Chapter Twenty Six
Empat Orang di Atap
POV: Tamara
Kami mencobanya selama sembilan hari.
Sembilan hari, jam setengah satu, empat orang di atas atap gudang.
Aku ingin menulis bahwa itu menyenangkan. Aku ingin menulis bahwa akhirnya semuanya terbuka dan kami semua akrab dan tidak ada lagi yang harus disembunyikan.
Yang sebenarnya terjadi adalah ini.
Hari nol, yang mana adalah malam setelah tabrakan itu.
Aku membuat grup.
Tiga orang. Namanya kubiarkan kosong karena aku tidak sanggup memikirkan nama untuk sesuatu seperti ini.
tamara: oke jadi gimana
sekar: gimana apanya
tamara: kita bertiga naik bareng terus?
Renata mengetik selama satu menit empat puluh detik. Aku menghitungnya karena aku melihat “mengetik...” menyala dan mati dan menyala lagi.
Renata: Saya mengusulkan tiga opsi. Renata: (1) Kembali ke jadwal semula, dengan pembagian yang kita atur sendiri sehingga ia tidak perlu mengaturnya. Renata: (2) Naik bersama setiap hari. Renata: (3) Tidak ada yang naik selama satu minggu, kemudian dievaluasi.
tamara: opsi 3 apaan tuh
Renata: Opsi 3 adalah opsi di mana kita mengembalikan kondisi awal sepenuhnya.
tamara: itu namanya nyerah
Renata: Itu namanya mengurangi variabel.
sekar: aku pilih 2
tamara: aku juga
Renata: Baik. Opsi dua.
Dan itu keputusan yang kami ambil bertiga, dalam empat menit, lewat pesan, jam sebelas malam.
Aku memikirkan percakapan itu berkali-kali setelahnya.
Karena tidak satu pun dari kami — tidak satu pun — mengusulkan opsi keempat.
Yaitu: bertanya kepada orangnya.
Hari pertama: Renata membawa tiga kotak makan. Dia meletakkannya di lantai dan mundur, dan berkata “kelebihan porsi dari sekretariat,” dan aku hampir tertawa sampai aku melihat wajahnya dan sadar dia sedang sangat serius mempertahankan kebohongan yang sudah tidak berfungsi.
Andhika mengambil satu. Dia menghabiskannya.
Sekar dan aku juga mengambil satu masing-masing.
Dan kami bertiga makan sambil melihat dia makan, dan dia tahu, dan dia tetap makan, dan itu terasa seperti menonton orang minum obat.
Hari ketiga: Sekar membawa termos. Sekar selalu membawa sesuatu sekarang. Sekar tidak pernah membawa apa-apa selama dua bulan pertama dan sekarang dia membawa termos, dan biskuit, dan sekali pernah membawa minyak angin karena “kalau kecapekan biasanya kepala pusing.”
Andhika menerima semuanya dengan sopan.
Dia tidak memakai minyak anginnya.
Hari kelima: Renata mulai bertanya.
“Saudara Andhika, berapa jam Anda tidur semalam?”
“Cukup.”
“Cukup adalah kata sifat. Saya menanyakan angka.”
“Renata.”
“Ya.”
“Nggak usah.”
Dan Renata menutup mulut, dan aku melihat sesuatu bergeser di wajahnya yang bukan marah melainkan sesuatu yang lebih mirip malu, dan aku merasa buruk untuknya karena aku tahu dia melakukannya karena peduli dan aku juga tahu dia baru saja melakukan kesalahan yang sama seperti yang kulakukan sepanjang hidupku.
Kalau kamu bertanya terus, orang akan berhenti bicara.
Hari keenam: dia terlambat empat menit.
Empat menit. Itu tidak pernah terjadi selama dua bulan.
Kami bertiga menoleh ke tangga secara bersamaan waktu dia naik, dan aku bisa melihat — dari cara bahunya berhenti setengah detik di anak tangga terakhir — bahwa dia melihat tiga wajah yang menoleh secara bersamaan dan bahwa itu bukan hal yang menyenangkan untuk dilihat.
Hari ketujuh: dia memasang earphone selama enam belas menit dari dua puluh.
Hari kedelapan: dia tidak makan.
Dia bilang sudah makan tadi.
Dan tiga orang di atap itu tahu dia berbohong, dan tiga orang di atap itu tidak ada yang berani mengatakannya, karena mengatakannya berarti mengakui bahwa kami sedang mengawasi.
Ada satu hal lagi tentang hari kedelapan.
Sekitar menit kesepuluh, Renata membuka mapnya dan menulis sesuatu.
Aku sudah biasa melihatnya menulis. Dia menulis setiap hari.
Tapi hari itu aku duduk cukup dekat untuk melihat, dan yang dia tulis bukan kalimat.
Satu kolom angka, dari atas ke bawah, sembilan baris. Di sebelah masing-masing ada centang atau silang.
Empat centang. Lima silang.
Ketua OSIS SMA Negeri 4 sedang mencatat berapa kali orang itu makan dalam sembilan hari terakhir, dengan sistem yang sama persis seperti dia mencatat kehadiran rapat.
Dan yang membuatku ingin merebut map itu dan melemparkannya dari atap bukan karena dia melakukannya.
Karena di detik yang sama aku sadar aku juga menghitung.
Aku cuma tidak menulisnya.
Hari kesembilan: dia tidak datang.
Dia tidak datang.
Jam 12.40 lewat, tidak ada bunyi tangga. Jam 12.45, tidak ada. Jam 12.50, tidak ada.
Kami bertiga duduk di sana selama dua puluh menit penuh.
Tidak ada yang bicara sampai menit kelima belas.
“Mungkin dia ada urusan,” kataku.
“Ya,” kata Renata.
“Dia sering ada urusan.”
“Ya.”
Sekar tidak mengatakan apa-apa.
Sekar duduk memeluk lutut di tengah atap, memandangi tangga besi, dan wajahnya adalah wajah orang yang sudah tahu jawabannya sepuluh menit yang lalu dan sedang menunggu dua orang lain menyusul.
Jam 12.58, dia berdiri.
“Dia nggak bakal balik,” katanya.
“Kamu nggak tau itu.”
“Aku tau, Tam.”
“Kamu—”
“Aku kenal dia sepuluh tahun.” Suaranya datar. Bukan marah. Lebih buruk dari marah. “Kalau ada tempat yang bikin dia ngerasa harus jelasin sesuatu, dia berhenti dateng ke tempat itu.”
“Kita nggak minta dia jelasin apa-apa!”
“Kita nanya berapa jam dia tidur.” Sekar menoleh ke Renata. “Maaf ya, aku bukan nyalahin kamu.”
“Anda benar,” kata Renata.
“Kita bawain dia makan tiap hari. Kita liatin dia makan. Kita nengok ke tangga bareng-bareng tiap dia naik.” Sekar mengangkat bahu, dan bahu itu bergetar. “Kita nggak minta dia jelasin pake kata-kata. Kita bikin dia harus jelasin pake muka.”
Dan dia turun.
Anak tangga kelima berbunyi setengah.
Aku duduk di atap itu bersama Renata selama sepuluh menit lagi.
“Kamu nyalahin aku?” kataku.
“Tidak.”
“Kamu boleh.”
“Saya tidak menyalahkan Anda,” katanya, “karena saya telah melakukan hal yang persis sama dengan metode yang berbeda selama sebelas hari, dan hasilnya sama-sama gagal.”
Dia membuka mapnya. Menutupnya lagi.
“Saya menyusun sembilan belas halaman,” katanya. “Anda menyusun satu siang. Kita berdua menyusun sesuatu untuk seseorang tanpa menanyakan apakah dia menginginkannya.”
“Kamu bilang gitu kayak itu bikin aku merasa mendingan.”
“Tidak. Itu tidak membuat siapa pun merasa lebih baik.” Dia berdiri dan merapikan roknya. “Saya hanya menyampaikan bahwa Anda tidak sendirian.”
Dan dia berjalan ke tangga, lalu berhenti.
“Tamara.”
“Ya?”
“Apakah Anda mengetahui mengapa dia duduk di tepi pada hari pertama?”
“Sekar udah bilang. Buat ngasih sudutnya ke aku.”
“Ya.” Renata memegang pegangan besi. “Saya ingin menambahkan satu hal yang mungkin belum Anda pertimbangkan.”
“Apa?”
“Dari tepi, dia menghadap ke tangga.”
Aku menoleh.
“Dari sudut timur laut, tangga berada di belakang punggung,” katanya. “Dari tepi, tangga berada di depan.”
Dan dia turun sebelum aku sempat memproses apa artinya itu.
Aku memprosesnya sendiri, di atap kosong, selama empat menit.
Dia pindah ke tepi bukan cuma untuk memberi sudutnya.
Dia pindah supaya bisa melihat siapa yang naik.
Selama dua bulan, dia tidak pernah perlu melihat, karena dia sudah hafal bunyi tangga.
Hari itu, untuk pertama kalinya, dia tidak tahu lagi siapa yang akan datang.
Malamnya aku mengetik ke Sekar.
dia beneran nggak bakal balik?
Tidak dibaca sampai jam sebelas.
tam
ya
dia balik jam sepuluh malem tadi. aku liat dari teras
terus?
dia lewat pager aku. biasanya kalau aku duduk di teras dia belok lewat jalan lain
terus tadi?
tadi dia lewat
dia ngomong apa?
Jeda lama. Lebih dari lima menit.
dia nanya “kalian bertiga masih naik nggak?”
Aku duduk tegak di kasur.
kamu jawab apa
aku bilang masih
terus?
terus dia bilang “ya udah. bagus.”
terus dia masuk
Aku menatap layar itu.
sekar
ya
dia nggak nanya kabar kamu
dia nggak nanya kabar aku juga
dia nanya apakah kita masih naik
iya
sekar itu artinya apa
Dan dia tidak menjawab selama enam menit, dan ketika dia menjawab, jawabannya cuma satu baris, dan aku membacanya berkali-kali sampai jam dua pagi:
artinya dia mikirin tempat itu masih ada buat kita, dan dia nggak masukin dirinya sendiri ke dalem itungan
Selasa berikutnya, aku naik ke atap sendirian jam tiga sore.
Kebiasaan lama. Kaki jalan sendiri.
Atapnya kosong.
Aku duduk di sudut timur laut — sudutnya, sudut yang dia berikan padaku dan yang tidak pernah kuminta — dan aku membuka satu bungkus dan makan sendirian untuk pertama kalinya sejak bulan Oktober.
Dan aku menyadari sesuatu di suapan kelima.
Sudut ini kena bayangan.
Aku sudah duduk di sini selama dua bulan dan aku tidak pernah sekali pun memperhatikan bahwa aku tidak kepanasan.
Karena dari hari pertama, hari ketika aku naik dengan kantong plastik disembunyikan di belakang punggung dan berkata ini tempat aku kepada orang yang sudah ada di sana lebih dulu—
—dia berdiri, dan dia pindah, dan dia tidak pernah menyebutkannya lagi.
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap reading
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu