← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Twenty Eight

Yang Masih Naik

POV: Sekar


Aku tetap naik.

Setiap hari, jam sepuluh kurang sepuluh, dua puluh menit, sendirian.

Aku duduk di sudut timur laut — sudutnya — karena tidak ada lagi yang menempatinya jam segini dan karena aku ingin tahu bagaimana rasanya duduk di tempat itu.

Rasanya: dingin. Angin tidak sampai. Bayangan tembok pembatas menutupi seluruh badan sampai jam satu.

Sudut terbaik di atap ini.

Dan orang itu tidak pernah duduk di sana sekali pun sejak hari Tamara naik pertama kali.


Hari keempat, aku membawa buku.

Bukan buku pelajaran. Buku catatan kosong yang kubeli di warung Bu Nah seharga tiga ribu, dengan sampul plastik warna merah muda yang jelek.

Aku menulis tanggalnya di halaman pertama.

Lalu aku menulis:

Hari ini dia tidak naik.

Aku menutupnya.

Hari kelima, aku menulis hal yang sama.

Hari keenam juga.

Hari ketujuh aku menulis dua baris.

Hari ini dia tidak naik. Aku lihat dia lewat koridor lab jam sepuluh lewat lima. Dia berhenti di ujung. Dia tidak naik.

Aku menutup buku itu dan duduk memandangi tangga besi selama sisa waktu istirahat.


Aku juga tetap bertemu dua orang lainnya.

Bukan di atap. Di lorong, di kantin, lewat ponsel.

Renata mengirim pesan pertama kali pada hari kelima.

Selamat siang. Apakah Saudara Andhika naik pada pukul sepuluh hari ini?

Aku menatap layar itu selama lima belas detik penuh sebelum menjawab, karena aku tidak pernah menyangka Ketua OSIS SMA Negeri 4 mengetik pesan seperti orang mengirim surat dinas.

nggak

Baik. Terima kasih atas informasinya.

Hari keenam:

Selamat siang. Hari ini?

nggak

Baik.

Hari ketujuh, kedelapan, kesembilan.

Sembilan hari berturut-turut, dan setiap hari jawabannya sama, dan setiap hari dia mengucapkan terima kasih dengan susunan kalimat yang sama persis.

Hari kesepuluh, dia mengetik sesuatu yang berbeda.

Sekar.

ya

Apakah Anda keberatan apabila saya berhenti menanyakannya setiap hari?

Aku duduk di kelas dengan ponsel di bawah meja dan membaca kalimat itu tiga kali.

kenapa?

Karena saya menyadari bahwa saya menanyakannya bukan untuk memperoleh informasi.

terus buat apa?

Jeda enam menit.

Untuk memiliki alasan agar hal tersebut masih berlangsung.

Dan aku menaruh ponsel di pangkuan dan menatap papan tulis tanpa melihat apa pun, karena Renata Claudya Larasati baru saja mengatakan sesuatu yang jauh lebih jujur daripada apa pun yang pernah kukatakan ke siapa pun seumur hidupku.

nggak usah berhenti

tanya aja terus

aku juga butuh alesan


Aku tidak menemuinya di sekolah.

Ini terdengar tidak masuk akal karena kelas kami berjarak dua puluh meter, tapi ini mungkin, dan aku tahu mungkin karena aku menghabiskan satu setengah tahun tidak menemuinya juga.

Orang bisa hilang di sekolah kalau dia tidak pernah berdiri di tempat orang lewat.

Tapi aku menemuinya di rumah.

Setiap malam. Jam sepuluh lewat, di gang, waktu dia pulang.

Dan setiap malam kami mengucapkan hal yang sama persis:

“Belum tidur?”

“Belum ngantuk.”

“Ya udah. Jangan lama-lama.”

Sembilan malam berturut-turut.

Aku menghitungnya.


Malam kesepuluh, aku mengubah naskahnya.

“Dhika.”

“Hm.”

“Duduk bentar.”

Dia berhenti di depan pagar.

“Saya bau tinta.”

“Aku tau.”

“Nanti kena—”

“Dhika, duduk.”

Dan dia duduk.

Di teras rumahku, di lantai, bukan di kursi, dengan tas di sebelahnya dan tangan di atas lutut. Jam sepuluh lewat delapan belas, dengan lampu teras yang cuma satu dan yang membuat setengah wajahnya gelap.

Aku duduk di sebelahnya. Bukan satu ubin. Sebelah.

“Aku nggak akan nanya kenapa kamu berhenti naik,” kataku.

“Oke.”

“Aku juga nggak akan nanya berapa jam kamu tidur.”

“Oke.”

“Aku juga nggak akan bawain kamu makanan besok, terus liatin kamu makan, terus ngerasa jadi orang baik.”

Dia menoleh.

“Kar—”

“Aku cuma mau bilang satu hal,” kataku, “terus abis itu kamu boleh masuk.”

Dia menunggu.

Dan aku, yang sudah menyiapkan kalimat ini selama sembilan malam berturut-turut sambil duduk di teras pura-pura membaca buku yang halamannya tidak pernah berganti, mengatakannya:

“Aku nggak butuh kamu cerita apa-apa. Aku cuma butuh kamu tau kalau aku tau.”


Dia tidak menjawab selama lama sekali.

Ada motor lewat di ujung gang. Ada suara TV dari rumah Bu Nah. Ada kucing yang bersuara di atas tutup got dan berhenti.

“Kamu tau apa?” katanya akhirnya.

Dan suaranya — aku sudah sepuluh tahun mendengar suara ini dan aku belum pernah mendengarnya seperti ini.

“Aku tau kamu kerja dari umur tiga belas,” kataku. “Aku tau kamu bangun jam lima buat masakin Mbah Ratmi kalau tangannya lagi sakit. Aku tau kamu ngantre puskesmas dari jam lima pagi berapa kali sebulan dan kamu bilang ke sekolah kamu sakit.”

Dia tidak bergerak.

“Aku tau kamu nggak makan sore. Aku tau earphone kamu rusak sebelah dan kamu nggak ganti bukan karena males. Aku tau kamu bilang ‘nanti’ buat semua hal dan nggak ada satu pun yang jadi ‘sekarang’.”

Suaraku mulai goyang. Aku membiarkannya.

“Dan aku tau ada surat dari sekolah yang dateng dua kali,” kataku.

Dia menoleh.

“Aku ngambilin dari pager waktu Mbah Ratmi nggak bisa jalan,” kataku. “Bulan Oktober. Aku nggak buka. Aku cuma liat kopnya.”

Hening.

“Kar.”

“Aku nggak buka, Dhika. Sumpah.”

“Iya, saya percaya.”

“Terus aku diem aja selama dua bulan,” kataku, dan di sini suaraku betulan pecah. “Karena aku takut kalau aku ngomong, kamu bakal malu. Terus kamu bakal jauh. Terus aku kehilangan kamu.”

Aku menyeka wajahku dengan lengan.

“Dan itu bego banget,” kataku. “Karena ternyata aku kehilangan kamu juga. Cuma versi yang lebih pelan.”


Dia diam.

Aku menghitung sampai lima, lalu sampai sepuluh, lalu berhenti menghitung.

“Kar.”

“Hm.”

“Kamu nangis.”

“Iya.”

“Maaf.”

“JANGAN MINTA MAAF.”

Aku berteriak. Di teras, jam sepuluh malam, di gang yang sunyi.

Ibuku pasti dengar. Bu Nah pasti dengar. Seluruh gang pasti dengar.

Aku tidak peduli.

“Kamu tuh selalu minta maaf buat hal yang bukan salah kamu,” kataku. “Kamu minta maaf waktu aku nepis tangan kamu. Kamu minta maaf waktu Renata nawarin duit. Kamu minta maaf sama Tamara pas dia yang ngerusak jadwal kamu.”

Dia membuka mulut.

“Jangan,” kataku. “Jangan minta maaf lagi sekarang.”

Dia menutup mulutnya.

Dan kami duduk di teras itu, dua orang yang sudah kenal sepuluh tahun, dengan satu lampu dan bau tinta dan satu kalimat yang menggantung di antara kami.

Lalu dia berkata:

“Makasih.”

“Buat apa?”

“Buat nggak buka suratnya.”


Aku menoleh cepat.

“Itu yang kamu ambil dari semua yang aku omongin?”

“Iya.”

“Dhika—”

“Kar.” Dia memandang ke arah gang. “Semua orang yang tau, tau karena nyari tau.”

Aku diam.

“Renata tau dari lampiran TU. Dia nggak sengaja, tapi dia baca sampai bawah.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Tamara tau saya nggak makan sore karena dia ngitung embun di kantong plastik.”

“Kamu tau Renata tau?”

“Dari hari dia bawa map tebel.”

“Terus kamu diem aja?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena dia nggak ngomong,” katanya. “Dan orang yang nggak ngomong padahal tau, itu lagi ngasih saya sesuatu.”

Aku menatapnya.

“Kamu tuh—” Aku menyeka mata lagi. “Kamu tuh ngitungin semua orang sampe segitunya.”

“Iya.”

“Kamu nggak capek?”

Dan dia melakukan hal yang belum pernah dia lakukan sekali pun dalam sepuluh tahun.

Dia menyandarkan punggungnya ke tiang teras.

Sepenuhnya. Tanpa jarak dua sentimeter. Kepalanya ke belakang, mata ke atas, ke arah atap teras yang catnya mengelupas.

“Capek,” katanya.

Dua kali. Dua kali dalam hidupku aku mendengar orang ini mengucapkan kata itu, dan dua-duanya keluar setelah aku memaksa, dan dua-duanya membuatku merasa seperti orang yang baru saja mencuri.

“Dhika.”

“Hm.”

“Boleh aku pegang tangan kamu?”

Dia mengeluarkan tangan kanannya dari saku dan meletakkannya di lantai teras, telapak menghadap ke atas, tanpa mengatakan apa pun.

Aku mengambilnya. Sepuluh jari.

Dan kali ini dia menggenggam balik.

Bukan setengah. Bukan satu tekanan pendek lalu longgar.

Dia menggenggam, dan dia tidak melepaskannya, dan kami duduk seperti itu di teras rumahku selama — aku menghitungnya, karena aku menghitung semuanya sekarang — empat menit dua puluh detik.

Sampai lampu ruang depan rumah sebelah bergerak, dan ada bayangan di jendela, dan Mbah Ratmi berdiri di sana menunggu cucunya pulang.

Dia melepaskan.

“Saya masuk.”

“Iya.”

Dia berdiri, mengambil tas, dan berjalan ke pagar.

“Kar.”

“Ya?”

Dia berdiri di ambang pagar rumahnya sendiri, membelakangi lampu, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya sama sekali.

“Jangan bilang ke yang lain,” katanya.

“Bilang apa?”

“Bahwa saya capek.”


Aku masuk ke kamar dan membuka buku catatan sampul merah muda seharga tiga ribu.

Aku membalik ke halaman kesebelas.

Dan aku menulis satu baris:

Hari ini dia tidak naik.

Lalu aku menatap baris itu selama beberapa saat, dan aku menambahkan satu baris lagi di bawahnya, dan setelah menulisnya aku duduk di meja belajar sampai jam satu pagi tanpa bisa menutup buku itu:

Dia minta aku merahasiakan sesuatu darinya sendiri. Dari dua orang yang sama-sama sudah tahu. Untuk apa?