← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Twenty Three

Yang Merusak Jadwal

POV: Tamara


Aku dapat nomor Sekar dari grup angkatan dan aku menyimpannya selama sembilan hari sebelum berani mengetik apa pun.

hai. ini tamara

Dia membaca dalam empat detik. Dia mengetik dalam enam.

iya, aku tau

dari mana

cuma kamu yang ngetik pake huruf kecil semua

Aku menatap layar itu dan tertawa sendirian di kamar seperti orang gila.


Kami tidak bicara tentang Andhika selama tiga hari pertama.

Itu keputusan yang tidak diucapkan salah satu dari kami. Kami mengobrol tentang guru Kimia yang bajunya selalu sama. Tentang kantin. Tentang anjing tetangga bernama Bakso, yang ternyata Sekar juga kenal karena tetangganya juga.

Hari keempat, dia yang membuka.

tam

ya

kamu tau nggak dia ngabisin berapa lama tiap hari buat ngatur kita

hah

dua puluh menit. sehari

Aku menaruh ponsel telungkup di kasur.

Aku mengangkatnya lagi tiga puluh detik kemudian.

dia bilang sendiri?

ke aku enggak. dia bilang ke ketua osis, terus ketua osis kelepasan ngomong ke bendaharanya, terus bendaharanya cerita ke temennya di kantin

dan kamu denger

aku denger

Aku duduk di tepi kasur.

Dua puluh menit sehari.

Aku sudah tahu angkanya sebelum ini — aku tahu ada jadwal, aku tahu dia yang mengatur. Tapi ada perbedaan antara mengetahui bahwa seseorang mengatur sesuatu dan mengetahui berapa menit yang dia bayar untuk itu.

Dua puluh menit dari orang yang tidur empat jam.

Dua puluh menit dari orang yang jalan kaki empat kilometer untuk menghemat ongkos.

Dua puluh menit dari orang yang tidak makan sore.

sekar

ya

dia bayar itu pake apa

Jeda lama.

pake tidurnya


Aku tidak tidur malam itu.

Aku berbaring dan menatap langit-langit dan memikirkan hal-hal berikut, secara berurutan:

Satu. Aku naik ke atap itu tiga kali seminggu selama dua bulan.

Dua. Setiap kali aku naik, ada seseorang yang menghabiskan waktu untuk memastikan aku tidak bertemu siapa pun.

Tiga. Aku tidak pernah memintanya.

Empat. Aku juga tidak pernah menolaknya.

Lima. Yang artinya, selama dua bulan, aku duduk di tempat yang dibersihkan untukku oleh orang yang tidak punya waktu untuk membersihkan apa pun, dan aku menikmatinya, dan aku bahkan sempat kesal ketika dia menyuruhku tidak datang.

Jam dua pagi, aku mengetik.

sekar masih bangun?

iya

aku mau ngerusak jadwalnya

Tiga menit tidak ada balasan.

Lalu:

gimana caranya


Rencananya sederhana, dan sederhana itu justru yang membuatku takut, karena kalau sesuatu sederhana artinya tidak ada tempat untuk menyalahkan orang lain.

Jam setengah satu adalah jamnya Renata.

Kalau Sekar dan aku naik jam setengah satu, kami bertiga akan ada di sana bersamaan.

Dan Andhika tidak bisa mengatur apa pun, karena dia tidak bisa menyuruh tiga orang turun sekaligus tanpa mengakui bahwa dia selama ini menyuruh orang turun.

Satu masalah: dia akan ada di sana lebih dulu. Dia selalu ada di sana lebih dulu.

Dan kalau dia ada di sana, dia akan melihat kami naik satu per satu dan dia akan punya waktu untuk melakukan sesuatu — apa pun itu, karena orang ini selalu punya sesuatu.

Jadi dia harus terlambat.

bagas

hah? bagas siapa — Sekar

temen sekelasnya. yang nggak tau apa-apa

kamu mau make dia?

iya

tam

apa

itu jahat

Aku menatap layar itu lama sekali.

iya

aku tetep mau ngelakuin


Aku menemui Bagas hari Rabu.

“Gas.”

“Eh! Tamara? Eh, iya?”

“Kamu bisa bantu aku nggak?”

Dan aku melihat wajah anak ini berubah jadi wajah orang yang baru saja dipilih jadi kapten tim nasional, dan aku merasa jahat selama tiga detik penuh sebelum aku melanjutkan.

“Besok jam setengah satu, tahan Andhika di kelas.”

“Tahan gimana?”

“Ngobrol. Apa aja. Lima belas menit.”

Bagas mengerutkan kening.

“Buat apa?”

“Kejutan.”

“Ulang tahun dia?”

“...Iya.”

Dia tidak curiga sedikit pun. Bagas tidak punya alat untuk curiga; itu bukan kelemahannya, itu seluruh cara dia hidup.

“Oke! Gue bisa!” Dia mengangguk-angguk. “Eh tapi dia susah ditahan. Dia tuh jam segitu selalu langsung ilang.”

“Ya makanya ditahan.”

“Gue tanyain PR aja kali ya.”

“Terserah.”

“Eh, Tam.”

“Apa?”

Bagas menggaruk lehernya.

“Gue baru tau ulang tahunnya kapan,” katanya.

Dan dia mengatakan itu dengan nada yang biasa saja, hampir riang, tanpa sadar bahwa dia baru saja mengatakan sesuatu yang membuat perutku terasa seperti ditarik ke bawah.

Satu setengah tahun duduk bersebelahan.

Dia bahkan tidak tahu tanggal lahirnya.

Dan aku juga tidak tahu.


Rabu malam, jam sebelas, aku mengetik ke Sekar.

besok jam 12.40

iya

kamu masih mau?

Jeda.

tam, boleh nanya?

boleh

kamu ngelakuin ini karena kasian sama dia, atau karena kamu capek nunggu giliran?

Aku duduk di kasur dengan ponsel di tangan dan tidak menjawab selama enam menit.

Karena jawabannya adalah: keduanya.

Dan karena aku baru sadar bahwa Sekar Widyaningsih, tinggi seratus lima puluh dua sentimeter, dengan jepit rambut berbentuk pita, adalah orang paling jujur yang pernah kutemui, dan itu membuatnya sangat sulit untuk disukai dan sangat sulit untuk tidak disukai.

dua-duanya

oke

kamu marah?

nggak

terus?

aku juga dua-duanya


Ada satu hal lagi yang tidak kuceritakan ke Sekar.

Hari Selasa, Mama menandatangani kontrak untuk dua iklan berikutnya.

Aku tidak diberi tahu. Aku tahu karena aku melihat mapnya di meja ruang tamu waktu turun untuk minum, jam sebelas malam, dan aku membacanya sambil berdiri karena kalau aku duduk berarti aku sedang membaca dan kalau aku sedang membaca berarti aku harus bertanya.

Dua iklan. Enam bulan ke depan. Dan satu klausul tentang “menjaga penampilan sesuai standar merek” yang tidak dijelaskan lebih lanjut, karena tidak perlu dijelaskan, karena semua orang di rumah ini tahu artinya apa.

Aku naik ke kamar dan tidak bisa tidur.

Dan aku memikirkan satu hal yang membuatku merasa sangat jahat:

Aku ingin merusak jadwal itu bukan cuma untuk Andhika.

Aku ingin merusak sesuatu — apa saja — karena selama sepuluh tahun aku tidak pernah sekali pun merusak apa pun, dan karena semua orang di sekitarku selalu menyusun hidupku dengan sangat rapi, dan karena aku ingin membuktikan bahwa aku sanggup mengacaukan satu hal saja dengan tanganku sendiri.

Cuma satu.

Dan aku memilih satu-satunya hal yang dibangun untukku oleh orang yang tidak punya apa-apa.


Kamis pagi, aku sampai sekolah jam setengah tujuh.

Aku tidak pernah sampai sekolah jam setengah tujuh.

Aku duduk di kelas kosong selama empat puluh menit dan memikirkan semua cara ini bisa berakhir buruk, dan aku menemukan sebelas, dan setiap kali aku menemukan satu, aku menemukan alasan untuk tetap melakukannya.

Jam sembilan lewat lima puluh, aku melihat dari jendela koridor.

Sekar berjalan ke arah lab. Naik.

Jam sepuluh lewat delapan, dia turun.

Andhika turun di belakangnya, dan di anak tangga terakhir, Sekar berbalik dan mengulurkan tangan, dan Andhika menerimanya — telapak penuh, sepuluh jari — dan mereka berjalan tiga langkah seperti itu sebelum melepaskan.

Aku menonton dari jendela lantai dua.

Dan aku merasakan sesuatu yang panas dan tidak enak dan sangat, sangat memalukan, dan aku menekan pergelangan tangan ke mata di koridor kosong dan menghitung sampai lima seperti yang diajarkan orang yang baru saja memegang tangan itu.

Lalu aku turun ke kelas dan menunggu sampai jam setengah satu.


Jam 12.31, aku berdiri.

Jam 12.33, aku berdiri di ujung koridor lab dan melihat Sekar sudah ada di sana, di balik tiang yang sama, dengan tas di bahu.

Kami saling mengangguk. Tidak ada yang bicara.

Jam 12.36, seseorang lewat di depan kami tanpa menoleh — postur tegak, seragam tanpa kerutan, map cokelat tebal di tangan kiri.

Dia naik. Anak tangga kelima tidak berbunyi.

Jam 12.38, ponselku bergetar.

Gas: aman. dia lagi gue tahan. dia bingung banget wkwkwk

Aku menatap layar itu.

Lalu ada pesan kedua, sepuluh detik kemudian.

Gas: eh tam

Gas: dia nanya kenapa gue ngomong lama banget hari ini

Gas: terus gue bilang gapapa pengen ngobrol aja

Gas: terus dia diem terus dia bilang “oh. oke.”

Gas: terus dia duduk lagi

Aku membaca lima pesan itu tiga kali.

Dan aku merasakan sesuatu yang dingin merambat dari perut ke tenggorokan, karena aku tiba-tiba bisa melihat adegan itu dengan sangat jelas:

Seorang anak laki-laki yang selama satu setengah tahun tidak pernah diajak mengobrol tanpa alasan, diajak mengobrol tanpa alasan, dan duduk kembali.

Dan aku yang mengaturnya.

Dan dia tidak tahu.

Jam 12.39, aku melihat Sekar.

“Masih mau?” tanyanya.

Dan aku ingin bilang tidak.

Aku ingin bilang tidak, ayo pulang, ayo lupakan, biarkan dia punya dua puluh menitnya, biarkan semuanya seperti kemarin karena kemarin itu enak dan kemarin itu aman dan kemarin itu ada tisu yang disodorkan tanpa menoleh.

“Masih,” kataku.

Dan kami naik.

Anak tangga kelima berbunyi dua kali — punyaku keras, punya Sekar setengah — dan itu bunyi yang akan kuingat selama bertahun-tahun setelahnya, karena itu bunyi terakhir dari sesuatu yang tidak akan pernah kembali.