Chapter Thirty Four

Luna

POV: Kaluna

Bu Darsih menahannya di pagar selama sebelas menit.

Aku tahu persis berapa lama karena aku menonton seluruh prosesnya dari jendela kamar kos, bersama Nisa, Rara, dan Wulan, yang berdesakan di belakangku dengan wajah ditempel ke kaca seperti penonton bioskop di barisan depan.

Pukul delapan malam, Senin, tiga hari setelah peron Stasiun Klaten. Dia berdiri di depan pagar bambu kos yang sudah dikunci, memakai kemeja batik cokelat tua bermotif parang kecil, rambutnya disisir rapi, dan memegang sesuatu di tangan kanannya.

Bu Darsih berdiri di sisi dalam pagar dengan daster bunga-bunga, rol rambut, dan tangan bersilang di dada.

“Jam sepuluh pagar dikunci, Mas,” kata Bu Darsih. “Sekarang jam delapan. Tapi aturan kos ini nggak boleh bawa laki-laki.”

“Saya tahu, Bu.”

“Kecuali suami.”

“Saya tahu, Bu.”

“Suaminya harus bawa buku nikah.”

Dia mengangkat benda di tangan kanannya. Buku kecil bersampul hijau dengan lambang Garuda emas di depannya.

Di belakangku, Rara menjerit tertahan. Nisa menutup mulutnya.

Bu Darsih menatap buku nikah itu. Lalu mengambilnya dari tangannya, membukanya, dan membaca halaman pertama di bawah cahaya lampu jalan dengan wajah sangat serius, seperti petugas imigrasi di bandara internasional. Dia membalik halaman. Dia membaca lagi. Dia menatap foto di halaman tengah, lalu menatap wajahnya, lalu menatap foto lagi.

“Ini fotonya kok mukanya kayak orang ditilang?”

“Waktu itu situasinya agak sulit, Bu.”

“Istrinya juga. Kayak orang mau ke pengadilan.”

“Nggih, Bu. Situasinya agak sulit.”

Bu Darsih menutup buku nikah itu dan mengembalikannya. Lalu dia membuka gembok pagar dengan sangat pelan, seperti membuka brankas bank.

“Lima belas menit,” katanya. “Di teras. Pintu kamar nggak boleh ditutup. Saya di dapur. Saya dengar semua.”

“Nggih, Bu. Matur nuwun.”

Dia masuk melewati pagar. Bu Darsih berjalan ke dapur di belakang dengan langkah lambat, lalu berhenti di ambang pintu dapur dan tidak masuk lebih jauh, dengan punggung menghadap teras dan telinga jelas-jelas menghadap teras.

Di belakangku, Wulan berbisik keras, “Mbak, Mbak, buruan keluar!”

Aku keluar.

Dia berdiri di teras kos, di bawah lampu bohlam kuning, di depan meja kecil tempat tumpeng miring itu dulu kutaruh. Dia menatapku ketika aku keluar dari kamar. Aku memakai daster batik yang kubeli di pasar minggu lalu dan rambutku belum disisir, karena aku tidak tahu dia akan datang.

Dia menatapku lama. Lalu dia tersenyum. Kecil dan gugup.

“Maaf,” katanya. “Nggak ngabarin dulu.”

“Nggak apa-apa.”

“Aku cuma mau ngomong sesuatu. Sebentar.” Dia melirik ke arah dapur, ke punggung Bu Darsih. “Lima belas menit.”

Aku. Bukan saya.

Aku menyadarinya dengan seluruh tubuhku. Selama setahun lebih, dia selalu bicara kepadaku dengan saya. Di rumah Menteng. Di restoran Senopati. Di meja dua belas. Di perpustakaan, bahkan ketika dia berteriak dan menangis. Saya bukan harga. Saya juga manusia. Kata saya adalah jarak yang dia jaga dengan sangat hati-hati, seperti pintu samping dan kamar sopir.

Malam ini dia bilang aku.

Kami duduk di bangku kayu di teras kos. Bersebelahan, dengan jarak sejengkal. Dari jendela kamarku, aku bisa merasakan tiga pasang mata mahasiswi yang menempel di kaca. Dari arah dapur, aku bisa mendengar Bu Darsih berpura-pura mencuci piring yang sudah dicuci.

Dia memutar buku nikah di tangannya. Bolak-balik. Seperti orang yang sedang mengumpulkan keberanian.

“Selama ini,” katanya akhirnya, “aku nggak pernah minta apa-apa sama kamu.”

Aku menunggu.

“Bukan karena aku nggak mau. Tapi karena aku pikir aku nggak boleh. Aku pikir aku cuma orang yang dititipi Bapak buat jaga kamu satu tahun. Orang yang dititipi nggak boleh minta.” Dia menatap buku nikah di tangannya. “Ibu bilang aku kayak Bapak. Bapakku, bukan Bapak Darmawan. Bapakku dulu juga nggak pernah minta. Kerja sebelas tahun di proyek orang, makan dari rantang yang sama, nggak pernah minta naik gaji. Ibu bilang, bapakmu baik banget, Le, tapi Ibu nggak pernah tahu dia pengin apa. Sampai dia nggak ada.”

Dia mengangkat wajah dan menatapku.

“Aku nggak mau kayak gitu. Aku nggak mau kamu nggak pernah tahu aku pengin apa.”

Jantungku berdetak terlalu keras.

“Jadi aku mau minta,” katanya. “Pertama kali.”

Dia menarik napas. Aku melihat tangannya gemetar di atas buku nikah.

“Luna.”

Namaku.

Bukan Mbak. Bukan Mbak Kaluna. Bukan Kaluna, yang dia teriakkan di perpustakaan dengan suara pecah.

Luna.

Nama yang hanya dipakai Kakek. Nama yang tertulis di flashdisk hitam dengan tulisan tangan yang miring dan bergetar. Nama yang tidak pernah dipakai siapa pun lagi sejak Kakek tiada, karena Mbok Darmi memanggilku Mbak Luna dan Sekar memanggilku Lun, tapi tidak ada yang memanggilku Luna saja, utuh, seperti itu.

Sampai malam ini.

Aku tidak bisa bernapas.

“Luna,” ulangnya, lebih pelan, seperti dia sendiri sedang belajar mengucapkannya. “Pulang sama aku?”

Teras itu sunyi. Bu Darsih berhenti mencuci piring. Di balik jendela, aku mendengar seseorang menahan napas.

“Pulang ke mana?” bisikku.

“Ke rumah Ibu dulu. Keluar dari kos ini. Kamar almarhumah mbakku kosong, Ibu sudah bersihin dari kemarin. Ibu yang nyuruh aku ke sini malam ini, sebenarnya. Ibu bilang, kamu jemput dia, Le, jangan biarin istrimu tidur di kos sementara rumah ini punya kamar kosong.” Dia tersenyum sedikit. “Terus nanti, kalau kamu mau, kita pulang ke Menteng. Bareng. Lewat pintu depan.”

Lewat pintu depan.

“Itu permintaanku,” katanya. “Kamu boleh nolak. Kamu boleh mikir dulu. Aku cuma...” Dia menelan ludah. “Aku cuma mau kamu tahu aku pengin. Itu aja.”

Aku menatapnya.

Laki-laki yang setahun lebih memanggilku Mbak. Yang tidak pernah meminta apa pun, bahkan segelas air. Yang menandatangani akta pelepasan hak dan gugatan cerai sebelum aku sempat menyakitinya lebih jauh, supaya aku bebas. Yang berdiri di peron pukul empat kurang seperempat pagi dan berkata istri saya kepada petugas stasiun.

Malam ini dia duduk di teras kos dengan batik satu-satunya dan buku nikah di tangan, memanggil namaku untuk pertama kalinya, dan meminta.

“Kamu minta?” tanyaku. Suaraku pecah.

“Iya.” Dia mengangguk. “Aku minta.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Iya,” kataku dari balik tanganku. “Iya. Aku pulang sama kamu.”

Dia menatapku lama. Lalu dia menunduk, dan bahunya turun pelan, seperti seseorang yang baru saja meletakkan sesuatu yang sangat berat setelah perjalanan yang sangat jauh.

Dari balik jendela kamar kos, terdengar jeritan tertahan tiga suara sekaligus. Dari dapur, bunyi piring jatuh ke ember.

“MBAK!” Itu Bu Darsih. Suaranya keras, tapi pecah di ujung. “Kalau mau pindah, kamarnya dibersihin dulu! Saya nggak mau ada lumpur sawah di lantai!”

Dia tertawa. Aku tertawa. Kami tertawa di teras kos Bu Darsih dengan mata basah, di bawah lampu bohlam kuning, dan tiga mahasiswi akhirnya keluar dari kamarku dan bertepuk tangan dengan heboh di ambang pintu.

“Satu lagi,” katanya ketika tawa kami mereda.

“Apa?”

Dia menatapku, dan telinganya merah sampai ke leher.

“Mulai sekarang,” katanya, “aku nggak mau manggil kamu Mbak lagi.”

“Kenapa?”

“Karena Mbak itu buat orang yang aku hormati dari jauh.” Dia memutar buku nikah di tangannya sekali lagi. “Aku nggak mau jauh lagi.”

Aku pindah keesokan harinya.

Pukul tujuh pagi, Tole datang ke kos dengan gerobak dorong kecil milik Pak Karyo, didorong oleh dua anak Pak Karyo, diikuti Radit yang membawa tali rafia dan wajah yang terlalu tenang untuk orang yang baru kurang tidur. Mereka memuat koperku, ranselku, kantong kain berisi celemek almarhumah Ibu, cobek batu yang kubeli di pasar untuk latihan sambal, dan rantang biru berbunga putih.

Bu Darsih berdiri di depan pagar dengan rol rambut dan tangan bersilang. Dia tidak menangis. Dia sangat jelas tidak menangis.

“Uang kos bulan ini nggak usah dibayar,” katanya dengan suara keras. “Saya nggak mau dibayar sama orang yang mau pulang ke suaminya. Pamali.”

“Bu—”

“Pamali, Mbak.”

Nisa memelukku lama di teras dan memberiku satu tabung salep luka bakar yang masih baru. “Buat jaga-jaga,” katanya. “Tanganmu masih tangan tukang.”

Rara dan Wulan berjanji akan datang ke rumah Bu Sumarni untuk minta diajari sambal. Mereka tidak tahu bahwa sambalku masih gagal empat hari dari tujuh.

Kami berjalan dari kos Bu Darsih ke rumah cat hijau. Dua ratus meter. Tole di depan dengan gerobak dorong yang berderit di jalan berbatu, berteriak kepada setiap orang yang kami lewati: “Mbak Jakarta pindah ke rumah Mbah! Mbak Jakarta pindah ke rumah Mbah!”

Ibu-ibu di depan rumah mereka berhenti menyapu halaman. Pak Wardi dari angkringan, yang sedang belanja di pasar, melambaikan tangan dengan tas kresek berisi arang. Mas Agus dari pangkalan ojek membunyikan klakson motornya dua kali.

Radit berjalan di sebelahku. Tidak di depan. Tidak di belakang. Di sebelahku.

Di tengah jalan, tangannya menemukan tanganku.

Tidak ada pematang yang licin. Tidak ada listrik yang padam. Tidak ada senter yang mati. Hanya jalan desa yang terang di bawah matahari pukul tujuh pagi, dengan ibu-ibu yang menonton dari halaman dan Tole yang berteriak kepada seluruh dunia.

Dia menggandeng tanganku tanpa alasan apa pun.

Aku menatap tangan kami. Lalu menatapnya.

Dia tidak menatapku. Dia menatap lurus ke depan, ke rumah cat hijau dengan pohon mangga di ujung jalan. Telinganya merah. Lehernya merah. Tapi tangannya tidak melepaskan.

Ibu berdiri di teras ketika kami sampai. Mesin jahitnya tertutup kain bermotif bunga. Dia menatap kami berdua di depan pagar bambu. Menatap tangan kami.

Lalu Ibu membuka pagar bambu itu lebar-lebar, dan berkata dengan suara yang lembut dan tegas:

“Lewat depan, Nduk. Rumah ini nggak punya pintu samping.”