Chapter Thirty One
Sawah Gelap
POV: Radit
Listrik desa padam pukul tujuh lewat lima belas, tepat ketika kami keluar dari perpustakaan.
Tidak ada peringatan. Satu detik, lampu jalan di ujung halaman sekolah menyala kuning, dan lampu-lampu rumah di sepanjang jalan desa terlihat seperti barisan kunang-kunang. Detik berikutnya, semuanya hilang. Gelap total. Hanya ada langit malam yang masih menyisakan sedikit warna ungu di ufuk barat, dan bintang-bintang yang tiba-tiba terlihat sangat banyak.
Dari arah desa, terdengar suara orang-orang mengeluh serempak. Wis, mati maneh. Mati lagi.
“Sering begini?” tanyanya di sebelahku.
“Kalau musim angin. Gardu di Delanggu suka bermasalah.” Aku mengeluarkan ponsel dan menyalakan senternya. Baterainya tinggal delapan belas persen. “Biasanya satu sampai dua jam.”
Aku mengunci pintu perpustakaan. Kami berdiri di halaman sekolah yang gelap, di bawah pohon ketapang yang sekarang hanya berupa bayangan hitam besar.
Tidak ada yang bicara.
Aku masih bisa merasakan sisa tangis di tenggorokanku. Mataku perih. Wajahku kaku karena air mata yang sudah mengering. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menangis seperti tadi, dengan suara, dengan seluruh tubuh. Mungkin waktu Bapak meninggal. Mungkin tidak pernah.
Dan anehnya, dadaku terasa ringan.
Seperti seseorang membuka jendela di ruangan yang sudah terlalu lama tertutup. Udara masuk. Udara malam Klaten yang sejuk dan berbau tanah basah dan jerami.
“Aku antar kamu ke kos,” kataku.
“Kos lewat jalan desa itu gelap banget.”
“Kita lewat sawah. Lebih dekat. Pematangnya lebar.”
Dia menatap ke arah sawah di belakang sekolah, hamparan hitam yang luas di bawah langit berbintang, dengan pematang-pematang yang hanya terlihat sebagai garis-garis samar yang sedikit lebih terang.
“Aku belum pernah jalan di pematang sawah,” katanya.
“Belum pernah?”
“Belum. Aku cuma pernah lihat dari jendela mobil.”
Aku tidak tahu kenapa itu membuatku ingin tertawa. Aku tidak tertawa. Aku hanya menyalakan senter ponsel ke arah pematang dan mulai berjalan.
Pematang sawah di belakang SD Negeri 2 Karanganom lebarnya sekitar empat puluh senti. Cukup untuk satu orang berjalan dengan nyaman, kalau orang itu sudah terbiasa. Di kedua sisinya, sawah yang baru ditanami padi muda, dengan air setinggi mata kaki yang memantulkan cahaya bintang.
Aku berjalan di depan dengan senter ponsel. Dia berjalan di belakangku.
Lima langkah pertama, aman.
Langkah keenam, aku mendengar bunyi ciprat dan seruan kecil di belakangku.
Aku berbalik. Senter ponselku menyorot ke bawah. Kaki kanannya terperosok ke sawah sampai pergelangan, sepatu katunnya tenggelam di lumpur, dan dia berdiri di pematang dengan satu kaki, memegang udara dengan kedua tangan, wajahnya campuran antara kaget dan sangat malu.
“Jangan ketawa,” katanya.
“Saya nggak ketawa.”
“Senternya goyang. Kamu ketawa.”
Aku memang tertawa. Pelan. Untuk pertama kalinya sejak entah kapan, tawa yang keluar dari dada, bukan dari tenggorokan.
Dia menarik kakinya dari lumpur. Bunyinya seperti orang menarik sedotan dari gelas yang hampir kosong. Sepatunya tidak ikut keluar. Dia menatap lubang di lumpur tempat sepatunya tenggelam dengan wajah yang sangat putus asa.
Aku berjongkok, memasukkan tanganku ke air sawah yang dingin, merogoh lumpur, dan mengeluarkan sepatu katun putih itu. Sekarang sepatu itu berwarna cokelat sampai ke tali-talinya.
Aku menyerahkannya kepadanya.
“Sepatu ini dibeli di mana?”
“Singapura,” katanya dengan suara kecil.
“Sekarang sudah jadi sepatu Klaten.”
Dia tertawa. Tawa yang tiba-tiba dan keras, yang memecah keheningan sawah malam, yang membuat seekor burung terbang dari rumpun padi di dekat kami. Dia tertawa sampai harus memegangi perutnya, berdiri di pematang dengan satu kaki telanjang berlumpur dan sepatu cokelat di tangan, di bawah langit berbintang.
Aku menatapnya dalam cahaya senter ponsel yang goyang.
Rambutnya berantakan, ikatannya sudah setengah lepas setelah sore yang panjang. Wajahnya masih menyisakan bekas air mata yang mengering, garis-garis tipis di pipinya yang terlihat samar dalam cahaya senter. Matanya merah. Hidungnya merah. Ada lumpur di ujung celana katunnya sampai ke lutut.
Dan dia sangat cantik.
Cantik dengan cara yang membuatku lupa sedang memegang senter. Cantik seperti malam ini, gelap dan luas dan penuh bintang, sesuatu yang tidak bisa dilihat di Jakarta karena terlalu banyak lampu. Aku sudah melihatnya di ballroom dengan gaun hitam dan kalung mutiara. Di rumah sakit dengan wajah pucat. Di lantai tujuh proyek Kemang dengan helm kebesaran. Di bangku kayu di bawah pohon ketapang dengan hidung terbakar matahari.
Tidak ada satu pun yang seperti ini. Tertawa di pematang sawah dengan satu kaki berlumpur, setelah aku memarahinya selama setengah jam, setelah dia menerima semuanya tanpa membela diri.
Dia berhenti tertawa ketika melihat aku menatapnya.
“Kenapa?” tanyanya.
Aku tidak menjawab.
Aku mengulurkan tangan.
Tangan kananku. Tangan yang dulu sobek kena kawat perancah di Bekasi, dengan bekas luka memanjang di telapaknya yang sekarang sudah sembuh menjadi garis putih tipis. Tangan yang dia lihat dibalut perban di teras belakang rumah Menteng, dan yang dia tolak sentuhannya di depan belasan tukang.
Aku mengulurkannya di antara kami, di atas pematang sawah yang gelap.
“Pematangnya licin,” kataku. “Biar nggak jatuh lagi.”
Dia menatap tanganku.
Dia tidak langsung mengambilnya. Dia menatapnya lama, dengan mata yang mulai basah lagi, seperti dia tahu persis apa artinya. Tangan yang pernah dia tolak. Tangan yang sekarang diulurkan kembali, tanpa syarat, di tempat yang paling gelap.
Nggak akan, Mbak. Kecuali Mbak jatuh.
Lalu dia meletakkan tangannya di tanganku.
Tangannya dingin karena angin malam dan air sawah. Telapaknya kasar sekarang, penuh bekas luka kecil, kulit yang mengeras di pangkal jari karena pisau dapur tumpul dan ulekan batu. Tangan yang sudah sangat berbeda dari tangan yang dulu memegang pulpen di atas meja oval.
Jari-jarinya menggenggam jari-jariku. Erat. Seperti tidak berencana melepaskan.
Aku menggenggamnya balik.
Kami berjalan menyusuri pematang dalam gelap. Aku di depan dengan senter ponsel di tangan kiri, dia di belakangku dengan satu kaki bersepatu dan satu kaki telanjang, tangan kanannya di tangan kananku yang terulur ke belakang. Langkah kami pelan. Pematangnya licin. Air sawah memantulkan bintang-bintang di kedua sisi kami, sehingga rasanya seperti berjalan di atas jembatan sempit di tengah langit.
Tidak ada yang bicara.
Tidak perlu.
Di tengah pematang, baterai ponselku habis. Senternya mati.
Gelap total. Hanya bintang, dan suara jangkrik, dan air sawah yang berkilau samar.
Aku berhenti. Dia berhenti di belakangku. Tangannya mengencang di tanganku.
“Senternya mati,” katanya pelan.
“Iya.”
“Terus gimana?”
Aku menatap ke depan. Dalam gelap, mataku perlahan menyesuaikan diri. Pematang itu masih terlihat, garis samar yang sedikit lebih terang dari sawah di sekitarnya. Di ujungnya, rumah-rumah desa yang gelap. Dan di salah satu rumah itu, dua ratus meter di depan kami, ada satu cahaya kecil yang bergoyang.
Lampu teplok. Lampu minyak tanah dengan kaca semprong, yang tergantung di tiang teras rumah cat hijau dengan pohon mangga.
Ibu selalu menyalakan lampu teplok di teras setiap kali listrik padam. Sejak aku kecil. Supaya siapa pun yang pulang dalam gelap tahu ke arah mana harus berjalan.
“Itu rumah Ibu,” kataku. “Kita jalan ke cahaya itu.”
Kami berjalan ke cahaya itu. Pelan-pelan. Tangan bertaut.
Ibu berdiri di teras ketika kami sampai.
Dia memegang lampu teplok di tangan kanan, mengangkatnya sedikit supaya cahayanya jatuh ke halaman. Tole berdiri di sebelahnya, memegang senter plastik yang sinarnya kuning lemah, menyorot ke arah kami.
Senter Tole berhenti di tangan kami yang bertaut.
Lalu bergeser ke kaki Kaluna yang satu bersepatu lumpur dan satu telanjang.
Lalu ke wajah kami berdua, yang pasti masih menyisakan bekas tangis.
“Om,” kata Tole dengan suara sangat keras. “Kenapa Om sama Mbak Jakarta pegangan tangan?”
“Tole,” kata Ibu. “Masuk.”
“Tapi Mbah—”
“Masuk.”
Tole masuk ke rumah dengan wajah sangat tidak puas, tapi dia berhenti di balik pintu yang tidak ditutup sepenuhnya. Aku bisa melihat bayangan kepalanya.
Aku melepaskan tangan Kaluna. Pelan.
Ibu menatap kami berdua dalam cahaya lampu teplok. Wajahnya tidak bisa kubaca. Dia menatapku lebih dulu. Mataku yang bengkak. Wajahku yang lelah. Lalu dia menatap Kaluna. Lama. Lumpur di celananya. Kakinya yang telanjang. Tangannya yang penuh luka, yang sekarang menggenggam sepatu cokelat di sisi badannya.
Ibu meletakkan lampu teplok di tiang teras.
Lalu dia berjalan turun dari teras. Tiga anak tangga batu. Dia berjalan menyeberangi halaman yang gelap, melewatiku tanpa menoleh, dan berhenti di depan Kaluna.
Kaluna menunduk. Sepatu cokelat di tangannya bergetar.
Ibu mengangkat tangan.
Untuk sedetik, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Lalu Ibu menarik Kaluna ke pelukannya.
Pelukan seorang ibu. Erat, hangat, dengan satu tangan di belakang kepala Kaluna dan tangan yang lain di punggungnya, menariknya ke bahu yang kecil tapi kuat. Kaluna membeku. Lalu sepatu cokelat di tangannya jatuh ke tanah, dan kedua tangannya naik dan memeluk Ibu balik, dan dia menangis di bahu Ibu.
Ibu mengusap punggungnya. Pelan. Bolak-balik.
“Wis, Nduk,” bisik Ibu. “Wis. Wis.”
Sudah, Nak. Sudah. Sudah.
Nduk. Panggilan untuk anak perempuan. Panggilan yang Ibu pakai untuk almarhumah kakakku. Panggilan yang tidak pernah Ibu pakai untuk siapa pun lagi sejak kakakku meninggal.
Aku berdiri di halaman yang gelap, di samping sepatu cokelat yang jatuh di tanah, menatap ibuku memeluk perempuan yang sudah setahun menyakitiku, dan perempuan yang setahun menyakitiku menangis di bahu ibuku seperti anak kecil yang akhirnya pulang.
Di balik pintu, aku mendengar Tole berbisik kepada dirinya sendiri dengan suara yang tidak terlalu pelan:
“Mbah nangis juga.”
Listrik desa menyala lagi pukul delapan lewat dua puluh.
Lampu-lampu rumah di sepanjang jalan desa kembali menyala satu per satu. Lampu teras rumah Ibu menyala, terang dan putih, menggantikan cahaya kuning lampu teplok.
Ibu melepaskan pelukannya. Dia menyeka wajah Kaluna dengan ujung kerudungnya, persis seperti cara Mbok Darmi menyeka wajahnya di dapur rumah Menteng, persis seperti cara seorang ibu menyeka wajah anaknya.
Lalu Ibu menatap kaki Kaluna yang telanjang dan penuh lumpur.
“Cuci kaki dulu,” katanya, dengan suara yang tiba-tiba kembali tegas. “Di sumur belakang. Habis itu makan. Ibu masak sayur lodeh.”
Dia berbalik dan masuk ke rumah tanpa menunggu jawaban.
Kaluna berdiri di halaman, menatap pintu yang terbuka. Lalu menatapku.
“Ibumu,” katanya dengan suara serak. “Nyuruh aku makan.”
“Iya.”
“Di dalam rumah.”
“Iya.”
Dia menutup mulutnya dengan tangan yang penuh luka.
Aku memungut sepatu cokelat dari tanah, mengibaskan lumpurnya sedikit, dan menyerahkannya kepadanya.
“Sumurnya di belakang,” kataku. “Hati-hati. Lantainya licin. Jangan sampai jatuh lagi.”
Dia mengambil sepatu itu. Jari-jarinya menyentuh jari-jariku sesaat. Tidak ada yang menarik tangan.
“Kalau aku jatuh,” katanya pelan, “kamu tangkap?”
Aku menatapnya dalam cahaya lampu teras yang terang.
“Selalu,” kataku.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap reading
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu