← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Ten

Renovasi

POV: Tamara


“Gudangnya mau direnovasi.”

Aku melemparkan kalimat itu begitu kepalaku muncul di atas tangga, tanpa salam, tanpa apa-apa, karena aku sudah menahannya selama dua puluh jam dan aku bukan orang yang bisa menahan apa pun selama dua puluh jam.

Dia menoleh.

“Kata siapa?”

“Ada di papan pengumuman ruang OSIS.”

“Kamu masuk ruang OSIS?”

“Nggak. Aku liat di foto.”

“Foto apa?”

“Foto rapat. Di grup angkatan.” Aku menyeret tasku dan duduk. “Aku zoom pojoknya.”

Dia diam sebentar.

“Kamu zoom pojok foto rapat OSIS.”

“IYA.”

“Kenapa?”

“Ya— iseng.”

Itu bohong. Aku tidak iseng. Aku sedang scroll dan aku melihat foto itu dan sesuatu di sudutnya menarik mataku dan aku memperbesarnya dan aku menghabiskan empat puluh menit berikutnya membaca setiap kertas yang tertempel di papan itu satu per satu.

Aku tidak akan mengaku.

Yang juga tidak akan kuakui: aku menghabiskan jam pertama sampai jam ketiga hari itu dengan menyusun rencana.

Rencana A: minta Papa telepon sekolah. Papa punya kenalan di komite. Ditolak sendiri dalam dua menit karena kalau Papa telepon sekolah, Papa akan bertanya kenapa, dan aku harus menjelaskan bahwa aku peduli pada atap gudang.

Rencana B: bikin petisi. Ditolak karena tidak ada satu pun murid di sekolah ini yang tahu bahwa atap gudang itu bisa dinaiki, dan menjelaskannya berarti membocorkannya.

Rencana C: bicara ke Ketua OSIS.

Aku menahan Rencana C paling lama. Bukan karena buruk — justru karena itu yang paling masuk akal.

Aku menahannya karena membayangkan aku mendatangi Renata Claudya Larasati dan berkata “Kak, tolong jangan bongkar gudangnya, soalnya saya makan di sana” membuat seluruh isi perutku ingin pindah negara.

Jadi aku tidak melakukan ketiganya, dan aku naik ke atap dengan kalimat yang sudah menumpuk selama dua puluh jam.

“Jadi gimana?” tanyaku.

“Gimana apanya?”

“Ya gimana! Kalau direnovasi, ini nggak bisa dipake lagi.”

“Hm.”

“‘Hm’?”

“Ya udah, nggak bisa dipake lagi.”

Aku menatapnya.

Aku menunggu sesuatu — panik, kesal, apa saja. Tempat ini satu-satunya tempat aku bisa makan tanpa dihitung dan satu-satunya tempat dia bisa duduk tanpa ditanya, dan aku sudah menyiapkan tiga rencana untuk menggagalkan renovasi itu semalaman.

Dan dia bilang ya udah.

“Kamu nggak keberatan?”

“Keberatan.”

“Terus kenapa mukamu gitu?”

“Muka saya gimana?”

“Kayak orang yang baru dikasih tau besok libur.”

Sudut mulutnya bergerak satu milimeter. Aku sudah mulai bisa mendeteksinya sekarang, dan aku bangga pada diriku sendiri seperti orang yang berhasil memancing ikan langka.

“Kar—” Dia berhenti.

Berhenti total. Setengah kata.

“Apa?”

“Nggak,” katanya. “Kepleset.”

“Kepleset apa? Kamu mau ngomong apa tadi?”

“Nggak jadi.”

Dan dia menghadap depan lagi, dan aku duduk di sana dengan potongan satu suku kata di kepalaku yang tidak cocok dengan apa pun.

Kar.


Aku menghabiskan dua puluh menit berikutnya mengeluh tentang renovasi, tentang sekolah, tentang siapa pun yang punya ide bodoh untuk menyentuh satu-satunya gudang yang tidak mengganggu siapa-siapa.

Dia mendengarkan. Atau setidaknya dia tidak pergi, yang untuknya berarti hal yang sama.

“Tamara.”

“Apa.”

“Renovasinya bulan depan?”

“Iya. Kayaknya.”

“Berarti masih ada waktu.”

“Waktu buat apa? Buat sedih?”

“Buat dipake.”

Aku menoleh.

Dia sedang menghadap ke arah pohon-pohon, tangan di lutut, dan dia mengatakan itu dengan nada yang sama seperti dia mengatakan segala hal — datar, tenang, seperti membaca daftar belanja.

Tapi ada sesuatu di kalimat itu yang membuat perutku terasa aneh dan aku tidak tahu kenapa.

“Kamu tuh aneh,” kataku.

“Hm.”

“Orang normal tuh, kalau tempat favoritnya mau dibongkar, dia usaha.”

“Usaha apa?”

“Ya— protes. Bikin petisi. Ngomong ke guru.”

“Terus?”

“Terus mungkin nggak jadi dibongkar.”

“Mungkin.”

“Ya kan mungkin!”

Dia mengangguk pelan. “Iya. Mungkin.”

Lalu dia berkata sesuatu yang aku ulang-ulang di kepalaku sampai berminggu-minggu setelahnya:

“Tapi kalau ternyata tetep dibongkar, kamu udah keburu ngabisin waktunya buat marah.”


Aku tidak punya jawaban untuk itu.

Jadi aku melakukan hal yang selalu kulakukan kalau aku tidak punya jawaban, yaitu mengganti topik dengan sangat kasar.

“Kamu nggak pernah nanya apa-apa ya sama aku.”

“Udah pernah.”

“Kapan?”

“Waktu kamu bawa kantong plastik.”

“Itu kamu bilang talinya nekan. Itu bukan nanya.”

“Oh.”

“Nah.”

Dia berpikir sebentar.

“Kamu mau ditanya apa?”

“Ya— apa aja.”

“Oke.” Dia menoleh. “Kamu kenapa nggak pernah makan di kantin?”

Dan tiba-tiba aku menyesal.

“Kok kamu nanya itu.”

“Kamu suruh nanya.”

“Iya tapi—” Aku menarik lengan seragamku sampai menutupi buku jari. “Nanya yang gampang gitu lho.”

“Oke.” Jeda. “Kamu suka warna apa?”

“HAH?”

“Kamu bilang yang gampang.”

“Itu terlalu gampang!”

“Kamu susah.”

Aku tertawa. Keras. Dan aku menyadari, sedetik kemudian, bahwa tawaku barusan bukan tawa yang biasa kupakai di depan kamera Putri, dan bahwa aku sudah lupa kapan terakhir kali kedua tawa itu berbeda.

“Biru,” kataku akhirnya.

“Oke.”

“Kamu?”

“Nggak ada.”

“Semua orang punya warna favorit.”

“Saya enggak.”

“Kotak bekal kamu biru.”

Dia berhenti.

“Itu bukan dipilih,” katanya. “Itu yang ada.”

Aku menoleh cepat.

“Maksudnya?”

“Nggak apa-apa.”

“Maksudnya apa?”

Dia mengangkat bahu. “Kotaknya dikasih. Warnanya biru. Kalau warnanya ijo, ya ijo.”

“Dikasih siapa?”

“Nenek.”

“Nenek kamu?”

“Hm.”

Aku diam sebentar.

Ini informasi pertama tentang keluarganya yang keluar tanpa aku menggali, dan aku takut kalau aku bergerak terlalu cepat dia akan menutupnya lagi.

“Kamu tinggal sama nenek kamu?”

“Iya.”

“Papa mama kamu—”

“Tamara.”

“Iya?”

“Tanya yang gampang.”

Aku menelan pertanyaanku.

“...Nenek kamu bisa masak apa aja?”

Dan untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang lewat di wajahnya — bukan senyum, bukan lega, sesuatu yang lebih dekat ke terkejut.

“Banyak,” katanya. “Tapi tangannya sakit, jadi sekarang yang gampang-gampang aja.”

“Tempe.”

“Tempe.”

“Kamu suka tempe?”

“Enggak.”

Aku tertawa sampai batuk.

“Terus kenapa dimakan tiap hari?”

“Ya kan dibikinin.”

Dan dia mengatakan itu dengan wajah paling biasa di dunia, seperti orang yang menjelaskan bahwa air itu basah, dan aku berhenti tertawa lebih cepat dari yang kuinginkan.


Jam empat kurang, awan bergerak dan matahari langsung masuk dari sisi barat, dan atap ini berubah dari nyaman jadi panas dalam waktu tiga menit.

Aku menggeser posisi. Lalu menggeser lagi. Lalu menyerah dan bergeser ke sebelahnya, ke bagian yang masih kena bayangan tembok pembatas.

Dia tidak bergerak.

Aku duduk di sebelahnya — benar-benar di sebelahnya, bahu hampir bersentuhan — dan mengeluarkan ponselku.

“Liat nih.”

“Apa?”

“Foto anjing tetangga aku. Namanya Bakso.”

Dia menoleh sedikit untuk melihat layar. Tidak cukup.

Jadi aku melakukan sesuatu tanpa memikirkannya sama sekali.

Aku menyandarkan daguku ke bahunya, mengangkat ponsel di depan kami berdua, dan berkata, “Nih, dari sini keliatan.”

Dan dia membeku.

Bukan gerakan besar. Bukan menghindar. Tapi seluruh tubuhnya berhenti — bahunya, napasnya, semuanya — selama kira-kira dua detik.

Aku merasakannya. Dari daguku. Aku merasakan orang ini berhenti bernapas.

“...Anjingnya lucu,” katanya akhirnya.

“Kan.”

Aku tidak pindah.

Dia juga tidak.

Dan kami duduk seperti itu — daguku di bahunya, ponsel menyala di depan kami, foto anjing tetangga bernama Bakso — selama mungkin dua puluh detik, yang terasa seperti sesuatu yang jauh lebih panjang dan jauh lebih penting daripada dua puluh detik.

Lalu aku menegakkan kepala.

“Panas,” kataku, seperti orang idiot.

“Iya.”


Kami turun jam empat lewat sepuluh.

Di bawah tangga, dia berhenti dan melirik jam tangannya, dan aku sudah mulai membenci kebiasaan itu.

“Kamu tuh liat jam terus.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Kebiasaan.”

“Kebiasaan dari mana?”

Dia berjalan duluan. Aku menyusul, dan tanpa berpikir aku menarik ujung seragamnya dari belakang — dua jari, seperti kemarin, seperti waktu hujan — supaya dia melambat.

Dia melambat.

Dia selalu melambat. Setiap kali. Tanpa pernah berkomentar, tanpa pernah menoleh, seolah tarikan itu adalah tombol yang memang dipasang di punggungnya.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa aku sudah melakukannya empat kali.

Dan bahwa dia tidak pernah sekali pun melakukan hal serupa padaku.

Tidak menyentuh lenganku waktu menyeberang. Tidak menarikku waktu ada motor lewat. Tidak sekali pun, dalam sekian minggu, tangannya bergerak ke arahku lebih dulu.

Aku memperhatikan tangannya sekarang. Dia berjalan dengan kedua tangan di saku.

Selalu di saku.

“Andhika.”

“Hm.”

“Tangan kamu kenapa selalu di saku?”

Dia berhenti berjalan.

Setengah detik — dan aku sudah cukup lama duduk di atas gudang itu untuk tahu bahwa setengah detik dari orang ini adalah paragraf.

“Dingin,” katanya.

Jam empat sore. Bulan Oktober. Setelah hujan kemarin, iya, tapi hari ini matahari membakar atap sampai aku harus geser tempat duduk.

“Bohong.”

“Iya.”

Dan dia jalan lagi, dan aku tidak menariknya kali ini, karena aku tiba-tiba tidak yakin apakah aku boleh.


Malamnya, aku duduk di depan cermin sambil melepas jepit rambut, dan aku memikirkan hal yang salah lagi.

Bukan tentang bahunya, walaupun aku akan memikirkan itu nanti.

Yang kupikirkan adalah satu suku kata.

Kar.

Aku membuka ponsel. Aku mengetik di kolom pencarian grup angkatan, satu kata, dan menekan cari.

Empat puluh satu hasil.

Sekar Widyaningsih. XI IPS 2.

Foto pertamanya: seorang anak perempuan kecil dengan pipi bulat dan jepit dua sisi, sedang dipeluk dari belakang oleh tiga orang sekaligus di acara Class Meeting, tertawa ke arah kamera.

Aku menatap foto itu cukup lama.

Lalu aku scroll ke bawah, dan berhenti di foto kedua puluh, dan seluruh isi perutku berpindah tempat.

Foto itu diambil di gerbang belakang sekolah, dari jauh, jelas tidak sengaja — sudut foto aslinya untuk memotret spanduk ekskul.

Tapi di latar belakang, di trotoar, ada dua orang berjalan pulang.

Yang satu perempuan kecil dengan jepit dua sisi.

Yang satu memakai seragam abu-abu yang warnanya sudah pudar, dengan tangan di saku, berjalan setengah langkah di depan.

Aku memperbesar foto itu sampai buram.

Sekar Widyaningsih berjalan setengah langkah di belakangnya, dan tangannya terulur ke depan, dan jari-jarinya memegang sesuatu.

Dua jari.

Kelingking dan jari manis.

Aku menaruh ponselku telungkup di meja rias dan duduk memandangi bayanganku sendiri di cermin untuk waktu yang cukup lama.

Aku sudah menarik ujung seragamnya empat kali dan aku bangga pada empat kali itu seperti orang yang mengumpulkan piala.

Ada orang yang memegang tangannya di trotoar, di depan umum, tanpa alasan, seperti hal paling biasa di dunia.

Dan foto itu diambil delapan bulan lalu.