Chapter Twelve
Plester di Lengan
POV: Radit
Aku tahu golongan darahnya dari Kakek.
Bukan dari dokumen, bukan dari rumah sakit. Dari sebuah sore tiga tahun lalu, ketika Kakek mengajakku ke PMI Kramat untuk donor rutinnya, dan perawat yang menusukkan jarum ke lengannya bertanya basa-basi apakah ada keluarga lain yang golongan darahnya sama.
Cucu saya, jawab Kakek sambil tersenyum ke langit-langit. Cuma dia. Tapi dia takut jarum. Jadi saya donor dua kali lipat, untuk jaga-jaga kalau suatu hari dia butuh.
Aku ingat aku tertawa waktu itu. Aku ingat aku bilang golongan darahku juga O negatif, dan Kakek menoleh dan menatapku lama dengan jarum masih di lengannya.
Kalau begitu, katanya, kamu juga jaga-jaga.
Hari Jumat pagi, pukul tujuh, Pak Udin meneleponku.
“Mas. Bu Kaluna trombositnya turun lagi. Delapan belas. Dokter bilang harus transfusi, tapi stok O negatif kosong di mana-mana. Mbok Darmi nangis di lorong.”
Aku sudah setengah jalan ke kantor di Tebet. Aku memutar motor di bawah jembatan layang Casablanca.
Proses donor apheresis berlangsung dua jam.
Aku berbaring di kursi panjang di ruang donor PMI dengan jarum di lengan kiri dan selang yang mengalirkan darahku ke mesin pemisah di sebelah kursi. Mesin itu berdengung pelan, memutar darahku, memisahkan trombositnya ke kantong plastik kecil, lalu mengembalikan sisanya ke tubuhku lewat jarum yang sama. Rasanya dingin. Bibirku kesemutan karena antikoagulan.
Perawat yang menanganiku, Mbak Tari, umurnya mungkin dua puluh lima, ramah dan cerewet. Dia mengecek tekanan darahku setiap lima belas menit dan mengajak bicara supaya aku tidak tertidur.
“Buat siapa, Mas?”
“Keluarga.”
“Istri?”
Aku tidak langsung menjawab. Mesin berdengung.
“Iya,” kataku akhirnya.
Mbak Tari tersenyum lebar. “Wah, romantis. Golongan darahnya sama. Itu langka lho, Mas, O negatif ketemu O negatif. Kayak jodoh beneran.”
Aku tertawa pelan. Tawa yang tidak sampai ke dada.
“Nama donornya mau dicantumkan, Mas? Biar keluarga pasien tahu.”
“Nggak usah, Mbak. Tulis aja keluarga pasien.”
Mbak Tari menatapku dengan alis terangkat, tapi dia mencatatnya seperti yang kuminta.
Kantong trombosit itu diantar kurir PMI ke rumah sakit pukul satu siang. Aku mengikuti dengan motor. Aku tidak masuk ke kamarnya. Aku duduk di kursi tunggu di ujung lorong lantai lima, dekat jendela yang menghadap parkiran, dengan plester bulat di lipatan siku dan segelas teh manis dari PMI yang sudah dingin di tangan.
Dari situ, aku bisa melihat pintu kamar 512.
Pukul dua, Gilang datang membawa buket mawar merah yang besar.
Pukul empat, seorang perawat masuk ke kamar itu dengan kantong trombosit berwarna kuning pucat.
Pukul empat lewat sepuluh, pintu kamar terbuka sedikit karena perawat keluar, dan dari celahnya, aku mendengar suaranya.
Suaranya lemah. Serak. Tapi aku mengenalinya.
“Makasih, Lang. Makasih banget. Aku nggak tahu harus gimana kalau nggak ada kamu.”
Pintu itu menutup pelan.
Aku duduk di kursi tunggu dengan teh manis yang sudah dingin, menatap pintu kamar 512.
Aku tidak marah. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri di ruang donor tadi, ketika aku meminta Mbak Tari menulis keluarga pasien, bahwa aku tidak akan marah. Aku tidak melakukannya untuk ucapan terima kasih. Aku melakukannya karena Kakek bilang kamu juga jaga-jaga, dan karena dia butuh, dan karena darahku kebetulan cocok.
Tapi ada sesuatu yang lain di dadaku. Sesuatu yang lebih sunyi dari marah, dan lebih berat.
Darahku sekarang mengalir di pembuluh darahnya, setetes demi setetes, dan dia berterima kasih kepada orang lain.
Pukul enam, Pak Udin menemukanku di kursi tunggu.
“Mas sudah makan?”
“Sudah, Pak.”
“Bohong.” Pak Udin duduk di sebelahku dan mengeluarkan bungkusan nasi padang dari kantong plastik. “Mbok Darmi titip. Katanya Mas pasti belum makan dari pagi. Habis donor harus makan, katanya, nanti pingsan.”
Aku makan nasi padang di kursi tunggu rumah sakit, dengan sendok plastik, sementara Pak Udin duduk di sebelahku dan menatap pintu kamar 512.
“Mas,” katanya setelah lama diam. “Saya lihat story Instagram Pak Gilang tadi. Ditandai sama Bu Kaluna.”
“Nggak apa-apa, Pak.”
“Bu Kaluna nulis kamu penyelamatku. Ke Pak Gilang.”
“Nggak apa-apa.”
Pak Udin menatapku lama. Lalu dia mengambil bungkus nasi padang yang sudah kosong dari tanganku, meremasnya, dan berdiri.
“Saya sopir keluarga ini enam belas tahun, Mas,” katanya. “Saya nggak pernah ikut campur. Tapi ini pertama kalinya saya pengin banget ikut campur.”
“Jangan, Pak.”
Dia menghela napas, panjang dan berat, dan pergi untuk menjemput Mbok Darmi.
Setengah jam kemudian, Mbok Darmi sendiri yang datang ke ujung lorong.
Dia duduk di kursi tunggu di sebelahku, membuka kotak plastik kecil, dan menyodorkannya kepadaku. Hati ayam goreng, enam potong, masih hangat.
“Buat darah, Mas,” katanya. “Makan.”
Aku makan satu. Mbok Darmi menatapku mengunyah, lalu menatap pintu kamar 512 di ujung lorong, lalu menatap tangannya sendiri di pangkuan.
“Mas,” katanya pelan. “Kalau Mas nggak mau bilang, biar Mbok yang bilang. Mbok sudah tua. Mbok nggak takut dimarahin.”
“Jangan, Mbok.”
“Tapi Mas—”
“Mbok.” Aku meletakkan kotak plastik di pangkuanku. “Dia baru sakit. Dia butuh berterima kasih ke seseorang. Biar dia berterima kasih ke orang yang dia mau.”
Mbok Darmi menatapku lama. Lalu dia menutup wajahnya dengan ujung kerudung, dan bahunya bergetar, dan aku duduk di sebelahnya dengan kotak hati ayam di pangkuan tanpa tahu harus berbuat apa.
Paguyuban Meja 12 tahu dalam satu jam. Tentu saja tahu.
Mas Jono: Mas Radit, semoga lekas pulih. Jangan lupa makan hati ayam. Kata ibu saya bagus buat darah.
Pak Slamet: [pesan suara 0:31]
Pak Slamet berdoa selama tiga puluh satu detik dalam bahasa Jawa, untukku dan untuk Bu Kaluna, ingkang sampun dipun paringi rah saking Mas Radit. Yang sudah diberi darah dari Mas Radit. Aku menghapus pesan suara itu dari ponselku setelah mendengarnya, karena aku takut suatu hari tidak sengaja memutarnya di dekat orang yang tidak boleh mendengar.
Malam itu, aku tidak pulang.
Aku menelepon Ibu dari ujung lorong pukul sebelas, karena Ibu sudah mengirim tiga pesan menanyakan kenapa aku tidak membalas sejak pagi. Aku bilang aku baik-baik saja, cuma capek. Ibu bertanya apakah aku sudah makan, dan aku bilang sudah, dan itu tidak bohong. Ibu bertanya apakah istriku baik-baik saja, dan aku bilang sedang sakit tapi sudah membaik.
Kamu jaga dia, Le?
Nggih, Bu.
Dia tahu kamu jaga dia?
Aku tidak menjawab. Ibu tidak bertanya lagi.
Pukul satu dini hari, aku masuk ke kamarnya. Sekali saja.
Sekar tertidur di sofa dengan mulut terbuka dan ponsel di dadanya. Lampu kamar diredupkan. Mesin infus berbunyi pelan setiap beberapa detik. Kantong trombosit di tiang infus sudah kosong, diganti cairan bening biasa.
Dia tidur.
Selimutnya melorot sampai pinggang, dan tangan kirinya yang diinfus terkulai di luar ranjang, di sudut yang pasti akan membuat lengannya pegal kalau dibiarkan sampai pagi. Ada bintik-bintik merah kecil di lengan dan pipinya, bekas demam berdarah. Wajahnya pucat, bibirnya kering, rambutnya kusut di atas bantal rumah sakit.
Dan dia tetap cantik.
Cantik dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan gaun pesta atau kalung mutiara. Cantik seperti sesuatu yang rapuh dan sangat berharga, yang harus dijaga dengan tangan yang sangat hati-hati. Bulu matanya diam di atas pipi yang pucat. Napasnya pelan dan teratur. Ada sedikit warna yang kembali ke bibirnya, warna yang tadi siang tidak ada, warna yang mungkin, sedikit saja, berasal dari darahku.
Aku tidak menyentuhnya.
Aku hanya mengangkat tangan kirinya pelan, memegang pergelangannya di atas selang infus dengan dua jari, dan meletakkannya kembali di atas kasur, di posisi yang lebih nyaman. Lalu aku menarik selimutnya sampai ke bahu, merapikannya, dan mundur.
Dia bergerak sedikit dalam tidurnya. Bibirnya bergumam sesuatu yang tidak jelas.
“Kek...”
Aku berdiri di samping ranjang, membeku.
“...Kakek...”
Matanya tetap terpejam. Alisnya berkerut. Tangannya, tangan yang baru saja kuletakkan, bergerak sedikit di atas selimut, seperti mencari sesuatu.
Aku tahu apa yang dia cari. Tangan Kakek. Tangan yang selalu menggenggam tangannya waktu dia sakit di masa kecil, kata Mbok Darmi. Tangan yang sekarang sudah tidak ada.
Aku tidak menggenggam tangannya. Aku tidak berhak.
Aku hanya berdiri di sana sampai kerutan di alisnya menghilang dan tangannya diam lagi. Lalu aku keluar dari kamar tanpa suara dan menutup pintu.
Pukul enam pagi, sebelum ada yang bangun, aku turun ke kantin rumah sakit dan membeli segelas jus jambu merah. Aku meminta mbak kantin menutupnya dengan plastik wrap supaya tetap dingin. Aku meletakkannya di meja samping ranjangnya, tanpa catatan, dan keluar sebelum Sekar membuka mata.
Di parkiran motor, aku melepas plester di lipatan sikuku.
Bekas tusukannya sudah menutup. Hanya ada titik merah kecil, dan memar ungu samar yang akan hilang dalam seminggu.
Aku membuang plester itu ke tempat sampah. Lalu aku mengambilnya lagi, karena aku ingat Kakek pernah bilang setiap kali donor, simpan plesternya, Dit, biar kamu ingat pernah berguna. Aku melipatnya kecil-kecil dan memasukkannya ke saku kemeja, bersama struk PMI dengan tulisan tangan Mbak Tari: Donor: keluarga pasien.
Aku menyalakan motor dan berangkat kerja.
Di kaca spion, aku melihat wajahku sendiri. Pucat, mata merah, dan lingkaran hitam yang tidak cocok untuk laki-laki yang baru saja menyelamatkan nyawa seseorang.
Tapi trombositnya naik. Pak Udin mengirim pesan pukul tujuh: Mas, empat puluh satu ribu. Dokter senyum.
Itu cukup. Aku bilang kepada diriku sendiri bahwa itu cukup.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan reading
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu