Chapter Seven
Anter
POV: Tamara
Aku punya teori.
Teoriku begini: kalau kamu bertanya cukup banyak, orang akan menyerah dan menjawab. Ini teori yang sudah kubuktikan berkali-kali pada guru, pada satpam sekolah, pada Mama, dan pada tiga mantan pacar yang semuanya bertahan kurang dari dua bulan.
Teori ini gagal total pada Andhika Pratama.
“Kamu tinggal di mana?”
“Deket.”
“Deket mana?”
“Deket sini.”
“Sini tuh luas.”
“Iya.”
Aku menendang kerikil kecil di lantai atap ke arahnya. Meleset.
Ini hari kesepuluh — bukan sepuluh hari berturut-turut, karena Selasa dan Kamis dia tidak ada, dan aku sudah bertanya kenapa dan jawabannya adalah “ada urusan” yang mana adalah jawaban yang bahkan lebih tidak berguna daripada “deket.”
“Kamu tuh kalau ngomong hemat banget ya.”
“Hm.”
“Nah itu. Itu bahkan bukan kata.”
“Hm.”
“ANDHIKA.”
Dia menoleh. Akhirnya. Dengan ekspresi orang yang dipanggil satpam kompleks.
“Apa?”
“Nggak jadi.”
Dia balik menghadap depan.
Dan aku duduk di sana dengan perasaan bahwa aku baru saja kalah dalam pertandingan yang aku sendiri yang memulai.
Hal-hal yang sudah kuketahui tentang dia setelah sepuluh hari:
- Namanya Andhika Pratama, sebelas IPA tiga.
- Dia tidak punya kuota. Aku tahu ini karena aku pernah menyuruhnya buka Instagram dan dia bilang “nggak ada paketan” dengan nada orang yang mengatakan “besok hari Rabu.”
- Dia hafal lagu-lagu di ponselnya sampai ke detiknya.
- Earphone kanannya rusak.
- Dia tidak pernah, sekali pun, menyebut nama panggilanku.
Hal-hal yang belum kuketahui: semuanya yang lain.
Dan itu membuatku gila, karena aku terbiasa dengan situasi terbalik. Aku terbiasa jadi orang yang semua orang tahu segalanya tentangnya — tinggi badan, ukuran sepatu, nama mantan, kebiasaan, cita-cita, semuanya beredar di grup angkatan tanpa aku pernah menceritakannya sekali pun.
Sekarang ada satu orang yang tahu bahwa aku makan tiga bungkus nasi di atas gudang, dan aku tidak tahu di mana rumahnya.
Itu tidak adil dan aku tidak suka.
Aku bahkan sudah mencoba jalur belakang.
“Nay, kamu kenal anak IPA tiga nggak?”
“Yang mana? Rio? Rio tuh—”
“Bukan. Yang— cowok. Rambutnya pendek. Duduknya di belakang.”
Nayla mengerutkan kening selama sepuluh detik penuh, dan itu adalah sepuluh detik yang mengajarkanku lebih banyak tentang sekolah ini daripada tiga semester pelajaran Sosiologi.
“Kayaknya nggak ada.”
“Ada.”
“Ada yang gimana? Yang ikut basket?”
“Bukan.”
“Yang OSIS?”
“Bukan.”
“Ya berarti nggak ada, Tam.”
Ya berarti nggak ada.
Aku ingat kalimat itu selama tiga hari. Bukan karena Nayla jahat — Nayla tidak jahat, Nayla cuma tidak punya kategori untuk orang yang tidak masuk kategori.
Tiga puluh dua orang di kelas itu, dan salah satunya bisa hilang dari peta sekolah tanpa ada yang menyadari.
Aku pernah membayangkan bagaimana rasanya begitu, dulu, waktu kecil. Aku pernah mendoakannya.
Sekarang aku melihat orang yang benar-benar mengalaminya dan ternyata itu tidak terlihat seperti kebebasan sama sekali.
“Kenapa kamu nggak pernah manggil aku Tam?”
“Hah?”
“Tam. Panggilan aku.”
“Oh.”
“Semua orang manggil aku Tam.”
“Iya.”
“Terus kenapa kamu enggak?”
Dia menutup buku catatannya — yang isinya soal-soal, selalu soal-soal, aku pernah mengintip dan langsung pusing — dan berpikir sebentar.
“Namanya Tamara,” katanya.
“Iya, terus?”
“Ya udah.”
“Itu bukan jawaban!”
“Itu jawaban.”
“Itu jawaban orang males!”
“Iya.”
Aku mengerang keras-keras dan berbaring telentang di lantai semen, yang panas, yang kotor, yang akan membuat seragamku bergaris-garis abu-abu di punggung dan yang membuat aku harus mencuci sendiri malam ini supaya Mbak Ijah tidak bertanya.
Aku tidak peduli.
Di atas sini aku tidak peduli banyak hal, dan itu satu-satunya alasan aku terus naik.
“Andhika.”
“Hm.”
“Kamu tau nggak kenapa aku ke sini terus?”
“Nggak.”
“Kamu nggak penasaran?”
“Enggak.”
“KENAPA NGGAK?”
Dia menoleh, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh hari, ada sesuatu yang bergerak di wajahnya. Bukan senyum. Lebih kecil dari senyum. Semacam pergeseran satu milimeter di sudut mulut.
“Karena kalau saya penasaran, saya nanya,” katanya. “Terus kamu harus jawab. Terus kamu nggak mau jawab. Terus jadi nggak enak.”
Aku membuka mulut.
Aku menutupnya.
Aku berbaring lagi dan menatap langit dan tidak berkata apa-apa selama hampir satu menit penuh, yang mana adalah rekor pribadi.
Lalu aku duduk lagi, karena satu menit adalah batas maksimalku.
“Dengerin apa sih kamu?”
“Lagu.”
“Ya iyalah lagu. Lagu apa?”
“Nggak tau judulnya.”
“Kamu nggak tau judul lagu yang kamu denger tiap hari?”
“Tau. Tapi nggak penting.”
“PENTING.”
Aku menyodorkan tangan. Bukan minta — merebut. Aku menarik earphone kiri dari telinganya dengan satu gerakan cepat, dan dia sama sekali tidak menahan, dan aku langsung memasangnya sebelum dia sempat berubah pikiran.
“Tamara—”
“Yang kanan mana?”
“Rusak.”
“Ya udah aku pake yang kiri.”
“Iya,” katanya. “Yang kiri buat kamu.”
Dan lagunya sedang di tengah, dan aku harus geser mendekat karena kabelnya pendek, dan aku geser lebih dekat daripada yang sebenarnya dibutuhkan kabel itu, dan dia tidak bergerak sedikit pun.
Lagunya pelan. Lama. Bukan tipe yang biasa kudengar.
“Ini lagu sedih.”
“Bukan.”
“Ini sedih banget.”
“Itu lagunya biasa aja. Yang sedih kamu.”
“HAH?”
“Kamu dengerin lagu sambil tiduran di lantai gudang.”
Aku melempar kerikil ke arahnya lagi. Kena, kali ini, di lengan. Dia tidak bereaksi sama sekali.
Jam empat kurang seperempat, awan mulai gelap.
“Hujan,” katanya, sambil membereskan tasnya.
“Belum.”
“Sepuluh menit lagi.”
“Sok tau.”
Sembilan menit kemudian hujan turun.
Kami berdiri di bawah atap koridor lab, terjebak, dengan lima meter jarak antara kami dan gerbang belakang yang semuanya terbuka ke langit.
Aku mengecek ponsel. Sopir Mama baru bisa jam lima. Ojek online tidak ada yang mau ambil karena hujan.
Dan aku, dengan seluruh kepercayaan diri seseorang yang tidak pernah ditolak seumur hidupnya, berkata:
“Anter.”
Dia menoleh.
“Hah?”
“Anter aku ke gerbang depan.”
“Ke gerbang depan?”
“Iya.”
“Itu tiga puluh meter.”
“Iya.”
“Hujan.”
“IYA.”
Dia melihatku. Lalu melihat hujan. Lalu melihatku lagi.
Lalu dia melepas tasnya, mengeluarkan sesuatu, dan membukanya.
Payung. Kecil. Warnanya biru tua dengan satu jeruji yang bengkok sehingga bentuknya agak miring ke satu sisi. Kelihatannya seperti payung yang sudah dipakai sejak zaman Belanda.
“Kamu bawa payung?”
“Iya.”
“Dari tadi?”
“Iya.”
“Kamu tau bakal hujan dari tadi?”
“Iya.”
“KENAPA NGGAK BILANG—”
“Kamu bilang saya sok tau.”
Dan dia melangkah keluar ke hujan sambil memegang payung miring itu, dan aku harus setengah berlari untuk menyusul, dan aku masuk ke bawah payung itu dengan cara yang sangat tidak anggun sambil mengumpat kecil.
Payungnya kecil. Sangat kecil. Payung untuk satu orang yang irit.
Aku menempel ke sisi kanannya karena tidak ada pilihan lain, dan setengah bahunya yang kiri basah dalam sepuluh detik pertama, dan dia tidak menggeser payungnya sedikit pun ke arahnya sendiri sepanjang tiga puluh meter itu.
Tiga puluh meter itu lebih lama dari yang seharusnya.
Bukan karena kami jalan pelan. Karena aku menghitung setiap langkah, dan karena di langkah kedelapan aku sadar bahuku menempel ke bahunya, dan di langkah kelima belas aku sadar dia lebih tinggi dari yang kukira karena selama ini aku selalu melihatnya duduk.
Di langkah kedua puluh, ada genangan.
Dia berhenti. Aku hampir menabrak punggungnya.
“Ke kanan,” katanya.
“Apa?”
“Genangannya dalem.”
“Kamu tau dari mana?”
“Kemarin saya lewat sini.”
Dan dia menggeser jalannya ke kanan, yang artinya dia melangkah ke sisi luar, yang artinya sisa bahunya yang belum basah sekarang basah juga.
Aku ingin bilang sesuatu. Aku tidak tahu apa.
Jadi aku melakukan hal yang paling bodoh, yang mana adalah kebiasaanku: aku menarik ujung seragamnya dari belakang, dua jari, supaya dia tidak jalan terlalu cepat.
Dia berhenti sepersekian detik. Lalu jalan lagi, lebih pelan.
Dia tidak berkomentar. Dia tidak menoleh. Dia cuma memperlambat langkahnya, dan tetap begitu sampai gerbang.
Di gerbang depan, hujan mulai reda.
Aku keluar dari bawah payung dan mengibaskan rok, dan lengan kirinya sudah basah dari bahu sampai siku.
“Kamu basah.”
“Iya.”
“Kenapa nggak—”
“Payungnya kecil.”
“Ya makanya bagi dua.”
“Udah dibagi dua.”
“Ini bukan dibagi dua! Ini kamu kasih semua!”
Dia melipat payungnya, mengibaskannya sekali, dan memasukkannya kembali ke tas.
“Kamu nggak boleh basah,” katanya.
“Kenapa?”
“Kamu ada les.”
Aku terdiam.
Aku tidak punya les. Aku sudah bilang aku punya les ke Nayla dan Putri belasan kali, tapi aku belum pernah mengatakannya ke dia. Tidak sekali pun.
“Aku nggak—” Aku berhenti. “Kamu tau dari mana aku ada les?”
“Nggak tau.”
“Terus?”
“Kamu selalu pulang jam empat lewat. Kalau nggak ada apa-apa, orang pulang jam tiga.”
Sederhana. Salah, tapi sederhana.
Dan aku berdiri di sana dengan seragam kering dan bahu kirinya yang basah dalam pandanganku, dan sesuatu di dadaku terasa seperti ditekan pelan-pelan dengan telapak tangan.
“Andhika.”
“Hm.”
“Besok kamu ke atas lagi?”
“Iya.”
“Jam berapa?”
Dan dia melakukan hal itu lagi — melirik jam tangannya, padahal pertanyaanku tidak ada hubungannya dengan jam.
“Sore,” katanya. “Kayak biasa.”
“Ya udah. Aku juga.”
Dia mengangguk. Dia berbalik dan berjalan ke arah gerbang belakang, ke arah yang berlawanan denganku, karena ternyata “deket sini” itu artinya di belakang sekolah dan bukan di depan.
Dan aku memperhatikannya sampai dia hilang di tikungan, sambil memikirkan satu hal kecil yang tidak bisa kulepaskan:
Payung itu ada di tasnya sejak pagi.
Yang artinya dia sudah tahu akan hujan sejak pagi.
Yang artinya, kalau aku tidak minta diantar, dia akan berjalan pulang sendirian dengan payung untuk satu orang, sesuai rencananya, seperti biasa.
Dan aku baru saja membuat setengah badannya basah karena aku tidak suka ditolak.
Malamnya, aku membuka grup angkatan untuk pertama kalinya dalam dua minggu.
Ada dua puluh tiga pesan baru. Aku scroll ke atas tanpa membaca.
Lalu aku berhenti di satu foto.
Foto rapat OSIS, diunggah entah oleh siapa, diambil dari belakang ruangan. Ketua OSIS berdiri di depan, sedang menunjuk papan tulis, dengan ekspresi yang membuat semua orang di foto itu duduk tegak.
Aku hampir scroll lewat.
Lalu aku memperbesar bagian pojok kanan bawah foto, karena ada sesuatu yang menempel di dinding di belakang: papan pengumuman kecil, dengan kertas tertempel di sana.
Dan tulisannya, walaupun buram, terbaca cukup jelas untuk membuatku menegakkan punggung di kasur:
JADWAL PENGGUNAAN AREA BELAKANG LABORATORIUM — RENCANA RENOVASI GUDANG.
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter reading
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu