Chapter Twenty Four
12.40
POV: Sekar
Yang pertama kulihat adalah punggungnya.
Renata Claudya Larasati duduk di sudut barat daya dengan punggung tegak dan map cokelat di pangkuan, dan dia sudah menoleh sebelum kepalaku sepenuhnya muncul di atas lantai atap, karena tangga besi itu tidak memberi kesempatan kepada siapa pun untuk datang diam-diam.
Kami saling menatap.
Aku pernah membayangkan momen ini. Tiga malam berturut-turut. Di semua bayanganku, dia berdiri dan berkata sesuatu yang formal dan dingin, dan aku menciut jadi seratus empat puluh sentimeter.
Yang terjadi adalah dia melihat ke arahku, lalu ke arah Tamara yang muncul di belakangku, lalu kembali ke arahku.
Dan berkata:
“Kalian berdua.”
Bukan pertanyaan.
Aku naik sepenuhnya. Tamara di belakangku.
Dan kami berdiri di sana, tiga orang di atas atap gudang seluas ruang kelas, dengan tiga sudut yang sudah punya pemilik dan satu ruang kosong di tengah yang tidak pernah ditempati siapa pun.
“Duduk,” kata Renata.
Tamara menaikkan alis. “Kamu nyuruh?”
“Saya mempersilakan.”
“Kedengerannya nyuruh.”
“Saya menyadarinya,” kata Renata. “Saya sedang berusaha memperbaikinya. Silakan duduk.”
Dan entah bagaimana, itu justru yang membuat Tamara duduk.
Aku duduk juga. Di tengah. Di ruang kosong, di antara dua sudut yang bukan milikku, karena sudutku ada di seberang dan hari ini aku tidak sanggup duduk di sana.
Hening selama kira-kira dua puluh detik.
Dua puluh detik itu panjang. Aku menghitungnya.
“Dia nggak ada,” kata Tamara akhirnya.
“Saya menyadarinya.”
“Kamu nggak nanya kenapa?”
“Saya akan menanyakannya setelah saya mendapat cukup data untuk menyusun pertanyaan yang benar.”
Tamara menoleh ke arahku dengan ekspresi ini orang beneran ngomong gitu?
Aku mengangkat bahu.
Dan Renata — dan ini yang membuatku sadar bahwa aku salah menilai orang ini selama dua tahun — berkata:
“Saya mendengar itu. Saya sedang berusaha memperbaikinya juga.”
“Aku yang nahan dia,” kata Tamara.
Renata menoleh.
“Pakai apa?”
“Temennya. Bagas.”
“Berapa lama?”
“Lima belas menit.”
Renata melihat jam di pergelangannya.
“Dua belas menit tersisa,” katanya. “Kita harus efisien.”
Dan Tamara tertawa — pendek, terkejut, hampir tidak sengaja — dan berkata, “Kamu tuh serem.”
“Saya menyadarinya.”
“Kamu nyadarin banyak banget hal ya.”
“Baru-baru ini.”
“Boleh nanya nggak,” kata Tamara.
“Silakan.”
“Kamu tau nggak dia nggak makan sore?”
Renata meletakkan pulpennya.
“Ya.”
“Dari kapan?”
“Hari kedelapan.”
“Terus kamu ngapain?”
“Saya membawa kotak makan setiap hari sejak hari kesembilan,” kata Renata. “Dengan keterangan bahwa itu kelebihan porsi dari sekretariat. Sekretariat tidak pernah memiliki kelebihan porsi.”
Tamara menatapnya.
“Kamu bohong ke dia.”
“Setiap hari selama lima puluh dua hari.”
“Kenapa?”
“Karena apabila saya menyampaikannya sebagai pemberian, dia akan menolak.”
Dan Tamara mulai tertawa.
Bukan tawa senang. Tawa yang bunyinya seperti orang menyerah.
“Aku ngancem mau buang nasinya ke bawah,” katanya. “Tiap kali. Dua bulan.”
Renata mengangkat alis.
“Apakah berhasil?”
“Selalu.”
“...Saya seharusnya mempertimbangkan pendekatan tersebut.”
“Kalian berdua ngeri,” kataku.
“Kamu ngapain emangnya?” kata Tamara.
Aku menunduk.
“Aku bawa dua bungkus,” kataku pelan. “Terus aku makan tiga suap, terus aku bilang aku kenyang.”
Hening tiga detik.
Lalu Renata berkata, dengan nada paling datar di dunia:
“Kita bertiga telah berbohong kepada orang yang sama setiap hari selama berbulan-bulan agar dia mau makan.”
Dan kami bertiga tertawa di atas atap gudang itu — betulan tertawa, sampai Tamara harus memeluk perutnya dan sampai jepit rambutku lepas — dan tawa itu berhenti secara bersamaan sekitar sepuluh detik kemudian ketika kami semua sampai pada kesadaran yang sama pada saat yang sama.
Kalau tiga orang harus berbohong supaya seseorang mau makan—
—berarti orang itu tidak pernah punya siapa pun yang jujur kepadanya.
Aku membuka duluan, karena kalau aku tidak membuka, dua belas menit itu akan habis untuk saling mengukur.
“Aku Sekar. Kelas sebelas IPS dua. Aku tetangganya dari umur enam tahun. Aku naik ke sini jam sepuluh.”
Renata mengangguk sekali.
“Renata. Ketua OSIS. Saya naik pukul 12.40 sejak lima puluh satu hari yang lalu. Saya naik untuk tidur.”
Kami berdua menoleh ke Tamara.
“...Tamara. Sebelas IPA satu.” Dia menarik lengan seragamnya. “Aku naik jam tiga. Buat makan.”
“Makan?” kata Renata.
“Iya.”
“Anda tidak makan di kantin.”
“Enggak.”
“Mengapa?”
Dan Tamara membuka mulut untuk menjawab dengan sesuatu — aku tahu ekspresi itu, aku tahu bentuk kebohongan yang sedang dia susun — lalu dia berhenti.
“Nggak boleh,” katanya.
“Oleh siapa?”
“Mama.”
Renata tidak berkomentar.
Dia mengeluarkan pulpen dari saku seragamnya, membuka map cokelatnya, membalik ke halaman kosong di belakang, dan menulis tiga baris.
“Kamu nyatet?” kata Tamara.
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena saya menyimpan segala sesuatu yang saya tidak mengerti,” kata Renata, “dan saya berencana untuk mengerti nanti.”
“Oke,” kata Tamara. “Sekarang bagian yang penting.”
Dia menghadap kami berdua.
“Dia ngabisin dua puluh menit sehari buat ngatur kita. Selama dua bulan.”
Renata berhenti menulis.
“Anda mengetahui angkanya.”
“Sekar yang tau.”
“Dari mana?”
“Dari bendahara kamu,” kataku. “Yang denger dari kamu.”
Renata meletakkan pulpennya.
“Gita,” katanya pelan. “Saya menyebutkannya. Di sekretariat. Kepada Wisnu.”
“Iya.”
“Saya kelepasan.”
“Iya.”
Dan Renata Claudya Larasati, Ketua OSIS SMA Negeri 4, menutup matanya selama kira-kira dua detik dengan ekspresi seseorang yang baru saja menemukan kesalahannya sendiri di dalam laporan yang sudah dia periksa empat kali.
“Baik,” katanya, membuka mata. “Lanjutkan.”
“Dua puluh menit,” ulang Tamara. “Dari orang yang tidur empat jam.”
“Tiga koma lima,” kata Renata.
Kami berdua menoleh.
“Saya menghitungnya,” katanya. “Berdasarkan waktu yang diperlukan untuk pulih setelah tidur siang, dan berdasarkan tiga hari di mana dia tertidur dalam waktu kurang dari empat puluh detik setelah duduk.”
“Kamu ngitung tidur dia.”
“Saya menghitung segala sesuatu.”
Tamara menatapnya lama.
“Kamu suka sama dia,” katanya.
Dan atap itu jadi sangat, sangat sunyi.
Renata tidak menyangkal.
Itu bagian yang tidak kusiapkan. Aku sudah menyiapkan diri untuk penyangkalan, untuk pengalihan, untuk kalimat formal yang membuat semua orang canggung.
Dia meletakkan map di sampingnya, menghadap Tamara, dan berkata:
“Saya tidak memiliki data pembanding.”
“Hah?”
“Saya belum pernah menyukai siapa pun sebelumnya,” katanya. “Sehingga saya tidak memiliki dasar untuk memastikan apakah yang saya alami termasuk dalam kategori tersebut.”
“...Kamu serius?”
“Ya.”
“Kamu nggak pernah suka siapa-siapa?”
“Tidak.”
“Umur berapa kamu?”
“Tujuh belas.”
Tamara membuka mulut, menutupnya, lalu menoleh ke arahku dengan wajah orang yang minta bantuan.
Aku mengangkat bahu lagi.
Dan Renata melanjutkan, dengan nada yang sama seperti orang membacakan notulen rapat:
“Namun saya dapat menyampaikan beberapa observasi. Saya mengingat percakapan dengannya rata-rata enam kali per hari. Saya telah mencoret satu blok agenda demi hal yang berkaitan dengannya, yang merupakan blok pertama yang pernah saya coret. Saya menyusun berkas setebal sembilan belas halaman selama sebelas hari yang kemungkinan besar tidak akan pernah digunakan.”
Dia mengambil map itu dan meletakkannya di pangkuannya lagi.
“Dan pada hari Senin, dia menolak menandatanganinya, dan saya menghabiskan dua jam malam itu duduk di meja belajar tanpa mengerjakan apa pun.”
Hening.
“Apakah itu termasuk kategori tersebut?” tanyanya.
Dan Tamara Eliza Putri, yang seumur hidupnya tidak pernah kehabisan kata-kata, mengeluarkan suara kecil yang bukan kata sama sekali.
Aku yang menjawab.
“Iya,” kataku. “Itu termasuk.”
Renata mengangguk sekali.
“Baik,” katanya. “Terima kasih.”
Dan dia mengeluarkan pulpen lagi dan menulis satu baris di halaman belakang map itu, dan aku bisa melihat dari tempatku bahwa tangannya bergetar sedikit — sangat sedikit, tapi cukup untuk membuat huruf-hurufnya tidak serapi baris di atasnya.
Aku memandangi punggung tangan itu.
Dan aku merasakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga akan kurasakan hari ini:
Aku kasihan.
Bukan menang. Bukan lega karena satu lawan berkurang.
Kasihan, dan sedikit malu, karena aku punya sepuluh tahun dan orang ini punya lima puluh satu hari, dan dia baru saja mengakui semuanya di depan dua orang asing di atas atap gudang karena dia bahkan tidak tahu bahwa hal seperti itu boleh disimpan.
“Berapa menit lagi?” kataku.
Renata melihat jam.
“Empat.”
“Oke.” Aku menarik napas. “Aku juga.”
Tamara menoleh cepat.
“Aku juga suka sama dia,” kataku. “Dari lama. Aku nggak tau dari kapan, karena nggak ada mulainya. Aku cuma nggak pernah nggak.”
“Sekar—”
“Bentar.” Aku mengangkat tangan. “Aku belum selesai.”
Aku menghadap keduanya.
“Aku megang tangannya sepuluh tahun tanpa mikir. Dan dua minggu lalu aku baru sadar aku nggak pernah milih sekali pun.” Suaraku mulai goyang dan aku membiarkannya. “Terus aku minta izin. Hari Selasa. Aku nanya boleh nggak aku pegang tangan dia.”
“Terus?” kata Renata.
“Terus dia liatin tangannya sendiri,” kataku, “terus dia bilang tangannya kasar.”
Aku menyeka mata dengan punggung tangan.
“Sepuluh tahun aku pegang tangan itu tiap hari,” kataku, “dan dia masih mikir dia harus minta maaf dulu sebelum dikasih.”
Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.
Lalu Tamara berkata, sangat pelan, ke arah lantai semen:
“Dia nggak pernah pegang tangan aku.”
“Hah?”
“Dua bulan.” Dia menarik lengan seragamnya sampai menutupi buku jari. “Aku yang narik seragamnya. Aku yang nyender. Aku yang nyuapin. Semuanya aku.”
Dia mengangkat wajah.
“Dia nggak pernah sekali pun duluan. Dan aku pikir itu karena dia nggak suka aku.”
Renata membuka mulut.
“Itu bukan—”
“Aku tau,” potong Tamara. “Aku tau sekarang. Sekar udah bilang.” Dia tertawa, jelek, basah. “Ternyata dia nggak duluan ke siapa-siapa. Ternyata aku nggak spesial. Ternyata semua orang dapet yang sama, yaitu nol.”
Dan dia menoleh ke arahku dengan mata merah dan berkata sesuatu yang membuat tiga orang di atap itu terdiam sepenuhnya:
“Kalian tau nggak yang paling nyebelin apa?”
“Apa?”
“Aku lega.”
Jam 12.51.
Aku mendengarnya duluan, karena telingaku sudah dilatih selama sepuluh tahun untuk mendengar langkah orang itu di gang, dan tangga besi tidak terlalu berbeda dari gang.
Anak tangga kelima berbunyi.
Penuh. Bukan setengah, bukan tidak ada.
Kami bertiga menoleh ke arah tangga secara bersamaan.
Dan Tamara, yang duduk paling dekat dengan tepi, berkata dengan suara yang tiba-tiba sangat kecil:
“...Dia lebih cepet dari lima belas menit.”
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40 reading
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu