← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Twenty Nine

Percetakan Harapan Jaya

POV: Renata


Nama tempat itu Percetakan Harapan Jaya, dan papan namanya sudah pudar sehingga huruf J-nya nyaris hilang.

Saya menemukannya pada hari Sabtu, pukul 09.40, setelah menempuh perjalanan yang menurut aplikasi memerlukan waktu dua puluh dua menit dan yang pada kenyataannya memerlukan tiga puluh satu menit karena saya berhenti tiga kali untuk memastikan bahwa saya benar-benar akan melakukan hal ini.

Saya mengetahui alamatnya dari Sekar.

Saya tidak mengetahui apa yang akan saya lakukan setelah sampai.

Ini adalah pertama kalinya dalam enam tahun saya pergi ke suatu tempat tanpa rencana tertulis mengenai apa yang akan terjadi di sana.


Rolling door-nya terbuka penuh. Ada bunyi mesin dari dalam. Ada bau — bau yang saya kenali seketika, dan pengenalan tersebut menghantam saya lebih keras daripada yang saya perkirakan.

Kertas. Dan sesuatu yang tajam seperti tinta.

Bau yang menempel di jaket abu-abu yang pernah menutupi bahu saya pada hari ketiga belas, dan yang saya lipat rapi dan saya kembalikan, dan yang membuat saya tidak dapat tidur pada malam harinya.

Ada seorang laki-laki berumur duduk di kursi plastik di depan pintu, memegang gelas kopi.

“Cari siapa, Nduk?”

“Selamat pagi, Pak. Saya mencari Saudara Andhika Pratama.”

Dia mengangkat wajah.

Dan dia menatap saya — seragam saya, tas saya, cara saya berdiri — selama kira-kira empat detik.

“Andhika lagi ke pasar,” katanya. “Ngambil orderan.”

“Baik. Apakah beliau akan kembali?”

“Setengah jam.”

“Baik. Saya akan menunggu.”

Dia menunjuk kursi plastik kedua dengan dagunya.

Saya duduk.


Saya perlu mencatat bahwa saya menunggu selama empat puluh satu menit, bukan tiga puluh, dan bahwa selama empat puluh satu menit tersebut terjadi lima percakapan yang seluruhnya berdurasi kurang dari satu menit.

Menit keempat:

“Ketua OSIS ya?”

Saya menoleh.

“Ya, Pak. Bagaimana Bapak—”

“Pinnya.”

Saya melihat ke kerah seragam saya. Saya lupa melepasnya. Saya tidak pernah melepasnya.

“Ya,” kata saya. “Saya Ketua OSIS.”

Dia mengangguk-angguk dan meminum kopinya, yang setelah saya perhatikan lebih cermat tidak berisi apa pun kecuali ampas.

Menit kesebelas:

“Bapak sudah lama memiliki usaha ini?”

“Dua puluh dua tahun.”

“Sejak sebelum pindah dari Semarang?”

Gelasnya berhenti setengah jalan.

Dia menoleh ke arah saya, dan untuk pertama kalinya dia benar-benar melihat saya, dan saya menyadari bahwa saya baru saja melakukan hal yang sangat tidak sopan tanpa merencanakannya.

“Siapa yang cerita?”

“Mohon maaf, Pak. Saya tidak bermaksud—”

“Sekar ya.”

“Ya.”

Dia mengangguk sekali dan kembali menghadap ke depan.

“Anak itu tau semua,” katanya. “Dari kecil. Dengerin orang tua ngomong terus.”

Menit kedua puluh tiga:

“Pak.”

“Hm.”

“Apakah Anda mengetahui bahwa dia bekerja hingga pukul sepuluh malam dan tidur kurang dari empat jam?”

Saya menanyakan itu dengan suara yang, saya akui, tidak sepenuhnya stabil.

Pak Har tidak menjawab selama beberapa detik.

“Tau,” katanya.

“Dan Bapak membiarkannya.”

“Nduk.”

“Ya, Pak.”

“Kalau aku nggak kasih dia kerja,” katanya, “dia kerja di tempat lain.”

Saya membuka mulut.

Saya menutupnya kembali.

“Di sini dia berhenti jam sepuluh,” lanjutnya. “Di tempat lain nggak ada yang nyuruh berhenti.”

Menit kedua puluh sembilan:

“Pak.”

“Hm.”

“Apakah Bapak memiliki anak?”

Saya menanyakan hal tersebut tanpa merencanakannya, dan saya menyesalinya sebelum kalimat itu selesai.

Pak Har tidak menoleh.

Dia meminum kopinya. Dia meletakkan gelasnya di lantai. Dia memandang ke arah gang.

“Ada,” katanya.

Saya menunggu.

“Sekarang di mana, Pak?”

“Nggak tau.”

Dua kata, dengan nada yang sama seperti orang menyebutkan bahwa hari ini mendung.

Dan saya duduk di kursi plastik itu dan memutuskan, untuk pertama kalinya dalam enam tahun, bahwa terdapat informasi yang lebih baik tidak saya lengkapi.

“Mohon maaf, Pak.”

“Nggak apa-apa, Nduk.” Dia mengambil gelasnya lagi. “Udah lama.”

Menit ketiga puluh:

“Pak.”

“Hm.”

“Apakah Bapak mengetahui mengenai tunggakannya?” Kali ini dia menoleh dengan cepat.

“Kamu tau dari mana?”

“Saya tidak dapat menjelaskannya tanpa melanggar sesuatu.”

Dia menatap saya lama sekali.

Kemudian dia berdiri, masuk ke dalam, dan kembali sekitar dua menit kemudian membawa gelas kedua — teh, panas — yang dia letakkan di lantai di dekat kaki saya karena tidak ada meja.

“Aku pernah nawarin,” katanya, duduk kembali.

“Bapak menawarkan membayarnya.”

“Ho’oh.”

“Kapan?”

“Oktober. Pas surat kedua.”

Saya memegang gelas teh itu dengan dua tangan.

“Dan?”

Pak Har meminum kopinya yang tidak ada isinya.

“Dia bilang makasih,” katanya. “Terus besoknya dia dateng lebih pagi setengah jam. Tiap hari. Sampai sekarang.”


Andhika Pratama datang pada menit keempat puluh satu.

Dia mendorong gerobak. Sebuah gerobak kayu, dengan dua tumpukan kardus yang diikat tali rafia, dari arah pasar, di bawah matahari pukul sepuluh pagi.

Dia mengenakan kaus oblong abu-abu yang basah di bagian punggung.

Dia melihat saya dari jarak kira-kira dua puluh meter, dan langkahnya tidak berubah sama sekali, dan itu — bukan yang lain, bukan gerobaknya, bukan kausnya — yang membuat sesuatu di dalam dada saya berubah bentuk.

Dia berhenti di depan pintu. Dia menurunkan gerobaknya. Dia menyeka tangannya ke celana.

“Renata.”

“Selamat pagi.”

“Kamu di sini.”

“Ya.”

“Kenapa?”

Dan saya, yang telah menyusun sebelas versi jawaban selama perjalanan tiga puluh satu menit dan empat puluh satu menit menunggu, memberikan versi yang tidak ada dalam sebelas versi tersebut:

“Saya tidak tahu.”


Dia menatap saya beberapa detik.

Kemudian dia mengangguk sekali, seolah “saya tidak tahu” adalah jawaban yang sepenuhnya memadai, dan berkata:

“Bentar. Saya turunin dulu.”

“Saya dapat membantu.”

“Nggak usah.”

“Saya dapat membantu,” ulang saya, dan saya berdiri.

Dan itulah bagaimana Ketua OSIS SMA Negeri 4, mengenakan seragam lengkap dengan pin di kerah, menghabiskan dua puluh menit hari Sabtu paginya memindahkan kardus dari gerobak ke lantai percetakan.

Saya mampu mengangkat empat kardus. Dia mengangkat sembilan belas.

Pada kardus keempat, tangan saya bergetar dan saya menjatuhkannya sekitar sepuluh sentimeter di atas lantai.

Dia tidak berkomentar.

Dia mengambil kardus kelima sebelum saya sempat mendekatinya, dan kardus keenam, dan seterusnya, dan pada kardus kesebelas saya menyadari apa yang sedang dia lakukan dan saya berdiri di tengah percetakan dengan tangan yang perih dan seragam yang kotor dan mata yang panas.

“Saudara Andhika.”

“Hm.”

“Anda tidak perlu melindungi saya dari kardus.”

“Iya.”

“Anda tetap melakukannya.”

“Iya.”


Kami duduk di kursi plastik pukul sebelas kurang.

Pak Har sudah masuk ke dalam. Mesin menyala. Bunyinya tiga kali lalu berhenti sendiri.

“Kamu belum jawab,” katanya.

“Saya sudah menjawab. Saya tidak tahu.”

“Kamu selalu tau.”

“Ya.” Saya memandang gelas teh yang sudah dingin di lantai. “Itulah yang membuat hal ini mengganggu.”

Dia menunggu.

“Anda berhenti naik,” kata saya. “Dua puluh tiga hari yang lalu.”

“Iya.”

“Saya tetap naik setiap hari selama dua puluh tiga hari tersebut.”

“Saya tau.”

“Bagaimana Anda tahu?”

“Saya lewat koridor lab jam dua belas empat puluh,” katanya. “Anak tangga kelima nggak bunyi.”

Saya menoleh.

“Anda melewatinya setiap hari.”

“Iya.”

“Selama dua puluh tiga hari.”

“Iya.”

“Untuk mendengarkan apakah ada bunyi.”

Dia tidak menjawab, yang mana adalah jawabannya, dan saya duduk di kursi plastik di depan percetakan itu memegang gelas teh dingin dengan dua tangan.

“Saudara Andhika.”

“Hm.”

“Mengapa Anda tidak naik saja?”

Dan dia berkata sesuatu yang saya bawa pulang, dan yang saya tulis di sistem pensil malam itu, dan yang saya baca ulang setiap malam selama tiga minggu berikutnya:

“Karena kalau saya naik, saya bakal naik lagi besok.”


Saya pulang pukul dua belas lewat.

Sebelum saya pergi, terjadi satu hal yang belum saya masukkan ke dalam kategori mana pun.

Saya berdiri. Saya merapikan seragam saya, yang tidak dapat dirapikan karena ada garis debu memanjang di bagian depan.

Dan Pak Har keluar dari dalam sambil membawa sesuatu.

Sebuah amplop cokelat, ukuran A4, tersegel.

“Nduk.”

“Ya, Pak?”

“Ini titip.”

“Untuk siapa?”

Dia menoleh ke arah Andhika, yang sedang membuka ikatan tali rafia di ujung ruangan, membelakangi kami.

“Buat kamu,” katanya, pelan. “Nanti bacanya di rumah.”

Saya menerimanya.

“Pak—”

“Sudah sana. Panas.”

Dan dia masuk kembali ke dalam sebelum saya sempat bertanya apa pun.


Saya membukanya di kamar, pukul dua siang, dengan seragam yang belum saya ganti.

Isinya satu lembar.

Sebuah salinan fotokopi, agak buram, dari sesuatu yang jelas bukan dokumen resmi apa pun. Tulisan tangan. Huruf kapital. Ditulis dengan spidol dan difotokopi entah kapan.

Di bagian atas, tertulis:

DILARANG NYALAKAN MESIN 3 SENDIRIAN

Dan di bawahnya, dengan spidol berbeda:

KECUALI ANDHIKA

Dan di bagian paling bawah kertas itu, dengan pulpen, tulisan yang jauh lebih baru dan jauh lebih kecil dan jelas ditulis pagi tadi:

Nduk, mesin 3 itu yang paling bahaya di sini. Anak itu satu-satunya yang aku percaya. Bukan karena dia paling kuat. Karena dia satu-satunya yang nggak pernah minta ijin buat ngerjain yang susah.

Kalau kamu mau nolongin dia, jangan nawarin. Suruh aja.