← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Five

Yang Kiri

POV: Sekar


Hari ketiga aku naik ke atap, aku membawa dua bungkus.

Ini bukan modus. Ini logistik.

Kalau aku naik dengan tangan kosong lagi, dia akan menyodorkan kotak bekalnya lagi, dan aku akan mengambil setengah tempenya lagi, dan itu artinya dia makan lebih sedikit. Aku sudah menghitungnya semalaman sambil menatap langit-langit kamar, yang mana adalah kegiatan yang sangat produktif untuk anak kelas sebelas.

Jadi: dua bungkus. Satu untukku, satu untuk— ya, untuk siapa pun yang kebetulan ada di sana.

Ibuku curiga waktu aku minta uang lebih pagi itu.

“Tumben.”

“Lagi laper aja, Bu.”

“Kamu nggak pernah habis satu.”

“Sekarang habis.”

Dia menatapku dengan tatapan ibu-ibu yang sudah membaca anaknya sejak dalam kandungan, lalu menyerahkan uangnya tanpa bertanya lagi. Itu lebih menakutkan daripada kalau dia bertanya.

Di angkot aku memangku dua bungkus itu dan merasa seperti orang yang sedang menyelundupkan sesuatu.

Dan begitu sampai atas, teoriku langsung hancur dalam empat detik.

“Kar.”

“Hm.”

“Kenapa dua?”

“Aku laper banget hari ini.”

“Kamu bawa dua bungkus nasi uduk.”

“Iya.”

“Kamu nggak habis satu.”

“Sok tau.”

Aku duduk. Aku membuka bungkus pertama. Aku makan tiga suap dan berhenti karena perutku memang tidak sanggup, dan aku merasakan tatapan dari sebelah kiriku yang tidak perlu diterjemahkan.

“Jangan ngomong apa-apa,” kataku.

“Belum ngomong.”

“Muka kamu udah ngomong.”

“Muka saya nggak gerak.”

“Justru itu.”

Dia mengambil bungkus kedua tanpa berkata apa-apa lagi, dan membukanya, dan makan.

Dan aku duduk di sana merasa menang untuk sesuatu yang bahkan tidak jelas apa pertandingannya.


Rutinitasnya terbentuk lebih cepat dari yang kuduga.

Istirahat pertama, bel jam 09.50. Aku keluar kelas, belok kanan, jalan cepat lewat koridor lab, naik tangga besi sambil melangkahi anak tangga kelima seperti yang dia suruh.

Dia selalu sudah di sana.

Selalu. Setiap hari. Aku pernah mencoba datang lebih awal — keluar dua menit sebelum bel, dengan alasan ke toilet — dan dia tetap sudah di sana, duduk, punggung ke tembok, kaki lurus.

“Kamu bolos jam terakhir?” tanyaku hari itu.

“Nggak.”

“Terus kok udah di sini?”

“Kelas saya deket.”

“Kelas kita sebelahan.”

“Iya. Saya jalannya cepet.”

Bohong. Aku pernah melihat dia jalan. Dia jalan seperti orang yang tidak pernah terlambat ke mana pun karena dia berangkat lebih awal ke semua tempat.

Tapi aku tidak mendebatnya. Aku sudah mulai belajar bahwa Mas Dhika punya lapisan-lapisan alasan, dan kalau kamu mengupas satu, di bawahnya ada satu lagi yang lebih membosankan, dan di bawah yang membosankan itu barulah ada yang sebenarnya.

Aku belum sampai lapisan ketiga. Aku baru sampai lapisan pertama.

Contohnya begini.

Kelas empat SD, dia berhenti main bola sore-sore. Aku tanya kenapa. Dia bilang, “bosen.” Itu lapisan pertama.

Kelas lima, aku tanya lagi. Dia bilang, “sepatunya kekecilan.” Itu lapisan kedua, dan itu lebih masuk akal, dan aku percaya selama dua tahun.

Kelas satu SMP, aku lihat sepatu bolanya masih di rak dan ukurannya masih muat.

Aku tidak pernah bertanya lapisan ketiga. Aku sudah punya tebakan, dan tebakanku melibatkan hal-hal yang tidak enak dipikirkan tentang tetangga yang kau sayangi.

Sekarang, di atap gudang, aku sedang berhadapan dengan orang yang sama dengan sistem yang sama, hanya saja sekarang aku enam belas dan aku sudah tidak sabar lagi.


Hari itu — hari ketujuh, kalau aku menghitung dengan benar, dan aku selalu menghitung dengan benar untuk hal-hal seperti ini — angin di atas atap besar sekali.

Aku menahan rambutku dengan satu tangan. Jepitnya lepas dan meluncur ke lantai semen dan menggelinding ke arah tembok pembatas.

“Aduh—”

Dia sudah mengambilnya sebelum aku selesai berdiri.

Dia menyodorkannya. Aku menerimanya. Jarinya tidak menyentuh jariku sama sekali; dia meletakkannya di telapak tanganku dari ketinggian dua sentimeter, seperti orang menaruh koin di meja kasir.

Aku menjepitnya kembali. Rambutku langsung berantakan lagi.

“Angin di sini emang gede ya.”

“Iya. Kalau siang lebih gede.”

“Kamu tau dari mana?”

“Saya di sini tiap hari.”

“Ya kan cuma pas istirahat.”

Jeda.

Jeda yang sangat pendek — mungkin setengah detik, mungkin kurang — tapi aku menangkapnya, karena aku sudah lima tahun memperhatikan orang ini dan aku hafal ritmenya.

“Iya,” katanya. “Cuma pas istirahat.”

Aku menoleh. Dia sedang membenahi kabel earphone-nya, menggulungnya dua lingkaran, ujungnya diselipkan.

“Mas Dhika.”

“Hm.”

“Kamu bohong.”

“Hm.”

“Itu bukan jawaban.”

“Iya.”

Aku menghela napas dan menyerah, karena melawan orang yang tidak melawan itu seperti mendorong tembok.


“Boleh dengerin?” tanyaku.

“Apa?”

“Lagu kamu.”

Dia berhenti menggulung kabel.

Aku menyodorkan tangan dengan telapak menghadap ke atas, gaya anak SD minta permen, dan aku tahu wajahku pasti terlihat menyebalkan.

Dia melihat tanganku. Lalu dia melepas earphone yang sebelah kiri dari telinganya.

“Yang kiri buat kamu.”

“Kenapa yang kiri?”

“Karena itu yang bunyi.”

Dia mengatakannya dengan sangat biasa. Tanpa rasa apa pun. Seperti orang yang memberi tahu bahwa keran yang kanan airnya keruh.

Aku memasangnya.

Ada lagu yang sedang berputar di tengah. Suara gitar, agak lambat, agak lama, dan kualitas rekamannya tidak terlalu bagus atau mungkin earphone-nya yang tidak bagus atau mungkin dua-duanya.

Aku duduk lebih dekat. Harus. Kabelnya pendek.

Dan itu — aku bersumpah aku tidak merencanakannya — membuat bahuku menempel ke bahunya.

Kami sudah pernah lebih dekat dari ini. Jauh lebih dekat. Aku pernah tidur di bahunya waktu nonton TV. Aku pernah dibonceng sepedanya dulu waktu SD, dua tahun penuh, setiap pagi. Aku pernah memegang dua jarinya kemarin lusa di tangga tanpa berpikir sama sekali.

Tapi entah kenapa yang ini beda.

Mungkin karena di atap ini tidak ada TV, tidak ada sepeda, tidak ada anak tangga longgar. Tidak ada alasan.

Cuma dua orang yang duduk berdekatan karena kabelnya pendek.

Lagunya sampai bagian tengah. Ada jeda dua detik di sana, kosong, dan aku sempat mengira earphone-nya mati.

“Itu emang gitu,” katanya, sebelum aku sempat bertanya.

“Kamu hafal?”

“Hm.”

“Sampai detiknya?”

“Hm.”

“Kamu dengerin ini berapa kali sih?”

Dia tidak menjawab.

“Mas Dhika.”

“Hm.”

“Lagunya cuma berapa?”

“Kenapa?”

“Soalnya dari tadi yang tadi udah muter lagi.”

Aku merasakan bahunya menegang sedikit. Sangat sedikit. Kalau aku tidak sedang menempel, aku tidak akan tahu.

“Sembilan,” katanya.

“Sembilan?”

“Hm.”

“Sembilan doang?”

“Iya.”

“Kamu nggak bosen?”

“Enggak.”

“Tambahin dong. Aku punya banyak. Nanti aku kirim—”

“Nggak usah.”

Cepat. Lebih cepat dari semua jawabannya hari itu.

Aku menoleh dan dia sudah menghadap depan lagi, wajahnya tidak berubah sedikit pun, dan kalau bukan karena kecepatan jawaban itu aku tidak akan tahu bahwa aku baru saja menginjak sesuatu.

“...Oke,” kataku.

“Hm.”

“Ya udah sembilan aja.”

“Hm.”

Kami diam. Lagu keempat mulai, dan ada suara gitar yang sedikit fals di bagian awalnya, dan dia tidak berkedip sama sekali waktu bagian itu lewat.

Aku menoleh, dan dia sedang menghadap ke depan, dan dari sudut ini aku bisa melihat rahangnya dan bekas luka kecil di bawah telinga yang sudah ada sejak dia kelas enam SD karena jatuh dari pohon jambu.

Aku tahu asal-usul setiap bekas luka di wajah orang ini.

Aku tidak tahu berapa kali dia mendengarkan satu lagu.

“Mas Dhika,” kataku pelan.

“Hm.”

“Kalau earphone-nya diganti, kamu bisa dengerin pake dua telinga.”

“Iya.”

“Aku punya tabungan.”

Kalimat itu keluar sebelum aku menyaringnya, dan begitu keluar aku langsung tahu itu salah.

Dia tidak marah. Dia tidak tersinggung. Dia bahkan tidak menoleh.

Dia cuma bilang, “Nggak usah, Kar.”

Dua kata dan namaku, dan entah bagaimana caranya, itu menutup pintu lebih rapat daripada kalau dia berteriak.


Bel berbunyi dua kali.

Aku melepas earphone kiri dan mengembalikannya. Dia menerimanya, menggulung kabelnya, memasukkannya ke saku.

Kami turun. Aku duluan kali ini.

Di bawah, di ujung koridor lab, ada dua anak kelas sepuluh sedang duduk di lantai. Salah satunya melihat ke arahku, mengenali, dan wajahnya langsung berubah jadi wajah orang yang melihat anak kucing.

“Eh, Kak Sekar!”

Dan tangannya sudah terangkat, dan aku sudah tahu apa yang akan terjadi, dan aku sudah menyiapkan senyum maskot nomor tiga, dan—

Dia mengelus kepalaku.

Dua kali. Ringan. Sambil tertawa ke temannya.

Aku tersenyum. Aku bilang, “Iya, hai.” Aku jalan terus.

Anak itu tertawa. Temannya tertawa. Salah satunya bilang “gemes banget sih Kak Sekar” ke punggungku, keras, dengan nada yang dia pikir adalah pujian.

Aku menghitung dalam hati sampai lima. Itu triknya. Kalau kamu menghitung sampai lima, wajahmu punya waktu untuk berhenti bergerak sebelum ada yang lihat.

Mas Dhika jalan di belakangku dan tidak mengatakan apa-apa selama sepuluh langkah.

Lalu, di tikungan, dia berhenti.

“Kar.”

“Ya?”

Dia mengangkat tangannya.

Setengah jalan. Kira-kira setinggi dadaku, menuju ke atas, ke arah kepalaku — dan aku melihatnya, dan aku merasakan sesuatu di perutku yang campuran antara jangan dan lakukan yang tidak bisa dipisahkan lagi.

Lalu tangan itu berhenti.

Dia menurunkannya. Memasukkannya ke saku.

“Nggak jadi,” katanya.

“...Apa?”

“Nggak apa-apa.”

Dan dia jalan duluan.

Aku berdiri di tikungan koridor selama beberapa detik, memandangi punggungnya, dengan perasaan yang tidak bisa kunamai sampai malam harinya.

Malamnya, aku duduk di teras rumahku sendiri sampai jam sepuluh.

Bukan menunggu. Aku cuma kebetulan duduk di sana. Selama empat jam.

Jam 22.14, ada bunyi langkah di gang. Lampu depan rumah sebelah menyala tiga detik kemudian.

Dia lewat depan pagarku. Menoleh. Melihat aku duduk di sana dengan buku yang sejak jam tujuh belum berganti halaman.

“Belum tidur?”

“Belum ngantuk.”

Dia diam sebentar. Lalu dia mengangguk sekali, sangat pelan, dengan ekspresi orang yang mengenali kalimat itu dari suatu tempat.

“Ya udah. Jangan lama-lama.”

Dan dia masuk.

Aku duduk di sana lima menit lagi, sendirian, dengan buku yang tidak kubaca.

Karena aku tidak tahu mana yang lebih membuatku sesak: bahwa dia hampir melakukannya tadi siang—

—atau bahwa dia berhenti, dan alasan dia berhenti kemungkinan besar adalah aku.

Dan besoknya aku naik lagi, jam sepuluh kurang sepuluh, seperti biasa.