Chapter Thirty
Diam
POV: Tamara
Aku bilang tidak pada hari Selasa jam tujuh malam, di meja makan, dengan tangan yang gemetar di bawah taplak.
“Aku nggak mau, Ma.”
Mama meletakkan sendoknya.
“Nggak mau apa?”
“Dua iklan itu. Aku nggak mau.”
“Kontraknya udah ditandatangan, Tam.”
“Kan bukan aku yang tanda tangan.”
Dan Mama menatapku dengan tatapan yang tidak marah sama sekali — itu bagian yang paling tidak bisa kujelaskan ke siapa pun, bahwa Mama tidak pernah marah — lalu dia berkata, dengan suara yang sangat lembut:
“Sayang, kamu tau kan kamu cuma punya waktu beberapa tahun.”
Aku tidak menjawab.
“Umur dua puluh lima udah beda. Mama tau. Mama pernah.”
“Ma—”
“Mama nggak mau kamu nyesel kayak Mama.”
Dan itu.
Itu kalimat yang selalu dia pakai, dan itu kalimat yang selalu berhasil, dan malam itu untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun aku mendengarnya dan menyadari sesuatu yang membuat seluruh isi perutku dingin:
Mama tidak sedang membicarakan aku.
Mama belum pernah sekali pun membicarakan aku.
“Ma.”
“Iya?”
“Mama tau nggak aku pengen jadi apa?”
Dia berkedip.
Dan aku menunggu — betulan menunggu, dengan sabar, selama enam detik penuh — sampai aku melihatnya membuka mulut dan menutupnya kembali.
Aku berdiri.
“Tamara—”
“Aku ke atas.”
“Kita belum selesai ngomong.”
“Kita belum pernah mulai, Ma.”
Aku tidak tidur.
Rabu pagi aku ke sekolah dengan mata bengkak dan bedak yang tidak menutupi apa pun, dan Nayla bertanya kenapa dan aku bilang begadang nonton, dan dia percaya karena itu jawaban yang masuk akal untuk orang seperti aku.
Jam tiga sore, kakiku jalan sendiri.
Bukan keputusan. Aku tidak memutuskan apa pun hari itu. Aku cuma berdiri di depan kelas setelah bel dan tubuhku berbelok kanan, lewat koridor lab, sampai habis.
Tangga besi. Anak tangga kelima. Aku naik.
Dan dia ada di sana.
Aku berhenti di anak tangga terakhir.
Dua puluh empat hari.
Dua puluh empat hari atap ini kosong jam tiga sore dan aku tetap naik setiap Selasa dan Kamis seperti orang yang menyalakan lampu untuk rumah yang sudah tidak ditinggali.
Dan hari ini dia duduk di sana.
Di tepi. Bukan di sudut. Menghadap tangga.
“Tamara.”
Aku naik sepenuhnya.
Aku tidak berkata apa-apa.
Ini penting — aku ingin mencatat ini karena aku sendiri tidak percaya — aku tidak berkata apa-apa.
Aku berjalan menyeberangi atap itu, tujuh langkah, dan aku menaruh tasku di lantai, dan aku duduk.
Bukan tiga meter. Bukan di sudut. Di sebelahnya.
Dan aku tidak berkata apa-apa.
Dia juga tidak.
Satu menit.
Dua.
Angin datang dari arah lapangan, sore, dan bawa bau rumput dan bau asap dari warung di seberang gerbang belakang.
Lima menit.
Aku tidak pernah diam selama lima menit di depan siapa pun sejak umur delapan tahun.
Kalau kamu diam, orang akan melihatmu. Dan kalau orang melihatmu, mereka melihat mukamu, dan kalau mereka melihat mukamu maka itu satu-satunya yang mereka lihat.
Jadi aku bicara. Selalu. Sejak SD. Aku bicara supaya ada sesuatu yang lain untuk didengarkan.
Delapan menit.
Dan dia tidak sekali pun bertanya kenapa aku diam.
Menit kesebelas, aku menangis.
Tanpa suara, mula-mula. Cuma air yang keluar dan aku tidak berusaha menghentikannya karena aku sudah tidak punya tenaga untuk mengatur apa pun hari itu.
Lalu bahuku mulai bergerak.
Dan lalu aku mendengar suara keluar dari mulutku sendiri — suara yang jelek, yang serak, yang tidak pernah kubiarkan keluar di depan siapa pun termasuk di depan cermin.
Dia tidak bergerak.
Tidak menyentuh. Tidak mengeluarkan tisu. Tidak berkata sudah-sudah.
Dia cuma duduk di sana, sama seperti bulan November, sama seperti selalu.
Dan aku memiringkan badan dan meletakkan dahiku di bahunya.
Lalu pipiku.
Lalu aku memutar tubuhku dan memeluknya.
Dua tangan. Melingkari punggungnya. Wajahku di dadanya, di kaus seragam yang bau sabun murah dan sedikit bau tinta yang tidak pernah hilang.
Aku tidak berkata itu nggak ada artinya.
Aku tidak berkata apa-apa.
Aku memeluknya dan aku menangis di sana dan aku tidak mengeluarkan satu pun kalimat untuk membungkusnya, tidak satu pun lelucon, tidak satu pun penyangkalan.
Dan dia—
Dia mengangkat tangannya.
Aku merasakannya. Setengah jalan. Di udara, di belakang punggungku, selama mungkin dua detik.
Lalu turun lagi.
Dan aku menangis lebih keras karena aku tahu persis apa artinya itu, karena Sekar sudah memberitahuku di atap ini pada bulan Desember, karena aku sudah tahu bahwa orang ini tidak pernah menyentuh siapa pun duluan dan bahwa alasannya adalah sesuatu yang belum ada satu pun dari kami berhasil mengeluarkan darinya.
“Andhika.”
Suaraku pecah di dua suku kata pertama.
“Hm.”
“Boleh nggak.”
“Boleh apa?”
Dan aku menekan wajahku lebih dalam ke kausnya sehingga dia tidak bisa melihat apa pun, dan aku berkata:
“Boleh nggak kamu peluk aku balik.”
Ada jeda.
Panjang.
Lalu tangannya turun di punggungku — dua-duanya, satu di antara tulang belikat dan satu lebih rendah — dan telapak itu kasar bahkan lewat dua lapis kain, dan itu bukan pelukan yang bagus.
Terlalu ringan. Seperti orang memegang barang yang belum jelas boleh dipegang atau tidak.
Aku tidak peduli.
Aku memeluknya lebih erat dan aku menangis sampai habis, di atap gudang yang tidak ada di denah sekolah, jam empat kurang seperempat, hari Rabu.
Dan sepanjang itu dia tidak berkata satu kata pun.
Tidak bertanya kenapa. Tidak menebak. Tidak menawarkan solusi.
Cuma menahan.
Aku ingin menulis sesuatu tentang tiga bulan terakhir sebelum aku lanjut.
Selama tiga bulan, aku bertanya kepada orang ini kira-kira — dan ini perkiraan yang konservatif — empat ratus kali.
Kamu tinggal di mana. Kamu punya adik nggak. Kamu pengen jadi apa. Kamu kenapa nggak pernah ikut acara kelas. Kamu tangan kamu kenapa selalu di saku. Kamu dengerin lagu apa. Kamu kenapa nggak ganti earphone.
Empat ratus pertanyaan, dan aku menganggap itu perhatian.
Hari ini aku tidak bertanya satu pun.
Dan hari ini adalah hari di mana aku mendapat lebih banyak daripada empat ratus pertanyaan itu digabung.
Bukan informasi. Aku tidak mendapat satu pun informasi baru hari ini.
Aku cuma mendapat dua tangan di punggungku yang butuh sebelas menit keheningan untuk sampai ke sana.
Aku berhenti sekitar empat menit kemudian.
Aku tidak melepaskan diri. Aku cuma berhenti menangis, dan aku tetap di sana, dengan pipiku di dadanya, mendengarkan sesuatu yang tidak pernah kudengar dari orang ini sebelumnya.
Detak jantungnya.
Cepat sekali.
Jauh, jauh lebih cepat daripada milik orang yang duduk diam.
Aku menghitungnya. Aku tidak bisa tidak menghitungnya; aku sudah tertular dari mereka semua.
Dan aku mengangkat wajahku dan menatapnya dari jarak dua puluh sentimeter, dan wajahnya persis seperti biasa — datar, tenang, tidak ada apa-apa.
Aku hampir tertawa.
“Kamu tuh,” kataku, serak, “mukanya bohong terus.”
Dia tidak menjawab.
Aku melepaskan diri dan duduk kembali di sebelahnya, dan aku menyeka wajahku dengan lengan seragam, dan aku menghela napas panjang sekali.
“Aku bilang nggak,” kataku.
“Ke siapa?”
“Ke Mama. Dua iklan itu.”
Dia mengangguk sekali.
“Bagus.”
Satu kata.
Bukan hebat. Bukan aku bangga sama kamu. Bukan akhirnya.
Bagus.
Dan entah bagaimana caranya, satu kata itu membuat dadaku terasa penuh dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh dua belas cantik banget kamu dari seorang sutradara di studio ber-AC.
Kami duduk sampai jam empat lewat.
“Kamu balik,” kataku.
“Hm.”
“Ke sini. Hari ini.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan dia melirik jam tangannya, dan aku sudah membenci gerakan itu selama tiga bulan, dan hari itu untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa itu bukan kebiasaan.
Itu orang yang sedang memeriksa berapa sisa.
“Buat mastiin tempatnya masih bener,” katanya.
“Bener gimana?”
“Nggak bocor. Tangganya nggak lepas. Anak tangga kedelapan masih bisa diinjek.”
Aku menoleh.
“Kamu naik ke sini buat ngecek tangga.”
“Iya.”
“Buat siapa?”
Dan dia tidak menjawab.
Dia berdiri, dan mengambil tasnya, dan berjalan ke tangga besi, dan sebelum turun dia berhenti dan berkata satu hal yang membuatku duduk di atap itu sendirian sampai jam lima sore dengan perut yang terasa seperti jatuh:
“Tamara.”
“Ya?”
“Anak tangga kedelapan longgar di sisi kiri. Kalau naik, injek yang kanan.”
“...Kamu udah pernah bilang.”
“Iya,” katanya. “Saya bilangin lagi.”
Malamnya aku mengetik ke grup.
tamara: dia naik hari ini
Sekar membaca dalam dua detik. Renata dalam empat.
sekar: jam berapa
tamara: jam tiga
Renata: Apakah dia menyampaikan alasannya?
tamara: katanya ngecek tangga
sekar: ngecek apa?
tamara: dia bilang ngecek anak tangga kedelapan sama atapnya bocor apa nggak
Tidak ada yang mengetik selama hampir satu menit.
Lalu:
Renata: Sekar.
sekar: iya
Renata: Berapa lama Anda mengenalnya?
sekar: sepuluh tahun
Renata: Apakah dia pernah memperbaiki sesuatu di rumah Anda?
Jeda.
sekar: pager aku. engselnya. dia benerin waktu aku kelas 9
sekar: kenapa?
Renata: Kapan tepatnya?
sekar: sehari sebelum dia pindah kelas. dia ganti jurusan, jadi kita nggak sekelas lagi
Aku duduk di kasur dengan ponsel di tangan.
Renata: Terima kasih.
tamara: renata
tamara: itu artinya apa
Dan Ketua OSIS SMA Negeri 4 mengetik selama dua menit empat puluh detik, lalu menghapusnya, lalu mengetik lagi, dan yang akhirnya terkirim cuma satu baris:
Renata: Saya akan menyampaikannya apabila saya sudah yakin.
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam reading
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu