Chapter Thirty Seven
00.00 — 24.00
POV: Andhika
Nenek pulang hari Minggu.
Aku menggendongnya dari ujung gang ke rumah karena becak tidak bisa masuk dan karena dia sudah tidak sanggup jalan tiga puluh meter, dan dia protes sepanjang jalan dengan suara yang tinggal setengah.
“Dhik, Nenek bisa jalan.”
“Iya, Nek.”
“Turunin.”
“Sebentar lagi.”
“Nanti kamu capek.”
“Nggak, Nek.”
Beratnya empat puluh satu kilo. Aku tahu karena aku menimbangnya di puskesmas empat bulan lalu, dan waktu itu empat puluh tujuh.
Aku menghitung juga yang ini. Aku tidak bisa berhenti.
Malamnya aku duduk di lantai depan kursi rotan dan memijat kakinya dua puluh menit, bukan dua belas, karena tidak ada lagi yang harus dikejar besok pagi.
“Dhik.”
“Ya, Nek.”
“Kamu besok sekolah?”
Aku terus memijat.
“Iya, Nek.”
“Jam berapa?”
“Tujuh.”
“Ya udah, tidur.”
“Sebentar lagi.”
Dia diam beberapa saat.
Lalu dia berkata sesuatu yang tidak kuduga sama sekali, dengan suara yang setengah, ke arah televisi yang menyala tanpa suara:
“Nenek tau, Dhik.”
Tanganku berhenti.
“Tau apa, Nek?”
“Yang di amplop cokelat itu.”
Aku tidak mengangkat wajah.
“Nenek nggak bisa baca tulisan kecil,” katanya. “Tapi Nenek bisa baca angka.”
Ruangan itu sepi. Televisi tanpa suara. Kipas dari rumah sebelah.
“Nek—”
“Dhik.”
“Ya.”
Dan nenek meletakkan tangannya di kepalaku — pelan, ringan sekali, karena tangannya sudah tidak punya tenaga untuk lebih dari itu — dan berkata:
“Maaf ya.”
Aku keluar rumah jam sebelas malam dan berjalan.
Tidak ke mana-mana. Aku cuma berjalan, dan kakiku membawaku ke arah yang sudah dilewatinya seribu kali dalam tiga tahun terakhir, dan empat puluh menit kemudian aku berdiri di depan pagar SMA Negeri 4 yang digembok.
Aku memanjatnya di bagian samping, dekat pohon, di tempat yang sudah kutahu sejak kelas sepuluh karena aku pernah menghitung tinggi tembok dan jarak dahan.
Aku berjalan ke belakang laboratorium.
Tangga besi.
Anak tangga kelima berbunyi di sekolah yang kosong dan bunyinya terdengar sampai ke lapangan.
Di atas, tidak ada apa-apa.
Cuma lantai semen, tembok pembatas tiga sisi, dan langit yang di kota ini tidak pernah benar-benar gelap.
Aku duduk di sudut timur laut.
Aku duduk di sana selama mungkin dua puluh menit tanpa memikirkan apa pun, yang mana adalah sesuatu yang belum pernah kulakukan seumur hidupku, karena kepalaku selalu menghitung sesuatu dan malam itu tidak ada lagi yang tersisa untuk dihitung.
Angka sudah selesai.
12 Februari sudah lewat dua belas hari.
Namaku sudah tidak ada di absen sejak Senin tanggal 15.
Yang tersisa cuma satu hal: memberitahu nenek bahwa aku pindah kerja ke kota tempat ibu, dan bahwa itu lebih baik untuk berobatnya, dan bahwa ini rencana yang sudah lama disusun.
Tiga kalimat.
Aku sudah menyusunnya selama sembilan hari dan aku belum sanggup mengucapkannya.
Aku berdiri untuk pulang.
Dan sebelum turun, aku melakukan hal yang kulakukan setiap kali aku naik ke sini sejak bulan Desember: aku memeriksa tembok pembatas sisi barat daya, di bagian bawah, yang tertutup bayangan.
Aku menggores tiga baris itu bulan Oktober.
Bukan untuk apa-apa. Aku cuma butuh menuliskannya di suatu tempat yang bukan kepalaku, karena kepalaku sudah terlalu penuh dan karena aku takut satu hari aku akan salah menghitung dan dua orang akan bertabrakan gara-gara aku.
09.50 — 10.10 12.40 — 12.55
Lalu bulan November, waktu Tamara datang, aku menambahkan yang ketiga.
15.10 — 16.00
Dan tanda tambah kecil di sebelahnya, karena tanganku waktu itu sudah lelah dan karena aku tidak yakin akan ada yang keempat.
Aku jongkok dan menyalakan senter ponsel.
Dan aku melihatnya.
Di bawah tiga baris itu, ada baris keempat.
Digores baru. Semennya masih terang di dalam alurnya.
Dan tulisannya kacau — tiga tulisan tangan berbeda, saling menimpa, jelas dikerjakan bergantian oleh tiga orang yang tidak tahu cara menggores semen:
00.00 — 24.00
Itu saja.
Tidak ada nama. Tidak ada apa-apa lagi.
Aku jongkok di sana dengan senter ponsel di tangan.
Aku ingin mencatat, untuk diriku sendiri, apa yang terjadi berikutnya, karena aku tidak akan menceritakannya ke siapa pun dan karena kalau tidak kutulis di suatu tempat maka aku akan mulai berpikir itu tidak terjadi.
Aku menghitung.
Refleks. Kebiasaan. Otakku melakukannya sebelum aku sempat menghentikannya.
00.00 — 24.00.
Dua puluh empat jam. Seribu empat ratus empat puluh menit.
Dibagi tiga: empat ratus delapan puluh menit per orang.
Dan aku sudah setengah jalan menyusun jadwal barunya — siapa dapat pagi, siapa dapat siang, bagaimana supaya tidak bertabrakan — sebelum aku berhenti.
Karena mereka tidak membaginya.
Itu yang tidak kumengerti selama beberapa detik, dan itu yang akhirnya kumengerti, dan itu yang membuatku duduk di lantai semen atap gudang jam dua belas lewat malam hari Minggu.
Mereka tidak menulis tiga baris.
Mereka menulis satu baris, bertiga, saling menimpa, tanpa nama.
Selama empat bulan aku menghabiskan dua puluh menit sehari untuk memastikan setiap orang mendapat bagian penuh, karena aku tahu persediaannya habis, karena aku tahu aku akan pergi, karena aku ingin masing-masing punya sesuatu yang utuh untuk diingat.
Dan jawaban mereka adalah menolak dijatah.
Aku menangis di atas atap gudang jam dua belas lewat, sendirian, di sekolah yang sudah bukan sekolahku lagi.
Aku tidak tahu berapa lama.
Aku tidak menghitungnya.
Itu satu-satunya hal dalam tiga tahun terakhir yang tidak kuhitung, dan aku baru menyadarinya keesokan paginya, dan kesadaran itu membuat sesuatu di dadaku terasa seperti retak lagi.
Aku pulang jalan kaki. Empat puluh menit.
Di gang, lampu tiang ketiga masih mati. Delapan langkah yang harus dihafal dalam gelap.
Lampu depan rumah menyala. Nenek tidak menungguku — dia sudah tidak sanggup duduk di kursi rotan sampai malam — tapi lampunya tetap menyala, karena dia menyalakannya sebelum tidur, setiap hari, selama tiga tahun.
Aku berdiri di depan pagar.
Dan aku menoleh ke rumah sebelah.
Teras itu kosong. Jam satu pagi. Tentu saja kosong.
Aku berdiri di sana memandanginya selama mungkin dua menit.
Dan aku menghitung — sekali lagi, terakhir kali malam itu — berapa lama Sekar Widyaningsih akan duduk di teras itu menungguku lewat kalau aku pergi tanpa memberi tahu.
Jawabannya tidak keluar.
Untuk pertama kalinya sejak umur sebelas tahun, aku memasukkan angka ke dalam kepalaku dan tidak ada apa pun yang keluar dari sisi lain.
Dan itu — bukan atap, bukan goresan, bukan nenek yang bilang maaf — itu yang membuatku sadar bahwa sesuatu di dalam diriku sudah rusak dan bahwa aku sudah tidak bisa memperbaikinya dengan cara yang biasa.
Senin pagi, aku ke percetakan jam delapan.
“Pak.”
“Hm.”
“Saya mau ngomong.”
Pak Har meletakkan gelasnya.
Dan aku mengucapkan tiga kalimat yang sudah kususun selama sembilan hari, dan aku mengucapkannya dengan lancar, karena aku sudah melatihnya di kepala kira-kira empat ratus kali.
Dia mendengarkan sampai habis.
Lalu dia mengangguk-angguk pelan, dan menyeruput kopi yang tinggal ampas, dan berkata:
“Kapan?”
“Sabtu.”
“Ibumu tau?”
“Sudah saya hubungi.”
“Nenekmu?”
“Belum.”
Dia mengangguk lagi.
Dan tidak menanyakan apa pun tentang sekolah, tentang tunggakan, tentang uang, tentang kenapa — karena Pak Har tidak pernah bertanya hal yang jawabannya sudah dia ketahui, dan itu satu-satunya alasan aku sanggup berdiri di sana pagi itu.
“Dhik.”
“Ya, Pak.”
“Sabtu jam berapa?”
“Kereta jam sebelas.”
“Ya udah,” katanya. “Sana kerja. Mesin tiga bunyinya beda lagi.”
Aku menyalakan mesin tiga dan mengangkat rim pertama dan meletakkannya lurus.
Kertas yang ditaruh lurus tidak akan menyangkut.
Aku bekerja sampai jam sepuluh malam, dan aku pulang, dan aku memijat kaki nenek dua puluh menit, dan aku berbaring di kasur lantai kamar sebelah dan memasang earphone.
Dua-duanya. Kiri dan kanan.
Aku menekan play.
Sembilan lagu, dari awal sampai habis, dua puluh sembilan menit dua belas detik.
Baterainya turun sembilan persen.
Aku membiarkannya.
Ada satu hal lagi yang harus kutulis, dan aku menuliskannya terakhir karena aku menundanya sepanjang malam.
Hari Selasa, aku ke sekolah untuk terakhir kalinya.
Bukan untuk masuk kelas. Untuk mengembalikan empat buku paket pinjaman perpustakaan dan menandatangani satu lembar surat di ruang TU.
Bu Ratna yang melayani.
“Andhika Pratama, sebelas IPA tiga?”
“Iya, Bu.”
“Tanda tangan di sini.”
Aku menandatanganinya.
“Ini nanti diproses ya. Kalau nanti mau balik lagi, bawa surat ini.”
“Iya, Bu.”
“Sayang lho, Nak. Nilai kamu bagus.”
Aku tidak menjawab.
Dan Bu Ratna, yang tidak tahu apa-apa, yang sudah tiga puluh tahun mengurus berkas siswa dan sudah melihat ratusan anak menandatangani lembar yang sama, berkata sesuatu dengan nada paling biasa di dunia sambil merapikan mapnya:
“Ya udah. Hati-hati ya.”
Dan aku keluar dari ruang TU, dan aku berjalan di koridor lantai satu, dan aku lewat depan papan pengumuman tempat daftar anggota ekskul ditempel.
Lalu aku lewat depan kelas sebelas IPA tiga.
Bagas duduk di sana, di sebelah kursi yang biasa kududuki, sedang bicara dengan seseorang sambil tertawa.
Aku tidak masuk.
Aku sudah bilang terima kasih hari sebelumnya, dan dia bertanya untuk apa, dan aku tidak menjawab.
Kalau aku masuk lagi hari itu, aku harus menjawab.
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00 reading
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu