← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Fifteen

Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda

POV: Renata


Saya menyusun tujuh pendekatan.

Saya menyusunnya pada malam Senin, di atas kertas, dengan sistem penilaian tiga kriteria: kemungkinan diterima, risiko penolakan permanen, dan risiko dia mengetahui bahwa saya mengetahui.

Pendekatan keempat memperoleh skor tertinggi.

Pendekatan keempat adalah: tidak menyinggung apa pun, dan mengubah satu variabel kecil yang tidak dapat ditolak.


Variabel kecil tersebut adalah kotak makan.

Sebelumnya: satu kotak, diberikan pukul 12.40, dengan keterangan kelebihan porsi.

Sekarang: satu kotak, diberikan pukul 12.40, dengan keterangan yang sama, tetapi porsinya ditambah empat puluh persen dan komposisinya diubah.

Saya meminta ibu saya menambahkan protein. Ibu saya bertanya apakah saya sedang menjalani program tertentu. Saya menjawab ya.

Itu kebohongan yang keenam belas.

Hasilnya dapat diamati pada hari ketiga. Dia menghabiskannya. Seluruhnya, sebagaimana biasa. Tidak berkomentar mengenai perubahan porsi.

Hasilnya dapat diamati lebih jauh pada hari kedelapan, ketika dia berdiri setelah tidur siang dan tidak menopang dirinya ke tembok.

Saya mencatat ini di agenda saya dengan pensil, di luar format, di bawah baris Andhika.

Saya menyadari bahwa saya kini memiliki dua sistem pencatatan: satu dengan pulpen, untuk hal-hal yang dapat dipertanggungjawabkan, dan satu dengan pensil, untuk hal-hal yang tidak.

Sistem pensil sudah mencapai sembilan belas baris.

Saya membacanya ulang pada malam Kamis, seluruhnya, dan saya perlu mencantumkan beberapa di sini karena saya kemudian menyadari sesuatu mengenai daftar tersebut.

Melirik jam rata-rata 9x/jam. Tidak pernah menyandarkan punggung sepenuhnya ke tembok. Selalu menyisakan jarak 2-3 cm. Menggulung kabel earphone dua lingkaran, ujung diselipkan. Selalu. Tidak pernah tiga. Kotak bekal: nasi, tempe 2 potong, sambal. 23 hari berturut-turut. Ketika berdiri, selalu mendorong dari lutut, bukan dari tangan. Tidak pernah menyentuh terlebih dahulu.

Sembilan belas baris.

Tidak satu pun di antaranya adalah informasi.

Seluruhnya adalah pengamatan mengenai bagaimana seseorang menempati ruang.

Saya menutup buku itu dan duduk cukup lama, karena saya baru menyadari bahwa saya telah menyusun daftar semacam ini sekali sebelumnya dalam hidup saya, yaitu ketika saya berusia delapan tahun dan sedang menghafal kebiasaan ayah saya agar dapat mengetahui kapan beliau sedang tidak boleh diganggu.


Pendekatan kelima adalah pertanyaan.

Ini lebih sulit, karena saya tidak memiliki pengalaman menanyakan hal yang bukan urusan saya.

“Saudara Andhika.”

“Hm.”

“Apakah Anda memiliki rencana setelah lulus?”

Dia menoleh.

“Kenapa?”

“Saya sedang menyusun data untuk program bimbingan karier OSIS.”

“Oh.”

Dia percaya. Atau dia berpura-pura percaya, yang lebih mungkin.

“Belum,” katanya.

“Belum memiliki rencana, atau belum memutuskan di antara beberapa rencana?”

“Belum.”

“Itu tidak menjawab pertanyaan saya.”

“Iya.”

Saya mencoba jalur lain.

“Apabila tidak ada hambatan apa pun — biaya, jarak, nilai — apa yang akan Anda pilih?”

Ini pertanyaan yang saya susun selama dua puluh menit malam sebelumnya. Saya cukup bangga dengan konstruksinya. Frasa apabila tidak ada hambatan apa pun seharusnya membebaskan responden dari kebutuhan untuk menjelaskan hambatannya.

Dia diam cukup lama.

“Nggak pernah kepikiran,” katanya.

“Semua orang pernah memikirkannya.”

“Enggak.”

“Saudara Andhika, ini pertanyaan hipotetis. Tidak ada konsekuensinya.”

Dan dia berkata sesuatu yang saya tuliskan dalam sistem pensil pada malam harinya, kata per kata, karena saya tidak ingin kehilangan susunannya:

“Kalau kamu tiap hari ngitung yang beneran ada, lama-lama otak kamu berhenti ngitung yang nggak ada.”


Saya perlu menjelaskan mengapa kalimat tersebut mengganggu saya.

Bukan karena isinya menyedihkan. Saya bukan orang yang mudah tersentuh oleh hal-hal yang menyedihkan; ini bukan kelebihan maupun kekurangan, ini sekadar konfigurasi.

Kalimat tersebut mengganggu saya karena saya melakukan hal yang persis sama, dari arah yang berlawanan.

Saya juga tidak pernah memikirkan apa yang akan saya pilih apabila tidak ada hambatan.

Saya memiliki rencana. Rencana saya sangat rinci: jurusan, universitas, tiga kampus cadangan, jalur beasiswa yang tidak saya butuhkan namun saya lamar karena akan tercatat baik, dan proyeksi lima tahun setelah kelulusan.

Seluruh rencana itu disusun berdasarkan apa yang dapat saya capai.

Tidak satu pun disusun berdasarkan apa yang saya inginkan.

Saya menutup agenda malam itu dan duduk cukup lama, dan untuk pertama kalinya saya mempertimbangkan kemungkinan bahwa dua orang dapat berada dalam penjara yang sangat berbeda dan tetap tidak bisa keluar dengan cara yang sama.


Pada hari Rabu, terjadi sesuatu yang tidak saya rencanakan.

Saya menaiki tangga besi pukul 12.38 — dua menit lebih awal, karena rapat selesai lebih cepat — dan pada anak tangga ketujuh, sepatu saya tergelincir.

Saya perlu mencatat bahwa saya tidak panik. Saya mencatat, secara berurutan: (1) anak tangga kedelapan longgar di sisi kiri, (2) berat badan saya telah berpindah, (3) tidak ada pegangan dalam jangkauan tangan kanan.

Kemudian pergelangan tangan kiri saya ditahan.

Genggamannya sangat kuat dan berlangsung kira-kira dua detik.

Saya menemukan pijakan. Genggaman itu langsung dilepaskan.

“Anak tangga kedelapan longgar,” katanya, dari atas.

“Saya mengetahuinya.”

“Kamu naik dua menit lebih cepet.”

“Rapat selesai lebih awal.”

“Kalau naik cepet, biasanya nggak liat pijakan.”

Saya menyelesaikan sisa tangga dan berdiri di atap dan tidak langsung berjalan ke sudut barat daya.

Saya berdiri di sana, memegang pergelangan tangan kiri saya sendiri dengan tangan kanan, dan menyadari sesuatu.

Selama satu bulan dua minggu, saya telah menghitung setiap sentuhan.

Bahu yang bersinggungan saat menyerahkan dokumen: satu kali. Jaket yang menutupi bahu saat tidur: satu kali, dan itu bukan sentuhan. Total: satu.

Dan seluruhnya adalah inisiatif saya, atau kebetulan.

Ini yang pertama yang bukan.

“Renata.”

“Ya.”

“Kamu masih berdiri.”

“Ya.”

“Kenapa?”

Saya mencari jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak menemukan satu pun, sehingga saya menjawab dengan yang benar.

“Saya sedang memproses sesuatu.”

“Oke.”

Dan dia tidak bertanya apa. Dia tidak pernah bertanya apa. Dia memberi orang lain ruang untuk tidak menjawab, dan saya baru menyadari sekarang bahwa itu adalah bentuk kesopanan yang tidak pernah saya terima dari siapa pun, karena semua orang di sekitar saya selalu ingin tahu apa yang sedang saya pikirkan agar mereka dapat menyesuaikan diri.

Saya berjalan ke sudut barat daya. Saya berbaring.

Dan sebelum saya menutup mata, saya berkata — dan saya tidak merencanakan ini, dan saya akan menganalisisnya selama tiga hari berikutnya:

“Terima kasih.”

“Hm.”

“Bukan untuk tangganya.”

Hening.

“Oke,” katanya.


Hari Kamis, saya melakukan pelanggaran keempat terhadap protokol saya sendiri.

Saya melepas kacamata saya di hadapannya.

Ini terdengar sepele. Saya perlu menjelaskan mengapa tidak.

Saya menggunakan kacamata sejak kelas delapan. Saya menggunakannya hanya ketika membaca dokumen. Terdapat dua orang di sekolah ini yang pernah melihat saya tanpa kacamata dalam kondisi sedang membaca, dan keduanya adalah petugas kesehatan.

Alasannya bukan estetika. Alasannya adalah bahwa ketika saya melepas kacamata, saya harus mendekatkan wajah ke kertas, dan ketika saya mendekatkan wajah ke kertas, saya terlihat seperti orang yang kesulitan.

Hari Kamis, gagang kacamata saya patah.

Saya duduk di atap dengan dokumen yang harus saya baca sebelum pukul 13.00 dan sebuah kacamata yang tidak dapat digunakan.

Saya melepasnya. Saya meletakkannya di lantai. Saya mendekatkan wajah saya ke kertas dan membaca selama sebelas menit dengan postur yang tidak akan pernah saya izinkan untuk difoto.

Dia tidak berkomentar.

Pada menit kesembilan, tanpa berkata apa pun, dia menggeser posisi duduknya sekitar satu meter — bukan mendekat, melainkan ke samping — sehingga bayangan tubuhnya tidak lagi jatuh ke atas kertas saya.

Saya tidak menyadari bahwa bayangannya jatuh ke atas kertas saya.

Dia menyadarinya, dan dia menyelesaikannya, dan dia tidak menyebutkannya.

Pukul 12.55, saya berdiri.

“Saudara Andhika.”

“Hm.”

“Apakah Anda menyadari bahwa Anda melakukan banyak hal untuk orang lain tanpa memberi tahu orang tersebut?”

“Enggak.”

“Anda menyadarinya.”

“Hm.”

“Mengapa tidak diberitahukan?”

Dia melirik jam tangannya. Pukul 12.56. Tidak ada apa pun yang dijadwalkan pukul 12.56.

“Kalau dikasih tau,” katanya, “orangnya jadi ngerasa punya utang. Terus dia bayar. Terus selesai.”

“Bukankah itu adil?”

“Iya.” Dia memasang earphone. “Tapi kalau udah selesai, orangnya nggak dateng lagi.”

Saya berdiri di atas gudang itu, memegang kacamata yang gagangnya patah, dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun saya tidak dapat menyusun kalimat balasan yang memadai.

Karena saya baru saja menerima informasi yang tidak dapat saya masukkan ke dalam kategori mana pun, dan yang implikasinya terlalu besar untuk saya proses sambil berdiri:

Orang yang tidak pernah meminta apa pun kepada siapa pun—

—sedang berusaha, dengan seluruh cara yang dia bisa, agar orang tidak berhenti datang.


Saya menuruni tangga besi pukul 12.57.

Pada anak tangga ketiga dari bawah, saya berhenti.

Saya telah melakukan hal ini setiap hari selama satu bulan dua minggu, dan saya tidak pernah mencatatnya karena saya tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu.

Di anak tangga ketiga, saya meluruskan bahu. Saya menarik napas satu kali. Saya memastikan ekspresi saya kembali ke posisi netral.

Ini bukan kebiasaan yang saya susun secara sadar. Ini terjadi dengan sendirinya, entah sejak kapan.

Hari itu saya menyadarinya, dan saya berdiri di anak tangga ketiga selama kira-kira sepuluh detik memikirkan implikasinya.

Ada seseorang yang naik ke atap gudang setiap hari untuk berhenti menjadi Ketua OSIS selama lima belas menit.

Dan ada seseorang lagi, di atas sana, yang tidak pernah menjadi apa pun sejak awal, sehingga tidak memiliki apa pun untuk dilepas.

Saya turun.

Saya berjalan ke sekretariat. Wisnu berdiri dan menyapa. Tiga pengurus meminta tanda tangan. Saya menandatangani seluruhnya dalam empat menit.

Dan pada pukul 13.06, saya melakukan hal yang tidak pernah saya lakukan dalam dua tahun sebelas bulan.

Saya membuka agenda saya, mencari blok pukul 15.00 hari Jumat yang bertuliskan Rapat pleno persiapan Bulan Bahasa (opsional), dan mencoretnya.

Kemudian saya duduk memandangi coretan itu.

Blok tersebut opsional. Ketidakhadiran saya tidak berdampak. Tidak ada satu pun konsekuensi.

Namun saya belum pernah mencoret apa pun sebelumnya.

Dan saya tidak dapat menjelaskan kepada diri saya sendiri mengapa hal pertama yang saya coret dalam hidup saya adalah blok pukul tiga sore.