← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Forty One

Surat Keterangan

POV: Renata


Saya kembali bekerja pada hari Senin.

Saya menyampaikan ini bukan sebagai pencapaian. Saya menyampaikannya karena saya perlu menuliskan apa yang terjadi selanjutnya, dan apa yang terjadi selanjutnya dimulai dari fakta bahwa saya tidak mengetahui cara melakukan hal lain selain bekerja.

Rapat pukul 08.00. Notulen pukul 10.00. Laporan mingguan pukul 13.00.

Pukul 12.40, saya naik ke atas gudang.

Saya berbaring di sudut barat daya selama lima belas menit.

Saya melakukan hal tersebut setiap hari kerja selama sisa masa jabatan saya, yaitu empat bulan, yaitu delapan puluh tiga hari kerja, dan saya tidak tidur sekali pun dalam delapan puluh tiga hari tersebut.

Pada hari kedelapan, Wisnu bertanya.

“Ketua tiap siang ke mana sih?”

“Gudang.”

“Ngapain?”

Saya menutup map saya.

“Tidur.”

Dia berkedip empat kali.

“...Ketua tidur?”

“Lima belas menit. Setiap hari kerja. Sejak bulan Oktober.”

“Ketua serius?”

“Ya.”

Dan Wisnu berdiri di sana dengan ekspresi seseorang yang seluruh pemahamannya mengenai dunia baru saja digeser lima sentimeter ke kiri.

“Ketua,” katanya.

“Ya.”

“Kenapa Ketua ngasih tau saya?”

Saya memikirkan pertanyaan tersebut.

Dan saya menjawabnya dengan jujur, yang mana adalah kebiasaan baru yang saya peroleh pada bulan Februari dan yang belum sepenuhnya saya kuasai:

“Karena selama tiga tahun saya tidak memberitahukan apa pun kepada siapa pun,” kata saya, “dan hasilnya adalah tidak ada satu orang pun yang mengetahui bahwa saya lelah.”

Wisnu tidak menjawab.

Tetapi keesokan harinya, di meja saya, ada satu kotak susu.

Tidak ada catatan. Tidak ada nama.

Diletakkan di meja, lalu ditinggalkan.

Dan saya duduk di ruang sekretariat OSIS memandangi kotak susu tersebut selama beberapa menit, karena seseorang pernah menjelaskan kepada saya pada bulan Desember bahwa terdapat dua cara memberi, dan bahwa yang satu dapat diterima dan yang satu tidak.

Wisnu memilih cara yang benar.

Saya tidak pernah menanyakan dari mana dia mengetahuinya.


Pada hari Rabu, tanggal 3 Maret, saya pergi ke Tata Usaha.

“Bu Ratna.”

“Iya, Ren.”

“Saya membutuhkan salinan format Surat Keterangan Pindah untuk keperluan arsip OSIS.”

“Formatnya doang?”

“Ya.”

Beliau mengambilnya dari laci. Selembar. Fotokopi.

Saya membacanya di ruang sekretariat pada pukul 15.20.

Dan pada baris kedelapan dari bawah, tertulis:

Surat keterangan ini berlaku sebagai dasar penerimaan kembali apabila siswa yang bersangkutan hendak melanjutkan pendidikan di sekolah asal, dengan ketentuan kewajiban administratif diselesaikan pada saat pendaftaran ulang.

Saya membaca kalimat tersebut empat kali.

Kemudian saya membuka Peraturan Yayasan Nomor 14 Tahun 2019 untuk kesekian kalinya, dan saya mencari pasal yang mengatur mengenai penerimaan kembali, dan saya menemukannya pada Pasal 12.

Tidak ada batas waktu.

Tidak ada Pasal 12 ayat (5).

Pintunya tidak ditutup.


Saya perlu mencatat apa yang saya rasakan pada pukul 15.24 hari Rabu tanggal 3 Maret, karena perasaan tersebut adalah perasaan yang paling tidak dapat saya pertanggungjawabkan sepanjang tahun itu.

Saya merasa lega.

Dan tiga detik kemudian, saya merasa malu atas kelegaan tersebut.

Karena pintu yang tidak ditutup bukan berarti pintu yang akan dimasuki kembali.

Karena syaratnya adalah kewajiban administratif diselesaikan pada saat pendaftaran ulang, dan kewajiban tersebut sekarang berjumlah sembilan bulan ditambah biaya operasi ditambah apa pun yang akan terjadi di kota yang tidak saya ketahui namanya.

Dan karena — ini yang paling penting, dan ini yang saya sadari pada pukul dua pagi — kelegaan saya bukan mengenai dia.

Kelegaan saya adalah mengenai saya.

Selama enam tahun saya adalah orang yang menyelesaikan masalah. Selama seratus empat puluh hari terakhir saya adalah orang yang gagal menyelesaikan satu masalah.

Dan pada pukul 15.24 hari Rabu, saya menemukan sebuah kalimat di baris kedelapan dari bawah yang mengembalikan sesuatu kepada saya yang saya kira sudah hilang.

Bukan harapan.

Sebuah tugas.


Saya menyusun berkas kedua.

Saya perlu menuliskan ini dengan jujur, karena apabila tidak, seluruh catatan ini menjadi tidak berguna.

Saya menyusunnya selama sembilan hari.

Judulnya: Pengajuan Penerimaan Kembali Siswa Pindah — Pasal 12 Peraturan Yayasan Nomor 14 Tahun 2019.

Empat belas halaman. Lampiran lengkap. Dasar hukum diperiksa enam kali, bukan empat, karena saya sudah belajar.

Saya memeriksa seluruh pasal. Seluruh ayat. Seluruh ketentuan peralihan.

Tidak ada satu pun batas waktu yang saya lewatkan.

Dan pada halaman pertama, di kolom Tanda tangan pemohon, saya membiarkannya kosong.

Kemudian saya memasukkannya ke dalam tas.

Dan saya mengeluarkannya setiap malam, dan menatapnya, dan memasukkannya kembali — persis sebagaimana yang saya lakukan terhadap berkas pertama selama tiga puluh sembilan hari, yang mana adalah definisi dari tidak belajar apa pun.


Pada hari Sabtu tanggal 20 Maret, saya pergi ke Percetakan Harapan Jaya untuk yang kedua kalinya.

Rolling door terbuka penuh. Mesin menyala. Bau kertas dan tinta.

Dan ada seorang laki-laki muda yang tidak saya kenal sedang mengangkat rim kertas dari lantai ke meja.

Dia mengangkatnya dengan dua tangan, dengan lutut ditekuk, dengan cara yang benar sebagaimana diajarkan orang.

Sisinya tidak rata.

Saya berdiri di pintu itu dan menatap tumpukan yang sisinya tidak rata selama beberapa detik yang lebih lama daripada yang wajar.

“Nduk.”

Pak Har di kursi plastik. Gelas kopi. Ampas.

“Selamat pagi, Pak.”

“Duduk.”

Saya duduk.


“Anak baru,” kata beliau, menunjuk dengan dagu. “Anaknya Bu Nah. Kelas dua belas.”

“Baik, Pak.”

“Belum bisa apa-apa.”

“Beliau akan belajar.”

“Ho’oh.” Pak Har menyeruput. “Semua orang belajar.”

Kami duduk beberapa saat.

“Pak.”

“Hm.”

“Apakah Bapak memiliki alamatnya?”

Dan Pak Har menoleh ke arah saya, dan menatap saya cukup lama, dan saya menyiapkan diri untuk penolakan.

Beliau tidak menolak.

Beliau berkata:

“Ada.”

Saya menegakkan punggung.

“Tapi aku nggak kasih,” lanjutnya.

“Pak—”

“Nduk.”

“Saya memiliki berkas yang—”

“Nduk,” katanya lagi, dan kali ini nadanya berbeda, dan saya berhenti.

Beliau meletakkan gelasnya di lantai.

“Kalau aku kasih alamatnya,” katanya, “kamu bakal ke sana.”

“Ya.”

“Terus kamu bawa map.”

Saya tidak menjawab.

“Terus dia buka pintu, terus dia liat kamu, terus dia liat map.” Pak Har mengangkat bahu. “Terus dia bakal mikir kamu dateng jauh-jauh gara-gara map itu.”

“Itu tidak benar.”

“Aku tau itu nggak bener,” katanya. “Dia juga bakal tau itu nggak bener.”

Beliau mengambil gelasnya lagi.

“Tapi dia bakal tetep mikir gitu,” katanya. “Karena dia belum pernah didatengin orang tanpa alasan.”


Saya duduk di kursi plastik itu selama sekitar satu menit.

“Pak.”

“Hm.”

“Apabila saya datang tanpa membawa apa-apa, apakah Bapak akan memberikan alamatnya?”

Dan Pak Har tertawa.

Suaranya pendek dan serak dan langsung berhenti, dan itu satu-satunya kali saya mendengar beliau tertawa.

“Nduk,” katanya. “Kamu bisa dateng ke mana pun tanpa bawa apa-apa?”

Saya membuka mulut.

Saya menutupnya kembali.

“Nah,” katanya.


Saya pulang dengan angkutan umum.

Dan pada hari itu, di dalam angkot, saya melakukan sesuatu yang saya tunda selama dua puluh dua hari.

Saya mengeluarkan berkas kedua — empat belas halaman, dasar hukum diperiksa enam kali, tanpa satu pun batas waktu yang terlewat.

Dan saya tidak merobeknya, karena saya bukan orang yang merobek dokumen.

Saya menutupnya, memasukkannya ke dalam map, dan meletakkannya di dalam tas.

Kemudian saya mengeluarkan berkas pertama — sembilan belas halaman, kedaluwarsa, dengan selembar kertas fotokopi terselip di antara halaman empat belas dan lima belas.

Dan saya memindahkan lembar itu ke dalam berkas kedua.

Sekarang berkas kedua memiliki lima belas halaman.


Malam itu, saya mengetik ke grup.

Renata: Sekar. Tamara.

tamara: hm

sekar: iya

Renata: Saya menemukan sesuatu di format Surat Keterangan Pindah.

Renata: Pasal 12 Peraturan Yayasan tidak mengatur batas waktu untuk penerimaan kembali.

Renata: Secara administratif, dia dapat kembali kapan saja.

Tidak ada yang mengetik selama hampir dua menit.

Lalu:

sekar: ren

Renata: Ya.

sekar: kamu nyari itu berapa lama?

Saya menatap layar.

Renata: Sembilan hari.

sekar: ren

sekar: dia nggak pergi karena nggak boleh balik

sekar: dia pergi karena neneknya butuh dianter

Saya duduk di kursi meja belajar saya dengan ponsel di tangan.

Renata: Saya mengetahui hal tersebut.

sekar: iya. aku tau kamu tau

sekar: aku cuma pengen kamu berhenti nyari pasal

Dan Tamara masuk, dan yang dia ketik adalah satu baris yang membuat saya menutup laptop dan tidak membukanya lagi malam itu:

tamara: ren, dia nggak butuh dibenerin. dia butuh ditungguin.


Saya berhenti menyusun berkas setelah hari itu.

Saya menyelesaikan masa jabatan saya. Saya lulus dengan nilai tertinggi di angkatan. Saya diterima di jurusan yang telah saya rencanakan sejak kelas sepuluh, di universitas yang telah saya rencanakan sejak kelas sembilan.

Dan saya membawa map itu — lima belas halaman, kolom tanda tangan kosong — di dalam tas saya setiap hari selama dua tahun berikutnya.

Bukan karena saya berharap.

Karena saya sudah pernah membuang satu berkas ke dalam laci pada bulan Januari, dan berkas tersebut kedaluwarsa di sana, dan saya sudah bersumpah kepada diri saya sendiri bahwa saya tidak akan pernah lagi menyimpan sesuatu yang penting di tempat yang tidak saya lihat setiap hari.