← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Sixteen

Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga

POV: Tamara


Aku naik jam dua lewat empat puluh delapan.

Dua belas menit lebih awal dari biasanya. Aku sudah menghitungnya — bukan karena aku suka menghitung, tapi karena kalau ada tiga orang yang naik ke tempat yang sama dan tidak pernah bertemu, berarti ada jeda, dan jeda itu pasti pendek.

Anak tangga kelima berbunyi.

Aku tidak melangkahinya. Aku tidak tahu harus melangkahinya.

Dan begitu kepalaku muncul di atas lantai atap, aku langsung tahu bahwa dua belas menit itu tebakan yang tepat.

Karena Andhika tidak ada.

Yang ada adalah seorang anak perempuan kecil dengan jepit rambut dua sisi, duduk di sudut timur laut — sudutnya, sudut Andhika — memeluk lutut, memandangi pohon.

Dia menoleh.

Kami saling menatap selama, kutebak, tiga detik.

Lalu dia berkata, dengan suara yang jauh lebih tenang dari yang kuduga:

“Kamu Tamara ya.”


Aku sudah menyusun sepuluh versi adegan ini di kepalaku selama tiga hari.

Di sembilan versi, aku yang bicara duluan.

Di sepuluh versi, aku menang.

Aku naik sepenuhnya. Aku berdiri di tengah atap dengan kantong plastik berisi empat bungkus di tangan, dan mulutku tidak mengeluarkan satu pun dari sepuluh kalimat yang sudah kulatih.

“...Kamu Sekar.”

“Iya.”

“Kamu tau nama aku.”

“Semua orang tau nama kamu.”

Dia mengatakannya tanpa nada apa pun. Bukan sindiran. Bukan pujian. Sekadar fakta, dengan cara yang mengingatkanku pada seseorang.

Aku duduk.

Bukan di sudut manapun. Di tengah, di lantai semen, dengan kantong plastik di pangkuan, seperti orang yang sedang menunggu antrean.


Kami diam selama hampir satu menit.

Aku, yang tidak pernah bisa diam lebih dari lima belas detik, diam selama satu menit penuh.

“Kamu ke sini jam berapa biasanya?” tanyaku akhirnya.

“Sepuluh.”

“Pagi?”

“Istirahat pertama.”

Aku mengangguk.

“Aku jam tiga.”

“Aku tau.”

Aku menoleh cepat. “Kamu tau?”

“Dari Senin kemarin.” Dia meluruskan kakinya. “Aku ngintipin dari balik tiang kayak orang gila.”

Dan entah kenapa, entah bagaimana, itu membuatku tertawa.

Bukan tawa yang bagus. Tawa yang keluar seperti napas tersedak.

“Aku juga,” kataku. “Aku zoom foto rapat OSIS sampe buram.”

Dia menoleh.

“Kenapa foto rapat OSIS?”

“Nggak penting.”

Dia tidak mendesak. Dia juga punya kebiasaan itu, ternyata.


“Aku pikir kamu bakal marah,” kataku.

“Kenapa marah?”

“Ya— aku naik ke sini.”

Sekar memeluk lututnya lebih rapat.

“Aku juga naik ke sini,” katanya. “Ini bukan punya aku.”

“Tapi kamu duluan.”

“Bukan.” Dia tersenyum sedikit, dan senyumnya bikin dia kelihatan sepuluh tahun. “Dia duluan. Dari kelas sepuluh. Kita berdua tamu.”

Aku membuka mulut untuk membantah dan tidak menemukan apa pun untuk dibantah, dan itu adalah perasaan yang mulai kubenci karena aku sudah dua kali mengalaminya bulan ini dan keduanya di atap ini.


“Boleh nanya nggak,” kataku.

“Boleh.”

“Kamu tetangganya?”

Dia mengangguk.

“Dari kapan?”

“Dari aku umur enam.”

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun, dan aku enam minggu.

Aku merasakan sesuatu yang panas naik dari perut, dan aku tahu persis apa itu, dan aku juga tahu bahwa kalau aku membiarkannya keluar sekarang aku akan mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditarik lagi.

Jadi aku menarik lengan seragamku sampai menutupi buku jari.

Dan Sekar melihat gerakan itu.

Aku tahu dia melihatnya, karena matanya bergerak ke tanganku dan kembali ke wajahku, dan sesuatu di ekspresinya melunak dengan cara yang membuatku ingin melempar sesuatu.

“Aku bukan pacarnya,” katanya.

“Aku nggak nanya.”

“Iya. Aku tau.”

“Aku nggak—”

“Tamara.”

Aku berhenti.

“Aku nggak lagi ngasih tau kamu buat nenangin kamu,” katanya. “Aku lagi ngasih tau kamu karena itu bener, dan karena kayaknya udah lama nggak ada yang bilang kalimat bener ke kamu.”

Aku menatapnya.

Anak ini tingginya seratus lima puluh dua sentimeter. Dia punya jepit rambut berbentuk pita. Setengah sekolah memperlakukannya seperti maskot.

Dan dia baru saja membaca isi kepalaku dari jarak tiga meter dengan ketepatan yang menakutkan.

“Kamu galak juga ya,” kataku.

“Aku nggak galak.”

“Kamu galak.”

“Aku cuma capek.”

Aku menoleh ke arahnya.

“Capek apa?”

“Capek jadi lucu.”

Dia mengatakannya sambil memandang pohon, tanpa nada mengeluh sama sekali, seperti orang yang menyebutkan jenis pekerjaannya.

“Kamu tau nggak,” lanjutnya, “sehari ada berapa orang yang ngelus kepala aku?”

“Berapa?”

“Dua puluh tiga. Rata-rata.”

“Kamu ngitung?”

“Seminggu penuh. Kelas sepuluh.” Dia mengangkat bahu. “Terus aku berhenti ngitung karena angkanya bikin aku pengen nangis di kamar mandi.”

Aku memandanginya.

Dan aku memikirkan Nayla yang mengangkat kamera setiap kali aku mengambil sepotong buah. Aku memikirkan Putri yang bilang “pantesan”. Aku memikirkan seluruh sekolah yang tahu tinggi badanku dan nama tiga mantanku dan tidak satu pun yang tahu bahwa aku makan tiga bungkus nasi di atas gudang.

“Dua puluh tiga,” kataku.

“Iya.”

“Punyaku nggak segitu.”

“Punya kamu beda.”

“Iya.”

“Tapi capeknya sama, kan?”

Dan aku tidak menjawab, karena kalau aku menjawab suaraku akan pecah, dan aku belum siap pecah di depan orang yang baru kukenal dua belas menit.


Kami diam lagi.

Aku membuka kantong plastik. Aku mengeluarkan satu bungkus dan menyodorkannya.

“Ini punya dia,” kataku. “Tapi ambil aja. Nanti aku beli lagi.”

Sekar melihat bungkus itu. Lalu melihat kantongnya.

“Kamu beli empat?”

“Iya.”

“Tiap hari?”

“Tiga kali seminggu.”

Dan ada sesuatu yang berubah di wajahnya. Bukan marah. Sesuatu yang lain, yang lebih rumit, yang membuatnya menunduk sebentar.

“Kamu ngasih dia makan,” katanya.

“Cuma satu bungkus.”

“Dia mau?”

“Nggak. Awalnya.” Aku mengangkat bahu. “Terus aku ancem mau buang ke bawah.”

Sekar tertawa.

Suaranya kecil dan tiba-tiba dan langsung berhenti, dan ketika berhenti, matanya sudah basah.

“Eh—” Aku panik. “Kok—”

“Nggak apa-apa.”

“Kok kamu nangis?”

“Nggak nangis.”

“KAMU NANGIS.”

“Aku nggak—” Dia menyeka mata dengan punggung tangan, cepat, marah pada dirinya sendiri. “Aku cuma. Aku udah lima tahun nggak pernah bisa maksa dia makan.”


Dan begitulah caranya dua orang yang seharusnya bermusuhan malah bertukar barang.

Aku memberinya satu potong yang kupunya.

“Dia nggak makan sore,” kataku. “Kotak bekalnya cuma dibuka jam sepuluh. Setelah itu nggak ada apa-apa sampai malem.”

Sekar diam.

“Kamu udah tau?”

“Aku curiga.” Suaranya pelan. “Aku nggak pernah berani mastiin.”

Dia memberiku satu potong yang dia punya.

“Dia kerja,” kata Sekar. “Percetakan, seratus meter dari rumah kita. Jam empat sore sampe jam sepuluh malem. Kadang sampe pagi.”

Aku menoleh.

“Setiap hari?”

“Setiap hari. Dari kelas satu SMP.”

Aku menghitung.

Aku menghitung dan aku berhenti menghitung karena angkanya tidak enak dan karena tanganku mulai dingin.

“Umur tiga belas,” kataku.

“Iya.”

“Dia umur tiga belas terus kerja sampe jam sepuluh malem.”

“Iya.”

“Terus sekolah.”

“Iya.”

Aku memandangi kantong plastik di pangkuanku, dengan tiga bungkus tersisa yang kubeli menggunakan uang saku yang jumlahnya tidak pernah kuhitung karena tidak pernah perlu.

“Aku ngajak dia jalan minggu lalu,” kataku. “Dia bilang ada urusan.”

“Iya.”

“Aku sempet kesel.”

Sekar tidak berkomentar.

Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kalau dia berkomentar.


Jam tiga kurang lima, Sekar berdiri.

“Aku turun.”

“Kenapa?”

“Jam tiga jamnya kamu.”

“Kamu nggak harus—”

“Bukan buat kamu,” katanya. “Buat dia.”

Dia menyampirkan tasnya dan berjalan ke tangga, lalu berhenti.

“Tamara.”

“Ya?”

“Ada satu lagi.”

“Apa?”

Sekar memegang pegangan besi dan menatap ke bawah, tidak ke arahku.

“Jam setengah satu,” katanya. “Ada orang lagi.”

Dan kepalaku, yang selama enam minggu ini sudah menyusun seluruh gambar tentang atap ini dan tentang dua perempuan yang naik ke sana, kehilangan bentuknya dalam satu detik.

“...Siapa?”

“Ketua OSIS.”

Aku berdiri.

“Renata?”

“Iya.”

“Renata Claudya Larasati?”

“Iya.”

Aku berdiri di tengah atap gudang dengan kantong plastik di tangan, dan aku merasakan lantai semen di bawah kakiku menjadi sedikit kurang padat dari sebelumnya.

“Berapa lama?” tanyaku.

“Nggak tau. Sebulan lebih, kayaknya.”

“Dia yang ngatur?”

“Iya.”

“Dia yang bikin kita nggak pernah ketemu.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Sekar sudah turun tiga anak tangga. Cuma kepalanya yang kelihatan.

“Karena kalau kita ketemu,” katanya, “salah satu bakal berhenti dateng.”

Kepalanya menghilang.

Anak tangga kelima berbunyi — dia tidak melangkahinya, sengaja, dan aku mengerti sepenuhnya kenapa.

Dan sembilan menit kemudian, ketika bunyi itu terdengar lagi dan Andhika muncul di atas tangga dengan tas di bahu dan tangan di saku, aku sudah duduk di tempat biasa dengan empat bungkus di pangkuanku dan wajah yang sudah kuatur selama sembilan menit penuh.

“Tamara.”

“Hm.”

Dia berhenti di ujung tangga.

Dia melihat ke sekeliling atap — ke sudut timur laut, ke lantai, ke tembok pembatas — dengan cara yang sangat cepat dan sangat biasa dan yang tidak akan disadari siapa pun kecuali orang yang sedang mencari-cari.

Lalu dia melirik jam tangannya.

“Kamu naik jam berapa?” tanyanya.

Dan aku, dengan senyum paling manis yang pernah kupasang seumur hidupku, menjawab:

“Jam tiga. Kayak biasa.”

Dia menatapku satu detik lebih lama dari yang perlu.

“Oke,” katanya.

Dan dia duduk di sudut timur laut — sudut yang dua puluh menit lalu ditempati seorang anak perempuan dengan jepit dua sisi yang menangis karena dia tidak pernah bisa memaksanya makan.

Aku menyodorkan satu bungkus.

“Ini punya kamu.”

“Hm.”

“Bukan sisa.”

“Iya.”

“Makan.”

Dan dia makan, dengan cepat seperti biasa, tanpa tahu bahwa satu jam yang lalu ada dua orang di atap ini yang menukar potongan-potongan tentang dirinya seperti orang menukar kartu.

Aku memandanginya makan.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku naik ke sini enam minggu lalu, aku tidak berkata apa-apa selama sepuluh menit penuh.

Bukan karena tidak ada yang mau kukatakan.

Karena ada terlalu banyak, dan semuanya adalah pertanyaan, dan aku baru saja belajar dari seseorang bahwa ada orang yang setiap pertanyaannya membuat pintu tertutup satu senti lagi.

“Tamara.”

“Hm.”

“Kamu diem.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum, dan aku bisa merasakan bahwa senyum itu tidak sampai ke mataku, dan aku tahu dia juga bisa melihatnya.

“Lagi mikir,” kataku.

“Mikirin apa?”

“Nanti aku kasih tau.”

“Kapan?”

Dan aku, yang selama enam minggu selalu menjawab semua pertanyaannya dalam waktu kurang dari satu detik, menjawab hal yang persis dia ajarkan padaku:

“Nanti.”