← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Thirty Three

Sebelas Menit, Lagi

POV: Tamara


Fotonya muncul hari Senin pagi jam 06.40.

Aku masih di angkot waktu ponselku bergetar sembilan kali berturut-turut, dan sembilan kali berturut-turut itu tidak pernah berarti hal yang baik.

Nayla: TAM Nayla: tam buka grup Nayla: TAMARA

Grup angkatan. Dua ratus tiga puluh delapan orang.

Fotonya diambil dari lantai dua gedung utama, menghadap ke bawah, ke arah gerbang belakang. Hujan. Dua orang di bawah satu payung kecil yang miring ke satu sisi.

Wajahnya tidak kelihatan.

Wajahku kelihatan.

Dan di bawahnya ada caption yang tidak akan kutulis di sini karena aku sudah menghabiskan cukup banyak malam untuk melupakannya, dan yang intinya adalah pertanyaan tentang siapa cowok itu dan sejak kapan dan kenapa disembunyikan.

Empat puluh tiga balasan dalam dua puluh menit.

Aku turun dari angkot dua halte lebih awal dan berjalan sisanya karena aku tidak sanggup duduk.


Ada dua hal yang membuatku panik, dan yang pertama bukan yang kalian kira.

Yang pertama: foto itu diambil bulan Oktober.

Empat bulan.

Empat bulan seseorang menyimpannya dan tidak mengunggahnya, dan hari ini dia mengunggahnya, dan itu artinya ini bukan kebetulan.

Yang kedua: kalau orang cukup penasaran, mereka akan mencari.

Dan kalau mereka mencari, mereka akan menemukan nama.

Dan orang yang namanya ditemukan oleh dua ratus tiga puluh delapan anak SMA adalah orang yang tidak akan bisa duduk di mana pun tanpa dilihat lagi.

Aku tidak peduli soal aku. Aku sudah dibicarakan sejak kelas satu. Aku punya kulit untuk itu.

Dia tidak punya.


Aku menemukannya jam tujuh kurang, di koridor lantai dua, berjalan ke kelas.

“Andhika.”

Dia menoleh.

“Ada masalah.”

“Iya,” katanya. “Saya udah liat.”

“...Kamu nggak punya kuota.”

“Bagas nunjukin.”

Kami berdiri di koridor yang mulai ramai, dan aku merasakan tiga orang menoleh ke arah kami dan langsung berpaling, dan aku menyadari bahwa dalam dua puluh menit kami sudah berhenti jadi dua orang yang berdiri di koridor dan mulai jadi sesuatu yang ditonton.

“Ke gudang,” kataku.

“Sekarang jam tujuh.”

“AKU NGGAK PEDULI.”

Dia melihat sekeliling.

“Oke,” katanya.


Di atap, aku menyerahkan ponselku.

“Ini fotonya. Ini captionnya. Ini balesannya.”

Dia mengambilnya.

Dan dia melakukan hal yang sudah kulihat sekali sebelumnya, di bulan Oktober, di ruang yang sama, dengan seratus empat belas lembar nota — kecuali kali ini aku sedang berdiri cukup dekat untuk melihat matanya.

Matanya tidak membaca.

Matanya bergerak dalam pola. Kiri ke kanan, atas ke bawah, berhenti, kembali. Seperti orang yang sedang mencocokkan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang tidak ada di layar.

Dia menggulir ke atas. Ke bawah. Berhenti.

Dia memperbesar foto itu.

Dia memutar layarnya.

Dia menggulir lagi ke balasan-balasannya, dari yang pertama sampai yang keempat puluh tiga, dan berhenti di balasan kesebelas selama kira-kira dua detik.

Lalu dia mengembalikan ponselku.

07.11.

Sebelas menit.


“Namanya Kevin,” katanya. “Kelas dua belas IPS satu.”

Aku menatapnya.

“...Hah?”

“Yang upload akun anonim. Tapi yang ngasih fotonya Kevin.”

“Kamu—” Aku menggeleng. “Kamu tau dari mana?”

“Tiga hal,” katanya.

Dan aku ingin mencatat penjelasannya di sini, dengan tepat, karena aku sudah mengulangnya di kepalaku puluhan kali sejak hari itu dan aku ingin memastikan aku tidak menambahkan apa pun.

“Satu. Fotonya diambil dari lantai dua, jendela ketiga dari kiri, koridor gedung utama. Jam tiga sore hari Rabu bulan Oktober. Jam segitu koridor itu kosong kecuali ada ekskul fotografi, dan ekskul fotografi latihan tiap Rabu.”

“Oke.”

“Dua. Yang upload nulis ‘gerbang belakang’. Anak fotografi nggak bakal nulis ‘gerbang belakang’. Mereka nyebutnya ‘gerbang dua’.”

Aku berkedip.

“Jadi yang upload bukan anak fotografi.”

“Iya. Yang upload dapet fotonya dari anak fotografi.”

“Terus yang ketiga?”

Dia menunjuk layarku.

“Bales nomer sebelas.”

Aku membukanya.

Balasan kesebelas, dari akun bernama Kevin Ardiansyah, isinya cuma:

wkwkwk

“Itu doang?” kataku. “Semua orang bales gitu.”

“Iya. Tapi dia bales tiga menit setelah diupload.”

“Terus?”

“Grupnya diupload jam 06.40. Jam segitu, dari empat puluh tiga yang bales, tiga puluh sembilan balesnya di atas jam tujuh — pas udah nyampe sekolah.” Dia mengangkat bahu. “Empat orang bales sebelum jam tujuh. Tiga di antaranya cewek yang emang tiap pagi aktif. Satu Kevin.”

“Itu belum bukti.”

“Iya. Itu belum bukti.”

“Terus kenapa kamu yakin?”

Dan dia berkata:

“Karena Kevin anak fotografi sampai bulan November, terus keluar.”


Aku duduk di lantai atap.

“Kamu tau anggota ekskul fotografi?”

“Enggak.”

“Terus—”

“Papan pengumuman depan ruang OSIS,” katanya. “Daftar anggota ekskul ditempel bulan Agustus. Diperbarui bulan Desember.”

“Kamu baca?”

“Saya lewat tiap hari.”

“KAMU HAFAL DAFTAR ANGGOTA SEMUA EKSKUL?”

Dia tidak menjawab.

Dan aku duduk di sana dan aku ingin tertawa dan aku ingin menangis dan aku ingin mengguncang bahunya, karena selama empat bulan aku duduk di sebelah orang ini dan bertanya empat ratus pertanyaan bodoh, dan tidak sekali pun aku bertanya:

Kamu bisa apa?


“Oke,” kataku. “Jadi gimana? Kita lapor ke—”

“Kamu.”

“Hah?”

“Kamu yang ngerjain.”

“Andhika, kamu yang tau semuanya—”

“Iya.” Dia berdiri dan mengambil tasnya. “Terus kalau saya yang ngomong, saya harus jelasin gimana caranya saya tau.”

Aku membuka mulut.

Aku menutupnya.

“Dan kalau kamu jelasin,” kataku pelan, “semua orang jadi tau kamu bisa ngelakuin itu.”

“Iya.”

“Terus?”

“Terus tiap ada apa-apa, orang nyariin saya.”

Dia menyampirkan tasnya.

“Terus saya nggak bisa duduk di mana-mana lagi,” katanya.


Aku menyelesaikannya sendiri.

Aku tidak akan menceritakan detailnya karena detailnya tidak penting dan karena sebagian membuatku malu.

Yang penting: aku tidak membongkarnya di grup.

Aku menemui Kevin sendirian, di depan ruang ekskul, jam istirahat, dan aku mengatakan tiga hal yang diberitahukan Andhika kepadaku pagi itu, satu per satu, dengan tenang, tanpa menaikkan suara sekali pun.

Dan aku melihat wajah anak itu berubah warna dalam waktu empat detik.

Dia menghapusnya jam satu siang. Akun anonimnya hilang jam dua.

Grup angkatan pindah topik jam tiga, sebagaimana grup angkatan selalu pindah topik, karena tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bertahan lebih dari satu hari di dalam grup dua ratus tiga puluh delapan orang.


Ada satu bagian yang belum kuceritakan.

Waktu aku berdiri di depan Kevin dan mengatakan tiga hal itu, dia berkata sesuatu di akhir.

“Kamu tau dari mana?”

Dan aku, yang punya kesempatan sempurna untuk mengatakan ada yang bantuin aku, yang punya kesempatan untuk membagi beban itu, yang punya kesempatan untuk membuat diriku terdengar lebih pintar daripada aku—

Aku bilang:

“Aku ngitung sendiri.”

Dan Kevin percaya.

Dan sepanjang perjalanan pulang hari itu, aku memikirkan bahwa aku baru saja menyembunyikan seseorang untuk kedua kalinya dalam empat bulan.

Bedanya, yang pertama aku lakukan karena aku malu.

Yang kedua aku lakukan karena aku sudah belajar apa yang terjadi kalau orang tahu.


Malamnya, aku mengetik ke grup.

tamara: selesai

sekar: udah dihapus. aku liat

Renata: Bagaimana Anda mengetahui pelakunya?

Aku menatap layar itu lama.

tamara: aku ngitung sendiri

Renata: Tamara.

tamara: iya

Renata: Sebelas menit?

Aku menaruh ponsel di kasur dan menutup wajah dengan bantal.

tamara: sebelas menit

Renata: Saya menduga demikian.

sekar: dia ngasih ke kamu terus nyuruh kamu yang ngerjain?

tamara: iya

sekar: dia emang gitu

sekar: dulu pas aku kelas 8 aku dituduh nyontek. dia nggak ngomong ke guru. dia kasih tau aku cara buktiin sendiri

tamara: hasilnya?

sekar: aku menang. terus semua orang bilang aku hebat

sekar: dan aku baru sadar sekarang, empat tahun kemudian, kalau itu bukan aku

Dan Renata mengetik selama dua menit, lalu menghapusnya, lalu mengetik lagi, dan yang akhirnya muncul adalah satu kalimat yang membuatku duduk tegak di kasur jam sebelas malam:

Renata: Berapa banyak orang di sekolah ini yang pernah dia selesaikan tanpa mereka ketahui?

Tidak ada yang menjawab.

Dan pertanyaan itu menggantung di grup itu semalaman, tidak terjawab, sampai pagi.


Paginya, aku dapat jawabannya sebagian.

Bukan dari mereka. Dari Bagas, di kantin, waktu aku duduk di meja yang salah karena mejaku penuh.

“Eh, Tamara?”

“Hai, Gas.”

“Boleh nanya nggak?”

“Boleh.”

Dia mengaduk esnya sebentar.

“Lo temenan sama Andhika ya?”

“...Iya.”

“Dia orangnya gimana sih?”

Aku menoleh.

“Kamu sekelas sama dia satu setengah tahun.”

“Iya.”

“Terus kamu nanya aku?”

Bagas mengangkat bahu, dan ada sesuatu di gerakan itu yang bukan bercanda.

“Gue nanya karena gue baru sadar gue nggak tau apa-apa,” katanya. “Padahal dia yang bikin gue nggak dikeluarin dari sekolah kelas sepuluh.”

Aku meletakkan sendok.

“Apa?”

“Gue kena tuduh ngerusak proyektor lab. Bulan November kelas sepuluh.” Dia menyeruput. “Gue emang di lab pas itu. Gue emang megang. Tapi bukan gue yang rusakin.”

“Terus?”

“Terus dia ngasih tau gue caranya buktiin. Katanya, ‘liat log peminjaman, terus liat siapa yang minjem sebelum lo, terus liat jam berapa proyektornya dilaporin rusak.’” Bagas menggeleng. “Gue nggak ngerti sampe sekarang gimana dia mikirnya. Tapi gue bawa itu ke guru, terus selesai.”

“Dia nggak ikut ke guru?”

“Nggak. Dia bilang ‘lo aja’.”

Aku menatap es teh di depanku.

“Gas.”

“Ya?”

“Kamu bilang makasih ke dia?”

Dan Bagas berhenti mengaduk.

Dia berpikir. Betulan berpikir, selama beberapa detik, dengan kening berkerut.

“...Kayaknya enggak,” katanya. “Gue lupa.”