Chapter Four
Tiga Bungkus
POV: Tamara
“Tam, kamu nggak makan?”
“Udah tadi.”
“Tadi kapan?”
“Tadi.”
Nayla menatapku dengan tatapan yang dia pikir peduli tapi sebenarnya cuma penasaran, dan Putri di sebelahnya sudah mengangkat ponsel dengan kamera menyala karena di meja ini tidak ada satu pun kejadian yang tidak layak diarsipkan.
Aku mengambil satu potong buah dari mangkuk mereka. Melon. Aku menggigitnya seperempat.
“Ih, Tamara tuh emang gitu ya,” kata Putri sambil merekam. “Makan dikit banget. Pantesan.”
Pantesan.
Aku tersenyum ke kamera karena tersenyum ke kamera adalah refleks yang dipasang ke tubuhku sejak umur tujuh, bersama dengan cara duduk, cara memegang sendok, dan cara berdiri di foto supaya bahu tidak terlihat lebar.
Mama mantan model. Aku sudah bilang ini ke tiga orang seumur hidupku dan ketiganya menjawab hal yang sama: “keren banget.”
Iya. Keren banget.
Keren banget punya ibu yang di meja makan berkata “kamu udah nambah dua sendok” dengan nada yang sama seperti orang membacakan ramalan cuaca. Keren banget punya timbangan di kamar mandi yang angkanya dicatat. Keren banget belajar sejak SD bahwa lapar itu sesuatu yang harus disembunyikan seperti kebiasaan buruk.
Mama tidak jahat. Itu yang paling susah dijelaskan ke orang.
Dia menyisir rambutku sampai kelas empat SD. Dia datang ke semua pentas. Dia menangis waktu aku diterima di sekolah ini.
Dan dia juga yang, waktu aku umur dua belas dan mengambil roti kedua di meja sarapan, berkata dengan sangat lembut, tanpa marah sedikit pun:
“Sayang, kamu cuma punya itu.”
Itu. Wajahku. Yang dia maksud wajahku.
Aku baru paham tiga tahun kemudian, dan sejak paham, kalimat itu tidak pernah keluar dari kepalaku sekali pun.
Bel pulang berbunyi.
“Tam, ke mall yuk—”
“Nggak bisa. Ada les.”
Aku tidak punya les.
Aku punya rute.
Keluar kelas, belok kanan, lewat koridor lab, terus sampai habis. Di ujungnya ada gudang tua yang gemboknya karatan, dan di sisi gudang itu ada tangga besi yang naik ke atap.
Aku menemukannya empat bulan lalu waktu kabur dari sesi foto angkatan.
Dan sejak itu, tiga kali seminggu, aku membeli tiga bungkus nasi dari warung di seberang gerbang belakang — nasi padang, telor dadar, mie goreng, kadang gorengan — lalu naik ke sana dan makan sampai habis, semuanya, dengan tangan, tanpa menahan apa pun.
Itu satu-satunya tempat di dunia di mana aku boleh lapar.
Aku naik. Anak tangga kelima bunyi seperti biasa. Aku sampai di atas, berbalik ke sudut yang biasa—
Dan ada cowok duduk di sana.
Aku berhenti. Kantong plastikku bergoyang.
Dia menoleh. Melepas earphone sebelah kiri.
Dan aku melakukan hal paling bodoh yang bisa dilakukan manusia dalam situasi itu:
Aku menyembunyikan kantong plastiknya ke belakang punggung.
Tiga detik penuh. Dua orang saling menatap. Satu kantong plastik berisi tiga bungkus nasi disembunyikan di belakang punggung seperti barang bukti.
“Itu berat,” katanya.
“...Hah?”
“Kantongnya. Kalau dipegang di belakang, talinya nekan.”
Dia bilang itu dan langsung menoleh lagi ke depan, memandangi pohon-pohon, seperti orang yang baru saja memberi tahu bahwa lantainya licin.
Aku berdiri di sana dengan wajah panas dan tangan pegal.
“Kamu siapa?” tanyaku, dan itu keluar lebih galak dari yang kumaksud, tapi biar saja.
“Andhika.”
“Ngapain di sini?”
“Duduk.”
“Ini tempat aku.”
“Oh.”
“‘Oh’?”
“Iya.” Dia mengambil tasnya. “Ya udah.”
Dan dia benar-benar berdiri. Benar-benar mau pergi. Tanpa berdebat, tanpa bertanya kenapa aku merasa berhak atas atap sebuah gudang milik negara, tanpa satu pun tanda bahwa dia tersinggung.
Dan entah kenapa itu justru membuatku kesal.
“Eh.” Aku menahannya. “Nggak usah.”
Dia berhenti. Menunggu.
“Duduk aja. Aku— nggak papa.”
“Oke.”
Dia duduk lagi. Di tempat yang sama. Dengan kecepatan yang sama.
Aku duduk di sisi lain, sekitar tiga meter darinya, dan menaruh kantong plastikku di depan.
Dan tidak membukanya.
Aku mengeluarkan ponsel. Aku pura-pura sibuk. Aku scroll sesuatu yang tidak kubaca sama sekali.
Dari sudut mata, aku memperhatikannya.
Cowok ini pasti pernah kulihat. Semua orang di sekolah ini pernah kulihat; itu efek samping dari jadi orang yang selalu ditempeli kamera. Tapi aku tidak bisa menempatkannya.
Seragamnya agak pudar. Sepatunya bersih tapi solnya sudah tipis di bagian dalam, yang artinya dia banyak jalan. Tangannya— tangannya kelihatan seperti tangan tukang. Ada bekas hitam di kuku ibu jari yang bukan kotoran.
Dan dia duduk di sana seperti orang yang tidak sedang menunggu apa pun.
Itu yang paling aneh. Semua orang yang duduk sendirian di sekolah ini selalu terlihat sedang menunggu. Menunggu temannya, menunggu bel, menunggu ada yang menyapa.
Dia tidak.
“Kamu kelas berapa?” tanyaku.
“Sebelas.”
“Sebelas apa?”
“IPA tiga.”
“Oh.” IPA tiga itu di lantai dua, sebelah kelasku. “Berarti kita sebelahan.”
“Iya.”
“Kok aku nggak pernah liat kamu.”
“Iya.”
Dia bilang itu tanpa nada apa pun. Bukan menyindir. Bukan pahit. Cuma menyetujui fakta, seperti orang yang menyetujui bahwa langit hari ini mendung.
Dan aku, entah kenapa, jadi tidak enak sendiri.
Lima menit berlalu.
Lima menit di mana aku duduk memandangi kantong plastik berisi makanan yang sudah kubeli dengan uangku sendiri, di tempat yang kupilih karena tidak ada orang, sambil ditemani orang.
Perutku berbunyi.
Bunyi yang keras. Bunyi yang tidak bisa dipura-purakan sebagai kursi bergeser atau angin.
Aku menegang seluruh tubuh.
Dia tidak menoleh. Tidak berkomentar. Tidak melakukan apa pun.
Dan justru karena dia tidak melakukan apa pun, aku jadi lebih malu daripada kalau dia tertawa.
“Aku emang laper,” kataku, tiba-tiba, ke udara. “Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Aku beli tiga.”
“Iya, keliatan.”
“Kamu nggak mau komen?”
Dia menoleh sedikit. “Komen apa?”
“Ya—” Tanganku bergerak-gerak. “Biasanya orang komen.”
“Komen apa?”
“Ya kayak—” Dan aku macet, karena untuk menjelaskannya aku harus mengulang kalimat-kalimat itu keras-keras, dan aku belum pernah mengulang kalimat-kalimat itu keras-keras di depan siapa pun.
Dia menunggu. Tidak mendesak. Cuma menunggu, seperti orang yang punya waktu.
Aku membuka kantong plastik.
Aku membuka bungkus pertama.
Dan aku makan.
Dengan tangan. Cepat. Tidak sempat mengunyah dua puluh kali seperti yang diajarkan. Kuah dari mie gorengnya menetes ke bungkus, sambalnya kena ujung jari, dan aku menyeka mulutku dengan punggung tangan seperti kuli bangunan di pinggir proyek.
Dan itu enak.
Ya Tuhan, itu enak.
Bungkus kedua kubuka sebelum yang pertama habis. Aku tidak tahu kenapa. Panik, mungkin. Seperti ada yang akan menghentikanku.
Aku mengunyah terlalu banyak sekaligus. Aku tersedak sedikit. Aku batuk.
Dan sesuatu masuk ke bidang penglihatanku.
Tisu. Selembar. Dilipat rapi.
Dia menyodorkannya tanpa menoleh. Tangannya terulur ke samping, matanya tetap ke depan, seolah dia sedang menyerahkan barang ke orang yang lewat.
Aku mengambilnya.
“Pelan-pelan,” katanya. “Nggak ada yang ngambil.”
Aku berhenti mengunyah.
Empat kata. Bukan pujian, bukan nasihat, bukan hinaan yang disamarkan jadi perhatian.
Empat kata yang tidak pernah kudengar dari siapa pun seumur hidupku, karena semua orang yang pernah melihatku makan selalu punya kepentingan atas berapa banyak yang masuk ke mulutku.
Aku menunduk. Aku mengunyah lagi, pelan, dan aku tidak bicara selama beberapa menit, karena kalau aku bicara sekarang suaraku akan aneh dan aku tidak sanggup menjelaskan kenapa.
Baru setelah bungkus kedua habis, aku berani buka mulut.
“Kamu nggak nanya?”
“Nanya apa?”
“Kenapa aku makan di atas gudang kayak orang buron.”
Dia melirik ke arahku sebentar. “Kamu mau ditanya?”
“...Nggak.”
“Ya udah.”
Sesederhana itu.
Aku menyeka tanganku dengan tisu yang tadi. “Semua orang nanya.”
“Hm.”
“Kamu tau nggak, capek banget punya muka kayak gini.”
Aku berhenti. Aku baru saja mengatakan kalimat paling menyebalkan yang bisa dikatakan manusia, kalimat yang kalau kudengar dari orang lain akan kutertawakan sampai mati.
Aku bersiap mendengar tawa. Atau “ih sombong.” Atau, yang paling sering, “ya tapi enak dong.”
“Capek gimana?” katanya.
Aku menoleh cepat.
Dia tidak sedang mengejek. Dia menunggu jawabannya. Betulan menunggu.
“Ya— capek aja.”
“Hm.”
“Kayak, semua orang udah nentuin kamu tuh siapa sebelum kamu ngomong.”
Dia mengangguk pelan, sekali, dan kembali menghadap ke depan.
“Iya,” katanya. “Itu emang capek.”
Dan cara dia mengatakannya membuatku sadar, dengan sangat tiba-tiba, bahwa dia tidak sedang menghibur.
Dia sedang setuju.
Dari pengalaman.
Aku menarik lengan seragamku sampai menutupi buku jari, dan aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu.
Dia pergi jam empat kurang.
Dia menutup kotak bekalnya — kotak plastik biru dengan lakban di tutupnya — dan aku melihat isinya sebelum ditutup.
Nasi. Tempe. Sambal.
“Cuma itu?” tanyaku.
“Hm.”
“Nggak bosen?”
“Nggak.”
“Kamu mau?” Aku menyodorkan bungkus ketiga. “Aku beli tiga tapi kayaknya kekenyangan.”
Itu bohong. Aku selalu menghabiskan tiga.
Dia melihat bungkus itu. Lalu melihat aku. Lalu melihat bungkus itu lagi.
Ada jeda yang lebih panjang dari semua jeda sebelumnya.
“Nggak, makasih.”
“Serius, nanti mubazir.”
“Nggak apa-apa.”
“Kenapa?”
“Nanti kamu nyesel.”
“Hah? Kenapa nyesel—”
“Karena kamu belum kenyang,” katanya, sambil menutup tasnya. “Kamu baru berhenti karena ada orang.”
Aku membeku dengan bungkus nasi terangkat di tangan.
Dia tidak mengatakannya dengan nada menuduh. Dia mengatakannya seperti orang yang membacakan hasil pengukuran.
“...Kamu sok tau.”
“Iya,” katanya. “Maaf.”
Dan dia benar-benar terdengar minta maaf, dan itu jauh lebih menyebalkan daripada kalau dia bertahan.
Dia berdiri, menyampirkan tas, dan berjalan ke tangga.
“Eh, Andhika.”
Dia berhenti.
“Kamu besok ke sini lagi?”
Dia melirik jam tangannya. Aku tidak tahu kenapa. Pertanyaanku tidak ada hubungannya dengan jam.
“Iya.”
“Jam berapa?”
Dia diam sebentar. Agak lama, sebenarnya.
“Nggak tentu,” katanya.
Lalu dia turun.
Anak tangga kelima berbunyi, lalu tidak ada lagi.
Aku menghabiskan bungkus ketiga sendirian, dan sepanjang itu aku memikirkan hal yang salah.
Bukan tentang tisunya. Bukan tentang empat kata itu, walaupun aku akan memikirkan itu nanti malam sampai jam satu.
Yang kupikirkan adalah kotak bekalnya.
Karena aku pernah lihat kotak itu sebelumnya. Bukan hari ini.
Kotak plastik biru dengan lakban di tutupnya, di tangan cowok yang duduk di kursi paling belakang baris paling pinggir kelas sebelah, waktu aku lewat depan kelas itu jam sepuluh pagi dua minggu lalu untuk minta tanda tangan wali kelas.
Jam sepuluh pagi.
Dia makan jam sepuluh pagi.
Terus tadi, jam tiga sore, dia duduk di atas sini dengan kotak bekal yang sama, dan dia tidak membuka kotak itu sekali pun selama satu jam penuh aku di sana.
Aku menatap bungkus ketiga di pangkuanku.
Dan tiba-tiba aku tidak lapar lagi.
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus reading
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu