← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Seventeen

Satu Ubin

POV: Sekar


Butuh sembilan hari untuk melepaskan kebiasaan sepuluh tahun.

Aku tahu angkanya karena aku menghitungnya. Aku menghitung semuanya sekarang. Itu penyakit baru yang kudapat dari orang yang duduk di sudut timur laut.

Hari pertama: aku turun tangga dengan memegang besi. Hari kedua: sama. Hari ketiga: aku hampir lupa, dan tanganku sudah setengah bergerak, dan aku menariknya kembali seperti orang yang hampir menyentuh setrika. Hari keempat sampai kedelapan: sama.

Hari kesembilan, tangannya tidak keluar dari saku.

Itu yang paling sakit. Bukan karena dia menyerah — dia tidak menyerah, dia menyesuaikan, dia selalu menyesuaikan. Tapi karena aku sadar dia sudah menghitung juga, dan hasil hitungannya adalah: Sekar sudah tidak perlu.

Dan dia tidak bertanya kenapa.

Sembilan hari, tidak sekali pun.


Hari kesepuluh, aku duduk terpisah satu ubin.

Ini juga terdengar seperti bukan apa-apa. Satu ubin. Tiga puluh sentimeter.

Tapi selama enam minggu aku selalu duduk cukup dekat sehingga kalau salah satu dari kami bergerak, bahu kami bersentuhan. Itu bukan kebetulan; itu tempat dudukku. Aku sudah punya tempat duduk di atap ini seperti orang punya kursi di ruang makan.

Hari itu aku duduk satu ubin lebih jauh, dan aku merasakan dia memperhatikan, dan aku memakan nasi uduk-ku sambil pura-pura tidak tahu.

Kami tidak bicara selama empat menit.

“Kar.”

“Hm.”

“Kamu lagi marah?”

“Enggak.”

“Oke.”

Dan dia berhenti bertanya, karena itu memang dia, dan aku ingin melempar bungkus nasi ke kepalanya.

Tanya lagi, pikirku. Tolong tanya lagi. Sekali lagi aja. Kalau kamu tanya sekali lagi aku bakal cerita semuanya.

Dia tidak bertanya lagi.

Dia memberiku ruang, seperti yang selalu dia lakukan untuk semua orang, dan aku duduk di dalam ruang itu sendirian dan tidak tahu bagaimana caranya keluar.


Di sekolah, hal-hal lain juga berubah.

Kamis pagi, Dinda datang seperti biasa.

“Sekaaar—”

Dan tangannya sudah terangkat.

Aku mundur setengah langkah.

Cuma setengah langkah. Cuma cukup supaya tangannya berhenti di udara.

Dinda berkedip.

“...Eh?”

“Maaf.” Aku tersenyum. “Rambutku baru dijepit.”

“Oh.” Dia menurunkan tangannya, agak canggung. “Iya, maaf-maaf.”

Dia pergi.

Aku duduk. Tanganku gemetar sedikit, dan aku merasa mual, dan aku juga merasa — ini bagian yang aneh — seperti orang yang baru saja memenangkan sesuatu yang sangat kecil dan sangat mahal.

Dinda tidak melakukannya lagi keesokan harinya.

Dan lusanya juga tidak.

Sepuluh tahun aku mengira aku tidak punya pilihan, dan ternyata yang kubutuhkan cuma setengah langkah ke belakang.

Aku menangis di angkot pulang hari itu, dan aku tidak bisa menjelaskan ke diriku sendiri kenapa.


Hari kesebelas, ada yang bertanya.

“Kar, kamu kenapa sih?”

Rara, teman sebangkuku sejak kelas sepuluh. Satu-satunya orang di kelas ini yang tidak pernah mengelus kepalaku, dan aku baru menyadari itu tiga hari lalu.

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Kamu diem dari kemarin.”

“Aku emang diem.”

“Kamu nggak pernah diem.”

Aku menoleh ke arahnya.

“Ra.”

“Apa?”

“Aku pernah nggak sih, ke kamu, kelihatan capek?”

Rara berpikir. Betulan berpikir, dengan kening berkerut, selama beberapa detik.

“Nggak,” katanya.

“Nggak pernah?”

“Nggak pernah, Kar. Kamu tuh selalu— ” Dia mencari kata. “Kayak, kamu selalu oke.”

“Oh.”

“Kenapa emang?”

Aku tersenyum. Senyum maskot nomor tiga, yang sudah kupakai sejak SD, yang sudut bibirnya naik sepuluh derajat dan matanya menyipit sedikit.

“Nggak apa-apa,” kataku.

Dan setelah aku mengatakannya, aku duduk di sana merasa jijik pada diriku sendiri.

Karena ada orang yang baru saja bertanya, dengan tulus, dan aku menutup pintunya dalam empat detik.

Dan aku baru sadar bahwa aku sudah melakukan itu selama bertahun-tahun ke semua orang.

Termasuk ke tetanggaku.

Termasuk ke orang yang setiap hari kutuduh dalam hati sebagai orang yang tidak pernah menceritakan apa-apa.


Hari kedua belas, dia melakukannya.

Kami baru turun. Aku menginjak lantai koridor. Dan tanpa ada apa-apa sebelumnya, tanpa alasan, tangannya bergerak ke arah kepalaku.

Bukan mengelus. Bukan yang seperti Dinda. Lebih pelan, lebih ragu, dan setengah jalan.

Aku menepisnya.

Bukan pelan. Aku menepisnya — bunyi telapak tangan bertemu punggung tangan, di koridor kosong, cukup keras untuk terdengar.

Kami berdua berdiri di sana.

Tanganku masih di udara. Tangannya sudah turun.

“Maaf,” katanya.

“Bukan—” Aku menelan. “Bukan gitu.”

“Iya.”

“Kamu nggak salah.”

“Iya.”

“Dhika—”

Dan aku berhenti.

Karena aku baru saja mendengar suaraku sendiri, dan aku baru saja tidak mengatakan Mas.

Dia juga mendengarnya.

Aku tahu dia mendengarnya karena ada sesuatu yang bergerak di wajahnya, sangat cepat, dan langsung disimpan kembali seperti semua hal lain yang dia simpan.

“Kar.”

“Ya?”

“Nggak apa-apa,” katanya. “Panggil apa aja.”

Dan dia berjalan pergi, dan aku berdiri di koridor itu dengan telapak tangan yang masih panas dan satu kata yang baru saja kubunuh.


Malamnya aku duduk di teras.

Ibuku tidak keluar kali ini. Mungkin dia tahu.

Jam sepuluh lewat, ada bunyi langkah di gang. Lampu depan rumah sebelah menyala tiga detik kemudian.

Dia lewat.

Dia melihat aku duduk di sana.

Dan dia melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan selama sepuluh tahun kami bertetangga:

Dia berhenti di depan pagarku.

“Kar.”

“Hm.”

“Boleh nanya?”

Jantungku melakukan sesuatu yang tidak sopan.

“Boleh.”

Dia berdiri di sana, di luar pagar, dengan tas di bahu dan kaus oblong yang bau tinta dan tangan di saku, dan dia berdiri cukup lama sehingga aku sempat menyusun tiga jawaban untuk tiga pertanyaan berbeda.

“Kamu masih mau naik besok?” katanya.

Dan itu bukan salah satu dari tiga.

“Ya masih.”

“Oke.”

“Kenapa nanya gitu?”

“Nggak apa-apa.”

“Dhika.”

“Hm.”

“Kamu pikir aku bakal berhenti dateng?”

Dia tidak menjawab.

Dan itu jawabannya.


Aku berdiri. Aku berjalan ke pagar. Aku membukanya — bunyi engselnya keras sekali di gang yang sunyi — dan aku berdiri di trotoar, di depannya, seratus lima puluh dua sentimeter menghadap seratus tujuh puluh enam.

“Aku nggak akan berhenti dateng,” kataku.

“Oke.”

“Aku serius.”

“Oke.”

“Aku nggak lagi ngambek. Aku nggak lagi marah. Aku nggak—” Aku menelan. “Aku lagi ngapus kebiasaan.”

Dia diam.

“Kebiasaan apa?”

Dan aku, yang selama lima tahun tidak pernah berani mengatakan satu kalimat jujur ke orang ini, mengatakannya di trotoar jam sepuluh malam sambil menahan supaya suaraku tidak pecah:

“Semua yang aku lakuin ke kamu tuh kebiasaan, Dhika. Semuanya. Aku megang tangan kamu bukan karena aku mau. Aku megang tangan kamu karena tangan kamu emang selalu ada di situ dari aku umur enam.”

Dia tidak bergerak.

“Terus aku sadar,” kataku, “kalau aku nggak pernah milih sekali pun. Nggak sekali pun. Sepuluh tahun.”

Angin lewat di gang. Lampu tiang ketiga masih mati.

“Kamu tau nggak,” lanjutku, “kemarin ada temen aku nanya aku kenapa. Beneran nanya. Terus aku bilang nggak apa-apa dalam empat detik.”

Dia diam.

“Aku selalu gitu, Dhika. Ke semua orang. Ke ibu aku juga.”

“Iya.”

“Kamu tau?”

“Iya.”

“Dari kapan?”

“Dari kamu umur delapan.”

Aku menyeka mataku dengan pergelangan tangan, dan aku tertawa sekali — tawa yang jelek, yang keluar bersama ingus.

“Kamu tuh selalu bilang ‘dari kamu umur delapan’ kayak itu ngejelasin semuanya.”

“Emang ngejelasin.”

“Terus kenapa kamu nggak pernah bilang apa-apa?”

“Karena kalau saya bilang,” katanya, “kamu bakal berhenti.”

“Berhenti apa?”

“Berhenti pura-pura.” Dia memandang ke arah lampu tiang yang mati. “Terus kamu harus mikirin gimana caranya jadi orang yang nggak pura-pura. Terus itu susah. Terus saya yang bikin kamu harus ngerjain itu.”

“Terus?”

“Terus kalau kamu nggak sanggup, kamu bakal ngehindarin saya.”

Aku berdiri di trotoar itu memandanginya.

Dan aku mengerti — akhirnya, setelah sepuluh tahun — kenapa orang ini tidak pernah mengatakan apa pun kepada siapa pun.

Bukan karena dia tertutup.

Karena setiap kali dia hampir mengatakan sesuatu, dia sudah menghitung dulu berapa biayanya untuk orang lain, dan hasilnya selalu lebih mahal daripada diam.

“Terus aku pikir—” Suaraku pecah di sini, dan aku membiarkannya. “Terus aku pikir, kalau aku nggak pernah milih, berarti aku nggak beda sama Dinda. Dia elus kepala aku tanpa mikir. Aku pegang tangan kamu tanpa mikir. Sama aja. Sama-sama nggak nganggep orangnya ada.”

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya — sejak umur enam tahun, sejak sepeda, sejak pohon jambu, sejak semuanya —

Andhika Pratama kehilangan kata.

Dia berdiri di trotoar dengan mulut setengah terbuka dan tidak mengeluarkan apa pun.

Tiga detik. Empat.

“Kar,” katanya akhirnya, dan suaranya tidak seperti biasa. “Itu nggak sama.”

“Kenapa nggak sama?”

“Karena—”

Dia berhenti.

Dan aku melihat dia mencari kata-kata, benar-benar mencari, dengan cara yang belum pernah kulihat dari orang yang selalu punya jawaban satu kalimat untuk segalanya.

Dia tidak menemukannya.

Dia memasukkan tangannya lebih dalam ke saku.

“Nanti saya pikirin,” katanya.

“Jangan dipikirin.”

“Hm?”

“Jangan dipikirin, Dhika.” Aku menyeka mata dengan punggung tangan. “Kamu tuh mikirin semua orang tiap hari. Sekali aja, jangan dipikirin.”

Aku menutup pagar.

Aku masuk.

Aku tidak menoleh, karena kalau aku menoleh dan dia masih berdiri di sana aku akan keluar lagi dan semuanya akan sia-sia.


Aku menoleh dari balik jendela.

Dia masih berdiri di sana.

Dua menit. Aku menghitungnya.

Lalu dia mengeluarkan earphone dari saku, memasangnya — dua-duanya, yang kiri dan yang kanan — dan berjalan masuk ke rumahnya.

Dan aku, yang sudah dua belas hari melatih diriku untuk memperhatikan hal-hal yang tidak dia katakan, menyadari sesuatu yang membuatku terjaga sampai jam tiga pagi:

Ponselnya masih di dalam saku celana.

Dia tidak menyentuhnya sekali pun.

Dia memasang earphone tanpa memutar apa pun.