Chapter Twenty Five
Yang Dijaga
POV: Renata
Dia berhenti di anak tangga terakhir.
Saya mengamatinya, karena mengamati adalah hal yang saya lakukan ketika saya tidak mengetahui apa yang harus dilakukan.
Berikut yang saya catat, secara berurutan, dalam rentang kira-kira empat detik:
Matanya bergerak ke Sekar. Ke Tamara. Ke saya. Kemudian ke posisi duduk kami — Sekar di tengah, Tamara di sudut timur laut, saya di barat daya. Kemudian ke map di pangkuan saya. Kemudian ke kantong plastik Tamara, yang berembun di bagian dalam. Kemudian ke jam tangannya.
Tidak ada satu pun perubahan pada wajahnya.
Kemudian dia naik sepenuhnya, berjalan ke sudut timur laut — yang telah ditempati Tamara — berhenti sejenak, lalu berbelok dan duduk di tepi, di sisi tembok pembatas, di tempat yang belum pernah dia duduki selama lima puluh dua hari.
“Kalian belum makan,” katanya.
Tidak ada yang menjawab.
“Tamara bawa empat,” lanjutnya. “Renata bawa dua. Sekar nggak bawa.”
Dia mengeluarkan kotak bekalnya dari tas dan meletakkannya di lantai.
“Ini isinya masih ada. Bagi tiga.”
Dan dia memasang earphone-nya.
Saya perlu mencatat isi kotak tersebut, karena saya melihatnya.
Nasi, kira-kira dua pertiga porsi. Satu potong tempe. Sambal.
Dibagi tiga, itu menghasilkan tiga bagian yang masing-masing lebih kecil daripada yang layak disebut porsi.
Sekar mengambilnya. Sekar membaginya. Saya mengamati tangan anak itu bergerak, dan saya mengamati bahwa dia membaginya menjadi empat, bukan tiga, dan bahwa dia menaruh yang keempat kembali ke dalam kotak dan menutupnya.
Kemudian dia meletakkan kotak itu di dekat kaki orang tersebut, tanpa berkata apa pun.
Kotak itu tidak disentuh selama dua puluh menit berikutnya.
Saya perlu mencatat bahwa selama kira-kira dua puluh detik berikutnya, tiga orang di atas atap gudang itu tidak ada yang bergerak.
Termasuk saya.
Saya telah menyusun empat skenario mengenai bagaimana orang tersebut akan bereaksi apabila mengetahui bahwa sistem yang dia bangun selama dua bulan telah dihancurkan dengan sengaja.
Skenario satu: marah. Skenario dua: pergi. Skenario tiga: menuntut penjelasan. Skenario empat: berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Yang terjadi adalah skenario kelima, yang tidak pernah saya susun, dan yang jauh lebih buruk daripada keempatnya:
Dia langsung menghitung ulang, dan menyesuaikan.
Dalam empat detik, orang itu telah membaca situasi, membuang seluruh sistem dua bulannya, dan menyusun sistem baru yang isinya adalah: tiga orang di sini, satu tidak bawa makanan, bagi tiga.
Tanpa satu pun kalimat mengenai dirinya sendiri.
“Andhika.”
Tamara yang bicara. Suaranya tidak seperti biasa.
Dia tidak menoleh.
“Andhika.”
Tetap tidak.
Dan Tamara Eliza Putri berdiri, berjalan tiga langkah, dan menarik earphone sebelah kiri dari telinganya dengan satu gerakan.
“Aku yang ngatur ini,” katanya.
Dia menoleh.
“Aku yang suruh Bagas nahan kamu. Aku yang ngajak Sekar naik jam segini. Aku yang ngerusak jadwal kamu.”
Hening.
“Iya,” katanya. “Saya tau.”
“Dari kapan?”
“Dari kemarin.”
Tamara berkedip.
“...Hah?”
“Bagas nanya PR Kimia kemarin sore,” katanya. “Bagas nggak pernah ngerjain PR Kimia.”
Tamara berdiri di sana dengan earphone di tangan.
“Terus kenapa kamu diem aja?”
“Karena kalau saya bilang, kamu bakal batalin.”
“YA MEMANG ITU YANG—”
“Tamara.”
Dia berhenti.
“Kamu udah nyiapin ini berapa lama?” kata Andhika.
“...Empat hari.”
“Empat hari kamu nyusun sesuatu.” Dia mengambil earphone-nya kembali dari tangan Tamara, pelan, tanpa menarik. “Terus saya batalin dalam dua detik.”
“Terus?”
“Terus kamu bakal ngerasa kayak orang yang idenya nggak pernah jadi.”
Dan Tamara Eliza Putri berdiri di tengah atap gudang dengan mulut setengah terbuka, dan saya mengamati wajahnya, dan saya melihat sesuatu runtuh di sana yang bukan kemarahan.
Karena kami bertiga baru saja mengetahui hal yang sama pada saat yang sama:
Orang itu mengetahui rencana tersebut sejak kemarin sore.
Dan dia membiarkannya berjalan, dan dia datang lebih cepat dari lima belas menit, dan dia duduk di tepi—
—supaya rencana Tamara berhasil.
Saya melihat Tamara berdiri di sana dengan earphone di tangan dan wajah seseorang yang seluruh rencananya baru saja dibongkar dengan satu kalimat.
“Terus kenapa kamu tetep dateng?” katanya.
“Karena kalau saya nggak dateng, kalian nunggu.”
“Andhika—”
“Dan kalau kalian nunggu lima belas menit terus saya nggak dateng, kalian bakal mikir saya marah.”
“Kamu emang marah?”
“Enggak.”
“BOHONG.”
“Enggak,” katanya lagi, dan tidak ada satu pun bagian dari nada suaranya yang berbohong.
Dan itulah yang membuat Tamara menangis, dan itulah yang membuat saya — saya mencatat ini dengan sangat tidak nyaman — merasakan sesuatu yang panas di belakang mata saya sendiri untuk pertama kalinya sejak usia sebelas tahun.
Sekar yang mengambil alih.
“Dhika.”
“Hm.”
“Kita tau soal dua puluh menit.”
Dia tidak bergerak.
“Dua puluh menit sehari. Buat ngatur kita.” Sekar bicara pelan, dan tidak sekali pun suaranya naik. “Selama dua bulan. Dari orang yang tidurnya tiga setengah jam.”
“Tiga koma lima itu perkiraan saya,” kata saya.
Sekar menoleh ke arah saya sekilas. Saya menutup mulut.
“Kita ngerusak jadwal kamu,” lanjut Sekar, “karena kita nggak mau kamu bayar itu lagi.”
Dan untuk pertama kalinya sejak dia naik, ada sesuatu yang bergerak di wajah orang itu.
Bukan besar. Di sekitar rahang.
“Itu bukan buat kalian,” katanya.
Kami bertiga menoleh.
“Maksudnya?” kata Tamara.
Dia membuka mulut.
Saya mengamatinya dengan sangat cermat, karena saya telah mengamati orang ini selama lima puluh dua hari dan saya tahu persis bentuk jeda yang berbeda-beda.
Ini bukan jeda karena sedang memilih berapa banyak yang akan diberikan.
Ini juga bukan jeda karena sedang menyusun kalimat terpendek.
Ini jenis ketiga, yang baru saya lihat dua kali sebelumnya, dan yang saya catat di sistem pensil sebagai: jeda ketika dia hampir mengatakan sesuatu dan memutuskan bahwa biayanya terlalu besar.
“Nggak apa-apa,” katanya.
“Andhika—”
“Makan.”
Dan dia memasang kembali earphone-nya, yang sebelah kanan, dan menghadap ke arah pohon.
Kami makan.
Saya perlu mencatat bahwa itu adalah dua puluh menit paling tidak nyaman yang pernah saya alami, dan saya pernah menghadiri sidang komite dengan empat puluh tiga orang tua murid.
Empat orang. Satu atap. Empat sudut yang salah.
Sekar membagi isi kotak bekalnya menjadi tiga, dan mengambil bagian yang paling kecil. Tamara membuka satu bungkus dan tidak menghabiskannya. Saya memakan setengah dari kotak yang saya bawa.
Dan orang itu duduk di tepi tembok pembatas, memakan bagiannya dengan kecepatan yang sama seperti biasa, sambil dilihat oleh tiga orang.
Dilihat.
Itu kata yang saya cari selama sisa hari itu dan baru saya temukan pada malam harinya.
Selama lima puluh dua hari, saya naik ke atas gudang untuk berhenti dilihat selama lima belas menit.
Dan hari ini, kami bertiga telah mengubah satu-satunya tempat di sekolah ini di mana orang tersebut tidak dilihat—
—menjadi ruangan dengan tiga penonton.
Pukul 12.58, dia berdiri.
“Saya duluan.”
“Andhika—”
“Bel.”
Dan dia turun.
Anak tangga kelima berbunyi penuh.
Kami bertiga tinggal.
“Aku salah,” kata Tamara, ke lantai.
Tidak ada yang membantah.
“Aku pikir kalau kita bertiga ada di sini, dia nggak perlu ngatur apa-apa lagi.” Dia menyeka wajahnya dengan lengan seragam. “Aku pikir aku ngasih dia dua puluh menit balik.”
“Anda memang memberikannya,” kata saya.
“Terus kenapa rasanya kayak aku ngambil sesuatu?”
Saya membuka map cokelat saya, ke halaman kosong di belakang, dan menuliskan satu baris.
Kemudian saya menutupnya.
“Karena Anda memang mengambil sesuatu,” kata saya.
Tamara mengangkat wajah.
“Bukan waktunya. Waktunya sudah Anda kembalikan.” Saya memegang map itu dengan dua tangan. “Yang Anda ambil adalah satu-satunya tempat di sekolah ini di mana dia tidak perlu jadi siapa-siapa.”
Tamara menatap saya.
Lalu dia menoleh ke Sekar, seolah meminta Sekar membantahnya.
Sekar tidak membantahnya.
Sekar duduk memeluk lutut di tengah atap, dan berkata sesuatu yang membuat saya tidak dapat menuliskan apa pun lagi di halaman belakang map itu selama tiga hari:
“Dia duduk di tepi tadi,” katanya. “Bukan di sudutnya.”
“Lalu?”
“Sudutnya kena bayangan. Tepi enggak.”
Sekar mengangkat wajah, dan matanya merah, dan suaranya sangat kecil.
“Dia ngasih sudutnya ke Tamara,” katanya. “Dan Tamara nggak sadar, dan aku juga nggak sadar, dan dia duduk di panas selama dua puluh menit tanpa ngomong apa-apa.”
Saya menuruni tangga besi pukul 13.06.
Pada anak tangga ketiga dari bawah, saya berhenti.
Saya meluruskan bahu. Saya menarik napas satu kali.
Kemudian saya berdiri di sana selama dua puluh detik lagi, karena kali ini bukan wajah saya yang perlu diperbaiki.
Saya membuka map. Saya membaca baris yang baru saja saya tulis:
Ia tidak mengatur jadwal agar kami tidak bertemu.
Dan di bawahnya, yang saya tulis setelah Sekar bicara:
Ia mengatur jadwal agar setiap orang mendapat bagian penuh.
Saya menatap dua baris itu.
Membagi sesuatu menjadi tiga bagian yang sama besar, dan menjaga pembagian itu setiap hari selama dua bulan dengan biaya dua puluh menit tidur—
—adalah hal yang dilakukan orang terhadap persediaan.
Dan orang tidak menjatah persediaan yang jumlahnya tidak terbatas.
Saya berdiri di anak tangga ketiga dari bawah tangga besi yang tidak tercantum dalam denah sekolah tahun 2009, memegang map berisi sembilan belas halaman yang tidak akan pernah ditandatangani, dan untuk pertama kalinya sejak saya membaca Lampiran C, saya menyusun pertanyaan yang benar.
Bukan: berapa jumlah tunggakannya.
Melainkan: dia tahu sejak kapan?
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga reading
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu