← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Eleven

Dua Menit Lewat

POV: Sekar


Hari Senin, aku memutuskan untuk tidak turun.

Bukan rencana besar. Aku bahkan tidak menyusunnya sampai jam sepuluh lewat lima, ketika dia melirik jam tangannya untuk yang kedua kalinya dan aku merasakan sesuatu di dadaku mengeras.

“Kar, turun yuk.”

“Bentar.”

“Bel lima menit lagi.”

“Iya, bentar.”

Aku tidak bergerak.

Aku duduk di sana dengan bungkus nasi yang sudah habis di pangkuan dan tidak bergerak, dan aku merasakan dia berdiri di dekat tangga, menungguku, dengan kesabaran orang yang tidak pernah kehabisan kesabaran.

10.09.

“Kar.”

“Aku belum selesai.”

“Bungkusnya udah kosong.”

“Aku lagi mikir.”

“Mikirin apa?”

Aku menoleh ke arahnya.

Dan aku hampir mengatakannya. Sungguh. Kalimatnya sudah ada di mulutku, lengkap: Aku mikirin siapa yang naik ke sini setelah aku turun.

Aku tidak mengatakannya.

Karena kalau aku mengatakannya, dia akan menjawab sesuatu yang tenang dan masuk akal, dan aku akan percaya, dan besoknya semuanya akan kembali seperti biasa kecuali ada satu hal lagi di antara kami yang tidak dibicarakan.

Aku sudah punya lima tahun hal-hal yang tidak dibicarakan. Aku tidak perlu tambahan.

“Nggak jadi,” kataku, dan berdiri.

Aku turun duluan.

Anak tangga kelima kuinjak dengan sengaja. Bunyinya keras sekali.

Aku tidak menoleh untuk melihat reaksinya.


Jam kosong hari itu adalah jam keempat dan kelima, dan guru Sejarah tidak masuk, dan itu terlalu kebetulan untuk tidak kumanfaatkan.

Jam 12.31, aku minta izin ke toilet.

Jam 12.33, aku sudah berdiri di ujung koridor lab, di balik tiang, merasa seperti orang paling menyedihkan di sekolah ini.

Jam 12.36, seseorang lewat.

Postur tegak. Seragam tanpa satu kerutan. Rambut diikat rapat. Map di tangan kiri, tas di bahu kanan.

Ketua OSIS.

Renata Claudya Larasati berjalan menuju belakang laboratorium dengan langkah yang panjangnya sama persis satu sama lain, tidak menoleh ke kiri, tidak menoleh ke kanan, seperti orang yang sedang menuju ruang rapat.

Dan naik.

Anak tangga kelima tidak berbunyi.

Dia melangkahinya.


Aku berdiri di balik tiang itu selama entah berapa lama.

Ada bagian dari diriku yang ingin tertawa. Karena ini konyol. Karena ini benar-benar konyol. Karena aku, Sekar Widyaningsih, enam belas tahun, sedang mengintai atap gudang sekolah seperti detektif gagal, dan yang kutemukan adalah bahwa cowok yang kukenal sejak umur enam tahun punya jadwal.

Jam sepuluh: aku. Jam setengah satu: Ketua OSIS. Jam tiga: Tamara Eliza Putri.

Tiga slot. Tiga orang. Tidak pernah bertemu.

Dan yang membuatku hampir muntah bukan itu.

Yang membuatku hampir muntah adalah bahwa untuk membuat itu berjalan selama berminggu-minggu tanpa satu pun tabrakan, seseorang harus mengaturnya.

Setiap hari.

Menghitung menit. Menghitung bunyi tangga. Menyuruh orang turun delapan menit lebih awal. Bilang “nanti kamu telat” ke orang yang kelasnya tiga puluh detik dari situ.

Berapa banyak tenaga yang habis untuk itu?

Berapa banyak yang habis dari orang yang tidur tiga jam semalam?


Aku menunggu.

Aku tidak tahu apa yang kutunggu. Aku sudah dapat jawabannya. Seharusnya aku pulang ke kelas dan menangis di toilet seperti orang normal.

Tapi aku menunggu.

12.55. Ketua OSIS turun. Langkahnya sama panjangnya. Wajahnya sama datarnya. Dia berbelok dan hilang.

Dan aku, di balik tiang, melihat sesuatu yang tidak seharusnya kulihat.

Di anak tangga ketiga dari bawah, dia berhenti.

Cuma sebentar. Dua detik, mungkin. Dia berdiri di sana dengan satu tangan di pegangan besi dan tidak bergerak, seperti orang yang lupa sesuatu.

Lalu dia meluruskan bahunya — benar-benar meluruskannya, dengan gerakan sadar, seperti orang yang memasang sesuatu kembali ke tempatnya — dan turun sisa tiga anak tangga, dan berjalan pergi sebagai Ketua OSIS.

Aku tidak tahu kenapa itu membuatku sesak.

Mungkin karena aku juga punya gerakan seperti itu. Punyaku adalah menghitung sampai lima.

12.57. Aku masih di balik tiang.

12.59. Aku naik.


Dia tidak kaget.

Tentu saja dia tidak kaget. Dia sudah mendengar anak tangga kelima berbunyi sejak lima detik sebelum kepalaku muncul.

“Kar.”

“Hm.”

“Jam segini kamu ada pelajaran.”

“Gurunya nggak masuk.”

“Oh.”

Aku naik sepenuhnya dan berdiri di tengah atap, tidak duduk, dengan tangan mengepal di sisi badan seperti anak SD yang mau berkelahi.

Dia menutup buku catatannya dan meletakkannya di samping.

Dia menunggu.

Dia selalu menunggu. Dia tidak pernah menanyakan apa pun duluan, dan aku baru sekarang mengerti bahwa itu bukan karena dia tidak peduli — itu karena dia memberi orang lain ruang untuk memilih tidak bicara.

Dan aku benci itu, karena itu berarti kalau aku bicara sekarang, itu murni pilihanku, dan aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.

“Ada berapa orang?” tanyaku.

Dia tidak menjawab.

“Mas Dhika. Ada berapa orang yang naik ke sini?”

“Termasuk kamu?”

“Iya.”

Jeda.

“Tiga.”

Aku menghembuskan napas. Panjang. Seperti orang yang habis lari.

“Kamu ngatur jadwalnya.”

“Iya.”

“Tiap hari.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan ini bagian yang tidak kusiapkan.

Karena aku sudah menyusun sepuluh kemungkinan jawaban semalaman dan pagi ini dan siang tadi, dan semuanya jelek, dan semuanya membuatku bisa marah dengan enak.

Yang dia berikan bukan salah satu dari sepuluh itu.

“Karena kalau kalian ketemu,” katanya, “salah satu bakal berhenti dateng.”

Aku membuka mulut.

“Dan yang berhenti dateng bukan kamu,” lanjutnya. “Kamu yang paling nggak enakan.”

“Aku nggak—”

“Kar.”

“Apa.”

“Kalau besok Tamara naik pas kamu di sini, kamu bakal ngapain?”

Aku membuka mulut.

Aku sudah tahu jawabannya sebelum aku selesai membuka mulut, dan itu yang paling menyebalkan.

Aku akan tersenyum. Aku akan bilang “eh, hai.” Aku akan bilang aku baru mau turun. Aku akan turun. Aku akan bilang tidak apa-apa berkali-kali sampai orangnya percaya, dan aku akan menghitung sampai lima di tangga.

“...Aku bakal turun,” kataku.

“Iya.”

“Terus besoknya aku bakal nggak naik lagi.”

“Iya.”

“Terus lama-lama aku berhenti.”

“Iya.”

Dia mengatakan “iya” tiga kali tanpa nada apa pun, dan setiap “iya” itu terasa seperti seseorang membacakan isi kepalaku dari kertas.

“Kamu tau itu semua,” kataku.

“Iya.”

“Dari kapan?”

“Dari kamu umur delapan.”

Dan aku harus menunduk lagi.


Aku duduk. Tiba-tiba. Di lantai semen, di tengah atap, dengan cara yang sama sekali tidak elegan.

“Kamu tau nggak sih kamu ngomong apa,” kataku.

“Tau.”

“Kamu ngatur tiga orang biar nggak ketemu, tiap hari, berminggu-minggu, biar mereka bisa tetep punya tempat.”

“Iya.”

“Kamu nggak capek?”

“Enggak.”

“BOHONG.”

Suaraku memantul ke tembok pembatas dan kembali lagi, dan aku kaget sendiri karena aku tidak pernah berteriak. Bukan tipeku. Aku tipe yang menghitung sampai lima.

Dia tidak kaget.

“Kar—”

“Aku tanya sekali lagi.” Aku menatapnya. “Kamu nggak capek?”

Dan dia diam.

Bukan diam yang biasa. Bukan diam yang artinya lapisan berikutnya lebih membosankan.

Dia diam seperti orang yang sedang memilih.

“Capek,” katanya akhirnya.

Satu kata.

Aku tidak siap dengan satu kata itu. Aku sudah siap untuk sepuluh kebohongan dan aku tidak siap untuk satu kata jujur, dan mataku langsung panas dan aku harus menunduk dan pura-pura membenahi jepit rambut yang sama sekali tidak longgar.

Kalau dia keliatan capek, jangan dibilangin capek.

Baik, Pak Har.

Aku tidak akan bilang.

“Ya udah,” kataku, ke lantai.

“Hm.”

“Aku nggak akan berhenti dateng.”

“Oke.”

“Walaupun mereka ada.”

“Oke.”

“Walaupun kamu nggak ngatur lagi.”

Dia tidak menjawab yang ini.

Aku mengangkat kepala. Dia sedang menghadap depan, dan wajahnya seperti biasa, dan tangannya ada di saku walaupun dia sedang duduk.

“Mas Dhika.”

“Hm.”

“Kalau tempat ini dibongkar, kamu ke mana?”

Dan dia melirik jam tangannya.

Jam 13.14. Tidak ada apa pun yang dijadwalkan jam 13.14. Tidak ada yang akan datang. Tidak ada yang harus dihindari.

Dia tetap melirik jam tangannya.

“Nanti dipikirin,” katanya.


Aku turun jam 13.20.

Di anak tangga kedelapan, kakiku miring — bukan sengaja, besinya memang longgar — dan tanganku otomatis menggapai ke belakang.

Dan menemukan dua jarinya.

Dia sudah ada di sana. Sudah, sebelum aku menggapai. Tangannya sudah keluar dari saku dan terulur sebelum kakiku sempat miring, karena dia hafal anak tangga mana yang longgar dan dia hafal berapa lama aku butuh untuk sampai ke sana.

Aku memegang dua jarinya sampai bawah.

Dan di bawah, di lantai koridor, aku tidak langsung melepaskannya.

Dua detik. Tiga.

Dia juga tidak menarik tangannya.

“Kar.”

“Ya?”

“Bel.”

Aku melepaskan. Aku berbalik. Aku jalan.

Dan aku sudah lima langkah ketika suaranya menyusul dari belakang, pelan, dengan nada yang tidak pernah kudengar dari dia sebelumnya — bukan datar, bukan tenang, sesuatu yang lain:

“Makasih ya, Kar.”

Aku berhenti.

“Buat apa?”

Tapi waktu aku berbalik, koridor sudah kosong.

Dan aku berdiri di sana, di depan gudang tua yang bulan depan akan dibongkar, dengan satu pertanyaan yang tidak akan berhenti mengganggu tidurku selama dua minggu berikutnya:

Kenapa orang bilang terima kasih untuk sesuatu yang belum kamu lakukan?


Malamnya, aku duduk di teras lagi.

Kali ini ibuku ikut keluar, membawa dua gelas teh, dan duduk di sebelahku tanpa bertanya apa-apa selama sepuluh menit penuh. Itu keahliannya. Ibuku bisa duduk di sebelah orang selama sepuluh menit dan membuat orang itu bicara duluan tanpa mengeluarkan satu kata pun.

“Bu.”

“Hm.”

“Kalau ada orang yang selalu ngurusin orang lain, tapi dia sendiri nggak mau diurusin, itu kenapa?”

Ibuku meniup tehnya.

“Ya karena dia nggak pernah diurusin.”

“Maksudnya?”

“Orang cuma bisa nerima hal yang pernah dia terima, Nduk.” Dia menyeruput. “Kalau dari kecil dia yang ngurus, ya dia cuma tau caranya ngurus.”

Aku memandangi tembok yang memisahkan halaman kami.

“Terus caranya gimana, Bu?”

“Apanya?”

“Biar dia mau diurusin.”

Ibuku menoleh ke arahku. Lama. Dengan tatapan yang membuatku sadar bahwa aku baru saja membocorkan jauh lebih banyak daripada yang kuniatkan.

“Nggak ada caranya,” katanya akhirnya. “Kamu cuma bisa ada terus. Sampai dia lupa buat nolak.”

Dia berdiri, mengambil gelasku yang belum habis, dan masuk.

Aku duduk di teras itu sampai jam sepuluh lewat empat belas.

Lampu depan rumah sebelah menyala.

Aku tidak menyapa. Dia tidak lewat pagarku malam itu — dia masuk dari sisi yang lain, jalan yang lebih jauh, dan aku tahu persis kenapa.

Karena aku duduk di teras, dan karena dia sudah menghitung bahwa kalau dia lewat, aku akan bertanya lagi.