← Earphone Sebelah Kiri

Chapter One

Tempat yang Tidak Ada di Denah

POV: Andhika


Mesin pemotong kertas di percetakan Pak Har berbunyi tiga kali sebelum berhenti sendiri. Itu bukan kerusakan. Itu kebiasaan mesin tua yang sudah dua puluh tahun dipakai dan tidak pernah diganti karena masih bisa dipakai, dan di tempat ini “masih bisa dipakai” adalah alasan yang cukup untuk apa pun.

Aku menurunkan rim terakhir dari bak pikap, menumpuknya di sudut, lalu melirik jam tangan.

02.14.

Berarti tiga jam empat puluh enam menit sebelum aku harus berdiri di halte. Kalau aku tidur sekarang, dapat tiga jam. Kalau aku mandi dulu, dua jam empat puluh. Kalau aku makan dulu—

Tidak. Lewati yang itu.

“Dhik.”

Pak Har berdiri di ambang pintu belakang, memegang gelas kopi yang isinya tinggal ampas. Dia tidak pernah menghabiskan kopinya. Setiap malam ada seperempat gelas yang tersisa dan setiap pagi ada semut di sana, dan setiap malam berikutnya dia menuangkan kopi lagi ke gelas yang sama.

“Ya, Pak.”

“Besok Selasa.”

“Iya, Pak.”

Dia mengangguk sekali, lalu masuk lagi. Itu seluruh percakapan kami malam itu. Aku tidak tahu apa maksudnya dan aku tidak bertanya. Pak Har memang begitu. Kadang dia bilang sesuatu yang kelihatannya tidak berarti apa-apa, dan aku baru paham dua minggu kemudian.

Besok Selasa. Selasa artinya orderan brosur sekolah dasar, artinya mesin besar dinyalakan pagi-pagi, artinya kalau aku datang jam empat sore aku akan langsung disuruh berdiri di sana sampai malam.

Aku merapikan tumpukan rim terakhir supaya sisinya rata. Tidak ada yang menyuruhku. Tapi kalau sisinya rata, besok pagi orang yang mengangkatnya tidak perlu menyusun ulang, dan orang yang mengangkatnya besok pagi kemungkinan besar adalah aku.

Banyak hal yang kulakukan bukan karena rajin. Karena aku sudah menghitung siapa yang akan repot nanti, dan biasanya jawabannya aku.

Aku menyapu serpihan kertas di bawah mesin, memasukkannya ke karung, lalu mencuci tangan di keran belakang. Airnya dingin. Tanganku bau tinta, dan bau tinta itu tidak hilang dengan sabun apa pun yang dijual di warung; dia hilang sendiri sekitar jam sepuluh pagi, kira-kira bersamaan dengan jam istirahat pertama.

Aku menurunkan pintu rolling door setengah, menyelinap keluar, lalu menurunkannya sampai bawah dari luar. Gang di belakang pasar sudah sepi. Lampu di tiang ketiga mati sejak bulan lalu, jadi ada delapan langkah yang harus kuhafal dalam gelap. Aku hafal.

Di ujung gang, kucing yang biasa ada di atas tutup got sudah ada di tempatnya. Dia tidak pernah mendekat dan tidak pernah lari. Kami sudah tiga tahun begitu.

Di rumah, lampu ruang depan masih menyala.

Aku berhenti sebentar di depan pintu.

Nenek selalu bilang dia tidak menungguku. Dia bilang dia cuma belum mengantuk. Dia sudah bilang begitu selama tiga tahun, setiap malam, dan aku sudah pura-pura percaya selama tiga tahun, setiap malam. Kami berdua tahu. Tidak ada yang membahasnya. Itu semacam kesepakatan.

“Sudah pulang,” katanya dari dalam, sebelum aku sempat mengetuk.

“Sudah, Nek.”

“Ada nasi di magic com.”

“Sudah makan tadi, Nek.”

Aku belum makan. Tapi kalau aku bilang belum, dia akan bangun, dan kalau dia bangun dia akan berdiri terlalu lama, dan kalau dia berdiri terlalu lama kakinya akan bengkak lagi besok pagi dan aku harus memijatnya sebelum berangkat sekolah, dan itu dua puluh menit yang tidak ada di jadwal.

Bukan aku tidak mau memijat. Aku selalu mau.

Cuma dua puluh menit itu harus diambil dari suatu tempat, dan satu-satunya tempat yang tersedia adalah tidurku, dan tidurku sudah tiga jam.

Aritmatika seperti ini sudah kulakukan sejak umur sebelas. Aku tidak lagi merasa itu berat. Itu cuma penjumlahan.

Aku masuk. Nenek duduk di kursi rotan yang dudukannya sudah melengkung mengikuti bentuk badannya, dengan televisi menyala tanpa suara. Dia selalu mengecilkan volumenya sampai nol kalau sudah lewat jam sebelas, supaya tidak mengganggu tetangga. Tetangga kami tidur pakai kipas angin yang bunyinya lebih keras dari televisi mana pun. Aku pernah bilang begitu. Dia tetap mengecilkannya sampai nol.

“Kakimu gimana, Nek?”

“Nggak apa-apa.”

“Kelihatan bengkak.”

“Itu memang bentuknya dari dulu.”

Bukan. Aku pernah melihat foto pernikahannya. Tapi ada percakapan yang tidak ada gunanya dimenangkan, dan ini salah satunya.

Aku jongkok, mengangkat kakinya sedikit, dan meletakkan bantal kecil di bawahnya. Dua menit. Itu masih di dalam anggaran.

“Dhik.”

“Ya.”

“Kemarin ada surat lagi.”

Tanganku berhenti sepersekian detik di atas bantal, lalu lanjut merapikan.

“Iya, sudah saya baca.”

“Kenapa katanya?”

“Biasa. Administrasi.”

Dia diam. Nenek tidak sekolah tinggi tapi dia tidak bodoh, dan itu dua hal yang orang sering kira sama. Dia tahu apa isi surat berkop sekolah yang datang dua kali dalam satu bulan.

“Nek, itu urusan saya.”

“Ya.”

“Nenek nggak usah mikirin.”

“Ya,” katanya lagi.

Dan dia tidak bertanya lagi, karena dia juga sudah menghitung sesuatu dengan caranya sendiri, dan salah satu hasil hitungannya adalah bahwa bertanya lebih jauh hanya akan membuat cucunya berbohong lebih rapi.

Aku matikan televisinya. Aku matikan lampu depan.

“Tidur, Nek.”

“Kamu duluan.”

“Nanti.”


Bel masuk berbunyi jam 07.00 dan aku sudah duduk di kursi paling belakang, baris paling pinggir, sejak 06.42.

Ini bukan kerajinan. Ini karena angkot jam segitu lebih kosong dan aku bisa duduk, dan kalau aku bisa duduk aku bisa tidur dua puluh menit di jalan.

“Ndhik.” Bagas menjatuhkan tasnya di meja sebelah dengan bunyi yang tidak perlu. “Lo tau nggak semalem—”

“Nggak.”

“Gue belom cerita.”

“Berarti nggak.”

Dia diam sebentar, lalu tertawa. Bagas selalu tertawa untuk hal-hal yang menurutku bukan lelucon, dan itu salah satu alasan kenapa dia satu-satunya orang di kelas ini yang masih mengajakku bicara setelah satu setengah tahun.

“Serius. Semalem Tamara upload story, terus—”

“Bagas.”

“Iya?”

“Gue nggak punya kuota.”

Dia diam lagi. Kali ini agak lebih lama.

“Oh iya,” katanya akhirnya. “Sori.”

Lalu dia lanjut cerita, karena Bagas tidak butuh pendengar, dia cuma butuh seseorang yang tidak pergi. Dan aku tidak akan pergi. Ke mana juga.

“Eh tapi serius deh,” katanya, karena Bagas selalu punya “eh tapi serius deh” dan itu tidak pernah menandai sesuatu yang serius. “Lo tuh sebenernya bisa nggak sih pinter?”

“Maksudnya?”

“Nilai lo tuh aneh. Ulangan Fisika kemarin lo delapan puluh dua. Tapi tugas lo nggak pernah dikumpulin.”

“Tugasnya butuh dicetak.”

“Ya cetak.”

“Iya.”

“Ya makanya cetak.”

Aku menoleh ke dia. Dia menatapku balik dengan wajah orang yang benar-benar tidak paham dan benar-benar tidak sedang mengejek, dan itu kombinasi yang paling sulit dihadapi karena tidak ada yang bisa kumarahi.

“Iya, nanti,” kataku.

“Lo tuh ‘nanti’ mulu.”

“Hm.”

Aku membuka buku catatan. Halaman 41. Kemarin malam, sebelum berangkat kerja, aku sempat melihat buku Matematika Peminatan kelas 11 lewat di meja fotokopi. Pesanan dari sekolah lain, dua ratus halaman, mesin butuh sekitar dua puluh menit.

Dua puluh menit cukup.

Aku menuliskan soal nomor 14 sampai 22 dari ingatan, lengkap dengan angkanya, lalu mulai mengerjakan.

Pak Guru masuk. Menerangkan. Menulis di papan.

Soal nomor 17 di papan itu sama persis dengan soal nomor 17 di kepalaku, termasuk salah cetak di bagian penyebut yang belum diperbaiki penerbit.

Aku tidak mengangkat tangan.

Mengangkat tangan artinya ditanya dari mana aku tahu. Ditanya dari mana aku tahu artinya menjelaskan tentang percetakan. Menjelaskan tentang percetakan artinya tiga puluh orang di ruangan ini tahu aku bekerja malam.

Ada hitungannya juga untuk hal seperti itu. Dan hasilnya selalu sama: tidak sepadan.


Jam istirahat pertama, aku berjalan ke belakang laboratorium.

Ada gudang tua di sana. Dulunya tempat menyimpan alat olahraga, sebelum sekolah membangun gudang baru yang lebih dekat lapangan. Yang ini ditinggalkan. Pintunya digembok, catnya mengelupas, dan tidak ada satu pun murid yang punya alasan untuk lewat sini kecuali kalau tersesat.

Di sisi kanannya ada tangga besi.

Tangga itu tidak ada di denah sekolah. Aku pernah melihat denahnya — dipajang di dekat ruang TU, dibuat tahun 2009, dan gudang ini digambar sebagai kotak polos tanpa akses. Orang yang menggambarnya mungkin lupa. Atau mungkin tangga besi ini dipasang setelahnya oleh tukang yang tidak melapor ke siapa-siapa.

Anak tangga kelima berbunyi. Anak tangga kedelapan longgar sedikit di sisi kiri. Yang lain aman.

Aku naik.

Atapnya datar, dilapisi semen kasar, dengan tembok pembatas setinggi pinggang di tiga sisi. Sisi keempat menghadap ke belakang sekolah — pohon-pohon, lalu tembok, lalu atap-atap rumah, lalu langit.

Tidak ada yang bisa melihat ke sini kecuali dari lantai tiga gedung sebelah, dan lantai tiga gedung sebelah adalah ruang laboratorium bahasa yang sudah rusak sejak tahun lalu.

Pertama kali aku naik ke sini adalah hari kelima aku masuk kelas sepuluh, waktu aku mencari tempat untuk tidur dua puluh menit dan menemukan bahwa satu-satunya tempat yang tidak ditanyai orang adalah tempat yang tidak dikunjungi orang.

Sejak itu, ini kantorku.

Aku duduk di sudut yang biasa. Punggung ke tembok. Kaki lurus. Sudut timur laut — kena bayangan sampai jam satu, terlindung dari angin yang datang dari arah lapangan.

Kotak bekalku warna biru, tutupnya sudah retak di satu sisi dan direkatkan dengan lakban bening yang kuganti setiap dua bulan. Isinya nasi, tempe goreng dua potong, dan sambal.

Isinya selalu itu.

Bukan karena aku suka. Karena itu yang paling murah per kalori, dan karena nenek bisa membuatnya sambil duduk.

Aku mengeluarkan earphone dari saku.

Kabelnya sudah dililit lakban di dua titik. Yang sebelah kanan sudah mati sejak Februari — bukan mati total, kadang bunyi kalau kabelnya ditekuk dengan sudut tertentu, tapi bunyinya seperti radio di dalam ember dan itu lebih mengganggu daripada diam.

Aku memasang yang kiri.

Yang kanan tetap kupasang juga. Bukan untuk didengar. Untuk dilihat.

Orang tidak mengajak bicara orang yang sedang pakai earphone. Itu aturan tidak tertulis yang berlaku di mana-mana, dan itu satu-satunya aturan sosial yang pernah menguntungkanku.

Aku menekan play.

Playlist-nya sembilan lagu. Sudah sembilan sejak tiga tahun lalu.

Aku tahu urutannya. Aku tahu di detik ke berapa lagu keempat ada suara gitar yang sedikit fals dan tidak pernah diperbaiki. Aku tahu lagu ketujuh punya jeda dua detik di tengah yang selalu membuatku mengira earphone-nya mati juga.

Kalau ada yang bertanya, aku bilang ini playlist favoritku.

Itu bukan kebohongan. Ini memang favoritku.

Cuma bukan karena aku memilihnya. Karena ini yang ada.

Lagu pertama mulai. Aku makan.

Suapan keempat, aku melirik jam tangan lagi.

09.53.

Dan tanpa kuminta, kepalaku mulai menghitung — kebiasaan yang tidak bisa kumatikan, seperti napas.

Sisa uang di dompet: dua puluh tiga ribu. Upah minggu ini, kalau Selasa besar: seratus delapan puluh. Obat nenek yang harus ditebus Kamis: seratus dua puluh lima. Sisa: tujuh puluh delapan.

Lalu ada angka lain. Angka yang tidak pernah kutulis di mana pun karena aku tidak butuh menulisnya. Angka yang sudah kuhitung ulang setiap malam sejak surat kedua datang bulan lalu, dari sudut mana pun, dengan asumsi paling optimis yang bisa kubuat.

Aku menghitungnya lagi sekarang, sambil mengunyah tempe.

Hasilnya sama.

Selalu sama.

Aku berhenti mengunyah sebentar, memandang atap-atap rumah di kejauhan, lalu melanjutkan.

Dari sini aku bisa melihat gang kami. Bukan rumahnya — rumahnya tertutup pohon jambu milik tetangga sebelah — tapi atap sengnya, yang warnanya beda sendiri karena diganti tiga tahun lalu waktu bocor.

Orang bilang kalau kamu melihat sesuatu dari jauh, masalahnya jadi terlihat kecil.

Menurutku itu tidak benar. Dari sini, masalahnya terlihat persis seukuran aslinya. Yang berubah cuma aku, yang jadi lebih kecil.

Tidak apa-apa. Aku sudah tahu ini sejak awal. Yang sudah dihitung tidak perlu ditakuti; dia cuma perlu dijalani sampai selesai.

Dan aku punya waktu.

Aku menghitung itu juga, dan angkanya keluar dengan cepat, karena angka ini yang paling sering kuhitung dari semuanya.

Seratus dua belas hari.

Lagu ketiga mulai di telinga kiriku. Angin naik dari arah pohon.

Aku menghabiskan tempe potong kedua, menutup kotak bekal, dan bersandar ke tembok.

Seratus dua belas hari itu masih banyak, pikirku.

Cukup untuk apa saja.