Chapter Thirty Nine
Pulang
POV: Tamara
Sabtu, jam sembilan pagi, aku berdiri di Stasiun Kota.
Aku tidak memberi tahu siapa pun.
Bukan karena aku ingin mendahului Sekar dan Renata. Sungguh — dan aku sudah memeriksa alasan ini berkali-kali selama dua tahun terakhir, dan aku masih yakin.
Aku tidak memberi tahu karena aku tahu kalau aku mengetik di grup, mereka akan datang, dan kalau mereka datang maka akan ada tiga orang di peron.
Dan tiga orang di peron artinya perpisahan.
Dan aku belum siap untuk itu punya nama.
Kereta jam sebelas.
Aku sampai jam sembilan karena aku tidak bisa tidur dan karena rumahku dua puluh menit dari stasiun dan karena aku takut salah menghitung.
Aku duduk di kursi tunggu di depan loket dan aku menunggu dua jam.
Aku memperhatikan setiap orang yang masuk.
Jam sembilan lewat: rombongan keluarga dengan empat koper. Jam sepuluh: sepasang orang tua dengan kardus diikat rafia. Jam sepuluh lewat dua puluh: anak-anak SMP study tour, berisik, empat puluh orang.
Jam sepuluh lewat empat puluh, aku melihat mereka.
Dia mendorong kursi roda.
Kursi roda pinjaman — aku tahu karena ada stiker rumah sakit di sandarannya — dengan seorang perempuan tua yang duduk di dalamnya dengan selendang di kepala dan tangan di pangkuan.
Di sebelahnya ada dua tas. Bukan koper. Tas ransel dan satu tas jinjing kain.
Itu saja.
Dua tas untuk dua orang untuk pindah kota.
Aku berdiri dari kursi tunggu dan aku tidak bisa bergerak selama beberapa detik, karena ada perbedaan antara mengetahui bahwa seseorang akan pergi dan melihat berapa banyak barang yang dia bawa.
Aku menghampirinya di peron.
“Andhika.”
Dia menoleh.
Dan wajahnya — aku sudah menyiapkan diri untuk wajah datar, aku sudah menyiapkan seluruh badanku untuk wajah datar — wajahnya tidak datar.
Selama setengah detik.
Lalu datar lagi.
“Tamara.”
“Hai.”
“Kamu—”
“Aku dari jam sembilan.”
Dia melihat jam tangannya.
“Dua jam,” katanya.
“Iya.”
Dan perempuan tua di kursi roda itu mengangkat wajahnya, dan menatapku, dan tersenyum dengan senyum yang lebar sekali untuk orang yang sudah tidak punya tenaga.
“Ini siapa, Dhik?”
Dan aku melihat sesuatu terjadi pada orang itu yang belum pernah kulihat dalam empat bulan.
Dia bingung.
Betulan bingung — jeda satu setengah detik penuh, yang untuknya adalah paragraf, yang untuknya adalah kepanikan.
“Temen sekolah, Nek.”
“Oh.” Nenek itu mengangguk. “Cantik ya.”
Dan aku menutup mulut dengan tangan dan menoleh ke arah rel karena kalau aku tidak menoleh aku akan menangis di depan orang tua yang tidak tahu apa-apa.
Kereta datang jam sebelas kurang sepuluh.
Kami punya delapan menit.
Tapi sebelum delapan menit itu, ada dua menit yang harus kutulis, karena dua menit itu yang paling sering kembali ke kepalaku sejak hari itu.
“Nak.”
Nenek yang memanggil.
Aku jongkok di depan kursi roda itu supaya wajahku sejajar, karena itu yang diajarkan Mama tentang cara bicara dengan orang tua dan itu satu-satunya hal dari Mama yang tidak pernah kubuang.
“Iya, Nek?”
“Kamu temennya Dhika?”
“Iya, Nek.”
“Dia baik nggak di sekolah?”
Dan aku membuka mulut, dan tidak ada apa pun yang keluar selama dua detik.
Karena aku tahu jawabannya. Aku tahu jawabannya dengan sangat rinci — sebelas menit, seratus empat belas nota, empat buku dikembalikan, proyektor lab, tiga baris angka digores ke tembok pembatas.
Dan aku juga tahu bahwa kalau aku mengatakan satu pun dari itu, perempuan tua ini akan bertanya lebih jauh, dan lebih jauh lagi, dan pada akhirnya dia akan sampai ke tempat yang tidak boleh dia datangi.
“Baik banget, Nek,” kataku.
“Dia punya temen banyak?”
Dan aku menoleh sekilas ke atas, ke orang yang berdiri di belakang kursi roda itu dengan tangan di pegangan, dan wajahnya tidak bergerak sedikit pun.
“Banyak, Nek,” kataku.
Nenek itu tersenyum, lebar sekali.
“Syukur,” katanya. “Dia dari kecil sendirian terus.”
Dan dia menepuk tanganku dua kali dengan tangan yang sudah tidak punya tenaga, dan berkata:
“Makasih ya, Nak.”
“Andhika.”
“Hm.”
“Aku nggak akan nanya apa-apa.”
“Oke.”
“Aku cuma mau bilang tiga hal terus aku pergi.”
Dia menunggu.
Dan aku berdiri di peron Stasiun Kota, hari Sabtu, jam sebelas kurang delapan, dengan kereta yang sudah berhenti dan orang-orang yang mulai naik, dan aku mengatakannya:
“Satu. Aku bilang nggak ke Mama, dan aku nggak nyesel, dan itu gara-gara kamu.”
Dia mengangguk sekali.
“Dua. Aku nggak tau aku pengen jadi apa. Tapi aku tau aku pengen jadi orang yang dilihat karena sesuatu.” Aku menyeka mata. “Dan aku bakal cari sesuatunya. Sendiri. Nggak usah nunggu siapa-siapa.”
“Bagus.”
Satu kata. Sama seperti bulan Januari, di atas atap, waktu aku bilang aku menolak dua iklan itu.
Dan sama seperti waktu itu, satu kata itu membuat dadaku penuh dengan cara yang tidak bisa dilakukan dua belas cantik banget kamu.
“Tiga,” kataku.
Dan suaraku hilang.
Aku menariknya kembali.
“Tiga,” kataku lagi. “Aku mau ikut.”
Hening.
Peluit. Pengumuman. Empat puluh anak SMP naik ke gerbong tiga sambil berteriak.
“Tamara.”
“Aku serius.”
“Kamu nggak—”
“Aku tau aku nggak bisa,” kataku. “Aku tau. Aku bukan bego. Aku cuma—”
Aku berhenti.
“Aku cuma pengen ada satu orang yang minta aku tinggal,” kataku. “Sekali aja. Seumur hidup aku, nggak ada satu pun orang yang minta aku tinggal. Mereka minta aku tampil, minta aku senyum, minta aku kurus, minta aku ke sini ke sana.”
Aku menatapnya.
“Nggak ada yang pernah minta aku tinggal,” kataku. “Dan aku pikir kalau aku minta duluan, mungkin—”
Aku tidak menyelesaikannya.
Karena aku sudah melihat wajahnya, dan aku sudah tahu jawabannya, dan aku sudah tahu jawabannya sejak jam sembilan pagi.
“Tamara.”
“Hm.”
Dan dia berkata — pelan, tenang, dengan suara yang sama seperti dia mengatakan segala hal selama empat bulan:
“Pulang.”
Satu kata.
Bukan marah. Bukan menolak. Bukan menjelaskan.
Pulang.
Dan aku berdiri di peron itu dengan seluruh isi tubuhku menuntut aku untuk berkata tidak, untuk berteriak, untuk memegang lengannya, untuk melakukan satu pun dari lima puluh hal yang selalu kulakukan ketika ada yang menolakku.
Aku tidak melakukan satu pun.
Aku bilang:
“Iya.”
Dan aku berbalik, dan aku berjalan ke arah pintu keluar peron, dan aku tidak menoleh.
Aku tidak menoleh.
Itu bagian yang tidak akan pernah kumaafkan dari diriku sendiri.
Bukan bahwa aku pergi. Dia menyuruhku pulang, dan aku pulang, dan mungkin itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan.
Yang tidak bisa kumaafkan adalah bahwa aku tidak menoleh.
Karena aku punya empat puluh langkah dari tempat aku berdiri sampai pintu keluar, dan di sepanjang empat puluh langkah itu aku bisa menoleh kapan saja, dan aku menghitungnya — satu, dua, tiga, sampai empat puluh — dan aku tidak menoleh sekali pun.
Aku pikir kalau aku menoleh, aku akan lari kembali.
Ternyata bukan itu alasannya.
Alasannya adalah aku tidak sanggup melihat apakah dia masih berdiri di sana atau tidak.
Kalau dia masih berdiri di sana, aku akan hancur.
Dan kalau dia sudah naik ke kereta—
—aku akan hancur dengan cara yang lain, dan aku tidak tahu mana yang lebih buruk, jadi aku memilih untuk tidak tahu sama sekali.
Aku memilih untuk tidak tahu.
Dan aku sudah tidak tahu selama dua tahun.
Aku duduk di trotoar depan stasiun sampai jam satu siang.
Jam dua belas lewat, ponselku bergetar.
Renata: Tamara.
Renata: Apakah Anda mengetahui jam berapa keretanya?
Aku menatap layar itu.
Renata: Saya baru saja sampai di stasiun.
Renata: Papan keberangkatan menunjukkan bahwa kereta pukul sebelas telah berangkat.
Renata: Sekarang pukul 12.58.
Renata: Tamara?
Aku mengetik.
Aku menghapusnya.
Aku mengetik lagi.
tamara: aku di trotoar depan
Dan tiga menit kemudian ada seseorang yang duduk di sebelahku di trotoar depan Stasiun Kota, dengan seragam sekolah lengkap pada hari Sabtu dan pin di kerah dan map cokelat setebal sembilan belas halaman di pangkuannya.
Dan Ketua OSIS SMA Negeri 4 tidak mengatakan satu kata pun selama empat menit.
Lalu dia berkata:
“Dua jam.”
“Hm?”
“Saya terlambat dua jam.”
Dan aku menoleh, dan wajahnya kering, dan tangannya memegang map itu terlalu erat sehingga sudutnya penyok.
“Aku nggak ngasih tau kamu,” kataku.
“Ya.”
“Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
“Renata—”
“Tidak apa-apa,” katanya lagi.
Dan lalu dia berkata sesuatu dengan suara yang sangat datar dan sangat rata, sambil menatap ke arah pintu masuk stasiun:
“Saya mengetahui jadwal keretanya sejak hari Kamis. Terdapat empat keberangkatan ke arah tersebut: pukul 07.15, pukul 11.00, pukul 15.40, dan pukul 21.20.”
Aku menoleh.
“Terus kenapa kamu baru dateng jam satu?”
Dan Renata Claudya Larasati, yang belum pernah sekali pun salah menghitung apa pun sepanjang hidupnya, berkata:
“Karena saya memutuskan bahwa dia akan memilih yang pukul 15.40.”
“Kenapa?”
“Karena pukul 15.40 lebih murah.”
Dia menatap tangannya.
“Selisihnya dua belas ribu rupiah,” katanya. “Saya menghitungnya. Saya memeriksanya tiga kali.”
Dia menoleh ke arahku, dan matanya masih kering, dan itu jauh lebih buruk daripada kalau dia menangis.
“Saya lupa memasukkan satu variabel,” katanya. “Neneknya duduk di kursi roda. Kursi roda pinjaman rumah sakit harus dikembalikan pada hari yang sama.”
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang reading
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu