← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Thirteen

Suapan

POV: Tamara


Ada dua cara untuk menanyakan sesuatu yang tidak ingin kamu tanyakan.

Cara pertama: tanya langsung.

Cara kedua: tanya delapan hal lain sampai orangnya lengah, lalu selipkan yang satu itu di antaranya, seolah tidak penting.

Aku sudah memakai cara kedua sejak umur sembilan tahun. Aku sangat mahir. Aku pernah membuat Mama mengaku bahwa dia membenci Tante Wulan hanya dengan bertanya tentang resep opor.

“Kamu punya adik nggak?”

“Nggak.”

“Kakak?”

“Nggak.”

“Sepupu?”

“Ada.”

“Deket?”

“Nggak.”

“Temen deket?”

“Bagas.”

“Cuma Bagas?”

“Hm.”

“Cewek?”

Dia mengunyah. Aku menunggu dengan seluruh badanku pura-pura sedang memperhatikan kuku.

“Nggak ada.”

Dan aku hampir — hampir — mengatakannya.

Terus siapa yang megang dua jari kamu di trotoar delapan bulan lalu?

Aku menelannya. Aku menelannya bersama sesuatu yang rasanya pahit dan yang aku tidak mau namai.


Aku sudah memikirkannya selama enam hari.

Enam hari, dan yang paling mengganggu bukan bahwa ada perempuan lain. Aku bukan orang yang naif. Aku pernah punya tiga pacar dan aku tahu bagaimana dunia bekerja.

Yang mengganggu adalah bahwa dia bilang “nggak ada.”

Bukan “ada, tapi bukan siapa-siapa.” Bukan “temen kecil.” Bukan penjelasan apa pun.

Nggak ada.

Dan dari semua yang sudah kuketahui tentang Andhika Pratama selama satu setengah bulan, satu hal yang paling kuyakini adalah bahwa dia tidak berbohong.

Dia menyembunyikan. Dia memotong. Dia menjawab pertanyaan lain dari yang ditanya.

Tapi dia tidak berbohong.

Yang artinya, entah bagaimana, dalam kepalanya, jawaban “nggak ada” itu benar.

Dan aku tidak tahu apa yang lebih menyakitkan: kalau dia berbohong, atau kalau dia benar-benar berpikir tidak ada siapa-siapa.


Hari itu di kantin, Nayla menaruh ponselnya di meja dengan layar menghadap ke atas.

“Tam, ini kamu kan?”

Foto dari story seseorang. Diambil dari lantai dua, menghadap ke bawah, ke arah koridor lab.

Dua orang berjalan. Satu perempuan berambut panjang. Satu laki-laki berseragam pudar dengan tangan di saku.

Sudut fotonya buruk. Wajah kami tidak kelihatan.

Tapi rambut itu kelihatan, dan tas itu kelihatan, dan aku punya tas yang sama dengan sekitar empat orang di sekolah ini dan tiga di antaranya laki-laki.

“Bukan,” kataku.

“Mirip banget.”

“Bukan.”

“Yang cowok siapa tuh?”

Dan aku, yang seumur hidup tidak pernah gagap, mendengar suaraku sendiri keluar setengah nada terlalu cepat:

“Mana aku tau.”

Putri mengambil ponsel itu, memperbesar, mengerutkan kening.

“Nggak jelas,” katanya, dan menaruhnya kembali. “Yaudah.”

Percakapan itu berpindah ke topik lain dalam empat detik.

Aku duduk di sana dengan tangan yang dingin dan satu kesadaran yang tidak bisa kuhapus sepanjang hari:

Aku baru saja menyangkal orang itu di depan dua orang, di kantin, dengan sangat cepat dan sangat lancar.

Dan aku tidak melakukannya untuk melindungi diriku.

Aku melakukannya karena aku tahu apa yang terjadi kalau grup angkatan menemukan nama Andhika Pratama.

Tapi aku juga tahu — dan ini bagian yang membuatku tidak bisa makan siang hari itu — bahwa sebagian kecil dari diriku memang tidak ingin ditanya.


Hari itu aku membawa empat bungkus.

“Empat?”

“Iya.”

“Kemarin tiga.”

“Sekarang empat.”

“Kamu makan empat?”

“Enggak.”

Dia menunggu.

Aku menyodorkan satu bungkus ke arahnya dan berkata, dengan nada seseorang yang sedang membacakan peraturan lalu lintas:

“Ini punya kamu. Bukan sisa. Bukan kelebihan. Aku beli empat karena aku mau beli empat. Kalau kamu nolak, aku buang ke bawah.”

“Jangan dibuang.”

“Ya makanya makan.”

“Bisa dibawa pulang.”

“ANDHIKA.”

Dia mengambilnya.

Dan aku duduk di sana merasa seperti orang yang baru saja memenangkan perang dunia.


Yang tidak kuperhitungkan adalah dia makan sangat cepat.

Bukan rakus. Cepat. Seperti orang yang punya waktu lima menit dan tahu persis berapa suapan yang muat dalam lima menit.

Dan yang lebih tidak kuperhitungkan lagi: aku memperhatikan itu, dan aku tidak bisa berhenti memperhatikannya, dan tiba-tiba aku kehilangan seluruh nafsu makan untuk tiga bungkusku sendiri.

“Kamu makannya buru-buru.”

“Enggak.”

“Iya.”

“Kebiasaan.”

“Kebiasaan dari mana?”

Dia melirik jam tangannya.

“Ganti pertanyaan,” kataku cepat, sebelum dia sempat menutup pintunya. “Enak nggak?”

“Enak.”

“Bohong.”

“Enak.”

“Kamu belum ngunyah tiga kali.”

“Udah.”

“Nih, cobain yang ini.” Aku menyodorkan bungkusku sendiri, yang isinya ayam bakar. “Yang ini enak beneran.”

“Nggak usah.”

“Cobain.”

“Tamara—”

Dan aku, karena aku adalah orang yang tidak pernah belajar dari kesalahan apa pun, mengambil sesendok dan menyodorkannya ke depan mulutnya.


Ada satu detik penuh di mana kami berdua tidak bergerak.

Sendok di udara. Tanganku terulur. Dia menatap sendok itu seperti orang yang disodori dokumen dalam bahasa asing.

“Buka mulut,” kataku, karena mundur bukan pilihan.

“Saya bisa sendiri.”

“Ini lebih cepet.”

“Ini nggak lebih cepet.”

“BUKA.”

Dia membuka mulutnya.

Dan aku, dengan seluruh koordinasi motorik seorang manusia yang jantungnya sedang berdetak di tenggorokan, meleset.

Sendoknya kena pipi.

Nasi jatuh ke pangkuannya. Bumbu ayamnya meninggalkan garis oranye kecil dari sudut bibirnya ke arah rahang.

Aku terdiam.

Dia terdiam.

Lalu aku tertawa — tertawa yang keluar dari perut, tertawa yang membuatku harus menaruh sendok dan menutup mulut dengan dua tangan, tertawa yang sudah tidak kupakai di depan siapa pun selama bertahun-tahun karena tawa ini membuat mataku hilang dan hidungku berkerut dan Mama pernah bilang itu tidak bagus di foto.

“MAAF—” Aku tidak bisa bernapas. “Maaf, maaf, aku—”

“Hm.”

“Muka kamu—”

“Iya.”

Dan dia duduk di sana, dengan garis oranye di pipi, menunggu aku selesai tertawa dengan kesabaran orang yang menunggu hujan reda.

Aku menyeka mataku. Aku mengambil tisu.

Dan lalu, tanpa berpikir sama sekali — karena kalau aku berpikir aku tidak akan melakukannya — aku mengulurkan tangan dan mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari.

Sekali. Pelan.


Dia tidak bergerak.

Aku tidak bergerak.

Ibu jariku masih menempel di sudut bibirnya dan aku bisa merasakan bahwa dia berhenti bernapas untuk kedua kalinya sejak aku mengenalnya.

Aku menarik tanganku.

“Ada bumbunya,” kataku, ke arah lantai.

“Iya.”

“Udah bersih.”

“Iya.”

“Aku pakai tisu tadi.”

“Kamu nggak pakai tisu.”

“AKU PAKAI TISU.”

“Tisunya masih di tangan kamu.”

Aku melempar tisu itu ke wajahnya.

Dia tidak menghindar. Tisunya kena dahi dan jatuh ke pangkuannya bersama nasi tadi, dan dia memungutnya dan melipatnya rapi dan menaruhnya di sampingnya seperti orang yang sedang membereskan meja rapat.

Dan aku duduk memeluk lutut sambil memandangi pohon-pohon dan berdoa supaya wajahku berhenti panas dalam sepuluh detik ke depan.

Wajahku tidak berhenti panas selama dua puluh menit.

Selama dua puluh menit itu, dia melakukan hal-hal berikut: membereskan nasi yang jatuh ke pangkuannya butir per butir dan memasukkannya ke bungkus kosong; melipat tisu; memasang earphone; melepasnya lagi tiga menit kemudian.

Yang terakhir itu yang membuatku menoleh.

“Kenapa dilepas?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Tadi dipasang.”

“Iya.”

“Terus dilepas.”

“Iya.”

Aku menyipitkan mata. “Kamu tuh sebenernya dengerin lagu nggak sih?”

Dan dia — untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya — tidak menjawab sama sekali.

Bukan “hm”. Bukan “iya”. Bukan mengalihkan.

Diam.

Empat detik penuh.

“Andhika.”

“Denger,” katanya.

“Kok jawabnya lama.”

“Nggak lama.”

“Lama.”

“Kamu ngitung?”

“IYA AKU NGITUNG.”

Dan dia tertawa.

Aku bersumpah demi apa pun, dia tertawa. Bukan senyum satu milimeter. Bukan sudut mulut. Suara — pendek, satu embusan, hampir tidak terdengar, tapi ada.

Aku menoleh secepat mungkin dan berhasil menangkap sisa dua per tiga detik terakhirnya sebelum wajahnya kembali seperti biasa.

“Kamu ketawa.”

“Enggak.”

“KAMU KETAWA.”

“Enggak.”

“Aku liat!”

“Salah liat.”

Dan aku menghabiskan sisa sore itu dengan sangat, sangat berisik, karena ternyata ada cara untuk membuat orang ini mengeluarkan suara dan aku baru saja menemukannya secara tidak sengaja dan aku berniat mengeksploitasinya sampai habis.


Jam empat lewat, kami turun.

Aku berjalan di sebelahnya, bukan di belakang, karena hari ini aku merasa berhak.

“Andhika.”

“Hm.”

“Aku boleh nanya satu hal serius?”

“Hm.”

“Kamu tuh sebenernya kenapa sih?”

Dia berhenti berjalan.

“Maksudnya?”

“Ya— kamu.” Aku menghadapnya. “Kamu pinter. Ketua OSIS aja nggak bisa ngitung yang kamu bisa—”

“Kamu tau dari mana?”

Oh.

Sial.

Aku tahu karena aku mendengar Gita cerita ke temannya di kantin, dan Gita bilang “kata Ketua ada yang bantu”, dan aku menghabiskan dua hari menghubungkan titik-titiknya sampai sampai ke satu-satunya kesimpulan yang masuk akal.

“Denger-denger,” kataku.

“Hm.”

“Jangan alihin topik.”

“Kamu yang alihin.”

“ANDHIKA.”

Dia menunggu.

“Maksud aku,” kataku, lebih pelan, “kamu bisa jadi apa aja. Kamu bisa masuk mana aja. Tapi kamu duduk di atas gudang tiap hari kayak orang yang lagi nunggu sesuatu.”

Dia diam.

Cukup lama sehingga aku mulai menyesal.

“Nunggu apa emangnya?” katanya akhirnya.

“Ya itu. Aku nanya kamu.”

“Saya nggak nunggu apa-apa.”

“Bohong.”

“Iya.”

Dan dia jalan lagi.

Aku menyusul, dan aku menarik ujung seragamnya dari belakang, dan dia melambat seperti biasa.

Tapi kali ini, di langkah ketiga setelah dia melambat, dia berkata sesuatu yang tidak pernah dia katakan sebelumnya.

“Tamara.”

“Ya?”

“Kamu besok jangan dateng.”

Aku berhenti. Tanganku masih memegang ujung seragamnya sehingga dia ikut berhenti.

“Kenapa?”

“Ada urusan.”

“Urusan apa?”

“Urusan.”

“Kamu tiap hari ada urusan.”

“Iya.”

“Andhika.”

“Hm.”

“Kamu ngusir aku?”

Dan dia menoleh — benar-benar menoleh, badannya ikut berputar, dan wajahnya bukan wajah datar yang biasa.

“Bukan,” katanya, dan suaranya lebih rendah dari biasanya. “Bukan gitu.”

“Terus?”

Dia membuka mulut.

Lalu dia menutupnya.

Lalu dia berkata, “Lusa aja,” dan melepaskan ujung seragamnya dari jariku dengan sangat pelan — bukan menarik, bukan menepis, cuma menggeser sedikit sampai kainnya lepas sendiri — dan berjalan pergi.

Itu pertama kalinya dia menyentuh tanganku.

Dan itu untuk melepaskannya.


Malamnya aku membuka grup angkatan lagi dan mengetik satu kata di kolom pencarian.

Sekar.

Aku scroll sampai foto kelima puluh. Aku menemukan tiga foto lagi. Semuanya foto ramai, semuanya tidak sengaja, dan di ketiganya ada seorang anak perempuan kecil dengan jepit dua sisi yang tertawa ke arah kamera sambil dipeluk orang-orang yang tidak dia minta.

Aku menatap foto ketiga cukup lama.

Karena di foto itu, di antara semua orang yang tertawa, matanya sedang melihat ke arah lain.

Dan aku tahu tatapan itu.

Aku tahu tatapan itu karena aku punya tatapan itu di setiap foto yang pernah diambil tentangku sejak umur tujuh tahun.

Aku menutup ponsel.

Besok aku tidak akan datang. Dia yang bilang.

Tapi lusa aku akan datang, dan aku akan datang lebih awal dari jam tiga, dan aku akan duduk di sana sampai aku melihat sendiri siapa yang naik ke tangga besi itu selain aku.