← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Thirty Four

Lima Belas Menit

POV: Sekar


Rolling door percetakan turun jam empat lewat dua puluh pagi.

Aku mendengarnya karena aku terbangun, dan aku terbangun karena aku sudah tiga bulan terakhir tidur dengan sebagian kecil kepalaku menunggu bunyi itu.

Jam empat lewat dua puluh.

Bukan jam sepuluh. Bukan jam dua belas. Bukan jam dua, yang sudah cukup buruk.

Empat lewat dua puluh.

Aku bangun dan duduk di tepi kasur dan menghitung: sekolah masuk jam tujuh, angkot dari sini empat puluh menit, artinya dia berangkat jam setengah tujuh, artinya dia punya dua jam sepuluh menit.

Dikurangi mandi. Dikurangi memijat kaki nenek. Dikurangi jalan ke halte.

Sisa: satu setengah jam, mungkin kurang.

Aku berbaring lagi dan menatap langit-langit sampai jam lima.


Dia sampai sekolah jam tujuh lewat lima.

Aku tahu karena aku menunggu di gerbang. Aku tidak menunggu di gerbang; aku kebetulan berdiri di gerbang selama dua puluh menit. Itu versi yang kuceritakan ke Rara.

“Dhika.”

Dia menoleh, dan aku langsung tahu.

Bukan dari matanya — matanya sama seperti biasa. Dari cara dia menoleh. Setengah detik terlambat, seperti orang yang harus memutuskan dulu untuk menoleh.

“Kar.”

“Kamu tidur berapa jam?”

“Cukup.”

“Dhika.”

“Kar, bel.”

Dan dia berjalan masuk, dan aku berdiri di gerbang dengan tangan mengepal.


Jam pertama: aku tidak bisa fokus.

Jam kedua: aku menulis di halaman belakang buku Kimia — jam 4.20, jam 4.20, jam 4.20 — sampai Rara bertanya aku sedang apa dan aku menutup bukunya.

Jam 09.48, bel istirahat.

Aku tidak ke atap.

Aku ke kelas sebelas IPA tiga.


“Permisi. Andhika ada?”

Ada yang berteriak ke dalam. Bagas yang keluar.

“Eh, Sekar.”

“Andhika mana?”

“Tadi ada. Bentar—” Dia menoleh ke dalam. “Ndhik! DICARIIN!”

Tidak ada jawaban.

Bagas masuk lagi. Keluar lagi tiga puluh detik kemudian dengan wajah yang berbeda.

“Kar.”

“Apa?”

“Dia ketiduran.”


Aku masuk ke kelas itu untuk pertama kalinya seumur hidupku.

Kursi paling belakang, baris paling pinggir, di dekat jendela.

Dan di sana, dengan kepala di atas lengan yang terlipat di meja, tidur seseorang yang selama sepuluh tahun tidak pernah sekali pun kulihat tidur di tempat yang bisa dilihat orang.

Bagas berdiri di sebelahku.

“Dia nggak pernah gitu,” katanya, pelan. “Setahun setengah. Nggak pernah sekali pun.”

“Bangunin dong.”

“Udah. Dua kali.”

“Terus?”

“Dia bangun terus bilang ‘iya, maaf’ terus tidur lagi.”

Aku berdiri di belakang kelas itu selama beberapa detik.

Ada delapan orang di ruangan itu. Tiga di antaranya sudah menoleh.

Dan aku bisa melihatnya terjadi — pelan, satu per satu — orang-orang mulai memperhatikan bahwa ada anak di kursi paling belakang yang tidak bangun.

Sesuatu yang selama satu setengah tahun tidak pernah dilihat siapa pun, tiba-tiba dilihat delapan orang.

Dan aku tahu, dengan sangat jelas, bahwa kalau dia bangun di sini, di dalam ruangan ini, dengan delapan orang menoleh—

Dia tidak akan pernah tidur di sekolah ini lagi seumur hidupnya.


Aku menyentuh bahunya.

“Dhika.”

Dia bangun dalam satu detik. Langsung. Seperti orang yang tidur dengan alarm menyala di dalam badannya.

“Ya. Maaf.”

“Ikut aku.”

“Hah?”

“Ikut. Aku. Sekarang.”

Dan aku menarik lengan seragamnya — bukan dua jari, bukan minta izin, aku menarik lengannya — dan dia bangkit dan mengikutiku keluar kelas tanpa bertanya apa-apa, karena dia terlalu lelah untuk bertanya, dan itu yang paling membuatku takut sepanjang hari itu.


Kami naik.

Anak tangga kelima berbunyi dua kali. Aku tidak melangkahinya. Aku tidak peduli.

Di atas, angin pagi masih dingin dan bayangan tembok pembatas masih menutupi sudut timur laut sepenuhnya.

“Kar—”

“Duduk.”

“Saya harus—”

“DUDUK.”

Dia duduk.

Di sudut timur laut, sudutnya, yang sudah tiga bulan tidak dia tempati.

Dan aku duduk di sebelahnya, dan aku menepuk pahaku sendiri satu kali, dan aku berkata:

“Sini.”


Dia menatapku.

“Kar.”

“Sini kepalanya.”

“Nggak usah.”

“Dhika.”

“Saya nggak—”

“Lima belas menit aja,” kataku. “Tidur.”

Dan dia berhenti.


Aku ingin mencatat wajahnya waktu itu, karena aku belum pernah melihatnya sekali pun dalam sepuluh tahun dan aku tidak akan pernah melihatnya lagi.

Bukan kaget. Bukan malu.

Bingung.

Wajah orang yang diberi sesuatu dan tidak tahu benda itu bekerja bagaimana.

“Kar, saya bau tinta.”

“Aku tau.”

“Nanti kena rok kamu.”

“Dhika.”

“Saya berat.”

“DHIKA.”

Dan suaraku pecah di suku kata kedua, dan aku tidak menghitung sampai lima, dan aku membiarkan seluruh wajahku melakukan apa pun yang mau dilakukannya.

“Kamu tidur jam empat lewat dua puluh,” kataku. “Aku denger rolling door-nya. Aku selalu denger. Sepuluh tahun.”

Dia tidak bergerak.

“Terus kamu ke sekolah jam tujuh,” kataku, “dan kamu ketiduran di kelas dan delapan orang liat, dan kamu nggak akan pernah tidur di sekolah ini lagi kalau kamu bangun di sana.”

Air mataku jatuh ke rok, dan aku membiarkannya.

“Jadi tolong,” kataku. “Sekali aja. Lima belas menit. Terus abis itu kamu boleh balik jadi orang yang nggak butuh apa-apa.”


Dia diam selama sekitar sepuluh detik.

Lalu dia berkata, sangat pelan, dengan suara yang tidak seperti dia sama sekali:

“Saya nggak tau caranya.”

Dan aku hampir tertawa, karena Renata mengatakan hal yang persis sama tiga minggu lalu di trotoar dekat halte, dan karena ternyata dua orang paling berbeda yang pernah kukenal memiliki kalimat yang sama untuk hal yang sama.

“Nggak ada caranya,” kataku. “Kamu cuma naruh kepala kamu.”


Dia menaruh kepalanya.

Pelan sekali. Seperti orang menaruh gelas di atas meja kaca.

Dan aku merasakan berat itu di pahaku, dan aku merasakan tulang pipinya, dan aku merasakan rambutnya yang masih agak basah karena dia mandi jam enam pagi dan tidak sempat kering.

Aku tidak bergerak.

Aku meletakkan satu tanganku di bahunya. Yang satu lagi tidak tahu harus di mana, jadi aku taruh di lantai semen.

“Kar.”

“Hm.”

“Lima belas menit.”

“Iya.”

“Bangunin.”

“Iya.”

“Janji.”

“Iya, Dhika.”

Dan dia tertidur dalam — aku menghitungnya, karena aku menghitung semuanya sekarang — sembilan belas detik.


Sembilan belas detik.

Aku duduk di atas atap gudang yang tidak ada di denah sekolah, jam sepuluh kurang, dengan kepala orang yang paling kukenal di dunia di pangkuanku, dan aku menghitung sembilan belas detik dan lalu aku menangis tanpa suara selama sisa waktunya.

Bukan karena sedih.

Karena orang yang butuh sembilan belas detik untuk tertidur adalah orang yang sudah berbulan-bulan tidak diberi izin untuk berhenti.

Dan karena selama sepuluh tahun aku duduk di teras rumahku menunggu dia lewat, dan selama sepuluh tahun aku mengira itu artinya aku ada untuknya.

Ternyata bukan.

Ternyata ada untuk seseorang itu artinya menyediakan tempat supaya dia bisa berhenti, dan aku baru melakukannya untuk pertama kali di umur enam belas tahun, di atas atap gudang, dengan lima belas menit yang bahkan bukan milikku.


Bel berbunyi dua kali dari kejauhan.

Aku tidak membangunkannya.

Aku sudah berjanji, dan aku melanggarnya, dan aku akan melanggarnya lagi kalau perlu.

Dia bangun sendiri jam sepuluh lewat delapan belas, seperti orang yang alarmnya di dalam badan.

Dia bangkit terlalu cepat. Dia melirik jam tangannya. Dia melihat aku.

“Kar.”

“Hm.”

“Belnya udah bunyi.”

“Iya.”

“Kamu nggak bangunin.”

“Enggak.”

Dia diam.

Aku menyiapkan diri untuk dimarahi — kalau orang ini bisa marah, ini saatnya — dan aku sudah tidak peduli, dan aku sudah siap membalas.

Dia tidak marah.

Dia duduk di sana, di sudutnya, dan menggosok wajahnya sekali dengan telapak tangan, dan berkata:

“Berapa lama?”

“Dua puluh delapan menit.”

Dan dia mengangguk pelan, dan menatap ke arah pohon-pohon, dan berkata hal yang membuatku harus menutup mulut dengan tangan:

“Lama ya.”


Kami turun jam setengah sebelas. Terlambat satu jam pelajaran, dua-duanya, untuk pertama kalinya.

Di anak tangga kedelapan, aku memegang besinya.

Dan tangannya keluar dari saku dan mengulurkan diri di depanku — bukan dua jari, telapak, terbuka — sebelum kakiku sempat miring.

Aku mengambilnya.

Dan di lantai koridor, dia tidak melepaskannya.

Kami berjalan tujuh langkah seperti itu, di koridor lab yang kosong, sampai belokan.

Di belokan dia melepaskan, karena setelah belokan ada orang.

Dan aku tidak protes, karena aku sudah mengerti sekarang bahwa untuk orang seperti dia, tujuh langkah di koridor kosong itu bukan setengah-setengah.

Itu semuanya.


Malamnya aku menulis di buku sampul merah muda seharga tiga ribu.

Halaman kedua puluh sembilan.

Hari ini dia naik.

Aku menatap tiga kata itu — kata pertama yang berbeda sejak halaman kesebelas — dan aku menambahkan di bawahnya:

Dua puluh delapan menit. Sembilan belas detik buat tidur.

Lalu aku menutup buku itu.

Lalu aku membukanya lagi.

Dan aku menulis satu baris lagi, dan aku duduk memandanginya sampai jam dua belas malam:

Aku nggak akan nanya kenapa dia tidur jam empat pagi. Tapi aku tau jawabannya, dan jawabannya adalah karena ada orderan besar, dan orderan besar artinya upah lebih, dan upah lebih artinya dia lagi ngejar sesuatu.

Dan orang ngejar sesuatu kalau dia pikir masih sempet.