Chapter One

Empat Puluh Hari

POV: Kaluna

Tahlilan empat puluh hari Kakek selesai pukul delapan malam, dan pukul delapan lewat dua puluh, aku menikah.

Tidak ada pelaminan. Tidak ada janur kuning di depan pagar, tidak ada tenda, tidak ada katering. Karpet hijau bekas tahlilan masih tergelar di ruang tengah rumah Menteng, dan bau kembang dari pengajian belum sepenuhnya hilang ketika penghulu membuka map dan memanggil namaku. Ibu-ibu pengajian yang belum pulang duduk di pinggir karpet dengan wajah bingung, memegangi kotak nasi yang baru dibagikan, tidak yakin apakah mereka sedang menghadiri doa untuk orang yang meninggal atau akad untuk orang yang menikah.

Aku juga tidak yakin.

Aku memakai kebaya putih milik almarhumah Ibu. Kebaya itu sedikit longgar di pinggang dan sedikit sempit di bahu, karena Ibu lebih kecil dariku dan sudah delapan belas tahun tidak memakainya. Mbok Darmi menyetrikanya tadi sore sambil menangis. Aku tidak menangis. Aku sudah selesai menangis di Melbourne, di kamar hotel dengan karpet abu-abu, empat puluh dua hari yang lalu.

Laki-laki yang duduk di seberang meja akad memakai beskap hitam pinjaman. Lengannya sedikit kependekan.

Raditya Prasetya. Tiga puluh satu tahun. Insinyur sipil dari Klaten. Penerima beasiswa yayasan Kakek sejak SMA. Asisten pribadi Kakek tiga tahun terakhir. Orang yang menemani Kakek di rumah sakit selama tiga minggu sementara aku duduk di perpustakaan kampus di belahan dunia lain, mengerjakan revisi tesis, tidak tahu bahwa satu-satunya keluargaku sedang sekarat.

Orang yang memutuskan aku tidak perlu tahu.

Penghulu menjabat tangannya. Dia mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas, dengan suara rendah dan sangat jelas, tanpa satu pun kata yang tersendat. Para saksi berkata sah. Ibu-ibu pengajian berkata alhamdulillah dengan nada ragu. Pak Wiryo, notaris keluarga, mencatat sesuatu di bukunya dan tidak menatap siapa pun.

Aku menandatangani buku nikah dengan pulpen yang terlalu berat.

Lalu aku berdiri, mengangguk kepada penghulu, berterima kasih kepada ibu-ibu pengajian satu per satu, mencium tangan Bu Sumarni, ibunya, perempuan kecil berkerudung cokelat yang datang dari Klaten naik kereta dan menatapku dengan mata yang sangat lembut, dan berjalan ke dapur untuk meminta Mbok Darmi menambah teh.

Aku tidak menoleh ke arahnya sekali pun.

Wasiat Kakek dibacakan Pak Wiryo tiga minggu lalu, di ruang kerja Kakek yang masih berbau minyak kayu putih.

Hampir semuanya sudah kuduga. Rumah ini, saham mayoritas Adisurya Group, yayasan, tanah di Puncak. Semuanya untukku, satu-satunya cucu. Kecuali satu paragraf di halaman terakhir, yang dibacakan Pak Wiryo dengan suara yang terlalu pelan.

Saya meminta cucu saya, Kaluna Adisurya, menikah dengan Raditya Prasetya dalam waktu empat puluh hari setelah saya wafat, dan mempertahankan pernikahan tersebut sekurang-kurangnya satu tahun. Setelah satu tahun, Kaluna bebas menentukan pilihannya sendiri.

Aku tertawa waktu itu. Tawa yang tidak terdengar seperti tawa.

“Ini bercanda?”

“Tidak, Mbak Kaluna.”

“Kakek nggak mungkin nulis ini.”

Pak Wiryo menunjukkan tanda tangan Kakek. Tanda tangan yang miring dan bergetar, tanda tangan seorang laki-laki tua yang menulis dengan tangan yang sudah tidak kuat. Tanda tangan yang dibuat di rumah sakit, di minggu-minggu ketika aku tidak tahu Kakek sedang di rumah sakit.

Di minggu-minggu ketika hanya ada satu orang di samping tempat tidurnya.

Aku tidak perlu menjadi analis untuk menyimpulkan apa yang terjadi. Laki-laki itu menyembunyikan Kakek dariku. Dia memastikan aku tidak pulang. Dia duduk di samping orang tua yang sekarat dan lemah, dan entah dengan cara apa, dia keluar dari rumah sakit itu dengan satu paragraf di wasiat yang membuatnya menjadi bagian dari keluarga Adisurya.

Satu tahun, pikirku. Aku bisa bertahan satu tahun. Setelah itu dia keluar dari hidupku, dan aku akan memastikan dia keluar tanpa apa pun.

Malam itu, setelah semua tamu pulang dan Bu Sumarni diantar ke hotel dekat Stasiun Gambir karena kereta paginya berangkat pukul enam, aku menemukannya berdiri di ruang tengah dengan satu tas ransel dan satu koper kecil. Seluruh barangnya. Dua tas. Seperti orang yang menginap di rumah saudara.

“Kamarmu di belakang,” kataku.

Dia menoleh.

“Kamar tamu. Dekat dapur. Sebelah kamar Mbok Darmi.” Aku menyilangkan tangan. “Kamar atas punyaku. Ruang kerja Kakek dikunci. Kamu nggak perlu masuk ke sana.”

Dia diam sebentar. Lalu dia mengangguk.

“Nggih, Mbak.”

Mbak. Dia memanggilku Mbak. Seperti sopir memanggil majikannya. Seperti tukang kebun. Seperti dia tahu persis di mana tempatnya di rumah ini, dan entah kenapa, kepatuhan yang sangat tenang itu justru membuatku lebih marah daripada kalau dia membantah.

“Aturannya,” kataku. “Kamu nggak perlu ikut ke acara keluargaku. Kamu nggak perlu ngaku-ngaku suamiku ke siapa pun. Kamu nggak perlu ngurusin apa pun di rumah ini. Satu tahun. Setelah itu kita urus perceraiannya di Pak Wiryo, dan kamu pergi.”

“Nggih.”

“Kamu nggak mau bilang apa-apa?”

Dia menatapku. Matanya gelap dan lelah, dengan lingkaran hitam di bawahnya yang tidak cocok untuk laki-laki yang baru saja, menurut perhitunganku, memenangkan lotre.

“Tehnya sudah disiapkan Mbok Darmi,” katanya. “Di meja makan. Selagi hangat.”

Lalu dia mengangkat koper kecilnya dan berjalan ke belakang, ke lorong sempit dekat dapur.

Di meja makan, Mbok Darmi sudah meletakkan dua cangkir teh di atas tatakan. Cangkir porselen bermotif bunga biru, sepasang, yang dulu dipakai Kakek dan almarhumah Nenek setiap sore di teras. Mbok Darmi pasti mengeluarkannya dari lemari kaca dengan sengaja. Satu di ujung meja dekat kursi kosong Kakek, satu di sisi kanan.

Aku mengambil cangkir yang di sisi kanan.

Dia kembali dari lorong belakang tepat ketika aku sampai di wastafel dapur. Dia berhenti di ambang pintu. Aku tahu dia melihatku. Aku memastikan dia melihatku.

Aku menuang teh di cangkir itu ke wastafel. Pelan. Sampai tetes terakhir.

Lalu aku meletakkan cangkir kosongnya di samping keran dan berjalan melewatinya tanpa bicara.

Di belakangku, aku mendengar keran dibuka. Bunyi air. Bunyi cangkir porselen yang dicuci dengan sangat hati-hati, dikeringkan, dan dikembalikan ke lemari kaca.

Hanya itu. Tidak ada protes. Tidak ada Mbak, kok gitu. Tidak ada apa-apa.

Pukul sepuluh, Sekar menelepon.

Sekar Ayudia, sahabatku sejak SMP, desainer interior yang tidak pernah bisa diam lebih dari tiga detik. Dia tidak hadir di akad karena sedang memasang wallpaper di vila klien di Bali dan pesawatnya baru mendarat besok.

“Gimana? Sudah sah?”

“Sudah.”

“Terus? Malam pertama?”

“Malam pertamanya di kamar tamu.”

Hening tiga detik.

“Kamu nikah,” kata Sekar perlahan, “atau buka kos-kosan?”

“Sekar.”

“Aku cuma nanya. Kamu kasih dia kamar di belakang, deket dapur? Kamu tahu itu kamar yang dulu dipakai sopirnya Kakek, kan?”

“Aku tahu.”

Sekar diam lagi. Lalu suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih hati-hati, seperti seseorang yang berjalan di atas lantai yang baru dipel.

“Lun. Kamu yakin dia jahat?”

“Dia nyembunyiin Kakek dari aku.” Suaraku keluar lebih keras dari yang kumaksud. “Tiga minggu, Kar. Tiga minggu Kakek di rumah sakit, dan dia nggak bilang apa-apa. Kakek meninggal, dan dia masih nggak bilang. Dia biarin aku jalan di panggung wisuda sambil senyum, sementara Kakek sudah dikubur dua hari. Terus dia muncul di hotel bawa bunga, dari Kakek katanya. Bunga dari orang yang sudah mati.”

Sekar tidak menjawab.

“Dan sekarang dia ada di wasiat,” lanjutku. “Kamu mau bilang itu kebetulan?”

“Aku nggak bilang apa-apa,” kata Sekar pelan. “Aku cuma nanya kamu yakin atau nggak.”

Aku menutup telepon tanpa menjawab.

Di kamarku di lantai atas, aku membuka laci meja dan mengeluarkan kalender meja yang kubeli di toko buku bandara Melbourne. Kalender kosong. Aku membuka halaman bulan ini, mengambil spidol merah, dan mencoret tanggal hari ini dengan tanda silang besar.

Di sudut kotak tanggal itu, dengan huruf kecil, aku menulis: 1.

Masih tiga ratus enam puluh empat hari lagi.

Aku tidak bisa tidur.

Pukul satu lewat, aku turun ke dapur untuk mengambil air. Rumah gelap. Hanya ada cahaya kecil dari lorong belakang, dari celah bawah pintu kamar tamu.

Dari balik pintu itu, terdengar suara.

Suara laki-laki, sangat pelan, nyaris berbisik. Membaca sesuatu dengan irama yang kukenal. Irama yang sama dengan yang kudengar tadi sore dari ibu-ibu pengajian di ruang tengah.

Yasin.

Dia membaca Yasin. Sendirian. Pukul satu malam. Untuk Kakek.

Aku berdiri di dapur yang gelap dengan gelas kosong di tangan, dan sesuatu yang panas naik ke tenggorokanku. Bukan sedih. Marah. Marah yang begitu besar sampai tanganku gemetar.

Dia tidak punya hak. Dia tidak punya hak berduka seperti itu, di rumah Kakek, dengan suara seperti itu, seolah-olah dia yang kehilangan. Seolah-olah dia yang tidak sempat pamit.

Aku kembali ke kamar tanpa mengambil air.

Di bawah selimut, aku menutup telinga dengan bantal. Rumah ini terlalu sunyi. Suaranya masih terdengar samar, naik dari lantai bawah, seperti sesuatu yang tidak bisa diusir.

Aku tidak menangis. Aku sudah selesai menangis.

Tapi telapak tangan kananku terasa panas, seperti malam itu di Melbourne. Malam ketika dia berdiri di depan pintu kamar hotelku dengan buket melati dan mawar putih, lalu berkata dengan suara yang sangat pelan bahwa Kakek sudah tidak ada. Sudah dimakamkan. Dua hari yang lalu. Malam ketika tanganku bergerak lebih cepat daripada pikiranku, dan bunyi tamparan itu memenuhi lorong hotel yang sepi.

Dia tidak mundur. Dia tidak mengangkat tangan untuk melindungi wajahnya. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya menunduk, meletakkan buket itu di lantai di depan pintuku, dan berjalan pergi.

Pipi kirinya masih merah ketika dia menghilang di ujung lorong.

Aku tidak pernah menyesalinya. Sampai malam ini, aku masih yakin aku tidak akan pernah menyesalinya.