Chapter Nine
Proyek yang Retak
POV: Radit
Retak rambut di kolom lantai tujuh proyek Kemang ternyata bukan retak rambut.
Aku berdiri di depan kolom itu pukul enam sore, di bawah lampu kerja yang digantung di besi tulangan lantai atas, dengan senter di tangan kanan dan alat ukur lebar retak di tangan kiri. Kontraktornya, Pak Bonar, berdiri di belakangku dengan helm proyek miring dan wajah yang semakin merah setiap kali aku mengarahkan senter ke sudut baru.
“Itu cuma susut beton, Pak,” katanya untuk keempat kalinya. “Biasa. Semua kolom begitu.”
Retaknya memanjang diagonal, dari sudut bawah kolom ke tengah, dengan lebar hampir setengah milimeter di bagian paling lebar. Bukan pola susut. Pola geser. Dan di lantai enam di bawahnya, di kolom yang sama, aku menemukan pola yang serupa, lebih tipis, tapi arahnya sama.
“Pak Bonar,” kataku. “Mutu betonnya sesuai spesifikasi?”
“Sesuai, Pak. Ada sertifikatnya.”
“Saya boleh lihat hasil uji tekan silindernya?”
Pak Bonar tidak menjawab. Dia menatap lantai beton di bawah kakinya seperti lantai itu tiba-tiba sangat menarik.
Dua minggu kemudian, hasil uji core drill dari laboratorium independen yang kupesan lewat kantor konsultan keluar. Mutu beton di kolom lantai enam sampai sembilan tiga puluh persen di bawah spesifikasi. Ada yang bermain dengan campuran semen. Kalau pengecoran lantai sepuluh sampai dua puluh tetap dilanjutkan sesuai jadwal, gedung itu tidak akan langsung runtuh. Tapi dalam lima, sepuluh, atau lima belas tahun, ketika empat ratus keluarga sudah tinggal di dalamnya, ketika gempa yang cukup besar datang ke Jakarta, tidak ada yang bisa menjamin apa pun.
Aku menulis laporan teknis sepanjang tiga puluh dua halaman. Aku merekomendasikan penghentian pengecoran segera, perkuatan kolom dengan jacketing baja di empat lantai, dan audit menyeluruh terhadap kontraktor.
Di halaman pertama laporan itu, di bagian Disusun oleh, aku menulis nama kantor konsultanku. Tanpa namaku.
Bu Ratih membaca laporan itu di ruangannya di lantai tiga puluh, pukul sembilan malam, dengan kacamata di ujung hidung dan secangkir kopi hitam yang sudah dingin. Dia membalik setiap halaman dengan sangat pelan. Ketika selesai, dia menutup map dan menatapku dari seberang meja.
“Kalau pengecoran dihentikan, proyek ini mundur empat bulan. Denda keterlambatan ke pembeli. Biaya perkuatan. Biaya audit. Kontraktor pasti menggugat.” Dia menghitung di kepalanya, cepat, seperti mesin. “Kerugian kita sekitar enam puluh miliar.”
“Kalau dilanjutkan, kerugiannya bukan uang, Bu.”
Bu Ratih tidak menjawab. Dia menatap laporan itu lama.
“Bu Kaluna harus tanda tangan perintah penghentiannya,” katanya akhirnya. “Besok pagi. Dan direksi akan bertanya siapa yang menemukan masalah ini.”
“Konsultan independen.”
“Mas Radit.” Suara Bu Ratih tetap datar, tapi matanya tidak. “Saya kerja sama almarhum Bapak dua puluh tahun. Bapak tidak pernah membiarkan orang lain mengambil pujian untuk kerja orang lain. Bu Kaluna sedang dicurigai setengah direksi karena dianggap terlalu muda. Kalau dia tahu suaminya sendiri yang menyelamatkan proyek ini—”
“Dia nggak boleh tahu, Bu.”
“Kenapa?”
Aku diam lama.
“Karena kalau dia tahu, dia akan merasa berutang. Dan dia nggak bisa marah sama orang yang dia utangi.” Aku menatap jendela di belakang Bu Ratih, lampu-lampu SCBD yang mulai menyala. “Dia butuh seseorang untuk dimarahi, Bu. Untuk sementara. Biar saya saja.”
Bu Ratih melepas kacamatanya. Dia tidak berkata apa-apa untuk waktu yang sangat lama.
“Pak Wiryo benar soal Mas,” katanya akhirnya. “Mas keras kepala seperti almarhum.”
Keesokan paginya, aku berdiri di proyek Kemang, di lantai tujuh, ketika Mbak Kaluna datang untuk melihat sendiri.
Aku tidak seharusnya ada di sana. Bu Ratih sudah mengatur agar konsultan diwakili oleh Dimas, rekan kerjaku, untuk menjelaskan temuan kepada CEO. Aku hanya datang lebih awal untuk memastikan semua titik retak sudah ditandai dengan cat semprot merah, supaya Dimas tidak salah menunjuk.
Aku melihatnya dari lantai delapan, lewat celah bekisting yang belum dibongkar.
Dia turun dari mobil di halaman proyek dengan blazer abu-abu, celana panjang, dan sepatu datar. Seorang mandor memberinya helm proyek putih, dan dia memakainya tanpa ragu, mengikat talinya di bawah dagu dengan cekatan, seperti orang yang sudah terbiasa. Kakek dulu sering membawanya ke proyek waktu kecil. Aku tahu itu dari cerita Kakek. Aku tahu itu dari sesuatu yang lain juga, sesuatu yang lebih lama, yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun.
Dia naik tangga darurat ke lantai tujuh. Dimas menunjukkan retak di kolom dengan senter. Dia mendengarkan dengan dahi berkerut, bertanya hal-hal yang tepat: lebar retak, pola, uji laboratorium, rekomendasi perkuatan. Dia tidak pura-pura mengerti hal yang tidak dia mengerti. Dia bertanya sampai mengerti.
Dari lantai delapan, di balik bekisting, aku memperhatikannya.
Debu semen beterbangan di cahaya pagi yang masuk dari sisi gedung yang belum berdinding. Helm putih proyek di kepalanya sedikit kebesaran. Beberapa helai rambut lolos dari ikatan di tengkuknya dan menempel di leher karena panas. Tidak ada riasan yang bisa bertahan di udara proyek seperti ini, dan dia tidak memakai banyak.
Dia memukau. Bukan karena gaunnya, bukan karena ballroom. Karena caranya berdiri di tengah debu semen dengan helm kebesaran, menatap retak di kolom beton dengan mata yang serius dan sedikit takut, dan tetap bertanya. Kakek pernah bilang cucunya akan menjadi pemimpin yang lebih baik dari dirinya, karena cucunya tahu cara bertanya. Melihatnya di lantai tujuh pagi itu, aku tahu Kakek benar.
“Siapa yang pertama kali menemukan ini?” tanyanya kepada Dimas.
Dimas melirik ke atas, sangat sekilas, ke arah lantai delapan. Aku menggeleng dari balik bekisting.
“Tim konsultan, Bu,” jawab Dimas.
“Siapa di tim konsultan?”
“Kami, Bu. Tim.”
Mbak Kaluna menatap Dimas lama. Lalu dia mengangguk dan menandatangani perintah penghentian pengecoran di atas papan klip yang disodorkan Bu Ratih, di tengah debu semen, dengan helm yang kebesaran.
Pukul sepuluh, setelah semua orang turun, aku turun dari lantai delapan lewat tangga sisi lain.
Di halaman proyek, aku hampir menabrak Pak Udin, yang berdiri di samping mobil Mbak Kaluna sambil merokok, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan di depan majikan.
Dia melihatku. Dia melihat helm proyek oranye di tanganku, debu semen di bahuku, dan arah tangga yang kuturuni.
Lalu dia mematikan rokoknya dan tersenyum sangat lebar.
“Mas,” katanya. “Saya nggak lihat apa-apa.”
“Makasih, Pak.”
“Tapi saya laporin ke paguyuban.”
“Pak—”
Terlambat. Pukul sepuluh lewat lima, grup PAGUYUBAN MEJA 12 (RESMI) menerima pesan baru.
Pak Udin: Laporan intelijen. Proyek Kemang retak. Bu Kaluna tanda tangan stop cor. Yang nemu retak: tim konsultan. Tim konsultan pakai helm oranye dan sembunyi di lantai 8. Sekian.
Mas Jono: 😂😂😂 Mas Radit main petak umpet
Pak Slamet: [pesan suara 0:12]
Pesan suara Pak Slamet berisi dua belas detik dia tertawa terkekeh-kekeh, lalu berkata, “Persis almarhum Bapak. Bapak dulu juga suka ngumpet kalau habis nolong orang.”
Sore itu, sebelum berangkat ke angkringan, aku pulang sebentar untuk mandi.
Mercedes hijau tua milik Kakek masih berdiri di carport, persis seperti pagi ketika Mbak Kaluna menyuruhku berhenti menyentuhnya. Sisi kirinya mengilap. Sisi kanannya kusam, berdebu, dengan bekas tetesan hujan yang mengering. Sudah sepuluh hari. Kain kanebo yang kulipat di atas kapnya juga masih di sana, sekarang kaku dan berdebu.
Pak Slamet berdiri di depan mobil itu dengan tangan di pinggang ketika aku masuk lewat pintu samping.
“Mas, kenapa mobilnya belang begini?”
“Mbak Kaluna bilang saya nggak boleh nyentuh mobil Bapak, Pak.”
Pak Slamet menatapku lama. Lalu dia mengambil kain kanebo yang kaku itu dari kap, membasahinya di keran taman, dan mulai mengelap sisi kanan mobil dengan tangan yang gemetar, menggerutu dalam bahasa Jawa yang sebagian besar tidak pantas ditulis.
“Mas nggak boleh,” katanya sambil mengelap. “Saya boleh. Saya sopirnya Bapak dua puluh tahun. Kalau Bu Kaluna marah, suruh marah ke saya.”
Aku membantunya memegang ember. Itu, menurut Pak Slamet, bukan menyentuh mobil. Itu menyentuh ember.
Malam itu, kopdar paguyuban di angkringan Tanah Abang berlangsung sampai pukul sebelas.
Kami duduk di tikar di bawah terpal biru, makan nasi kucing dan sate usus, minum kopi jos yang dimasukkan arang membara. Pak Udin bercerita tentang pernikahan anaknya di Purwakarta. Mas Jono bercerita tentang anaknya yang akhirnya dipanggil wawancara kerja berkat CV yang kami tulis di tisu di malam gala. Pak Slamet bercerita tentang almarhum Kakek, cerita yang sama yang sudah dia ceritakan tiga kali, tentang Kakek yang turun dari mobil di tengah hujan untuk membantu tukang becak yang terguling, dan tidak ada yang keberatan mendengarnya untuk keempat kalinya.
Di tengah malam, Pak Slamet menepuk lututku dengan tangan yang gemetar.
“Mas,” katanya pelan, ketika yang lain sedang tertawa soal sesuatu. “Sampai kapan?”
Aku tahu apa yang dia tanyakan.
“Satu tahun, Pak.”
“Terus habis itu?”
Aku menatap arang di gelas kopiku, yang sudah padam dan tenggelam ke dasar.
“Habis itu saya pulang ke Klaten, Pak.”
Pak Slamet diam lama. Lalu dia menepuk lututku lagi, dua kali, dan tidak berkata apa-apa.
Di perjalanan pulang dengan motor, di bawah lampu jalan Thamrin yang kuning, aku memikirkan Mbak Kaluna di lantai tujuh dengan helm kebesaran. Bertanya. Menandatangani. Tidak takut kehilangan enam puluh miliar.
Kakek akan bangga.
Aku hanya berharap dia tidak pernah tahu bahwa aku juga bangga. Itu akan terlalu banyak untuk dia tanggung, dari orang yang sedang dia benci.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak reading
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu