← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Thirty Six

Kolom Kosong

POV: Tamara


Aku tahu ada yang disembunyikan dari aku pada hari Rabu tanggal 10 Februari, jam sepuluh lewat, di kantin.

Bukan dari grup. Grup kami baik-baik saja — Sekar membalas seperti biasa, Renata mengetik dengan kalimat lengkap seperti biasa.

Aku tahu karena Sekar tidak bertanya.

Selama tiga hari Andhika tidak masuk sekolah, dan selama tiga hari itu aku bertanya di grup di mana dia, dan selama tiga hari itu tidak ada satu pun dari mereka yang balik bertanya.

Orang yang tidak tahu, bertanya.

Orang yang tahu, diam.


Aku menemui Sekar hari Kamis di depan perpustakaan.

“Sekar.”

“Eh, Tam.”

“Dia di mana?”

Dan aku melihat wajah anak itu melakukan sesuatu yang tidak bisa dia sembunyikan, karena Sekar Widyaningsih tidak bisa berbohong dengan wajahnya, cuma dengan mulutnya.

“Aku nggak tau.”

“Kar.”

“Aku beneran nggak—”

“Kamu manggil dia ‘Dhika’ di grup dua hari lalu terus kamu ganti jadi ‘dia’.”

Dia menutup mulut.

“Sekar.”

“Tam, aku—”

“Kamu udah ke sana.”

Dan dia menunduk, dan itu jawabannya, dan aku merasakan sesuatu yang panas dan tajam dan sangat memalukan naik dari perutku.

“Kenapa aku enggak?” kataku.

“Tam—”

“Kenapa cuma aku yang enggak?”

Dan Sekar mengangkat wajahnya, dan matanya sudah merah, dan dia mengatakan satu kalimat yang membuat seluruh kemarahanku hilang dalam tiga detik dan digantikan sesuatu yang jauh lebih buruk:

“Karena dia yang minta.”


Aku berjalan ke kelas dan duduk sampai bel pulang.

Aku tidak menangis. Aku sudah cukup sering menangis dalam empat bulan terakhir untuk tahu bahwa ada jenis sakit yang tidak keluar lewat mata.

Yang kupikirkan cuma satu pertanyaan.

Kenapa.

Kenapa Sekar boleh. Kenapa Renata tahu. Kenapa aku tidak.

Dan jam empat sore, di kamar, aku menemukan jawabannya sendiri, dan jawabannya membuatku ingin merobek sesuatu:

Karena kalau aku tahu, aku akan datang.

Aku akan datang dengan kantong plastik berisi empat bungkus. Aku akan datang dengan mulut yang tidak berhenti. Aku akan datang dan mengisi ruangan rumah sakit kelas tiga itu dengan seluruh diriku, karena itu satu-satunya cara aku tahu untuk peduli pada seseorang.

Sekar datang membawa makanan lalu pulang tanpa bertanya apa-apa.

Aku akan datang dan bertanya empat ratus kali.


Hari Jumat tanggal 12 Februari, aku naik ke atap jam tiga sore.

Kebiasaan. Kaki jalan sendiri.

Atapnya kosong, seperti empat puluh hari terakhir kecuali satu hari di bulan Januari.

Aku duduk di sudut timur laut, dan aku tidak membuka apa pun, dan aku duduk di sana sampai jam lima.

Dan sekitar jam empat lewat, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Di tembok pembatas, di sudut barat daya, di bagian bawah yang tertutup bayangan dan yang tidak akan dilihat siapa pun kecuali orang yang duduk di lantai dan menghadap ke arah itu, ada tulisan.

Digores. Bukan spidol — digores dengan sesuatu yang tajam, ke semen, dalam sekali dan tidak rapi.

Tiga baris angka.

09.50 — 10.10 12.40 — 12.55 15.10 — 16.00

Aku menatapnya cukup lama sampai mataku panas.

Lalu aku memotretnya, dan aku mengirimnya ke grup, dan tidak ada satu pun dari kami yang mengetik apa pun selama sebelas menit.

Lalu Renata mengetik:

Renata: Kapan itu digores?

tamara: nggak tau

Renata: Tamara, di sebelah baris ketiga, apakah terdapat sesuatu?

Aku menyalakan senter ponselku dan menunduk lebih dekat.

Ada.

Di sebelah kanan baris ketiga, lebih kecil, lebih dangkal, jelas digores belakangan:

+

Cuma itu. Satu tanda tambah.

Dan aku mengerti dalam dua detik, dan aku menekan pergelangan tangan ke mata di atas atap gudang jam empat lewat sore hari Jumat.

Dua baris pertama digores waktu ada dua orang.

Baris ketiga ditambahkan waktu aku datang.


sekar: tam

sekar: kamu di sana?

tamara: iya

sekar: aku ke situ sekarang

Renata: Saya juga.

Mereka sampai dua puluh menit kemudian, dua-duanya, dengan seragam yang masih dipakai.

Kami bertiga duduk di lantai atap itu — di tengah, di ruang kosong yang tidak pernah ditempati siapa pun — dan tidak ada yang bicara selama beberapa menit.

“Sekar,” kata Renata akhirnya.

“Hm.”

“Sampaikan kepadanya.”

Sekar mengangkat wajah. “Sampein apa?”

Dan Renata Claudya Larasati, yang selalu punya kalimat lengkap untuk segalanya, membuka mulut dan menutupnya kembali.

“Saya tidak tahu,” katanya.


Hari Senin, 15 Februari, dia masuk sekolah.

Aku mendengarnya dari Bagas jam tujuh lewat, dan aku berlari — betulan berlari, di koridor, dengan sepatu yang berdecit — ke kelas sebelas IPA tiga.

Dia ada di sana.

Kursi paling belakang, baris paling pinggir, dekat jendela.

Membuka buku.

Dan aku berdiri di pintu kelas itu selama beberapa detik sambil mengatur napas, dan lalu aku melihat sesuatu yang membuat kakiku berhenti.

Tasnya.

Dia membawa tas seperti biasa. Tapi tas itu kempis.

Empat bulan aku memperhatikan orang itu, dan tas itu selalu punya bentuk: kotak bekal di bagian bawah, buku catatan, kadang lembaran fotokopi dijepit klip.

Hari ini tasnya kempis.

Tidak ada kotak bekal.


“Andhika.”

Dia menoleh.

Dan aku hampir menangis di pintu kelas itu, di depan tiga puluh dua orang, karena wajahnya persis seperti biasa.

“Tamara.”

“Kamu balik.”

“Iya.”

“Nenek kamu gimana?”

“Udah pulang. Kemarin.”

“Operasinya—”

“Berhasil.”

Aku menghembuskan napas yang ternyata sudah kutahan selama entah berapa lama.

“Syukurlah,” kataku. “Ya ampun. Syukurlah.”

Dia mengangguk sekali.

Dan aku berdiri di sana, di pintu kelas, dengan seluruh hal yang ingin kutanyakan menumpuk di tenggorokanku — kenapa kamu nggak bilang, kenapa cuma aku, kamu tidur di mana selama seminggu, kamu makan nggak.

Dan aku tidak menanyakan satu pun.

Empat ratus pertanyaan, dan aku menelan semuanya, dan itu adalah hal tersulit yang pernah kulakukan seumur hidupku.

“Ya udah,” kataku. “Aku ke kelas.”

“Tamara.”

Aku berhenti.

“Makasih ya,” katanya.

“Buat apa?”

Dan dia berkata:

“Buat nggak nanya.”


Hari Selasa, 16 Februari, jam sepuluh pagi, Wisnu masuk ke kelas kami membawa daftar absensi kelas sebelas untuk keperluan pendataan OSIS.

Aku duduk di dekat pintu.

Aku melihat map itu lewat di depanku.

Dan aku melihat, di halaman yang terbuka, kolom kelas sebelas IPA tiga.

Tiga puluh dua nama.

Nomor urut dua puluh delapan sampai tiga puluh dua bergeser satu ke atas.

Nomor dua puluh delapan, yang sebelumnya bertuliskan sesuatu yang sudah kubaca ratusan kali dari jauh tanpa pernah menyentuhnya, sekarang bertuliskan nama orang lain.

Aku berdiri.

“Wisnu.”

Dia berhenti.

“Iya, Kak—eh, iya?”

“Absen sebelas IPA tiga.”

“Kenapa?”

“Isinya tiga puluh dua.”

Dia melihat mapnya.

“Iya. Tiga puluh dua.”

“Kemarin tiga puluh tiga.”

Dan Wisnu, yang tidak tahu apa-apa, yang cuma disuruh mengantar map, yang tidak punya satu pun alat untuk memahami apa yang sedang terjadi di depannya, berkata dengan nada paling biasa di dunia:

“Oh iya. Ada yang keluar.”


Aku duduk kembali.

Wisnu berjalan keluar dan aku mendengar langkahnya menjauh di koridor, dan aku duduk di bangkuku dengan tangan di pangkuan dan tidak bergerak sampai bel.

Ada yang keluar.

Empat kata. Dari anak yang tidak tahu apa-apa. Dengan nada orang yang menyebutkan bahwa hari ini mendung.

Dan itu yang paling tidak bisa kuterima.

Bukan bahwa dia keluar.

Bahwa dunia mencatatnya seperti itu — satu baris di kolom absensi, nomor urut bergeser satu ke atas, dan besok tidak akan ada satu pun dari tiga puluh dua orang di kelas itu yang menyadari bahwa dulu ada tiga puluh tiga.


Aku tidak ke grup.

Aku ke kelas sebelas IPA tiga jam istirahat, dan Bagas ada di sana.

“Gas, Andhika mana?”

Dia menoleh ke kursi paling belakang, baris paling pinggir, yang sudah ditempati anak lain sejak pagi karena guru menyuruh geser supaya rapi.

“Nggak masuk.”

“Kemarin masuk.”

“Iya. Kemarin masuk.”

“Terus hari ini?”

Bagas mengangkat bahu, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, wajahnya bukan wajah orang yang tidak paham.

“Tam.”

“Apa?”

“Kemarin dia balikin buku.”

“Buku apa?”

“Buku paket. Pinjeman perpus.” Dia menggaruk lehernya. “Semuanya. Empat. Padahal masih Februari.”

Aku berdiri di pintu kelas itu.

“Terus?”

“Terus dia bilang makasih ke gue.”

“Makasih buat apa?”

Dan Bagas menatapku dengan mata yang mulai mengerti sesuatu yang belum sanggup dia rumuskan.

“Gue nggak tau,” katanya. “Gue nanya, dia nggak jawab.”


Rabu, dia tidak masuk.

Kamis, tidak.

Jumat, tidak.

Dan Selasa berikutnya, jam tiga sore, aku naik ke atap untuk terakhir kalinya sebagai orang yang masih berharap.

Aku duduk di sudut timur laut. Aku membuka satu bungkus dan tidak memakannya.

Aku duduk di sana sampai jam lima — sampai matahari pindah, sampai bayangan tembok pembatas hilang dari sudut itu, sampai aku kepanasan untuk pertama kalinya sejak bulan Oktober.

Lalu aku pindah.

Ke sudut barat daya, ke tempat Renata tidur selama seratus enam belas hari, dan aku menunduk ke tembok pembatas dan menyalakan senter ponselku lagi.

Tiga baris angka.

Dan di sebelah baris ketiga, tanda tambah.

Aku mengulurkan tangan dan menyentuh goresan itu dengan ujung jari.

Dalamnya tidak sama.

Dua baris pertama digores dalam-dalam, berkali-kali, oleh orang yang punya waktu.

Baris ketiga dangkal.

Dan tanda tambah itu dangkal sekali, hampir tidak ada — seperti digores oleh orang yang sedang buru-buru.

Atau oleh orang yang tangannya sudah tidak sekuat waktu dia menggores dua baris pertama.