Chapter Five

Benci Lebih Ringan

POV: Radit

Setiap Jumat pukul enam pagi, sebelum berangkat kerja, aku membeli melati.

Penjualnya Mbok Sum, perempuan tua yang menggelar bunga tabur di trotoar depan TPU Karet Bivak sejak sebelum aku lahir. Dia sudah hafal pesananku sejak minggu kedua. Melati saja, tanpa mawar, tanpa kenanga, dibungkus daun pisang, dan dia selalu menambahkan segenggam lebih banyak dari yang kubayar.

“Buat Bapak lagi, Mas?”

“Nggih, Bu.”

“Bapakmu beruntung. Anaknya rajin.”

Aku tidak pernah mengoreksi. Kakek bukan bapakku. Tapi selama empat belas tahun, sejak beliau menandatangani surat beasiswa SMA-ku di kantor yayasan dengan pulpen tinta biru yang sama dengan yang beliau pakai untuk menandatangani wasiat, aku memanggilnya Bapak. Seluruh penerima beasiswa memanggilnya begitu. Tapi hanya aku yang memandikan jenazahnya.

Makam Kakek ada di blok yang teduh, di bawah pohon kamboja tua. Nisannya masih sederhana, batu granit hitam yang dipesan Mbak Kaluna dari Melbourne lewat telepon dengan suara yang terdengar seperti orang yang sudah berhari-hari tidak tidur. Aku yang memasangnya. Dia tidak tahu itu juga.

Aku menabur melati, membersihkan daun kering, dan duduk di bangku semen di sebelah makam.

“Pak,” kataku. “Dia masih belum makan siang.”

Angin pagi menggoyang pohon kamboja. Bunga putih jatuh satu-satu ke atas granit hitam.

“Saya sudah coba. Perkedel. Seperti yang Bapak bilang.” Aku tersenyum sedikit. “Rantangnya dibuang. Sama rantangnya sekalian. Ibu saya bisa marah kalau tahu.”

Aku diam lama. Seorang tukang sapu makam lewat, mengangguk, dan pergi.

Di kepalaku, suara itu datang lagi. Seperti setiap Jumat. Suara serak dan terputus-putus dari ranjang rumah sakit, pukul dua pagi, ketika lampu lorong sudah diredupkan dan hanya bunyi mesin monitor yang menemani kami.

Satu tahun saja, Dit.

Aku tidak pernah menyelesaikan kalimat itu di kepalaku. Selalu berhenti di sana. Selalu berhenti di satu tahun saja, seperti rekaman yang terpotong. Karena kalau aku membiarkan diriku mengingat sisanya, aku tidak akan sanggup berdiri dari bangku semen ini dan berangkat kerja.

Pukul sepuluh, Pak Wiryo meneleponku.

“Bisa mampir ke kantor siang ini, Mas Radit? Ada berkas yang perlu dilengkapi.”

Kantor notaris Pak Wiryo ada di lantai dua sebuah ruko tua di Kebayoran Baru, dengan tangga sempit dan bau kertas lama. Pak Wiryo sudah menjadi notaris keluarga Adisurya selama tiga puluh tahun. Dia laki-laki kurus berkacamata tebal yang bicara pelan, menulis dengan pulpen tinta, dan tidak pernah terburu-buru dalam hal apa pun.

Berkas yang perlu dilengkapi ternyata hanya satu lembar fotokopi KTP yang sebenarnya sudah kuberikan dua bulan lalu.

Aku duduk di kursi kayu di seberang mejanya, dan dia menatapku dari balik kacamata tebalnya.

“Saya dengar dari Bu Ratih,” katanya. “Soal meja dua belas.”

Aku diam.

“Dan dari Pak Udin. Soal rantang.”

“Pak Udin ngobrol sama banyak orang, Pak.”

“Pak Udin ngobrol sama saya karena saya yang dulu menyiapkan kontrak kerjanya. Dia datang ke sini kemarin, minta saya bicara sama Mas.” Pak Wiryo melepas kacamatanya dan mengelapnya dengan sapu tangan. “Mas Radit. Sudah dua bulan. Saya rasa sudah waktunya.”

“Belum, Pak.”

“Mas bisa jelaskan soal Melbourne. Itu saja. Itu sudah cukup untuk mengubah semuanya.”

Aku menatap meja kayunya yang penuh tumpukan map. Ada map biru di sudut, sama dengan map biru di laci kamarku, berisi salinan yang sama.

“Kalau saya jelaskan Melbourne,” kataku pelan, “saya harus jelaskan siapa yang minta saya diam, Pak. Dan dia akan benci orang yang salah.”

Pak Wiryo diam.

“Sekarang dia benci saya,” lanjutku. “Itu nggak apa-apa. Saya bisa bawa. Tapi kalau dia tahu yang sebenarnya, dia nggak akan benci saya lagi. Dia akan benci dirinya sendiri. Dia akan mikir dia nggak cukup penting. Dia akan mikir dia seharusnya tahu, seharusnya pulang, seharusnya ada di sana.” Aku menelan ludah. “Dan orang yang dia benci itu nggak bisa pergi dari hidupnya, Pak. Saya bisa pergi setelah satu tahun. Dirinya sendiri nggak bisa.”

Pak Wiryo memakai kacamatanya kembali. Pelan sekali.

“Benci lebih ringan dibawa daripada rasa bersalah, Pak,” kataku. “Biar dia bawa yang ringan.”

Lama Pak Wiryo tidak menjawab. Dia menatapku seperti menatap dokumen yang isinya sudah dia hafal tapi masih ingin dia baca ulang.

“Ringan untuk siapa, Mas?” tanyanya akhirnya. “Untuk dia, atau untuk Mas?”

Aku tidak menjawab.

Pak Wiryo menghela napas dan menyodorkan selembar kertas untuk kutandatangani. Fotokopi KTP itu. Aku menandatanganinya. Kami berdua tahu itu cuma alasan.

Sore harinya, di kantor konsultan di Tebet, ponselku bergetar dua puluh tiga kali dalam satu jam.

Aku dimasukkan ke grup WhatsApp baru. Namanya PAGUYUBAN MEJA 12 (RESMI). Fotonya adalah foto meja bundar kami di ballroom malam itu, dengan taplak putih bernoda kuah semur di bagian Pak Slamet. Anggotanya enam sopir Adisurya dan aku.

Pak Udin: Selamat datang Mas Radit di paguyuban. Grup ini dibentuk berdasarkan musyawarah mufakat di parkiran hotel.

Mas Jono: Aturan grup: dilarang ngomongin kerjaan, wajib ngomongin gorengan.

Pak Slamet: [pesan suara 2:47]

Aku memutar pesan suara Pak Slamet. Isinya dua menit empat puluh tujuh detik bunyi televisi, suara cucu yang menangis, dan di detik terakhir, suara Pak Slamet berkata, “Mas Radit, matur nuwun dagingnya kemarin.” Lalu terputus.

Aku tertawa sendirian di meja kerjaku, sampai rekan kerjaku, Dimas, melongok dari balik partisi.

Mas Jono: Kopdar Sabtu, angkringan Tanah Abang. Mas Radit wajib hadir.

Pak Udin: Mas Radit, laporan. Bu Kaluna hari ini makan siang jam 3. Telat lagi. Cuma roti. Saya sudah bilang ke Mbak sekretaris.

Aku menatap pesan terakhir itu.

Aku tidak pernah meminta Pak Udin melaporkan apa pun. Dia sendiri yang memutuskan, sejak siang rantang biru. Dia mengantar Mbak Kaluna setiap hari, dan setiap kali Mbak Kaluna melewatkan makan, Pak Udin mengirim satu kalimat kepadaku, seperti laporan cuaca.

Aku membalas.

Matur nuwun, Pak. Nggak usah dilaporin ke saya. Cukup Bapak yang ingetin Mbak Kaluna makan. Bapak lebih dia percaya daripada saya.

Pak Udin: Siap. Tapi tetap saya laporin. Saya sudah biasa laporan sama almarhum Bapak. Sekarang laporannya ke Mas.

Aku tidak membalas lagi. Aku tidak bisa.

Malam itu, aku pulang pukul sembilan. Rumah Menteng gelap, kecuali satu jendela di lantai dua.

Jendela ruang kerja Kakek.

Ruangan itu dikunci sejak hari pertama. Kamu nggak perlu masuk ke sana, katanya di malam akad. Aku tidak pernah masuk. Aku bahkan tidak pernah lewat di depannya kecuali kalau terpaksa, karena lorong itu juga lorong menuju kamarnya.

Aku masuk lewat pintu dapur. Mbok Darmi sudah tidur. Rumah sunyi.

Lalu aku mendengarnya.

Suara dari lantai dua. Tertahan. Teredam. Seperti seseorang yang menangis dengan wajah ditekan ke bantal atau ke lengan baju, berusaha sangat keras supaya tidak ada yang mendengar.

Aku berdiri di kaki tangga lama sekali.

Aku tahu aku tidak boleh naik. Aku tahu kalau dia melihatku di lorong itu, di depan ruang kerja Kakek, pada pukul sembilan malam ketika dia sedang menangis, dia akan membenciku lebih dalam lagi, dan dia berhak.

Aku naik.

Pelan. Tanpa alas kaki. Aku berhenti di ujung lorong, beberapa meter dari pintu ruang kerja yang terbuka sedikit.

Dari celah pintu itu, aku melihatnya.

Dia duduk di lantai, bersandar ke rak buku Kakek, memeluk kardigan rajut abu-abu tua yang selalu dipakai Kakek setiap sore di teras. Lututnya ditekuk ke dada. Wajahnya terbenam di kardigan itu. Bahunya bergetar.

Lampu meja Kakek menyala, cahayanya jatuh di rambutnya yang tergerai berantakan.

Dan dalam cahaya itu, dengan mata yang pasti sudah bengkak dan wajah yang dia sembunyikan di kardigan seorang laki-laki yang sudah tiada, dia tetap terlihat seperti perempuan paling jelita yang pernah kulihat. Bukan cantik yang dipamerkan di ballroom. Cantik yang patah. Cantik yang membuatku ingin masuk dan memeluknya, dan tahu bahwa aku adalah orang terakhir di dunia yang boleh melakukan itu.

Aku tidak masuk.

Aku duduk di lantai lorong, bersandar ke dinding, di tempat yang tidak terlihat dari celah pintu. Aku menunggu.

Aku tidak tahu berapa lama. Mungkin setengah jam. Mungkin lebih. Tangisnya pelan-pelan mereda. Lalu berubah menjadi napas yang panjang dan tersendat. Lalu sunyi.

Aku mengintip sekali lagi. Dia tertidur di lantai, masih memeluk kardigan Kakek, kepalanya bersandar di rak buku.

Aku turun ke bawah tanpa suara. Aku mengambil selimut dari lemari linen di dekat tangga, selimut tipis yang kuambil sembarangan, dan naik lagi. Aku tidak masuk ke ruang kerja itu. Aku hanya mengetuk pintu kamar Mbok Darmi di bawah, membangunkannya dengan sangat pelan, dan menyerahkan selimut itu kepadanya.

“Mbak Kaluna ketiduran di ruang kerja Bapak, Mbok,” bisikku. “Di lantai.”

Mbok Darmi menatapku, menatap selimut di tangannya, lalu menatapku lagi dengan mata yang langsung basah.

“Mas tadi di atas?”

“Saya nggak masuk, Mbok.”

“Mas di atas,” ulang Mbok Darmi pelan. “Dari tadi?”

Aku tidak menjawab. Aku kembali ke kamar tamu dekat dapur dan menutup pintu.

Di laci, flashdisk dan map biru masih di tempatnya. Aku tidak membukanya. Aku hanya memastikan.

Tiga ratus lima hari lagi.

Pak Wiryo benar. Aku tidak tahu ringan untuk siapa.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak akad, aku tidak bisa tidur sama sekali.