← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Forty Four

Yang Kiri Buat Kamu

POV: Andhika


Keretanya berangkat jam sebelas lewat empat menit.

Aku menghitungnya. Empat menit terlambat dari jadwal, yang mana adalah hal yang paling normal di dunia dan yang malam sebelumnya sudah kumasukkan ke dalam perhitungan sebagai margin.

Nenek duduk di kursi dekat jendela.

Aku duduk di sebelahnya.

Dan selama tujuh jam empat puluh menit, dia bertanya empat kali apakah aku sudah makan, dan empat kali aku bilang sudah, dan satu dari empat kali itu benar karena ada dua bungkus nasi uduk dari warung Bu Nah di dalam tas jinjing kain.


Kota ini datar.

Itu hal pertama yang kusadari, dan aku menyadarinya lewat kakiku sebelum lewat mataku.

Tidak ada tanjakan. Tidak ada gang yang menyempit. Jalannya lurus dan lebar dan aku bisa berjalan empat kilometer tanpa berhenti sekali pun, dan itu ternyata membuat empat kilometer terasa lebih jauh, bukan lebih dekat.

Rumah ibu ada di ujung sebuah kompleks. Dua kamar. Dapur di belakang. Kamar mandi di luar.

Ibu bekerja di pabrik tekstil, shift pagi, pulang jam lima sore.

Nenek dapat kamar yang ada jendelanya.

Aku dapat ruang depan, dengan kasur yang digulung setiap pagi.

Dan pada minggu pertama, ada satu hal yang membuatku duduk di ruang depan itu jam tiga pagi tanpa bisa tidur:

Rumah ini punya lampu teras.

Dan tidak ada yang menyalakannya, karena tidak ada siapa pun yang harus ditunggu pulang.


Aku dapat kerja di minggu kedua.

Bukan percetakan. Gudang distribusi, dua belas kilometer dari rumah, angkutan dua kali.

Angkat, susun, catat, angkat lagi.

Upahnya lebih besar daripada di Pak Har. Jamnya juga lebih panjang.

Mandornya orang baik. Namanya Pak Yatno. Dia tidak pernah menanyakan apa pun tentangku selama empat bulan pertama, dan aku bersyukur setiap hari untuk itu.

Dan di hari keempat puluh satu, dia menyuruhku ke ruang administrasi.

“Kamu bisa itung?”

“Bisa, Pak.”

“Bisa itung yang ini?”

Dia menyodorkan buku stok. Tiga bulan. Selisihnya tidak ketemu.

Aku mengembalikannya dua puluh menit kemudian dengan tiga lembar dikeluarkan.

Pak Yatno menatapku beberapa detik.

“Kamu sekolah di mana dulu?”

Dan aku, untuk pertama kalinya sejak turun dari kereta, tidak punya jawaban satu kalimat yang siap.


Enam bulan.

Aku akan menuliskannya dengan singkat, karena panjang atau pendek tidak mengubah apa pun.

Nenek meninggal pada bulan Agustus, jam empat pagi, di rumah, di kamar yang ada jendelanya.

Tidak mendadak. Kami sudah tahu sejak bulan Juni. Aku sudah menghitungnya sejak bulan Juli dan angkanya keluar dan kali ini aku tidak menghapusnya dari margin.

Yang tidak kuhitung adalah bahwa dia sempat berkata sesuatu pada malam sebelumnya, jam sebelas, waktu aku sedang memijat kakinya seperti biasa.

“Dhik.”

“Ya, Nek.”

“Kamu balik ya.”

“Balik ke mana, Nek?”

Dan dia tidak menjawab, karena dia sudah setengah tidur, dan aku tidak bertanya lagi karena aku pikir masih ada besok.


Kami membawanya pulang.

Bukan keputusan yang sulit. Kakek dimakamkan di TPU dekat gang itu tahun 2011, dan nenek pernah bilang — sekali, bertahun-tahun lalu, sambil menonton televisi tanpa suara — bahwa dia mau di sebelahnya.

Aku mengurus semuanya dalam dua hari.

Kami sampai hari Kamis pagi. Dimakamkan hari Kamis siang.

Yang hadir: aku, ibu, tiga orang dari pengurus TPU, dan seorang bapak-bapak yang datang terlambat dua puluh menit dengan motor bebek tua dan berdiri di belakang tanpa mengatakan apa pun.

Pak Har tidak menyalami aku sampai selesai.

Waktu selesai, dia menepuk bahuku satu kali.

“Dhik.”

“Ya, Pak.”

Dan dia membuka mulut, dan menutupnya, dan berkata:

“Yang sabar.”

Lalu dia pergi.


Kami pulang hari itu juga.

Kereta jam empat sore. Ibu harus masuk shift besok pagi.

Dan aku mau menuliskan bagian ini dengan tepat, karena ini yang paling sering kembali ke kepalaku selama dua tahun berikutnya.

Dari TPU ke stasiun, angkot lewat depan pasar.

Dan dari pasar ke stasiun, ada satu belokan yang, kalau diambil, akan lewat depan gang itu.

Aku bisa melihat mulut gangnya dari jendela angkot.

Empat detik. Mungkin lima.

Lampu tiang ketiga masih mati — aku tahu karena aku melihat tiangnya, dan bohlamnya masih pecah, delapan bulan kemudian.

Dan di kejauhan, di sisi kanan, ada teras dengan satu lampu dan satu tiang yang catnya mengelupas.

Aku tidak tahu apakah ada orang di sana.

Jam dua siang hari Kamis. Anak SMA masih di sekolah.

Aku tidak tahu, dan aku bisa menyuruh angkotnya berhenti, dan aku tidak menyuruhnya berhenti.


Aku sudah menghitungnya sebelum berangkat.

Kalau aku turun, aku harus menjelaskan kenapa aku ada di kota ini. Kalau aku menjelaskan kenapa, aku harus mengatakan bahwa nenek sudah meninggal. Kalau aku mengatakan itu, seseorang akan menangis. Dan kalau seseorang menangis, aku harus tinggal. Dan kalau aku tinggal, aku ketinggalan kereta jam empat. Dan kalau aku ketinggalan kereta jam empat, ibu harus membeli tiket lagi untuk besok, dan ibu masuk shift besok pagi, dan ibu sudah tidak masuk kerja tiga hari.

Enam langkah.

Aku menghitungnya di dalam angkot, dalam waktu kurang dari dua detik, karena otakku sudah rusak dengan cara yang spesifik dan tidak bisa diperbaiki.

Dan hasilnya keluar, dan hasilnya benar, dan aku duduk di angkot itu sampai lewat.

Aku sudah benar sepanjang hidupku.

Aku ingin mencatat, di sini, di halaman ini, bahwa aku belum pernah sekali pun salah menghitung sesuatu yang penting.

Dan aku juga ingin mencatat bahwa hal itu ternyata tidak sama dengan hidup dengan benar, dan aku baru mengetahuinya di dalam angkot jurusan stasiun pada suatu hari Kamis bulan Agustus, di usia delapan belas tahun, empat detik setelah gang itu lewat.


Nomorku mati bulan Maret.

Aku tidak mematikannya. Kartu prabayar yang tidak diisi akan mati sendiri, dan aku tidak mengisinya karena tidak ada lagi yang perlu menelepon, dan karena satu-satunya alasan ponsel itu harus hidup sampai jam sepuluh malam sudah tidak ada lagi sejak bulan Agustus.

Aku menyimpan ponselnya.

Isinya sembilan lagu.


Malam ini aku duduk di ruang depan rumah ibu.

Jam sebelas lewat. Ibu sudah tidur; shift pagi.

Aku mengeluarkan earphone dari saku.

Kabelnya masih dililit lakban di dua titik, dan lakbannya sudah kuganti empat kali sejak bulan Februari, dan yang sebelah kanan masih rusak.

Aku bisa membelinya sekarang.

Aku ingin mencatat itu juga, karena itu fakta: upahku di gudang distribusi cukup untuk membeli earphone baru sejak bulan Mei. Dua puluh lima ribu di warung dekat kompleks. Aku sudah melihatnya. Aku sudah berdiri di depannya dua kali.

Aku tidak membelinya.

Bukan karena mahal.

Aku tidak tahu alasannya. Aku sudah mencoba menghitungnya berkali-kali dan tidak ada satu pun angka yang keluar dari sisi lain, sama seperti malam bulan Februari itu di depan pagar, dan itu satu-satunya jenis perhitungan yang tidak pernah bisa kuselesaikan.

Aku memasangnya.

Dua-duanya. Kiri dan kanan.

Aku menekan play.

Lagu keempat. Yang ada suara gitar agak fals di awalnya. Tiga menit empat puluh satu detik.


Dan sekitar detik kedua puluh, aku melakukan sesuatu.

Aku melepas earphone yang sebelah kiri.

Aku mengulurkannya ke sebelah kananku, di ruang depan yang kosong, di rumah yang lampu terasnya tidak pernah dinyalakan siapa pun.

Dan aku berkata, ke ruangan itu, dengan suara yang tidak akan didengar siapa pun:

“Yang kiri buat kamu.”


Tidak ada yang mengambilnya.

Tentu saja tidak ada yang mengambilnya.

Aku menahannya di sana selama beberapa detik — aku tidak menghitungnya, dan itu yang kedua kalinya seumur hidupku — lalu aku memasangnya kembali di telinga kiriku.

Lagunya masih jalan.

Sembilan lagu. Tidak bertambah sejak empat tahun lalu.

Aku mendengarkannya sampai habis, kesembilan-sembilannya, dua puluh sembilan menit dua belas detik.

Baterainya turun sembilan persen.

Lalu aku mematikannya, dan menggulung kabelnya dua lingkaran dengan ujung diselipkan, dan menaruhnya di lantai di samping kasur.

Dan sebelum tidur, aku menghitung satu hal terakhir — bukan karena aku ingin, tapi karena otakku melakukannya sendiri sebelum aku sempat menghentikannya:

Dari sini ke stasiun: dua puluh lima menit. Kereta ke sana: tujuh jam empat puluh menit. Dari stasiun ke gang itu: empat puluh menit.

Delapan jam empat puluh lima menit.

Itu saja.

Delapan jam empat puluh lima menit, dan aku tahu persis anak tangga mana yang longgar dan lampu tiang mana yang mati dan di teras mana ada orang yang duduk sampai jam sepuluh lewat sambil bilang dia cuma belum ngantuk.

Aku sudah menghitungnya lima ratus kali sejak bulan Agustus.

Angkanya tidak pernah berubah.

Yang berubah cuma satu hal, dan hal itu belum pernah kuhitung sekali pun, dan aku tidak tahu bagaimana cara menghitungnya:

Apakah masih ada yang menunggu di ujung delapan jam empat puluh lima menit itu.


SEASON 1 — TAMAT