Chapter Eight
Delapan Menit
POV: Sekar
Pak Har memanggilku waktu aku lewat depan percetakan hari Sabtu pagi.
“Nduk.”
“Iya, Pak?”
Dia sedang duduk di kursi plastik di depan pintu, memegang gelas kopi yang isinya tinggal ampas. Aku sudah melihat gelas itu seumur hidupku dan aku belum pernah melihatnya kosong dan belum pernah melihatnya penuh.
“Andhika masuk sekolah terus?”
Pertanyaan yang aneh.
“Ya masuk, Pak. Kenapa emang?”
“Nggak. Tanya aja.”
Dia menyeruput kopi yang tidak ada isinya. Aku berdiri di sana sekitar lima detik menunggu kelanjutannya, dan tidak ada kelanjutannya, jadi aku pamit.
Lima langkah kemudian dia memanggil lagi.
“Nduk.”
“Iya?”
“Kalau dia keliatan capek, jangan dibilangin capek.”
“...Kenapa, Pak?”
“Nanti dia mikir dia ngerepotin.”
Dan dia masuk ke dalam, dan rolling door-nya turun setengah, dan itu seluruh percakapan kami hari itu.
Aku berjalan pulang sambil memikirkan kalimat itu selama tiga puluh menit, dan aku memikirkannya lagi malam harinya, dan aku memikirkannya lagi Senin paginya di angkot.
Bapak-bapak itu tidak pernah bicara tanpa alasan.
Dan aku baru tahu belakangan bahwa Pak Har jarang sekali bertanya tentang Mas Dhika ke orang lain. Ibuku bilang, dulu waktu Mas Dhika baru mulai kerja di sana — kelas satu SMP, umur tiga belas, yang mana kalau dipikir sekarang membuatku ingin marah ke seluruh dunia — Pak Har sempat datang ke rumah Mbah Ratmi.
Ibuku tidak tahu isi pembicaraannya. Yang dia tahu, setelah hari itu, Mas Dhika mulai pulang jam sepuluh dan bukan jam dua belas.
“Kok Ibu tau?”
“Ya tau. Ibu kan nungguin kamu tidur, kedengeran pagarnya.”
Aku menatap ibuku.
Ternyata bukan cuma aku yang menghitung jam pulang tetangga sebelah.
“Mas Dhika, Pak Har nanya kamu.”
“Nanya apa?”
“Nanya kamu masuk sekolah terus apa enggak.”
Sendoknya berhenti.
Setengah detik. Lagi. Aku menangkapnya lagi.
“Oh,” katanya. “Iya, kemarin saya izin sehari.”
“Izin kenapa?”
“Nganter Nenek.”
“Ke mana?”
“Puskesmas.”
“Nenek sakit apa?”
“Biasa.”
Dan begitulah kami sampai di lapisan pertama, seperti biasa, dan aku sudah tahu kalau aku menggali lebih dalam dia akan memberiku lapisan kedua yang lebih membosankan.
Jadi aku mencoba cara lain.
“Aku ikut ya kalau ke puskesmas lagi.”
Dia menoleh. “Ngapain?”
“Nemenin Mbah Ratmi. Aku disayang Mbah Ratmi.”
“Iya sih.”
“Iya kan.”
“Tapi nggak usah.”
“Kenapa?”
“Antrenya dari jam lima pagi.”
“Aku bangun jam lima.”
“Bangun jam lima terus antre sampai jam sepuluh.”
Aku diam.
Bukan karena aku tidak mau. Karena aku baru saja mengerti bahwa dia mengantre lima jam, dan itu artinya dia tidak masuk sekolah setengah hari, dan itu artinya ada hari-hari di mana aku duduk di kelas dan bertanya-tanya kenapa dia tidak ada di atap dan jawabannya adalah ini.
“Mas Dhika.”
“Hm.”
“Berapa kali sebulan?”
Dia tidak menjawab.
Aku tidak bertanya lagi.
Kalau dia keliatan capek, jangan dibilangin capek.
Baik, Pak Har. Baik.
Hari itu, ada hal aneh yang terjadi.
Bel istirahat berbunyi jam 09.50 seperti biasa. Aku naik seperti biasa. Kami makan seperti biasa.
Jam 10.05, dia melirik jam tangannya.
Jam 10.07, dia melirik lagi.
Jam 10.08, dia berdiri.
“Kar, turun yuk.”
“Belum bel.”
“Lima menit lagi.”
“Ya lima menit lagi turunnya.”
“Sekarang aja.”
Dan dia sudah menyampirkan tas, dan berdiri di dekat tangga, menungguku, dengan cara yang sangat sopan tapi sangat jelas bahwa dia sedang menunggu.
Aku bangun sambil menggerutu. Aku turun.
Di bawah, di ujung koridor lab, aku sempat menoleh ke belakang.
Dan aku melihat ujung rok seragam berbelok masuk ke arah gudang dari sisi yang berlawanan.
Cuma ujung roknya. Cuma sepersekian detik.
“Ada orang,” kataku.
“Mana?”
“Tadi. Ada yang ke gudang.”
Dia melihat ke arah yang kutunjuk. Beberapa detik.
“Nggak ada.”
“Ada.”
“Mungkin anak kelas sepuluh nyari bola.”
“Bola apa? Lapangan di sebelah sana.”
“Ya mungkin nyasar.”
Aku menatapnya. Dia menatap balik dengan wajah paling datar yang pernah diciptakan Tuhan.
“Mas Dhika, kamu tuh kalau bohong—”
“Kar, bel.”
Dan bel berbunyi.
Tepat pada detik itu. Seolah dia sudah menghitungnya.
Aku tidak bisa berhenti memikirkannya sepanjang jam pelajaran ketiga.
Delapan menit.
Dia memindahkan waktu turun kami delapan menit lebih awal, hari itu, tanpa alasan, dan menunggu di tangga sampai aku ikut.
Dan itu bukan pertama kalinya.
Waktu jam kosong, aku melakukan sesuatu yang sedikit memalukan: aku pergi ke kelas sebelah.
“Permisi. Bagas ada?”
Anak yang kutanya berteriak ke dalam tanpa menoleh, “GAS! DICARIIN!”
Bagas keluar dengan wajah orang yang belum pernah dicari siapa pun seumur hidupnya.
“Eh. Sekar kan? Yang tetangganya Andhika?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Mau nanya.”
“Nanya apa?”
“Andhika kalau istirahat kedua ke mana?”
Bagas mengerutkan kening. “Istirahat kedua kan nggak ada.”
“Maksudnya jam kosong. Jam setengah satu.”
“Oh.” Dia berpikir. “Nggak tau. Nggak pernah di kelas sih.”
“Nggak pernah?”
“Nggak pernah. Dari kelas sepuluh.”
“Kamu nggak nanya?”
“Pernah.”
“Terus?”
“Katanya ‘urusan’.”
Tentu saja.
“Gas.”
“Ya?”
“Kamu temenan sama dia berapa lama?”
“Setahun setengah. Dari kelas sepuluh sekelas terus.”
“Kamu tau rumahnya?”
Dia diam.
Lima detik.
“...Nggak,” katanya, dan untuk pertama kali sejak aku mengenal Bagas — yang mana adalah dua puluh detik — wajahnya berubah jadi wajah orang yang baru saja menyadari sesuatu yang tidak enak tentang dirinya sendiri.
“Nggak pernah main?”
“Dia selalu bilang ada kerjaan.”
“Kerjaan apa?”
“Nggak tau.” Dia menggaruk lehernya. “Gue nggak pernah nanya.”
Aku bilang terima kasih dan pergi.
Dan sepanjang jalan balik ke kelas, aku memikirkan hal yang sama berulang-ulang: satu setengah tahun duduk bersebelahan, dan yang paling dekat dengannya di sekolah ini tidak tahu di mana rumahnya.
Sementara aku tahu persis di mana rumahnya, hafal jam berapa lampunya menyala, dan tetap tidak tahu apa-apa.
Kami berdua sama-sama gagal, cuma dari arah yang berbeda.
Aku mulai mengingat-ingat. Rabu minggu lalu, dia bilang “hari ini saya ada urusan” dan turun jam 10.06. Jumat, jam 10.09. Senin kemarin, dia menyuruhku turun duluan karena “nanti kamu telat.”
Aku tidak pernah telat. Kelasku tiga puluh detik dari koridor lab.
Aku mengambil buku catatan dan mulai menulis angka-angka di halaman belakang, seperti orang gila.
09.50 — naik 10.05 sampai 10.10 — turun 12.40 — ???
Karena ada satu hal lagi yang baru kusadari sekarang, dan yang membuat perutku terasa dingin:
Aku tidak pernah tahu apa yang dia lakukan setelah jam istirahat pertama.
Aku selalu berasumsi dia kembali ke kelas seperti manusia normal. Tapi orang yang selalu sudah ada di atap sebelum bel berbunyi, orang yang hafal bunyi anak tangga, orang yang bawa payung sejak pagi karena sudah tahu akan hujan—
Orang seperti itu tidak melakukan sesuatu tanpa alasan.
Pulang sekolah, aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan.
Aku menunggu.
Aku duduk di bangku dekat lapangan, membuka buku, pura-pura mengerjakan sesuatu, sampai jam tiga lewat, sampai koridor mulai sepi, sampai anak-anak ekskul berkumpul di lapangan dan tidak ada yang memperhatikanku.
Dan aku melihatnya.
Andhika, jam 15.08, berjalan ke arah koridor lab.
Sendirian.
Naik.
Aku berdiri.
Dan lima menit kemudian, aku melihat seseorang lagi berjalan ke arah yang sama.
Rambut panjang. Kantong plastik di tangan. Jalan cepat, seperti orang yang sedang menghindari dilihat, walaupun orang seperti dia tidak akan pernah berhasil menghindari dilihat oleh siapa pun.
Tamara Eliza Putri.
Naik ke tangga besi yang sama.
Aku duduk kembali ke bangku dengan sangat pelan.
Bukan karena marah. Aku tidak marah — atau setidaknya, bukan itu yang paling atas.
Yang paling atas adalah satu pikiran yang muncul dengan sangat jelas dan sangat cepat, dan yang tidak bisa kuhapus sepanjang perjalanan pulang:
Dia menyuruhku turun delapan menit lebih awal.
Berarti dia tahu ada orang yang akan datang.
Berarti dia sudah menghitung.
Berarti selama ini, setiap hari, sementara aku duduk di sana dan mengira aku sedang menemukan sesuatu yang rahasia—
—aku cuma sedang menempati satu blok waktu yang sudah dia sediakan.
Aku sampai di rumah jam setengah lima.
Ibuku sedang menggoreng sesuatu. Ada piring di meja — piring rendang, ditutup tudung saji, yang aku tahu artinya apa.
“Sekar, anterin ke sebelah.”
“Iya, Bu.”
Aku mengangkat piring itu dan melewati pagar dan mengetuk pintu rumah yang temboknya menempel dengan tembok kamarku.
Mbah Ratmi membuka. Dia selalu membuka pintu dengan cara yang sama — pelan, dua tahap, karena engselnya berbunyi kalau langsung.
“Sekar! Aduh, cantiknya.”
“Dari Ibu, Mbah.”
“Aduh, jangan repot-repot to.”
“Nggak repot.”
Dia menerima piring itu dan berdiri di ambang pintu, dan aku melihat ke dalam sekilas — ruang depan, kursi rotan, televisi yang mati, dan lampu satu-satunya yang menyala di sudut.
Dan bantal kecil di lantai, di depan kursi rotan itu.
Aku tahu bantal itu untuk apa. Aku pernah melihat Mas Dhika jongkok mengangkat kaki neneknya waktu aku kecil dan mengira itu permainan.
“Mbah.”
“Iya, Nduk?”
“Mas Dhika belum pulang?”
“Belum. Nanti jam sepuluh.”
“Tiap hari ya, Mbah?”
Dia tersenyum. Senyum yang lebar sekali, senyum yang dipakai orang untuk menutupi lubang di lantai supaya tamu tidak jatuh.
“Anaknya rajin,” katanya.
Bukan itu jawaban dari pertanyaanku.
Tapi aku bilang iya, dan aku pamit, dan aku pulang.
Aku berdiri di depan pagar rumahku sendiri selama beberapa saat, memandangi tembok yang memisahkan halaman kami, dan pohon jambu yang buahnya sepat, dan jemuran yang selalu ada satu seragam abu-abu tergantung di sana setiap malam karena dia cuma punya dua.
Aku hafal semuanya.
Aku hafal segalanya tentang rumah itu.
Dan aku baru saja menyadari, dengan cara yang sangat tidak enak, bahwa mengetahui segalanya tentang rumah seseorang tidak sama dengan mengetahui apa pun tentang orangnya.
Malam itu aku tidak bisa tidur sampai jam dua belas.
Bukan karena Tamara. Sungguh, bukan.
Tapi karena satu pertanyaan yang terus muncul dan tidak mau pergi: kalau slot jam sepuluh pagi itu punyaku, dan slot jam tiga sore itu punya orang lain—
—lalu siapa yang punya jam setengah satu?
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit reading
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu