Chapter Twenty One
Izin
POV: Sekar
Aku menyiapkan kalimatnya selama enam hari.
Enam kalimat. Aku menulisnya di halaman belakang buku Kimia, lalu menghapusnya, lalu menulisnya lagi dengan pensil supaya bisa dihapus.
- Aku boleh pegang tangan kamu nggak?
- Dhika, tangan kamu boleh dipegang?
- Boleh pegang tangan?
- Aku mau pegang tangan kamu.
- Tangannya.
- (diam saja, tarik tangannya, selesai)
Nomor enam adalah yang paling mudah dan yang paling tidak boleh.
Nomor enam adalah persis apa yang sudah kulakukan sepuluh tahun.
Aku juga menyiapkan skenario penolakan.
Ini kebiasaan lama. Ibuku bilang aku sudah begini sejak kecil: sebelum meminta apa pun, aku menyusun dulu apa yang akan kulakukan kalau ditolak, supaya penolakannya tidak terasa seperti kejutan.
Skenario A: dia bilang “kenapa?” — aku bilang becanda, selesai dalam empat detik. Skenario B: dia diam — aku tertawa, aku bilang “ih serius amat”, selesai dalam enam detik. Skenario C: dia bilang tidak — aku bilang oke, aku turun duluan, dan aku menangis di toilet lantai dua yang pintunya rusak sehingga tidak ada yang masuk.
Aku menyiapkan ketiganya dengan sangat rinci.
Yang tidak kusiapkan adalah skenario D, yang mana adalah yang benar-benar terjadi, dan yang membuat seluruh persiapanku sia-sia dengan cara yang paling tidak kuduga.
Yang tidak kusiapkan adalah kenapa aku harus menyiapkan enam kalimat untuk sesuatu yang dulu kulakukan tanpa berpikir.
Aku memikirkan itu di angkot, di kelas, di kamar mandi, dan di teras rumah pada jam-jam yang seharusnya untuk tidur.
Dan hari Kamis, aku menemukan jawabannya, dan jawabannya membuatku merasa sangat tua untuk umur enam belas.
Kebiasaan itu gratis.
Kalau kamu memegang tangan orang karena kebiasaan, kamu tidak mempertaruhkan apa pun. Tidak ada yang bisa ditolak, karena tidak ada yang diminta.
Begitu kamu meminta, kamu bisa ditolak.
Dan aku baru mengerti sekarang kenapa aku menghabiskan sepuluh tahun tanpa pernah sekali pun meminta.
“Dhika.”
“Hm.”
“Boleh nanya sesuatu yang aneh?”
“Boleh.”
“Kenapa orang milih diem?”
Dia menoleh.
“Maksudnya?”
“Ya— orang.” Aku memeluk lutut. “Ada orang yang jelas-jelas lagi kenapa-napa, terus ditanya, terus bilang nggak apa-apa. Padahal kalau dia cerita, mungkin selesai.”
“Mungkin nggak selesai.”
“Nah, kenapa dia mikir gitu?”
Dia berpikir. Lama, kali ini — jenis jeda yang artinya dia sedang menyusun kalimat paling pendek.
“Karena cerita itu ada biayanya,” katanya.
“Biaya apa?”
“Orang yang denger jadi mikirin. Terus dia ngerasa harus ngapa-ngapain. Terus kalau dia nggak bisa ngapa-ngapain, dia ngerasa jelek.” Dia mengangkat bahu. “Jadi yang cerita dapet lega, yang denger dapet beban.”
“Itu nggak adil.”
“Iya.”
“Tapi orang yang denger mau kok.”
“Iya.”
“Terus kenapa masih nggak cerita?”
Dan dia berkata sesuatu yang kutulis di buku Kimia malam itu, dengan pulpen, bukan pensil:
“Karena kalau kamu nggak pernah minta apa-apa, kamu nggak pernah tau kamu bakal ditolak.”
Aku pulang hari itu dan tidak bisa mengerjakan apa pun.
Aku duduk di meja belajar dengan buku terbuka selama dua jam dan yang kupikirkan cuma satu hal: bahwa orang yang mengatakan kalimat itu tadi siang tidak sadar dia sedang menjelaskan dirinya sendiri.
Atau dia sadar, dan itu lebih buruk.
Dan aku juga memikirkan hal lain, yang lebih kecil dan lebih tidak enak: bahwa kalimat itu juga menjelaskan aku.
Kami berdua sama. Dari sisi yang berbeda.
Dia tidak pernah meminta karena takut membebani. Aku tidak pernah meminta karena takut ditolak.
Dan hasilnya sama persis: sepuluh tahun berdampingan tanpa satu pun yang pernah benar-benar mengulurkan tangan lebih dulu, secara sadar, dengan risiko.
Aku menutup buku.
Aku memutuskan bahwa aku akan jadi yang pertama.
Aku mau bilang, untuk keperluan catatan, bahwa aku sudah memutuskan ini pada malam Kamis dan aku baru melakukannya pada hari Selasa.
Empat hari. Empat hari untuk lima kata.
Selasa, jam sepuluh lewat delapan, kami turun.
Anak tangga kedelapan datang. Aku memegang besi seperti dua minggu terakhir. Tangannya tidak keluar dari saku, seperti dua minggu terakhir.
Kami sampai di bawah.
Dan aku berhenti.
“Dhika.”
“Hm.”
Dia berhenti juga. Dia berbalik.
Dan aku berdiri di depannya di koridor lab yang sepi, seratus lima puluh dua sentimeter menghadap seratus tujuh puluh enam, dengan lima kata yang sudah kulatih di depan cermin sebanyak — aku menghitungnya — dua puluh tiga kali.
“Aku boleh pegang tangan kamu nggak?”
Dia tidak menjawab.
Tiga detik.
Lima.
Tujuh.
Aku sudah mulai menyusun kalimat untuk mundur — becanda, nggak jadi, aku bercanda kok — dan aku sudah merasakan wajahku panas, dan aku sudah mulai menghitung sampai lima untuk menahan supaya mataku tidak melakukan apa-apa.
Sepuluh detik.
“Kar.”
“Iya, nggak jadi, aku cuma—”
“Bukan.”
Aku berhenti.
Dia mengeluarkan tangan kanannya dari saku.
Dan dia melihatnya.
Bukan mengulurkannya. Dia melihatnya — telapaknya, punggungnya, buku jarinya — dengan cara yang membuat perutku dingin, seperti orang yang sedang memeriksa apakah sesuatu layak diberikan.
“Tangan saya kasar,” katanya.
Dan suaranya beda.
Bukan datar. Bukan tenang. Ada sesuatu di dalamnya yang tipis dan yang aku belum pernah dengar dari orang ini selama sepuluh tahun.
“Aku tau,” kataku.
“Kamu belum pernah—”
“Aku tau, Dhika.”
“Kamu megang dua jari doang.”
Dan di sinilah aku menyadari sesuatu yang membuatku hampir kehilangan seluruh keberanian yang kukumpulkan selama empat hari.
Sepuluh tahun.
Sepuluh tahun aku memegang kelingking dan jari manisnya, karena itu yang diulurkan, karena itu yang muat di tangan anak enam tahun, karena tidak pernah ada alasan untuk mengubahnya.
Dan selama sepuluh tahun, orang ini mengira aku memegang dua jari karena aku tidak mau memegang telapaknya.
“Dhika.”
“Hm.”
“Aku megang dua jari karena tangan aku kecil.”
Dia tidak bergerak.
“Bukan karena—” Suaraku hilang di tengah. Aku menariknya kembali. “Aku umur enam waktu itu. Tangan aku muat dua jari.”
Hening di koridor.
Dari jauh, dari arah lapangan, ada anak-anak yang berteriak karena bel akan berbunyi.
Dan Andhika Pratama berdiri di depanku dengan tangan kanan setengah terulur, memandanginya, dan berkata — pelan, hampir tidak terdengar, ke arah tangannya sendiri:
“Oh.”
Aku mengambilnya.
Aku tidak menunggu izin balik, karena kalau aku menunggu aku akan kehilangan momen ini dan aku tidak yakin bisa mengumpulkan empat hari lagi.
Aku mengambil telapaknya.
Semuanya. Sepuluh jari.
Kasar — dia benar, memang kasar, ada bagian di pangkal jari yang keras seperti karet dan ada garis-garis yang tidak dimiliki tangan anak SMA mana pun. Tangannya juga lebih hangat dari yang kubayangkan, dan lebih besar, dan aku bisa merasakan denyut di sana yang lebih cepat dari yang seharusnya untuk orang yang sedang berdiri diam.
Dia tidak menggenggam balik.
Dia juga tidak menarik.
Kami berdiri seperti itu selama entah berapa lama, sampai bel berbunyi dan bunyinya membuat kami berdua tersentak seperti orang ketahuan.
Sebelum bel itu, ada sekitar delapan detik.
Aku menghitungnya, karena aku menghitung semuanya sekarang.
Dan di detik keenam, sesuatu terjadi yang tidak akan pernah kuceritakan ke siapa pun, termasuk ke Tamara, termasuk ke ibuku, termasuk mungkin ke orangnya sendiri:
Jarinya bergerak.
Sangat sedikit. Ibu jarinya, satu kali, ke atas — setengah sentimeter, mungkin kurang — dan berhenti.
Seperti orang yang hampir menggenggam balik lalu ingat sesuatu.
Aku melepaskan.
“Ya udah,” kataku, ke lantai. “Gitu doang.”
“Hm.”
“Aku ke kelas.”
“Hm.”
Aku berbalik. Aku sudah tiga langkah.
“Kar.”
Aku berhenti.
Dia masih berdiri di tempat yang sama. Tangan kanannya belum masuk ke saku.
“Besok boleh lagi?” katanya.
Aku tidak tahu bagaimana caranya berjalan ke kelas setelah itu, tapi aku sampai di sana, dan aku duduk, dan Rara bertanya kenapa mukaku merah dan aku bilang kepanasan.
Dan sepanjang pelajaran jam ketiga, aku memikirkan satu hal.
Bukan tangannya. Bukan sepuluh jari.
Aku memikirkan tiga kata terakhirnya, dan bagaimana bunyinya, dan kenapa bunyinya begitu.
Besok boleh lagi?
Orang yang meminta izin untuk sesuatu yang sudah dia miliki selama sepuluh tahun—
—adalah orang yang tidak pernah sekali pun merasa memilikinya.
Dan aku duduk di kelas dengan pensil di tangan dan buku terbuka dan menyadari, dengan sangat jelas dan sangat terlambat, bahwa selama sepuluh tahun aku mengira aku yang menunggu.
Ternyata kami berdua menunggu.
Cuma dia menunggu lebih lama, dan dia menunggu tanpa pernah tahu bahwa boleh berharap.
Rabu, aku memegang tangannya lagi.
Kamis juga.
Dan Kamis, di anak tangga terakhir, dia melakukan sesuatu yang membuatku harus berhenti di lantai koridor selama tiga detik untuk memasang wajah kembali.
Dia menggenggam balik.
Sekali. Cepat. Satu tekanan pendek, lalu longgar lagi, seperti orang yang mencoba sesuatu dan langsung berhenti karena tidak yakin caranya benar.
“Dhika.”
“Hm.”
“Kamu barusan—”
“Salah.”
“Nggak salah.”
“Salah,” katanya, dan telinganya merah, dan aku belum pernah melihat telinga orang ini merah seumur hidupku.
Aku tidak menggodanya. Sungguh. Aku ingin sekali, dan aku menahan diri, karena aku sudah belajar bahwa ada orang yang kalau digoda akan menutup pintu dan tidak membukanya lagi selama seminggu.
“Ya udah,” kataku. “Besok coba lagi.”
Dan dia mengangguk sekali, ke arah lantai, dan berjalan pergi dengan telinga yang masih merah dan tangan yang masuk ke saku terlalu cepat.
Aku berdiri di koridor itu dan berpikir bahwa ini mungkin hari paling bahagia yang pernah kualami sejak umur enam tahun.
Dan tiga hari kemudian, aku naik ke atap itu jam setengah satu bersama Tamara Eliza Putri, dan semuanya berubah.
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin reading
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu