dia melepas yang sebelah kiri.
“Renata.”
“Selamat siang.”
“Kamu masih naik.”
“Setiap hari kerja. Selama tiga puluh sembilan hari.”
“Iya. Saya tau.”
Saya berjalan ke sudut barat daya. Saya meletakkan tas.
Saya tidak membawa map. Saya juga tidak membawa kotak makan, karena saya telah memutuskan pada pukul 05.30 pagi bahwa saya tidak akan membawa apa pun hari ini.
“Saya tidak membawa apa-apa,” kata saya.
“Oke.”
“Saya juga tidak akan menanyakan apa pun.”
Dia menoleh.
“Sekar cerita.”
“Ya.”
Dia mengangguk sekali dan kembali menghadap ke depan.
Dan kami duduk di sana, empat meter, selama tiga belas menit, tanpa satu pun kalimat.
Pukul 12.53, dia bicara.
“Renata.”
“Ya.”
“Boleh minta tolong?”
Saya perlu mencatat bahwa selama seratus enam belas hari saya mengenal orang tersebut, ini adalah pertama kalinya kalimat tersebut keluar dari mulutnya.
Saya menegakkan punggung.
“Ya.”
“Kalau saya nggak masuk beberapa hari,” katanya, “tolong jangan ada yang nyariin ke rumah.”
Saya membuka mulut.
“Renata.”
“Ya.”
“Nenek saya nggak tau saya ada tunggakan,” katanya. “Dan kalau ada yang dateng nanyain saya, dia bakal nanya kenapa.”
Saya menutup mulut.
“Berapa hari?” kata saya.
“Nggak tau.”
“Apakah Anda akan kembali?”
Dan dia diam.
Saya telah mempelajari jeda orang ini selama seratus enam belas hari dan saya telah mengidentifikasi tiga jenisnya.
Ini jenis keempat, yang belum pernah saya lihat, dan yang saya identifikasi hanya beberapa detik kemudian sebagai:
Jeda ketika dia mengetahui jawabannya dan sedang mempertimbangkan apakah kebohongan akan lebih murah bagi orang yang bertanya.
“Iya,” katanya.
Dan saya mengetahui, dengan tingkat keyakinan mendekati sempurna, bahwa itu adalah kebohongan kedua yang pernah dia ucapkan kepada saya.
Yang pertama adalah kelebihan porsi dari sekretariat.
Dia tidak masuk hari Selasa. Tidak masuk hari Rabu. Tidak masuk hari Kamis.
Hari Jumat, saya melanggar permintaannya.
Bukan ke rumahnya. Saya tidak sanggup melanggar sampai sejauh itu.
Saya pergi ke RSUD.
Ruang kelas tiga adalah ruangan dengan dua belas tempat tidur, tirai yang tidak menutup sepenuhnya, dan bau yang tidak dapat saya deskripsikan tanpa menjadi tidak sopan.
Saya berdiri di pintu.
Tempat tidur nomor sembilan, di dekat jendela.
Ada seorang perempuan tua yang tidur dengan selang di hidungnya.
Dan di kursi plastik di sampingnya, ada seseorang yang duduk membungkuk dengan siku di lutut dan kepala di kedua telapak tangannya.
Dia tidak bergerak.
Saya berdiri di pintu ruangan itu selama kira-kira empat puluh detik.
Dan saya tidak masuk.
Saya perlu menjelaskan mengapa saya tidak masuk, karena saya telah memeriksa alasannya berkali-kali sejak saat itu dan setiap kali saya menemukan alasan yang berbeda.
Alasan pertama, yang saya berikan kepada diri saya di tempat parkir: dia telah meminta agar tidak ada yang mencarinya.
Alasan kedua, yang saya berikan di dalam angkutan umum: neneknya sedang tidur, dan kehadiran orang asing akan menimbulkan pertanyaan ketika beliau bangun.
Alasan ketiga, yang saya berikan pada pukul dua pagi di kamar saya sendiri, dan yang merupakan alasan yang benar:
Karena orang tersebut sedang duduk dengan kepala di kedua telapak tangannya.
Dan selama seratus enam belas hari, saya belum pernah sekali pun melihatnya seperti itu.
Dan saya mengetahui — dengan seluruh pengetahuan yang saya kumpulkan mengenai orang tersebut selama empat bulan — bahwa apabila dia mengetahui ada seseorang yang melihatnya seperti itu, dia tidak akan pernah melakukannya lagi.
Bahkan ketika sendirian.
Bahkan ketika dia membutuhkannya.
Saya berbalik dan pergi, dan itu adalah keputusan tersulit yang pernah saya ambil, dan saya masih tidak yakin sampai hari ini apakah itu keputusan yang benar atau sekadar keputusan yang paling mudah dibungkus sebagai benar.
Di tempat parkir rumah sakit, saya bertemu Pak Har.
Beliau sedang duduk di atas jok motor bebek tua dengan helm di pangkuan, dan beliau melihat saya sebelum saya melihat beliau.
“Nduk.”
“Selamat sore, Pak.”
“Nggak masuk?”
“Tidak, Pak.”
Beliau mengangguk-angguk, seolah itu jawaban yang benar.
Saya berdiri di sana beberapa saat.
“Pak.”
“Hm.”
“Berapa biayanya?”
Pak Har memutar helm di pangkuannya.
“Operasinya ditanggung sebagian,” katanya. “Sisanya, sama obat, sama kamar—”
Beliau menyebutkan angkanya.
Saya melakukan perhitungan di dalam kepala saya, dan saya menyelesaikannya dalam waktu kurang dari tiga detik, karena angka tersebut hampir sama persis dengan angka lain yang telah saya hafal sejak bulan Oktober.
“Itu jumlah yang sama,” kata saya.
“Ho’oh.”
“Dengan tunggakannya.”
“Selisih dikit.” Beliau memakai helmnya. “Lebih dikit malah.”
Saya berdiri di tempat parkir rumah sakit umum daerah pada pukul empat sore.
“Pak,” kata saya. “Apakah dia mengetahui hal tersebut?”
Dan Pak Har menyalakan motornya, dan sebelum pergi beliau menoleh ke arah saya dan berkata satu kalimat dengan nada paling biasa yang pernah saya dengar:
“Anak itu udah tau dari hari pertama, Nduk. Dia yang ngitungin.”
Sabtu, saya menerima pesan.
Bukan dari Sekar.
Nomor tidak dikenal: Renata, ini Andhika. Pinjem hp Pak Har.
Saya menjatuhkan pulpen saya.
Renata: Ya.
Andhika: Nenek saya operasi hari Senin.
Renata: Saya turut prihatin. Apakah ada yang dapat saya lakukan?
Jeda empat menit.
Andhika: Ada.
Saya berdiri dari kursi.
Renata: Sebutkan.
Andhika: Tolong jangan ada yang bilang ke Tamara.
Saya menatap layar itu.
Renata: Mengapa?
Andhika: Karena dia bakal dateng.
Renata: Sekar juga akan datang.
Andhika: Sekar udah dateng. Kemarin. Dia bawa makanan buat nenek saya, terus dia pulang, terus dia nggak nanya apa-apa.
Andhika: Sekar tau caranya.
Andhika: Tamara belum.
Saya duduk kembali.
Dan saya mengetik sesuatu yang saya hapus, lalu sesuatu yang saya hapus lagi, dan yang akhirnya terkirim adalah:
Renata: Baik.
Andhika: Makasih.
Renata: Saudara Andhika.
Andhika: Hm.
Renata: Anda meminta tolong kepada saya.
Jeda.
Andhika: Iya.
Renata: Itu yang pertama.
Andhika: Iya.
Dan saya duduk di meja belajar saya pada hari Sabtu malam, memegang ponsel dengan dua tangan, dan menyadari bahwa saya baru saja diberi sesuatu oleh seseorang yang tidak memiliki apa pun untuk diberikan.
Senin, 8 Februari, operasi.
Selasa, 9 Februari, dia tidak masuk.
Rabu, 10 Februari, tidak masuk.
Kamis, 11 Februari, tidak masuk.
Jumat, 12 Februari.
Saya berdiri di dekat gerbang pukul 06.50.
Angkot pukul 07.02 datang dan tidak ada yang turun.
Angkot pukul 07.11 datang dan tidak ada yang turun.
Bel berbunyi pukul 07.00 dan saya masih berdiri di sana pukul 07.20, dengan seragam lengkap dan pin di kerah, dan tiga guru lewat dan menyapa saya dan saya membalas seluruhnya dengan susunan kalimat yang benar.
Pukul 07.24, saya masuk.
Dan sepanjang jam pelajaran pertama, saya menghitung sesuatu yang tidak dapat saya hentikan:
Tanggal 12 Februari adalah hari Jumat.
Tiga puluh sembilan hari yang saya miliki dan tidak saya gunakan telah berakhir dua puluh sembilan hari yang lalu.
Dan hari ini adalah hari terakhir, dan orang tersebut sedang berada di rumah sakit kelas tiga di kursi plastik di samping tempat tidur nomor sembilan, dan dia tidak mengetahui bahwa hari ini hari Jumat, atau dia mengetahuinya dan telah mengetahuinya sejak bulan Agustus dan telah memutuskan bahwa ada hal yang lebih penting untuk dihitung.
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari reading
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu