Chapter Twenty Five
Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
POV: Kaluna
Pak Wiryo tiba di Klaten pukul sebelas siang, dengan kemeja batik lengan panjang, tas kulit tua, dan wajah orang yang sudah sembilan jam duduk di kereta ekonomi karena menolak naik pesawat.
“Saya tidak suka terbang, Mbak Kaluna,” katanya ketika aku menjemputnya di Stasiun Klaten dengan ojek Mas Agus dan ojek kedua yang dipanggil Mas Agus dari pangkalan. “Saya sudah tujuh puluh satu tahun. Kalau saya harus mati, saya mau mati di darat.”
Dia naik ojek dengan tas kulit dipeluk erat seperti bayi, dan berkata pelan-pelan, Mas setiap kali motor melewati lubang.
Hari ketiga ratus enam puluh lima.
Aku sudah menghitungnya dengan dua kalender. Kalender merah yang kubawa dari rumah Menteng, yang menghitung dari malam akad, sudah sampai di kotak terakhir. Dan kalender bank yang menghitung hari sejak dia pergi, yang sekarang sudah sampai angka empat puluh tujuh.
Pak Wiryo tidak langsung membuka tas kulitnya. Dia menatapku lama di depan pagar kos.
“Mbak sudah makan siang?”
“Belum, Pak. Nanti saja.”
“Kalau begitu kita makan dulu.” Dia menyesuaikan pegangan tas kulitnya. “Itu amanat juga, Mbak. Bukan dari Bapak. Dari Mas Radit. Saya sudah janji.”
Supaya Mbak tidak mendengar suara Bapak dengan perut kosong.
Kami makan soto ayam di warung depan pasar. Pak Wiryo makan dengan sangat pelan dan tidak bicara sampai mangkuknya kosong. Aku memaksakan diri menghabiskan setengah mangkuk. Pak Wiryo menatap mangkukku yang masih setengah penuh, lalu menatapku, lalu memesan teh manis hangat.
“Habiskan tehnya, Mbak,” katanya. “Saya tidak akan buka tas ini sebelum Mbak habiskan.”
Aku menghabiskan tehnya.
Di kamar kosku yang tiga kali tiga meter, Pak Wiryo duduk di satu-satunya kursi plastik dan aku duduk di tepi kasur busa. Dia membuka tas kulitnya dan mengeluarkan dua benda.
Pertama, laptop tua yang casing-nya sudah mengelupas di sudut-sudut.
Kedua, sebuah map cokelat.
“Map ini nanti, Mbak,” katanya, meletakkannya di atas lemari plastik. “Rekaman dulu.”
Dia mengeluarkan flashdisk hitam dari saku dalam kemejanya. Selotip kertas di atasnya masih utuh, tidak pernah dibuka. Tulisan tangan Kakek yang miring dan bergetar.
Untuk Luna. Hari ke-365.
Pak Wiryo menyerahkannya kepadaku.
“Mbak yang buka,” katanya. “Itu bukan hak saya.”
Aku mengelupas selotip kertas itu dengan kuku. Selotip itu kuning dan getas. Sebelas bulan dia menempel di sana, di laci kamar sopir, di loker kantor Pak Wiryo, di saku kemeja seorang notaris tua yang naik kereta ekonomi sembilan jam.
Tidak ada yang membukanya. Tidak sekali pun.
Aku memasukkan flashdisk itu ke laptop.
Hanya ada satu file. Rekaman suara, berdurasi dua belas menit tiga puluh detik. Nama filenya: Luna.
Pak Wiryo berdiri. “Saya tunggu di teras, Mbak.”
“Pak—”
“Ini bukan untuk didengar orang lain, Mbak.” Dia tersenyum tipis. “Saya di teras. Kalau Mbak perlu saya, panggil saja.”
Pintu kamar menutup.
Aku menekan tombol putar.
Hening dua detik. Bunyi gemerisik. Bunyi mesin monitor rumah sakit di latar belakang, bip, bip, bip, pelan dan teratur. Bunyi napas yang berat dan terputus-putus.
Lalu suaranya.
“Luna.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Suara Kakek. Serak, lemah, jauh lebih lemah dari suara yang kuingat. Tapi suara Kakek. Suara yang membacakan dongeng dari balik pintu kamarku di ulang tahun kesembilan. Suara yang berbohong salah pencet dengan sangat tenang.
“Ini Kakek. Kalau kamu dengar ini, berarti satu tahun sudah lewat. Atau... atau Radit sudah pergi duluan, dan Pak Wiryo yang bawa ini ke kamu. Kakek harap yang pertama. Tapi Kakek kenal kalian berdua. Kakek takut yang kedua.”
Batuk. Panjang. Bunyi seseorang memberinya air. Bunyi seseorang berbisik pelan-pelan, Pak.
Suaranya. Di rekaman ini. Di sebelah Kakek.
“Kakek nggak punya banyak waktu, Lun. Jadi Kakek langsung saja.”
“Pertama, maaf. Kakek yang larang semua orang kasih tahu kamu. Kakek yang rebut ponsel dari tangan Radit. Dua kali. Kakek yang bohong waktu kamu telepon balik. Kakek tahu kamu akan marah. Kamu boleh marah. Kamu harus marah. Tapi marah sama Kakek. Jangan sama dia.”
“Kakek nggak menyesal, Lun. Itu yang paling susah Kakek bilang. Kakek nggak menyesal kamu selesai. Kakek lihat foto kamu pakai toga di ponsel Radit nanti. Dia janji akan kirim foto ke makam Kakek. Kakek tahu itu konyol. Tapi Kakek percaya dia akan lakukan.”
Aku menekan tombol jeda dan membungkuk di tepi kasur, menunggu sampai paru-paruku ingat cara bekerja.
Lalu aku menekan putar lagi.
“Kedua. Soal Radit.”
“Kamu pasti mikir Kakek dijebak. Kamu pasti mikir dia yang minta ada di wasiat. Kakek kenal kamu. Kamu cucu Kakek. Kamu keras kepala dan cepat menyimpulkan, kayak Kakek waktu muda.”
“Dia nggak minta. Dia nolak. Dua kali. Kakek yang maksa. Kakek bilang ke dia: Luna sendirian, Dit. Bapak ibunya sudah nggak ada. Kakek sebentar lagi nggak ada. Dia nggak punya siapa-siapa. Satu tahun saja. Satu tahun saja, Dit, jaga dia. Kalau dalam satu tahun dia tetap benci kamu, lepaskan dia. Kakek nggak akan minta lebih.”
Satu tahun saja.
“Dan dia bilang nggih, Lun. Pakai suara yang Kakek nggak akan lupa sampai mati. Yang tinggal beberapa hari lagi.” Kakek tertawa pelan, tawa yang berubah menjadi batuk. “Kakek tahu dia akan menepatinya. Dia selalu menepati. Itu yang Kakek takutkan. Kakek takut dia akan menepatinya terlalu baik. Kakek takut dia akan pergi tepat di hari ke-tiga ratus enam puluh lima, tanpa pernah bilang apa-apa, karena itu janjinya.”
“Ketiga.”
Jeda panjang. Bunyi monitor. Bunyi napas.
“Ini Kakek nggak pernah bilang ke siapa pun. Radit juga nggak tahu Kakek tahu.”
“Sembilan tahun lalu, waktu kamu delapan belas, kamu ikut Kakek ke proyek di Bekasi. Hari paling panas bulan Juli. Kamu lihat tukang-tukang kepanasan, terus kamu ke warung, beli es teh empat puluh bungkus pakai uang jajanmu sendiri, dan kamu bagi-bagi ke semua tukang. Terus kamu duduk di tanah sama mereka. Pakai rok putih. Roknya kotor semua. Mamamu pasti marah kalau masih ada.”
Aku ingat. Ya Tuhan, aku ingat. Aku lupa sampai detik ini, tapi aku ingat. Rok putih. Es teh dalam plastik dengan sedotan merah. Tanah merah yang panas. Tukang-tukang yang tertawa.
“Di atas perancah ada anak magang. Mahasiswa teknik sipil tingkat tiga, penerima beasiswa yayasan. Waktu kamu duduk di tanah, anak magang itu ngelihatin kamu dari atas, sampai ember semen yang dia pegang jatuh. Hampir kena kepala mandor.”
Aku tidak bisa bergerak.
“Itu Radit, Lun.”
“Dia nggak pernah bilang. Nggak sekali pun, sembilan tahun. Tapi setiap kali kamu pulang liburan dari Melbourne dan mampir ke kantor, dia minta izin cuti hari itu. Kakek tanya kenapa. Dia bilang, saya nggak mau Mbak Kaluna lihat saya, Pak. Saya cuma anak tukang batu.”
“Cuma anak tukang batu.” Suara Kakek pecah. “Bapaknya Darno, Lun. Darno yang pasang bata di rumah pertama Kakek. Lurus kayak penggaris. Kalau bukan karena bata-bata Darno, Kakek nggak akan punya perusahaan. Dan anaknya bilang dia cuma anak tukang batu.”
Batuk lagi. Lama. Bunyi gelas diletakkan.
“Kakek nggak minta kamu cinta sama dia, Lun. Kakek nggak bisa minta itu. Kakek cuma minta kamu tahu. Supaya kalau kamu melepaskan dia, kamu melepaskan dengan tahu siapa yang kamu lepaskan.”
“Sudah. Kakek capek.”
Jeda. Monitor berbunyi. Lalu suara Kakek lagi, lebih pelan, nyaris berbisik.
“Bagian terakhir rekaman ini bukan buat kamu, Lun. Ini buat Radit. Kalau dia ada di sebelahmu waktu kamu dengar ini, putar terus. Kalau dia nggak ada, berhenti di sini. Tunggu sampai dia ada. Jangan dengar duluan. Itu satu-satunya hal yang Kakek minta buat dia.”
“Selamat ulang tahun pernikahan yang pertama, bulan sabitku. Kakek sayang kamu.”
Aku menekan tombol jeda.
Penunjuk waktu di layar laptop berhenti di menit sepuluh lewat empat puluh detik. Masih ada satu menit lima puluh detik lagi. Satu menit lima puluh detik suara Kakek untuk laki-laki yang memegang gelas air di sebelahnya, yang berbisik pelan-pelan, Pak, yang menjatuhkan ember semen sembilan tahun lalu karena melihat seorang gadis berok putih duduk di tanah.
Aku tidak memutarnya.
Aku menutup laptop. Pelan. Aku mencabut flashdisk dan menggenggamnya di telapak tangan, dan aku menangis di tepi kasur busa di kamar kos tiga kali tiga meter di Klaten, dengan ayam tetangga berkokok di luar jendela pada pukul dua siang tanpa alasan apa pun.
Ketika aku membuka pintu, Pak Wiryo masih duduk di kursi plastik di teras, seperti penjaga. Dia berdiri ketika melihatku.
“Map cokelat itu,” kataku, dengan suara yang tidak terdengar seperti suaraku. “Apa isinya, Pak?”
Pak Wiryo masuk ke kamar, mengambil map cokelat dari atas lemari plastik, dan menyerahkannya kepadaku tanpa berkata apa-apa.
Draf gugatan cerai.
Dua belas halaman. Disusun rapi, dengan kop surat kantor notaris Pak Wiryo di setiap halaman. Di halaman terakhir, di kolom Tergugat, sudah ada tanda tangan. Tegak dan rapi.
Di halaman pertama, ditempel klip kertas, ada kertas kuning kecil. Tulisan tangannya.
Mbak. Sesuai akta poin empat. Saya sudah tanda tangan. Mbak tinggal isi bagian Penggugat dan serahkan ke Pengadilan Agama. Saya tidak akan datang ke sidang supaya prosesnya cepat. Saya tidak akan menuntut apa pun. Mbak bebas. Jangan lupa makan. — R.
Aku menatap kertas kuning itu.
Mbak bebas.
Dia menandatanganinya. Sebelum hari ini. Sebelum dia tahu aku akan datang ke Klaten. Mungkin di malam sebelum dia pergi, di kamar sopir, di bawah lampu belajar, di meja kecil di sebelah mesin tik Kakek. Dia menyiapkan jalan keluar untukku, lengkap dengan tanda tangan dan instruksi, dan dia menutupnya dengan jangan lupa makan.
Aku merobek map itu.
Bukan pelan. Bukan hati-hati. Aku merobeknya menjadi dua, lalu empat, dua belas halaman sekaligus, dengan tangan yang penuh luka bakar minyak dan bekas teriris pisau tumpul. Kertas-kertas itu jatuh ke lantai semen kamar kos seperti salju.
Kecuali kertas kuning kecil. Aku melepasnya dari klip, melipatnya, dan memasukkannya ke saku.
Pak Wiryo menatap kertas-kertas di lantai, lalu menatapku dengan mata basah di balik kacamata tebalnya.
“Pak,” kataku. “Bapak bawa buku catatan?”
Dia mengeluarkan buku catatan kecil bersampul kulit dan pulpen tinta dari saku kemeja.
Aku menulis di halaman kosong. Tanganku gemetar, dan tulisanku miring, dan aku tidak peduli.
Saya, Kaluna Adisurya, tidak akan menggugat cerai.
Hari ini, besok, atau kapan pun.
Saya akan menunggu. Selama apa pun.
Aku menandatanganinya. Lalu, di bawah tanda tanganku, tanpa berpikir, aku menggambar bulan sabit. Patah di tengah, karena tanganku gemetar.
Aku merobek halaman itu dan menyerahkannya kepada Pak Wiryo.
“Tolong berikan ke dia, Pak.”
Pak Wiryo menerima kertas itu dengan dua tangan, seperti menerima akta paling penting dalam kariernya, lalu menyimpannya di saku dalam kemeja, di tempat flashdisk tadi.
“Saya antar sekarang, Mbak,” katanya.
Pukul tujuh malam, ponselku bergetar. Pesan dari Pak Wiryo, yang ternyata bisa mengetik di ponsel dengan ejaan yang sangat sempurna.
Sudah saya sampaikan, Mbak Kaluna. Di sekolah, di bawah perancah. Dia membacanya tiga kali. Dia tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Lalu dia meminta saya menyampaikan satu hal kepada Mbak.
Aku menatap layar, menunggu pesan berikutnya.
Dia bilang: “Bilang ke Mbak, jangan lupa makan malam.”
Satu pesan lagi masuk, dua detik kemudian.
Saya rasa, Mbak, itu cara dia mengatakan bahwa dia sudah membaca. Saya sudah tiga puluh tahun membaca akta. Kalimat paling penting jarang ditulis dengan kata-kata yang sebenarnya.
Malam itu, aku makan malam. Tempe bacem sisa siang tadi, dingin, di teras kos Bu Darsih, sendirian di bawah lampu bohlam kuning.
Aku menghabiskan semuanya.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima reading
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu