Chapter Thirty Two
Ini Suami Saya
POV: Kaluna
Aku kembali ke Jakarta untuk tiga hari.
Rapat Umum Pemegang Saham tahunan Adisurya Group dijadwalkan hari Kamis, dan Bu Ratih mengirim pesan seminggu sebelumnya dengan nada yang sangat datar: Bu, ini satu-satunya rapat yang tidak bisa lewat video. Pemegang saham minoritas akan datang. Media akan meliput. Saya tidak bisa menggantikan Ibu.
Lalu satu pesan lagi, lima menit kemudian: Dan Bu, kalau Ibu mau mengatakan sesuatu yang sudah lama perlu dikatakan, ini tempatnya.
Aku membacanya di teras kos Bu Darsih, dengan tangan yang masih berbau bawang merah dari dapur Bu Sumarni.
Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku sudah tahu sejak malam di perpustakaan, sejak dia berdiri di depanku dengan wajah basah dan berkata Mbak bilang Bapak beli saya, di depan semua orang yang kenal Bapak.
Di depan semua orang.
Maka aku harus meminta maaf di depan semua orang.
Aku tidak memberitahunya. Aku hanya bilang aku harus ke Jakarta untuk RUPS, tiga hari, lalu kembali. Dia mengangguk di bawah pohon ketapang, dan berkata hati-hati, dan sebelum aku berbalik, dia menambahkan satu kalimat lagi.
“Kalau kereta pulangnya sampai malam, saya jemput di stasiun.”
Aku menatapnya. Dia sudah kembali memaku papan rak perpustakaan, dengan telinga yang merah.
Ruang rapat lantai tiga puluh tiga. Akuarium.
Meja oval sepanjang dua belas meter. Jendela kaca yang menghadap seluruh Jakarta. Kursi Kakek di ujung meja. Hanya saja hari ini ruangan itu jauh lebih penuh. Selain direksi dan dewan komisaris, ada pemegang saham minoritas, perwakilan bank, dua wartawan dari media bisnis, dan kamera dokumentasi perusahaan di sudut ruangan.
Pak Hendarto, komisaris tertua, menatapku ketika aku masuk. Pak Gunadi tidak menatapku sama sekali. Bu Wulan tersenyum tipis, senyum yang terlalu sopan.
Bu Ratih duduk di kursi sebelah kananku, seperti biasa. Dia meletakkan secangkir kopi hitam di depanku tanpa berkata apa-apa.
Agenda berjalan dua jam. Laporan keuangan. Kinerja proyek. Rencana ekspansi Surabaya. Pemegang saham minoritas mengajukan pertanyaan. Aku menjawab dengan angka-angka yang sudah kuhafal di kamar kos tiga kali tiga meter, di bawah kipas angin yang berderit.
Lalu sampai di poin terakhir. Lain-lain.
Pembawa acara bertanya apakah ada yang ingin menyampaikan sesuatu sebelum rapat ditutup.
Aku berdiri.
Seluruh ruangan menoleh. Pak Gunadi akhirnya menatapku. Kamera dokumentasi di sudut bergeser ke arahku.
Tanganku gemetar. Aku meletakkannya di atas meja oval supaya tidak terlihat.
“Saya ingin menyampaikan klarifikasi,” kataku. “Dan permintaan maaf.”
Ruangan itu sunyi.
“Tiga bulan lalu, di ruangan ini, di rapat gabungan direksi dan komisaris, saya mengatakan sesuatu tentang seseorang. Beberapa dari Bapak Ibu ada di sini waktu itu.” Aku menatap Pak Hendarto, Bu Wulan, Pak Gunadi. “Saya bilang dia bukan suami saya. Saya bilang dia cuma harga yang Kakek saya bayar supaya saya patuh.”
Seorang wartawan berhenti mengetik.
“Itu tidak benar,” kataku. “Tidak satu kata pun.”
Aku menarik napas.
“Raditya Prasetya bekerja dengan almarhum kakek saya selama delapan tahun. Selama tiga minggu terakhir hidup kakek saya, dia yang menjaganya di rumah sakit, setiap malam. Dia yang memandikan jenazahnya. Dia yang mengazankannya. Saya tidak ada di sana. Saya di Melbourne, karena kakek saya sendiri yang melarang siapa pun memberi tahu saya, supaya saya bisa menyelesaikan studi.”
Suaraku mulai bergetar. Aku menekan telapak tanganku lebih keras ke meja.
“Raditya Prasetya tidak menerima apa pun dari keluarga Adisurya. Dia menandatangani akta pelepasan seluruh hak waris dua hari sebelum kami menikah. Dia menolak fasilitas perusahaan. Dia menolak kursi komisaris yang diusulkan di ruangan ini.” Aku menoleh ke Bu Ratih. “Dan proyek Kemang, yang retak strukturnya ditemukan oleh konsultan independen, yang menyelamatkan empat ratus keluarga yang akan tinggal di sana, konsultan independen itu adalah dia. Tanpa namanya di laporan. Atas permintaannya sendiri.”
Bu Ratih mengangguk sekali, pelan, ke arah ruangan.
“Itu benar,” katanya dengan suara datar. “Saya saksinya.”
Ruangan itu berdengung. Bisik-bisik. Pak Gunadi menatap meja dengan wajah merah.
“Dan ketika saya dirawat karena demam berdarah,” lanjutku, “ketika stok darah golongan saya kosong di seluruh Jakarta, yang mendonorkan trombositnya untuk saya adalah dia. Dua jam di PMI. Tercatat sebagai keluarga pasien, karena dia tidak mau saya tahu.”
Aku tidak bisa menahannya lagi. Suaraku pecah.
“Saya mempermalukannya di ruangan ini. Di depan orang-orang yang menghormati kakek saya. Saya bilang kakek saya membelinya. Dan dia tidak membela diri. Dia bilang permisi, dan pergi.”
Aku menatap seluruh ruangan. Direksi. Komisaris. Pemegang saham. Wartawan. Kamera.
“Saya minta maaf kepada Bapak Ibu karena sudah membuat ruangan ini menyaksikan sesuatu yang tidak pantas. Tapi yang paling penting, saya ingin meluruskan sesuatu, di tempat yang sama, di depan orang-orang yang sama.”
Aku mengambil remote proyektor dari meja.
Di layar besar di ujung ruangan, tempat tiga bulan lalu dia mempresentasikan review struktur clubhouse Bekasi, muncul sebuah foto. Foto yang kuambil dari akun Instagram SD Negeri 2 Karanganom. Laki-laki dengan kaus abu-abu lusuh dan topi kain yang sudah pudar, berjongkok di tengah belasan anak SD berseragam merah putih di depan ruang kelas yang dicat kuning, tersenyum lebar ke kamera.
Aku menatap foto itu.
“Ini suami saya,” kataku.
Ruangan itu benar-benar sunyi sekarang.
“Namanya Raditya Prasetya. Anak almarhum Darno, tukang batu yang memasang bata di rumah pertama yang dibangun kakek saya empat puluh tahun lalu. Dia insinyur sipil. Dia pernah menyelamatkan perusahaan ini tanpa namanya tercatat. Dia pernah menyelamatkan nyawa saya tanpa namanya tercatat.” Aku menelan ludah. “Dan dia suami saya. Bukan teman. Bukan asisten. Bukan harga. Suami saya.”
Aku meletakkan remote di meja.
“Itu saja. Terima kasih.”
Aku duduk.
Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik.
Lalu Pak Hendarto berdiri. Komisaris tertua, yang tiga bulan lalu menepuk bahuku dua kali dengan tangan berat dan pergi tanpa berkata apa-apa. Dia berdiri dari kursinya di sisi kiri meja oval dan mulai bertepuk tangan.
Pelan. Dua kali. Seperti tepuk tangannya untuk presentasi Radit tiga bulan lalu.
Lalu Bu Wulan berdiri. Lalu dua direktur. Lalu pemegang saham minoritas di ujung meja.
Pak Gunadi tidak berdiri. Dia menatap meja dengan wajah merah, lalu mengangkat tangan dan berkata dengan suara keras:
“Bu Kaluna. Dengan segala hormat. Ibu yakin mau mengumumkan urusan pribadi di RUPS? Di depan media? Ini akan mempengaruhi persepsi pemegang saham terhadap penilaian Ibu sebagai pemimpin.”
Bu Ratih menoleh kepadanya sebelum aku sempat menjawab.
“Pak Gunadi,” katanya dengan nada yang sangat datar. “Tiga bulan lalu, di ruangan ini, Bapak yang tertawa dan bertanya kenapa Mas Radit nggak dari dulu jadi komisaris karena dia suaminya Bu Kaluna. Bapak yang pertama kali membawa urusan pribadi ke meja ini.” Bu Ratih menyesap kopinya. “Bu Kaluna cuma membereskan apa yang Bapak mulai.”
Pak Gunadi menutup mulutnya.
Rapat ditutup sepuluh menit kemudian.
Harganya datang dalam tiga hari.
Video dokumentasi RUPS yang diunggah di kanal resmi perusahaan, atas saran Bu Ratih, ditonton empat puluh ribu kali dalam dua puluh empat jam. Dua portal berita bisnis menulis artikel dengan judul yang membuatku ingin menghilang. Saham Adisurya Group turun dua persen di hari pertama, karena dua analis menulis bahwa CEO muda yang terlalu emosional berisiko bagi stabilitas perusahaan. Tiga komisaris meminta rapat khusus untuk mengevaluasi kepemimpinan.
Dinda mengirim pesan pertama di pagi hari.
Lun, kamu viral. Kamu sadar kan kamu bikin malu kita semua? Kamu bilang di depan wartawan kamu dulu ngetawain suami sendiri? Itu kan ada kita juga di situ. Orang-orang mulai nanya ke aku.
Lalu Tasya. Lun, kamu nggak usah datang arisan bulan depan dulu ya. Anak-anak lagi nggak enak.
Lalu Mira, yang tidak mengirim pesan apa pun, tapi berhenti mengikuti akunku.
Aku membalas pesan Dinda dengan satu kalimat.
Kalian boleh ketawa. Dulu aku ikut ketawa. Aku nggak lagi.
Lalu aku keluar dari grup arisan yang sudah kuikuti sejak SMA.
Gilang menemuiku di lobi kantor di hari ketiga, ketika aku sedang menunggu Pak Udin untuk ke stasiun.
Dia tidak membawa bunga. Dia berdiri dengan tangan di saku, kemeja linen yang sedikit kusut, dan wajah yang terlihat lelah.
“Aku nonton videonya,” katanya.
“Semua orang nonton.”
“Iya.” Dia tersenyum tipis. “Lun, aku mau ngaku sesuatu. Biar kita impas.”
Aku menunggu.
“Waktu kamu bilang makasih di rumah sakit, aku tahu itu bukan aku. Aku tahu. Tapi aku nggak koreksi bukan cuma karena pengecut.” Dia menatap lantai marmer lobi. “Aku nggak koreksi karena aku pengin jadi orang itu buat kamu. Orang yang nyelamatin kamu. Aku pengin kamu lihat aku kayak kamu lihat aku di foto itu.”
Dia mengangkat wajah.
“Dan di video kemarin, waktu kamu nunjuk foto dia di layar, aku lihat muka kamu. Kamu nggak pernah lihat aku kayak gitu, Lun. Nggak sekali pun. Bahkan waktu kita pacaran.” Dia tertawa pelan. “Jadi aku mau bilang. Jangan sampai lepas. Orang kayak dia nggak datang dua kali.”
Pak Udin datang. Gilang mundur selangkah.
“Hati-hati di jalan, Lun,” katanya. “Salam buat suamimu.”
Sebelum ke Stasiun Gambir, aku meminta Pak Udin berhenti di TPU Karet Bivak.
Hari itu bukan hari Jumat. Tapi Mas Jono ada di sana, karena Pak Udin meneleponnya, dan Mas Jono membawa dua bungkus melati dari lapak Mbok Sum.
Aku menaburkan melati di makam Kakek. Kali ini taburanku lurus. Aku sudah berlatih menabur garam di wajan dapur Bu Sumarni setiap hari.
“Kek,” kataku pelan. “Aku sudah bilang. Di ruangan yang sama. Di depan semua orang.”
Pohon kamboja bergoyang. Bunga putih jatuh.
“Aku bilang dia suamiku.”
Di kereta pukul sembilan malam menuju Klaten, ponselku bergetar.
Pesan dari nomor yang sudah kusimpan di ponselku sejak minggu kedua di Klaten, dengan nama yang kuketik dan kuhapus tiga kali sebelum akhirnya kubiarkan sederhana: Radit.
Ibu nonton videonya. Tole yang putar dari HP. Ibu nangis dari tadi sore.
Satu pesan lagi.
Saya juga.
Lalu satu lagi, setelah jeda yang lama.
Keretanya sampai jam berapa?
Aku menatap layar ponsel dengan tangan gemetar.
Jam lima pagi.
Saya jemput.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya reading
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu