Chapter Forty Two
Kelima Kalinya
POV: Sekar
Aku tidak ke stasiun.
Aku sudah menjelaskannya ke Renata lewat pesan dan penjelasanku terdengar bijaksana dan dewasa dan aku bahkan hampir mempercayainya sendiri:
kalau dia mau aku ada di stasiun, dia bakal ngasih tau aku jamnya.
Itu benar.
Itu juga bukan alasannya.
Alasannya adalah bahwa aku sudah bertemu dengannya jam enam pagi.
Aku bangun jam lima kurang karena aku tidak pernah benar-benar tidur malam itu, dan aku duduk di teras dengan selimut sampai matahari naik.
Dan jam enam lewat sepuluh, pagar rumah sebelah berbunyi.
Dua tas. Ransel di punggung, tas jinjing kain di tangan kiri. Kursi roda dilipat, disandarkan di dinding, menunggu dibawa nanti.
Dia melihatku.
Aku sudah duduk di teras itu selama sepuluh tahun dan dia sudah melihatku di sana ribuan kali, dan pagi itu dia melihatku dan berhenti.
“Kar.”
“Pagi.”
“Kamu bangun pagi.”
“Aku nggak tidur.”
Dia meletakkan tas jinjingnya di lantai gang.
Dan dia berjalan ke pagar rumahku, dan berdiri di sana, dan tidak masuk.
Kami punya waktu.
Aku ingin menekankan ini, karena aku sudah menghitungnya berkali-kali sejak hari itu, dan angkanya tidak pernah berubah:
Kereta jam sebelas. Stasiun empat puluh menit dari sini. Berangkat jam sembilan paling lambat.
Jam enam lewat sepuluh sampai jam sembilan.
Dua jam lima puluh menit.
Aku punya dua jam lima puluh menit, dan aku menghabiskannya seperti ini:
“Nenek gimana?”
“Udah bisa duduk sendiri.”
“Bagusnya.”
“Iya.”
Hening.
“Kamu udah sarapan?”
“Belum.”
“Aku bikinin?”
“Nggak usah, Kar.”
“Bentar aja.”
“Kar.”
“Ya udah.”
Hening lagi.
Jam enam lewat dua puluh lima, aku masuk ke dalam dan mengambil dua bungkus nasi uduk yang sudah kubeli jam lima pagi dari warung Bu Nah, yang sudah kusiapkan sejak malam sebelumnya, yang sudah kupikirkan selama tiga hari.
Aku menyerahkannya.
“Buat di kereta.”
Dia melihatnya.
“Kar—”
“Kalau kamu nolak,” kataku, “aku buang ke got.”
Dan dia mengambilnya.
Dan dia tersenyum — sedikit sekali, satu milimeter di sudut mulut, hal yang butuh sepuluh tahun untuk kupelajari cara mendeteksinya — dan berkata:
“Kamu belajar dari Tamara.”
“Iya.”
“Ternyata efektif.”
“Iya.”
Jam tujuh, ibuku keluar dan menyapa dan menyalami dan bertanya kabar nenek dan berkata hati-hati ya, Nak dan masuk lagi.
Jam setengah delapan, Bu Nah lewat dan berhenti dan bicara empat menit tentang harga cabai.
Jam delapan kurang, kucing di atas tutup got turun dan lewat di antara kami dan tidak dielus siapa pun.
Jam delapan lewat lima, dia duduk.
Sebelum itu, jam tujuh lewat empat puluh, ada satu percakapan yang harus kutulis.
“Kar.”
“Hm.”
“Boleh titip sesuatu?”
Aku menoleh cepat.
Karena orang ini tidak pernah menitipkan apa pun kepada siapa pun seumur hidupnya, dan karena aku sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu bahwa kalimat itu berarti sesuatu yang besar.
“Boleh,” kataku. “Apa?”
Dan dia membuka ransel, dan mengeluarkan sesuatu, dan menyerahkannya.
Kotak bekal plastik warna biru.
Tutupnya retak di satu sisi, direkatkan dengan lakban bening yang masih baru — diganti belum lama, mungkin minggu lalu, karena dia mengganti lakban itu setiap dua bulan selama entah berapa tahun.
“Ini—”
“Nenek yang ngasih. Waktu saya kelas satu SMP.”
Aku memegangnya dengan dua tangan.
“Kenapa dititipin ke aku?”
“Di sana nggak kepake.”
“Kenapa nggak kepake?”
Dan dia mengangkat bahu sedikit, dan berkata:
“Nenek udah nggak bisa masak.”
Aku menunduk ke kotak itu.
Dan aku menyadari — dengan sangat pelan, dengan cara yang membuat tenggorokanku menutup — bahwa orang ini tidak sedang menitipkan kotak bekal kepadaku.
Dia sedang membuang sesuatu yang tidak sanggup dia buang, dan dia memilih tempat yang paling aman untuk meletakkannya.
“Aku simpen,” kataku.
“Nggak usah disimpen. Dipake aja.”
“Aku simpen,” kataku lagi.
Dia tidak berdebat.
Jam delapan lewat lima, dia duduk.
Di lantai teras. Punggung ke tiang. Seperti dua minggu lalu, seperti bulan lalu, seperti setiap malam selama sepuluh tahun ketika aku duduk di sini dan dia lewat dan kami mengucapkan tiga kalimat yang sama.
Aku duduk di sebelahnya.
Dan aku mengeluarkan tanganku, telapak ke atas, di antara kami.
Dia meletakkan tangannya.
Sepuluh jari. Dan dia menggenggam balik tanpa jeda sedetik pun, karena itu sudah bukan hal yang harus diputuskan lagi sejak bulan Januari.
Kami duduk seperti itu selama tiga puluh dua menit.
Aku menghitungnya.
Ini yang aku punya.
Tiga puluh dua menit, tangan digenggam, di teras rumahku sendiri, dengan orang yang akan naik kereta dalam dua jam.
Dan selama tiga puluh dua menit itu, aku mengatakan hal-hal berikut:
“Nanti kabarin ya.”
“Iya.”
“Kalau ada sinyal.”
“Iya.”
“Nenek jangan dikasih makan yang asin.”
“Iya.”
“Kamu juga makan.”
“Iya.”
Dan aku tidak mengatakan satu pun hal yang sebenarnya ingin kukatakan.
Aku mau menuliskan daftarnya, karena aku sudah menyusunnya selama dua tahun dan aku sudah hafal urutannya.
Jangan pergi.
Aku suka kamu. Dari kapan aku nggak tau, karena nggak ada mulainya, karena aku cuma nggak pernah nggak.
Kamu boleh nginep di rumah aku. Ibu aku bakal setuju. Aku udah nanya. Kemarin. Ibu aku bilang boleh.
Aku punya tabungan. Bukan buat bayarin kamu. Buat tiket, biar kamu bisa balik sekali-sekali.
Aku nggak akan berhenti nungguin di teras.
Aku sayang kamu.
Enam kalimat.
Dan aku punya tiga puluh dua menit, dan aku tidak mengucapkan satu pun.
Jam delapan lewat tiga puluh tujuh, dia melirik jam tangannya.
Aku merasakannya sebelum aku melihatnya — tangannya bergerak sedikit di dalam genggamanku.
“Kar.”
“Hm.”
“Saya harus—”
“Iya.”
Dan aku melepaskan tangannya.
Aku yang melepaskan.
Aku ingin mencatat itu, karena selama sepuluh tahun aku selalu yang melepaskan lebih dulu — di anak tangga terakhir, di lantai koridor, di tikungan — dan aku selalu mengira itu artinya aku yang punya kendali.
Pagi itu aku melepaskan tangannya untuk terakhir kalinya dan aku baru mengerti apa artinya:
Aku selalu melepaskan lebih dulu supaya tidak pernah harus merasakan bagaimana rasanya dilepaskan.
Dia berdiri. Dia mengambil tas jinjingnya.
Dan di ambang pagar rumahnya, membelakangi matahari yang sudah naik, dia berhenti dan berkata:
“Kar.”
“Ya?”
Dan dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga sama sekali.
Dia mengeluarkan earphone dari saku.
Kabel yang dililit lakban di dua titik, digulung dua lingkaran dengan ujung diselipkan, seperti selalu.
Dia mengurainya. Dia melepas yang sebelah kiri.
Dan dia menyerahkannya kepadaku.
“Yang kiri buat kamu,” katanya.
Aku memasangnya.
Dia memasang yang kanan — yang rusak, yang tidak berbunyi, yang tidak pernah dia ganti — dan dia menekan sesuatu di ponselnya.
Lagu keempat mulai. Yang ada suara gitar agak fals di awalnya.
Kami berdiri di gang itu, di dua sisi pagar, dengan satu kabel pendek di antara kami sehingga aku harus melangkah maju setengah langkah.
Tiga menit empat puluh satu detik.
Dan waktu lagunya habis, dia melepas earphone-nya, dan mengambil yang kiri dari telingaku, dan menggulungnya dua lingkaran dengan ujung diselipkan, dan memasukkannya ke saku.
“Saya berangkat.”
“Iya.”
“Makasih ya, Kar.”
“Buat apa?”
Dan dia berkata:
“Buat semuanya.”
Aku punya satu detik lagi di sana.
Satu detik. Mungkin dua.
Enam kalimat di kepalaku, hafal, urut, sudah disusun selama tiga hari.
Aku membuka mulut.
Dan yang keluar adalah:
“Hati-hati ya.”
Dia masuk ke rumahnya.
Aku masuk ke rumahku.
Dan aku duduk di kamar dan menghitung, karena aku menghitung semuanya sekarang, dan angkanya keluar dengan sangat jelas:
Umur delapan, di depan warung Bu Nah, waktu aku menangis dan tidak bisa menjelaskan kenapa. Dia bertanya. Aku bilang nggak apa-apa. Satu.
Kelas delapan, kerja bakti, halaman belakang sekolah. Aku mendengar. Aku diam. Dua.
Bulan Oktober, surat kedua dari sekolah yang kuambil dari pagar. Aku tidak buka. Aku tidak bilang. Dua bulan. Tiga.
Bulan Desember, di atas gudang, waktu dia bilang capek dan aku menyuruhnya merahasiakannya dari dua orang lain. Empat.
Dan pagi ini.
Tiga puluh dua menit, tangan digenggam, enam kalimat yang sudah hafal.
Lima.
Lima kali dalam lima tahun.
Dan setiap kali aku punya alasan yang bagus, dan setiap kali alasan itu terdengar seperti melindungi, dan setiap kali aku tidak menyadari sampai bertahun-tahun kemudian bahwa yang kulindungi bukan dia.
Jam sebelas, aku duduk di teras.
Jam dua belas, masih.
Jam tiga sore, ibuku keluar dan duduk di sebelahku dan tidak mengatakan apa-apa selama sepuluh menit, karena itu keahliannya.
“Bu.”
“Hm.”
“Aku nggak ngomong apa-apa.”
“Ibu tau.”
“Aku punya dua jam lima puluh menit.”
“Ibu tau.”
Dan ibuku mengelus punggungku satu kali, dan berkata:
“Ya sudah. Besok kamu ngomong.”
“Besok dia udah nggak ada, Bu.”
“Ya besoknya lagi.”
“Bu—”
“Nduk.” Ibuku menoleh ke arahku. “Orang yang pergi itu bukan orang yang mati.”
Nomornya mati hari Kamis.
Aku menelepon setiap hari sejak Sabtu. Empat hari.
Hari Minggu berbunyi, tidak diangkat. Senin berbunyi, tidak diangkat. Selasa berbunyi. Rabu berbunyi.
Kamis, operator menjawab.
Nomor yang Anda tuju tidak terdaftar.
Kartu prabayar. Tidak diisi. Mati sendiri setelah masa tenggang.
Tidak ada yang memutuskannya. Tidak ada yang memblokir siapa pun.
Cuma sebuah nomor yang berhenti dibayari oleh orang yang memang tidak pernah punya uang untuk membayarinya.
Dan itu, ternyata, adalah cara paling sunyi di dunia untuk kehilangan seseorang.
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya reading
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu