Chapter Two
Ini Teman Saya
POV: Kaluna
Dua minggu menjadi CEO Adisurya Group, aku belajar bahwa kursi Kakek di ruang direksi lantai tiga puluh dua jauh lebih dingin daripada kelihatannya.
Kursi itu terlalu besar. Sandarannya terlalu tinggi, lengannya terlalu lebar, dan setiap kali aku duduk di sana, aku merasa seperti anak kecil yang memakai jas ayahnya. Direktur-direktur yang dulu memanggilku Dik Luna dan mengusap kepalaku di acara ulang tahun perusahaan sekarang memanggilku Bu Kaluna dengan nada yang terlalu sopan, nada yang dipakai orang dewasa untuk menyembunyikan keraguan.
Bu Ratih, direktur keuangan yang sudah bekerja dengan Kakek selama dua puluh tahun, adalah satu-satunya yang tidak berubah. Dia tetap bicara dengan suara datar seperti mesin kasir, tetap mengoreksi angka-angkaku tanpa basa-basi, dan tetap meletakkan secangkir kopi hitam di mejaku setiap pagi pukul delapan tanpa pernah menanyakan apakah aku mau.
“Proyeksi kuartal tiga Ibu salah di halaman sembilan,” katanya Senin pagi.
“Salah di mana?”
“Di semua bagiannya, Bu.” Dia meletakkan kopi. “Diminum. Ibu kelihatan seperti orang yang belum tidur sejak Lebaran.”
Di rumah, aku hampir tidak pernah melihatnya.
Dia berangkat pukul enam pagi, sebelum aku turun, dan pulang setelah aku masuk kamar. Satu-satunya jejak keberadaannya adalah suara motor yang dinyalakan di subuh hari, dan sepasang sepatu proyek berujung besi di rak dekat pintu samping.
Pintu samping. Bukan pintu depan.
Aku baru menyadarinya di minggu kedua, ketika aku bangun lebih awal karena tidak bisa tidur dan melihatnya dari jendela kamar. Dia keluar lewat pintu kecil di dekat garasi, pintu yang biasa dipakai Mbok Darmi dan tukang kebun, mendorong motornya pelan-pelan sampai ke luar pagar supaya suaranya tidak membangunkan siapa pun, baru kemudian menyalakan mesinnya di jalan.
Tidak ada yang menyuruhnya memakai pintu samping. Aku hanya menyuruhnya tidur di kamar belakang.
Dia memutuskan sendiri sisanya.
Hari Kamis, aku punya rapat direksi pukul dua siang, dan pukul dua belas aku punya janji makan siang yang sudah kutunda tiga kali.
Tasya, Mira, dan Dinda. Teman-teman SMA yang sekarang menjadi istri pengusaha, pemilik butik, dan influencer gaya hidup dengan dua ratus ribu pengikut. Mereka mengirim karangan bunga besar ke pemakaman Kakek dan mengirim pesan duka dengan banyak emoji, dan sejak itu mereka bertanya setiap minggu kapan kami bisa makan siang, biar kamu nggak sedih terus, Lun.
Aku datang karena aku tidak tahu cara menolak lagi.
Restoran di Senopati itu terang dan penuh tanaman gantung, dengan menu yang harganya tidak masuk akal untuk sepiring salad. Mereka sudah menunggu di meja dekat jendela, cantik dan wangi dan rapi, dan begitu aku duduk, pertanyaan pertama langsung meluncur.
“Jadi,” kata Tasya, mencondongkan badan. “Suami misterius.”
Aku memesan air mineral. “Nggak ada yang misterius.”
“Kamu nikah empat puluh hari setelah Kakek meninggal, nggak ada resepsi, nggak ada foto di Instagram, dan nggak ada yang pernah lihat mukanya.” Mira mengangkat alis yang dilukis dengan sangat sempurna. “Itu definisi misterius, Lun.”
“Itu wasiat Kakek. Urusan keluarga.”
“Orangnya kayak apa?” tanya Dinda, ponselnya sudah siap di tangan seperti wartawan. “Pengusaha? Anak siapa?”
“Bukan anak siapa-siapa.”
Aku menjawab terlalu cepat. Mereka bertiga saling melirik. Aku mengalihkan pembicaraan ke butik baru Mira, dan Mira dengan senang hati bicara tentang butiknya selama dua puluh menit, dan aku pikir aku sudah lolos.
Pukul satu lewat sepuluh, ponselku bergetar. Pesan dari Mbok Darmi.
Mbak, map biru buat rapat ketinggalan di meja makan. Mas Radit kebetulan mau berangkat ke kantornya lewat Senopati. Mbok titipin ke Mas Radit ya, Mbak. Sudah jalan.
Aku menatap pesan itu dengan ngeri.
Aku mencoba menelepon Mbok Darmi. Tidak diangkat. Aku tidak punya nomor laki-laki itu. Aku tidak pernah menyimpannya, dan sekarang aku menyesali prinsipku sendiri.
Pukul satu lewat dua puluh, pintu restoran terbuka.
Dia masuk memakai helm.
Helm motor hitam dengan kaca yang sudah sedikit tergores, dan dia baru melepasnya setelah berdiri di dalam restoran, di antara tanaman gantung dan meja-meja marmer, dengan rambut yang tertekan rata di satu sisi. Kemejanya biru muda, digulung sampai siku, dengan noda debu semen samar di bagian lengan. Celananya celana kerja lapangan. Sepatunya sepatu proyek berujung besi.
Dia memindai ruangan, menemukanku, dan berjalan ke meja kami dengan map biru di tangan.
Tasya berhenti mengunyah. Mira menurunkan gelasnya. Dinda, secara refleks, mengangkat ponsel sedikit lebih tinggi.
“Mbak.” Dia berhenti di sebelah kursiku dan menyerahkan map itu. “Berkas rapat jam dua. Mbok Darmi titip.”
Aku mengambil map itu tanpa menatapnya. “Makasih.”
Dia mengangguk dan sudah setengah berbalik ketika Tasya bersuara dengan nada manis yang sangat kukenal.
“Eh, nggak dikenalin, Lun?”
Semua mata menatapku. Tiga pasang mata yang penasaran, satu pasang mata yang tidak menunjukkan apa pun.
Aku bisa saja bilang yang sebenarnya. Aku bisa saja bilang ini suamiku, singkat, lalu membiarkan mereka bertanya-tanya. Tapi kata itu tersangkut di tenggorokanku seperti tulang ikan. Suami. Laki-laki yang membuatku tidak sempat pamit kepada Kakek. Laki-laki yang membaca Yasin pukul satu malam seolah-olah dia yang paling kehilangan.
“Ini teman saya, Radit,” kataku.
Hening sesaat.
“Yang bantu-bantu urusan Kakek dulu,” tambahku, dan suaraku terdengar sangat ringan.
“Oh,” kata Mira. “Asisten?”
Aku tidak mengoreksi.
Aku mengambil gelas air dan meminumnya, dan dari sudut mataku, aku melihat dia berdiri di sana sedetik lebih lama. Wajahnya tidak berubah. Tidak ada rahang yang mengeras, tidak ada mata yang menyipit, tidak ada apa-apa. Dia hanya mengangguk kecil kepada teman-temanku dengan sopan, seperti petugas bank menyapa nasabah.
“Mari, Mbak-mbak,” katanya. Lalu kepadaku: “Halaman empat belas belum diparaf. Saya sudah tandai.”
Dia memakai helmnya kembali dan berjalan keluar, melewati tanaman gantung dan meja marmer, dan pintu restoran menutup di belakangnya.
Tasya bersiul pelan.
“Asisten Kakek kamu,” katanya, “ganteng juga, ya.”
“Tasya.”
“Apa? Aku cuma bilang. Tinggi. Bahunya bagus. Logatnya Jawa, ya? Lucu.” Tasya menyesap jusnya. “Kalau dia asisten, gaji asisten di keluargamu pasti besar. Dia pakai motor ke Senopati demi nganterin map.”
“Dia cuma kebetulan lewat.”
“Kebetulan banget,” kata Dinda sambil menunduk ke ponselnya, dan aku tidak suka cara dia tersenyum.
Di mobil menuju kantor, aku membuka map biru itu.
Di halaman empat belas, ada kertas kuning kecil yang ditempel di pinggir. Tulisan tangannya rapi, tegak, tanpa hiasan.
Halaman ini belum diparaf, Mbak. Angka di tabel bawah juga beda dengan lampiran C (tertulis 4,2 miliar, di lampiran 2,4 miliar). Mungkin salah ketik. Mohon dicek sebelum rapat.
Aku membuka lampiran C. Dia benar. Angkanya tertukar. Kesalahan yang akan membuatku terlihat sangat bodoh di depan direksi yang sudah meragukanku sejak hari pertama.
Aku menatap kertas kuning itu lama, sampai Pak Udin, sopirku, melirik lewat kaca spion dan bertanya apakah AC-nya terlalu dingin.
Aku menarik kertas itu dan meremasnya. Lalu, entah kenapa, aku tidak membuangnya. Aku memasukkannya ke saku blazer.
Rapat berjalan lancar. Bu Ratih menatap halaman empat belas, menatapku, dan mengangguk sekali, sangat kecil, seperti guru yang terkejut muridnya akhirnya mengerjakan PR dengan benar.
Aku tidak merasa menang.
Malam itu, Sekar menelepon pukul delapan. Suaranya terdengar seperti orang yang menahan banyak hal sekaligus.
“Lun. Aku mau nanya sesuatu, dan kamu jangan marah.”
“Tergantung.”
“Dinda bikin story. Foto dari belakang, laki-laki pakai helm motor jalan keluar dari restoran. Keterangannya asisten keluarga Adisurya, ganteng-ganteng serius.” Sekar menarik napas. “Itu Radit?”
Aku diam.
“Kamu kenalin suamimu sebagai asisten?”
“Aku bilang teman.”
“Oh, teman. Oke. Itu jauh lebih baik.” Suara Sekar penuh sarkasme. “Lun, dia suamimu. Secara agama dan negara. Ada buku nikahnya.”
“Itu wasiat, Kar. Bukan pernikahan.”
“Itu tetap pernikahan.” Sekar diam sebentar. Lalu, lebih pelan: “Dia marah?”
Aku memikirkan wajahnya di restoran. Anggukan kecil. Mari, Mbak-mbak. Kertas kuning di halaman empat belas.
“Nggak,” kataku. “Dia nggak pernah marah.”
“Itu yang bikin aku takut,” kata Sekar. “Orang yang nggak pernah marah biasanya lagi nyimpen sesuatu yang besar banget.”
Pukul sepuluh malam, aku turun ke dapur untuk mengambil air, dan berhenti di ambang pintu.
Dia sedang makan malam di meja kecil dekat kompor. Meja kayu tua yang biasa dipakai Mbok Darmi untuk mengupas bawang. Dia duduk di kursi plastik dengan sepiring nasi, sayur lodeh, dan tempe bacem, dan di seberangnya, Mbok Darmi duduk dengan secangkir teh sambil bercerita tentang cucunya di Wonogiri. Mereka berdua tertawa pelan. Tawa yang tenang dan akrab, seperti dua orang yang sudah lama saling kenal.
Begitu melihatku, dia berdiri.
Dia meletakkan sendok, berdiri dari kursi plastik, dan menunggu, seperti pegawai yang berdiri ketika atasannya masuk ruangan. Mbok Darmi juga berdiri, lebih lambat, dengan wajah yang tiba-tiba sangat sibuk menatap panci.
“Mbak perlu sesuatu?” tanyanya.
Aku menatapnya. Menatap sepiring nasi di meja kecil itu. Di ruang makan, di balik dinding, ada meja jati panjang dengan dua belas kursi, yang sejak empat puluh hari lalu hanya dipakai satu orang: aku.
“Air,” kataku.
Mbok Darmi buru-buru menuangkannya. Aku mengambil gelas itu dan berbalik.
“Mbak.”
Aku berhenti tanpa menoleh.
“Rapatnya lancar?”
Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke tangga dengan gelas di tangan dan kertas kuning yang sudah lecek di saku blazer yang belum kuganti, dan aku membenci kenyataan bahwa jawabanku untuk pertanyaan itu adalah iya, dan alasannya adalah dia.
Di kamar, aku mengeluarkan kertas kuning itu dan meluruskannya di atas meja.
Lalu aku memasukkannya ke laci. Bukan ke tempat sampah. Ke laci.
Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya tahu bahwa malam itu, saat mencoret angka 15 di kalender merah, tanganku sedikit lebih ragu daripada kemarin.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya reading
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu