← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Three

Prosedur Tidur Siang

POV: Renata


Pukul 12.31, rapat evaluasi Bulan Bahasa selesai sembilan menit lebih cepat dari jadwal.

Wisnu menutup map. “Ketua, notulennya saya rapikan sekarang atau—”

“Sore. Setelah pukul empat.”

“Baik, Ketua.”

“Dan Wisnu.”

“Ya, Ketua?”

“Anggaran konsumsi di poin tujuh. Angkanya tidak akan cocok dengan lampiran.”

Dia membuka map lagi dengan gerakan orang yang baru saja diberi tahu ada kebocoran gas di rumahnya. “Tapi tadi Ketua bilang—”

“Saya bilang rapatnya selesai. Saya tidak bilang angkanya benar.”

“Ketua tahu dari mana?”

“Karena bendahara membacakan totalnya tanpa melihat kertas.”

Wisnu berkedip. “Berarti dia hafal.”

“Berarti dia menyiapkannya semalam. Dan orang menyiapkan angka semalam apabila angka itu tidak muncul dengan sendirinya dari nota.”

Saya melihat wajahnya berubah, dan saya mengangkat satu tangan sebelum dia sempat berspekulasi lebih jauh.

“Ini bukan tuduhan. Ini kemungkinan. Periksa lampirannya. Kalau cocok, saya salah, dan saya akan mengatakannya di rapat berikutnya.”

Aku keluar sebelum dia sempat bertanya lagi, karena kalau dia bertanya lagi aku harus menjawab, dan menjawab membutuhkan sekitar empat menit, dan aku tidak punya empat menit.

Aku punya dua puluh empat menit.

Dua puluh empat menit sampai jam pelajaran berikutnya, dikurangi enam menit perjalanan pulang-pergi, dikurangi tiga menit margin keamanan.

Lima belas menit.

Itu jatah tidurku hari ini.


Aku ingin memperjelas sesuatu, karena kalau tidak diperjelas, ini akan terdengar seperti kelemahan.

Aku tidur lima belas menit setiap hari bukan karena aku tidak sanggup. Aku tidur lima belas menit setiap hari karena penelitian menunjukkan bahwa tidur singkat pada siang hari memperbaiki fungsi kognitif secara signifikan, dan karena aku bangun pukul empat pagi, dan karena tubuh manusia — termasuk tubuhku, walaupun ini menjengkelkan — memiliki batas.

Ini bukan kelemahan. Ini optimasi.

Masalahnya bukan tidurnya. Masalahnya adalah tempatnya.

Ruang OSIS: ada Wisnu. UKS: harus lapor, harus dicatat, harus ada alasan, dan alasan itu akan sampai ke wali kelas dalam dua hari. Perpustakaan: ada empat belas pasang mata dan salah satunya pasti punya ponsel. Mobil: aku tidak punya mobil, dan sopir keluargaku menjemput pukul 16.00, tidak sedetik lebih awal.

Dan yang paling penting: tidak ada satu pun tempat di sekolah ini di mana Ketua OSIS boleh terlihat lelah.

Ini bukan paranoia. Ini pengalaman. Tahun lalu, Ketua sebelumku ketahuan menguap di tengah rapat pleno, dan foto itu beredar selama dua minggu dengan keterangan yang tidak perlu kuulang di sini.

Saya perlu menjelaskan satu hal lagi, agar tidak ada kesalahpahaman.

Saya tidak dibenci di sekolah ini. Saya juga tidak disukai. Saya diandalkan, yang merupakan kategori tersendiri dan yang jauh lebih stabil daripada dua kategori lainnya.

Ada tujuh belas orang di kepengurusan OSIS. Mereka semua akan menolong saya jika saya minta. Tidak ada satu pun dari mereka yang akan bertanya kabar saya jika saya tidak minta.

Ini bukan keluhan. Ini konsekuensi dari sistem yang saya bangun sendiri, dan sistem itu bekerja, dan saya tidak berniat menggantinya.

Saya hanya perlu tidur lima belas menit.

Maka aku menyusun daftar. Empat puluh satu lokasi di area sekolah, disaring berdasarkan tiga kriteria: tidak terlihat dari jalur lalu-lalang, tidak memiliki fungsi aktif, dan dapat dicapai dalam tiga menit.

Yang lolos hanya satu.

Gudang lama di belakang laboratorium. Atapnya, tepatnya — diakses melalui tangga besi yang, setelah saya periksa, tidak tercantum dalam denah resmi sekolah tahun 2009.

Sesuatu yang tidak ada di denah tidak dapat dilaporkan sedang digunakan.

Saya menemukan tempat itu sebelas hari yang lalu. Saya telah menggunakannya selama sembilan hari kerja. Efisiensi kognitif saya pada jam pelajaran kelima meningkat, secara subjektif, sekitar empat puluh persen.

Sistem ini sempurna.

Hari ini sistem ini bertemu dengan variabel yang tidak saya perhitungkan.


Saya menaiki tangga. Anak tangga kelima berbunyi; saya sudah terbiasa melangkahinya.

Dan di sudut yang biasa saya gunakan — sudut timur laut, terlindung dari angin, mendapat bayangan sampai pukul satu — sudah ada orang.

Seorang siswa laki-laki. Punggung ke tembok. Kaki lurus. Earphone terpasang. Kepala miring ke bahu kanan.

Tidur.

Saya berdiri di sana selama, saya perkirakan, dua puluh detik.

Selama dua puluh detik itu saya menyusun tiga opsi.

Opsi satu: melaporkan. Siswa berada di area terlarang di luar jam istirahat. Ini pelanggaran. Sebagai Ketua OSIS, melaporkan adalah tindakan yang sesuai prosedur. Konsekuensi: tempat ini akan digembok dalam tiga hari. Saya kehilangan satu-satunya lokasi yang lolos kriteria.

Opsi dua: membangunkan dan menegur. Efek serupa dengan opsi satu, dengan tambahan bahwa dia akan mengetahui wajah saya.

Opsi tiga: turun. Kembali besok. Berharap dia tidak ada.

Saya memilih opsi keempat, yang tidak saya susun sebelumnya dan yang tidak dapat saya pertanggungjawabkan secara rasional sampai hari ini.

Saya berjalan ke sudut yang berlawanan — sudut barat daya, kena angin, tidak ada bayangan — meletakkan tas sebagai bantal, dan berbaring.

Jarak antara kami: kurang lebih empat meter.

Saya menyalakan alarm getar di ponsel. Lima belas menit.

Saya menutup mata.

Saya tidak tidur.

Saya berbaring selama lima belas menit dengan mata tertutup, menghitung pola napas orang asing di seberang atap, dan bangun dalam kondisi lebih lelah daripada sebelum berbaring.

Sistem saya gagal hari ini. Saya mencatatnya.

Dan saya kembali besok.


Hari kedua, dia sudah ada di sana lagi.

Saya menyusun ulang perhitungan risiko. Kemungkinan dia telah memotret saya pada hari pertama: rendah, sekitar lima belas persen, mengingat ponselnya tetap di dalam saku sepanjang waktu saya berada di sana. Kemungkinan dia melaporkan secara lisan: sedang. Kemungkinan informasi itu telah menyebar dalam dua puluh empat jam: jika benar, saya akan mengetahuinya pagi ini.

Saya tidak mengetahuinya pagi ini.

Saya naik lagi.

Hari ketiga juga.

Hari ketiga saya membawa dokumen — proposal Bulan Bahasa, tiga puluh dua halaman — dengan asumsi bahwa jika saya membawa pekerjaan, keberadaan saya di atas gudang menjadi dapat dipertanggungjawabkan.

Saya membaca dua halaman. Lalu saya berbaring. Lalu saya tidak membaca tiga puluh halaman sisanya.

Hari keempat saya tertidur — betulan tertidur, empat menit, mungkin lima — dan saya terbangun karena alarm, dan hal pertama yang saya lakukan adalah memeriksa apakah dia melihat.

Dia tidak melihat. Dia sedang menghadap ke arah lain, memandangi atap-atap rumah di kejauhan, dan dia tidak menoleh sekali pun sampai saya turun.

Hari kelima saya menyadari sesuatu.

Dia selalu sudah ada di sana sebelum saya datang, dan dia selalu masih ada di sana ketika saya pergi. Tetapi dia tidak pernah tidur setelah saya naik. Saya hanya pernah melihatnya tidur satu kali, yaitu hari pertama.

Artinya dia bangun ketika saya datang.

Artinya dia tahu.

Artinya selama lima hari, seorang siswa yang tidak saya kenal telah melihat Ketua OSIS SMA Negeri 4 berbaring di lantai semen dengan tas sebagai bantal, dan tidak melakukan apa pun dengan informasi itu.

Tidak memotret. Tidak melapor. Tidak menyapa. Tidak bertanya.

Saya tidak memiliki kategori untuk orang seperti ini.

Saya mencoba menyusunnya sepanjang jam pelajaran kelima, di margin buku catatan, dalam bentuk daftar:

Kemungkinan A: dia tidak menyadari siapa saya. — Ditolak. Semua orang menyadari siapa saya. Kemungkinan B: dia menunggu momen yang tepat untuk menggunakan informasi ini. — Lima hari adalah waktu tunggu yang tidak rasional. Nilai informasi menurun seiring waktu. Kemungkinan C: dia tidak peduli. — Mungkin. Tetapi orang yang tidak peduli biasanya juga tidak repot bangun ketika saya datang. Kemungkinan D:

Saya berhenti di D. Saya menutup buku catatan.

Saya tidak menuliskan kemungkinan D karena saya belum menemukan susunan kalimat yang tidak terdengar konyol ketika ditulis.


Hari keenam, saya melanggar aturan saya sendiri dan berbicara.

“Permisi.”

Dia menoleh. Melepas earphone sebelah kiri — hanya yang kiri, saya mencatat ini tanpa tahu mengapa saya mencatatnya.

“Saya Renata Claudya Larasati. Ketua OSIS.”

“Tahu.”

“Anda tahu.”

“Semua tahu.”

Poin yang wajar. Saya menyesuaikan.

“Anda menggunakan area ini di luar jam istirahat.”

“Iya.”

“Itu pelanggaran.”

“Iya.”

Dia tidak membela diri. Dia tidak meminta maaf. Dia mengakuinya seperti orang mengakui bahwa hari ini hari Rabu.

Saya kehilangan alur argumen saya, yang tidak pernah terjadi sebelumnya, dan saya harus berdiri diam selama tiga detik untuk menyusun ulang.

“Anda tidak melaporkan saya,” kata saya akhirnya.

“Nggak.”

“Mengapa?”

Dia berpikir sebentar. Saya menghargai itu; sebagian besar orang menjawab pertanyaan saya sebelum memahaminya.

“Kalau saya laporin kamu, tempat ini digembok,” katanya. “Terus saya juga nggak bisa ke sini.”

Logis. Sepenuhnya logis. Saya hampir merasa lega — ini transaksi, dan transaksi bisa saya pahami.

“Jadi ini kesepakatan saling menguntungkan.”

“Kalau kamu mau nyebutnya gitu.”

“Ada penyebutan lain?”

Dia mengangkat bahu sedikit sekali. “Kamu keliatan capek. Saya nggak mau nambahin.”

“Saya tidak lelah.”

“Oke.”

“Saya tidur lima belas menit sebagai bagian dari pengaturan efisiensi harian.”

“Oke.”

“Anda mengatakan ‘oke’ dua kali dengan intonasi yang sama.”

“Iya.”

“Itu artinya Anda tidak percaya.”

“Itu artinya saya nggak mau berdebat sama orang yang lagi butuh tidur.”

Saya membuka mulut. Saya menutupnya kembali.

Dalam enam tahun terakhir, saya telah memenangkan debat melawan tiga guru, satu pengawas, dan seorang perwakilan komite sekolah yang usianya empat puluh tujuh tahun.

Saya baru saja kalah dari seorang siswa kelas sebelas yang sedang memakan tempe.

Dan dia memasang kembali earphone-nya.

Saya berdiri di sana lebih lama dari yang saya rencanakan.

Kalimat itu tidak masuk ke dalam kategori mana pun yang saya miliki. Bukan pujian, bukan bantuan, bukan permintaan, bukan basa-basi. Tidak ada yang bisa saya balas dan tidak ada yang harus saya balas.

Ini, saya kira, adalah pertama kalinya dalam enam tahun seseorang melihat saya lelah dan tidak menggunakannya untuk apa pun.

“Nama Anda,” kata saya.

“Andhika.”

“Andhika siapa?”

“Pratama. Sebelas IPA tiga.”

“Baik. Saudara Andhika.” Saya membenahi letak tas saya. “Saya akan datang pukul 12.40 setiap hari kerja. Durasi lima belas menit.”

“Oke.”

“Saya harap tidak ada masalah.”

“Nggak ada.”

Saya turun. Anak tangga kelima saya langkahi.

Di ruang OSIS, saya membuka agenda saya — buku bersampul kulit sintetis, dibagi per hari, per kolom lima belas menit, yang saya isi sejak kelas sepuluh dan yang tidak pernah memiliki satu pun blok kosong.

Saya menuliskan di kolom 12.40:

Gudang.

Kolom keterangan saya biarkan kosong.

Lalu saya menutup buku itu, dan saya duduk memandangi sampulnya selama beberapa saat, karena ada satu hal yang baru saja saya sadari dan yang tidak dapat saya masukkan ke mana pun.

Selama enam hari saya berbaring empat meter dari orang itu.

Dan selama enam hari, tidak sekali pun saya menghitung ada berapa orang lain yang mungkin juga memiliki jadwal di tempat yang sama.