← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Nineteen

Sembilan Lagu

POV: Andhika


Ada tiga bunyi tangga yang harus kuhafal.

Sekar: setengah. Anak tangga kelima cuma mengeluh, tidak berteriak. Ritmenya cepat karena kakinya pendek dan dia selalu terburu-buru walaupun tidak ada yang mengejar.

Renata: nyaris tidak ada. Dia melangkahi yang kelima sejak hari kesembilan tanpa pernah kuberi tahu; dia menghitungnya sendiri. Langkahnya sama panjang satu sama lain, jeda antar-anak tangga persis sama, seperti metronom.

Tamara: keras. Yang kelima berteriak. Dia tidak pernah melangkahinya walaupun sudah kuberi tahu dua kali, dan aku sudah berhenti memberi tahu karena aku sadar dia memang tidak ingin datang diam-diam ke mana pun.

Tiga bunyi. Tiga slot. Empat puluh dua hari.

Dan hari itu, hari keempat puluh dua, ketiganya salah.


Sekar naik jam 09.51 dan duduk satu ubin lebih jauh dari tempat duduknya.

Sudah dua belas hari begitu. Aku tidak bertanya. Aku sudah menghitung bahwa kalau aku bertanya, dia akan menjawab, dan kalau dia menjawab, dia harus menyusun kalimat yang belum selesai dia susun.

Tapi kemarin malam dia menyelesaikannya.

Di trotoar. Jam sepuluh lewat. Dengan suara yang pecah di tengah.

Semua yang aku lakuin ke kamu tuh kebiasaan, Dhika.

Aku sudah mengulang kalimat itu — aku menghitungnya, karena aku selalu menghitung — empat puluh satu kali sejak semalam.

Dan setiap kali, aku sampai ke tempat yang sama: dia salah, dan aku tidak bisa menjelaskan kenapa dia salah tanpa menjelaskan hal-hal yang tidak boleh kujelaskan.

Karena kalau aku bilang tangan saya selalu ada di situ karena saya yang naruh di situ, dia akan bertanya kenapa.

Dan jawabannya adalah: karena umur enam, dia satu-satunya orang di gang itu yang datang ke pagar rumahku dan bertanya apakah aku mau main, dan aku bilang tidak bisa karena harus jaga nenek, dan dia bilang ya sudah aku main di sini aja.

Dan dia duduk di trotoar depan rumahku selama dua jam.

Sepuluh tahun, dan aku tidak pernah menceritakan itu ke siapa pun, termasuk ke orangnya.


Renata naik jam 12.40 dan tidak berbaring.

Dia duduk. Dia bertanya berapa tenaga yang kuhabiskan. Dia menanyakan angkanya, dan aku memberikannya karena aku tidak punya alasan bagus untuk tidak, dan karena berbohong ke Renata itu pekerjaan yang melelahkan.

Lalu dia meminta bahuku selama satu menit.

Sembilan detik.

Aku menghitungnya juga. Tentu saja aku menghitungnya.

Dan di detik kelima, aku menyadari sesuatu yang sudah kuhindari selama dua minggu: bahwa aku tidak bergerak bukan karena sopan.

Aku tidak bergerak karena aku tidak ingin dia berhenti.

Itu masalah.

Itu masalah karena sisa hari yang kupunya sudah dihitung, dan angkanya tidak berubah, dan aku sudah menghabiskan tiga tahun terakhir belajar bahwa satu-satunya cara menjalani hitungan yang tidak menguntungkan adalah dengan tidak menambah apa pun ke dalamnya.

Aku menambah tiga.


Tamara naik jam 15.10 dan berbohong.

“Kamu naik jam berapa?”

“Jam tiga. Kayak biasa.”

Tiga hal yang salah dengan itu.

Satu: kantong plastiknya berembun di bagian dalam. Nasi panas dibungkus, ditaruh, dan didiamkan lebih dari lima belas menit menghasilkan embun. Kalau dia beli di seberang gerbang lalu langsung naik, tidak ada embun.

Dua: di lantai, di sudut timur laut, ada bekas duduk. Debu di atap ini menempel; siapa pun yang duduk meninggalkan bentuk. Bentuknya kecil.

Tiga: dia diam selama sepuluh menit.

Tamara tidak diam. Tamara belum pernah diam lebih dari lima puluh detik sejak hari pertama, dan aku tahu angkanya karena aku pernah iseng menghitungnya di minggu kedua ketika aku belum tahu bahwa mengetahui hal-hal kecil tentang orang adalah cara paling cepat untuk berhenti bisa melepaskan mereka.

Jadi mereka bertemu.

Aku sudah menghitung kemungkinan ini sejak hari pertama Tamara naik. Aku memberinya dua belas menit jeda karena dua belas menit adalah selisih maksimum kedatangan Tamara berdasarkan pengamatan tiga minggu.

Dua belas menit ternyata kurang.

Bukan karena hitunganku salah. Karena Tamara memutuskan untuk naik lebih awal, dan Sekar memutuskan untuk tinggal lebih lama, dan keputusan bukan sesuatu yang bisa dihitung.

Itu satu-satunya variabel yang tidak pernah bisa kuhitung seumur hidupku: orang yang memilih melakukan sesuatu tanpa alasan yang bisa dijelaskan.


Jam empat sore, percetakan.

“Dhik.”

“Ya, Pak.”

“Mesin tiga bunyinya beda.”

“Iya. Belt-nya kendor.”

“Bisa dibenerin?”

“Bisa. Tapi harus mati dua jam.”

Pak Har mengangguk-angguk. Dia meminum kopinya yang tinggal ampas.

“Ya udah, besok pagi.”

“Besok pagi ada orderan.”

“Ya udah, lusa.”

“Lusa juga ada.”

Dia menoleh ke arahku.

“Kamu inget semua jadwal orderan bulan ini?”

Aku tidak menjawab, karena aku baru sadar bahwa itu bukan pertanyaan yang normal untuk bisa dijawab.

“Sebagian,” kataku.

“Sebagian berapa?”

“Semua.”

Pak Har menyeruput lagi.

“Dhik.”

“Ya, Pak.”

“Otak kayak gitu tuh nggak buat angkat kertas.”

Dan dia masuk ke dalam sebelum aku sempat menjawab, yang mana adalah kebiasaannya, dan yang mana adalah satu-satunya cara dia mengatakan hal-hal yang tidak sanggup dia ulangi.

Aku berdiri di depan mesin tiga selama beberapa detik.

Lalu aku menyalakannya, dan mengangkat rim pertama, dan meletakkannya lurus, karena kertas yang ditaruh lurus tidak akan menyangkut.


Jam 22.14, aku pulang.

Lampu depan menyala. Nenek di kursi rotan, televisi tanpa suara.

“Sudah pulang.”

“Sudah, Nek.”

“Ada nasi di magic com.”

“Sudah makan tadi, Nek.”

Hari ini aku sudah makan. Dua kali, malah. Kotak dari Renata jam setengah satu, dan bungkus dari Tamara jam tiga.

Aku tidak bilang.

Kalau aku bilang, nenek akan bertanya dari siapa. Kalau aku bilang dari siapa, nenek akan bilang harus dibalas. Kalau nenek bilang harus dibalas, nenek akan mulai menyisihkan sesuatu untuk dibalaskan, dan yang disisihkan itu akan diambil dari sesuatu yang lain, dan aku tahu persis dari mana.

Jadi aku bilang sudah makan tadi. Yang mana kebetulan benar.

Aku memijat kakinya dua belas menit. Ada anggaran untuk itu sekarang; aku mengambilnya dari waktu berjalan ke halte, dengan cara jalan lebih cepat.

“Dhik.”

“Ya, Nek.”

“Anak sebelah, Sekar itu, nggak pernah ke sini lagi.”

“Sibuk kali, Nek.”

“Kemarin dia lewat. Nggak mampir.”

Aku tidak menjawab.

Nenek tidak bertanya lagi.

Itu satu hal yang kami berdua kuasai dengan sangat baik, dan aku baru mengerti sekarang bahwa aku tidak mempelajarinya sendiri.


Kamar. Lampu mati. Kasur di lantai.

Aku mengeluarkan earphone dari saku, mengurainya, dan memasangnya.

Dua-duanya. Kiri dan kanan.

Aku tidak menyalakan apa pun.


Ini bagian yang tidak pernah kuceritakan.

Ponselku bisa memutar lagu. Sembilan lagu, yang masuk tiga tahun lalu waktu Bagas menyalin isi ponselnya ke ponselku di lab komputer selama dua puluh menit sebelum penjaga datang.

Sembilan lagu itu nyata. Aku hafal semuanya sampai detiknya. Aku tidak berbohong soal itu.

Yang tidak kukatakan adalah: aku jarang memutarnya.

Bukan karena bosan. Karena baterai ponselku bertahan sebelas jam kalau tidak dipakai, dan enam jam kalau memutar musik, dan aku butuh ponsel itu hidup sampai jam sepuluh malam untuk satu alasan.

Kalau nenek jatuh, dia harus bisa menelepon.

Itu saja. Itu seluruh alasannya.

Jadi earphone-nya kupasang, dan tidak ada apa pun di dalamnya, dan itu berfungsi lebih baik daripada musik untuk hal yang sebenarnya kubutuhkan:

Orang tidak mengajak bicara orang yang sedang pakai earphone.

Orang tidak menawari makan orang yang sedang pakai earphone.

Orang tidak bertanya kenapa kamu nggak makan kepada orang yang kelihatan tidak bisa mendengar.

Empat puluh dua hari, tiga perempuan, dan tidak satu pun dari mereka pernah bertanya apa yang sedang kudengarkan pada saat mereka menerimanya.

Mereka bertanya lagu apa. Mereka bertanya berapa banyak. Mereka bertanya kenapa tidak ditambah.

Tidak ada yang bertanya apakah ada suaranya.

Dan tiga kali — tiga kali, dalam empat puluh dua hari — aku menyerahkan earphone sebelah kiri kepada seseorang, dan aku harus menyalakan lagunya dulu supaya tidak ketahuan.

Itu satu-satunya waktu ponselku memutar musik.

Sembilan lagu itu tidak pernah kudengarkan sendirian lagi selama tiga tahun.

Aku cuma menyalakannya untuk mereka.


Aku melepas earphone dan menaruhnya di lantai.

Aku melihat jam. 23.41.

Bangun 04.45. Berarti lima jam empat menit, dikurangi waktu untuk benar-benar tertidur, kira-kira empat setengah.

Bagus. Itu bagus. Itu lebih banyak dari biasanya.

Lalu aku melakukan hal yang kulakukan setiap malam sejak surat kedua datang, hal yang sudah tidak butuh usaha lagi, hal yang jalan sendiri seperti napas.

Sisa hari: tujuh puluh empat.

Upah sampai 12 Februari, dengan asumsi orderan normal, tanpa lembur besar: cukup untuk enam bulan tunggakan.

Yang harus dibayar: sembilan.

Selisih: tiga bulan.

Aku menghitungnya lagi dengan asumsi paling optimis yang bisa kubuat — nenek tidak masuk rumah sakit, harga obat tidak naik, mesin tiga tidak rusak, aku tidak sakit.

Selisih: tiga bulan.

Aku menutup mata.

Tujuh puluh empat hari.

Dulu, waktu angkanya masih seratus dua belas, aku sempat berpikir itu masih banyak.

Sekarang aku sudah tahu bahwa yang membuat angka terasa banyak atau sedikit bukan angkanya.

Yang membuatnya terasa sedikit adalah kalau kamu punya sesuatu yang tidak ingin kamu tinggalkan.

Dan empat puluh dua hari yang lalu, aku tidak punya.