Chapter Nineteen

Foto dari Barisan Belakang

POV: Kaluna

Sekar yang menemukannya. Tentu saja Sekar.

Aku meneleponnya pukul delapan pagi, setelah perkedel kentang Mbok Darmi yang tidak bisa kuhabiskan, dan aku tidak bisa bicara. Aku hanya menangis di telepon, dan Sekar mendengarkan tangisku selama satu menit penuh, lalu berkata, “Aku ke sana. Lima belas menit.” Dan dua puluh menit kemudian, dia sudah duduk di lantai kamarku, di antara puing-puing map biru, membaca akta pelepasan hak dengan wajah yang semakin pucat di setiap halaman.

Ketika dia selesai, dia tidak berkata aku sudah bilang. Sekar tidak pernah berkata aku sudah bilang. Dia hanya meletakkan akta itu, menatap struk PMI dengan plester yang ditempel di sebelahnya, menatap tujuh kartu latihan dengan catatan pensil, dan menutup mulutnya dengan tangan.

“Lun,” katanya akhirnya, dengan suara yang aneh. “Melbourne.”

“Apa?”

“Kamu bilang dia nyembunyiin Kakek dari kamu. Kamu bilang dia biarin kamu wisuda sambil senyum sementara Kakek udah dikubur. Terus dia muncul di hotel bawa bunga.” Sekar menatapku. “Kakek bilang di surat, semua yang kamu benci dari Radit, Kakek yang menyuruh. Termasuk Melbourne?”

Aku tidak bisa menjawab.

“Wisudamu disiarkan langsung, kan?” Sekar sudah mengeluarkan ponselnya. “Universitas di Australia selalu bikin livestream wisuda. Rekamannya pasti masih ada di YouTube.”

“Kar, aku nggak mau lihat.”

“Kamu harus lihat.” Sekar mengetik dengan cepat. “Kamu nggak pernah nonton rekaman wisudamu sendiri, kan? Karena malamnya kamu tahu Kakek sudah nggak ada.”

Aku memang tidak pernah menontonnya. Aku tidak pernah bisa. Hari itu, hari yang seharusnya menjadi hari paling membanggakan dalam hidupku, menjadi hari di mana aku kehilangan segalanya. Aku tidak pernah membuka foto-foto wisudaku. Toga dan topi wisudaku masih di dalam koper di gudang, belum dibongkar sejak pulang.

Sekar menemukan videonya dalam lima menit.

Graduation Ceremony, Faculty of Business and Economics. Durasi tiga jam empat belas menit. Ditonton dua ribu kali.

Dia menggulir ke bagian nama-nama lulusan program magister. Dia memperlambatnya, mencari, sampai suara pembawa acara dengan aksen Australia yang kental terdengar dari speaker ponselnya.

“Kaluna Adisurya. Master of Business Administration. With distinction.”

Aku melihat diriku sendiri berjalan di panggung.

Toga hitam dengan selempang ungu. Rambut disanggul. Senyum lebar yang sekarang terasa seperti milik orang lain, senyum perempuan yang belum tahu apa-apa. Aku menjabat tangan dekan. Aku menerima gulungan ijazah. Aku menoleh ke arah penonton dan melambai, ke arah kursi-kursi tempat keluarga para lulusan duduk, karena aku sudah terbiasa melambai ke arah Kakek di setiap wisuda sejak TK, meskipun hari itu aku tahu Kakek tidak bisa datang. Kakek ada urusan di Jakarta, Lun. Maaf ya. Nanti Kakek video call.

Kamera bergeser mengikuti lambaianku. Menyorot penonton. Barisan demi barisan wajah orang asing, keluarga lulusan lain, bertepuk tangan dengan sopan.

“Stop,” kata Sekar tiba-tiba. “Stop, stop.”

Dia menghentikan video. Dia memundurkannya dua detik. Dia memperbesar layar dengan dua jari.

Barisan paling belakang auditorium. Di ujung kiri, dekat pintu keluar, di kursi yang setengah tertutup bayangan pilar.

Seorang laki-laki dengan batik cokelat tua.

Batik dengan motif parang kecil. Batik yang sama yang dia pakai di gala ulang tahun perusahaan, yang kerahnya disetrika tegak dan lengannya pas di pergelangan, yang terkena kuah semur Pak Slamet dan direndam Mbok Darmi di ember belakang. Ini batik satu-satunya, Mbak. Dibeliin ibunya buat wisuda S1.

Dia tidak bertepuk tangan.

Dia duduk dengan punggung tegak dan kedua tangan menutupi wajah. Bahunya terguncang. Di gambar beku yang buram karena diperbesar, aku bisa melihat jari-jarinya menekan matanya, seperti seseorang yang berusaha sangat keras menahan sesuatu supaya tidak keluar, dan gagal.

Dia menangis. Di barisan paling belakang. Ketika namaku dipanggil.

Sekar memutar videonya lagi. Kamera bergeser kembali ke panggung, ke lulusan berikutnya. Laki-laki di barisan belakang menghilang dari bingkai.

“Dia di sana,” bisik Sekar. “Lun. Dia di sana.”

Aku mengambil ponsel dari tangan Sekar. Aku memutar ulang bagian itu. Sekali. Dua kali. Lima kali. Aku memperbesar wajahnya yang tertutup tangan sampai yang tersisa hanya piksel-piksel buram berwarna cokelat dan kulit, dan aku tetap tidak bisa berhenti menatapnya.

Dua hari setelah Kakek dimakamkan.

Dia terbang dari Jakarta ke Melbourne. Dia duduk di barisan paling belakang auditorium di negara asing, di antara orang-orang yang tidak dia kenal, dengan batik satu-satunya. Dia menangis ketika namaku dipanggil. Lalu dia menunggu sampai upacara selesai, sampai aku selesai berfoto dengan teman-teman sekelasku, sampai aku kembali ke hotel. Dia mengetuk pintu kamarku dengan buket melati dan mawar putih.

Dan aku menamparnya.

Aku menatap telapak tangan kananku. Tangan yang menamparnya. Tangan yang sama yang sekarang memegang ponsel berisi wajahnya yang menangis.

“Aku mau ketemu Pak Wiryo,” kataku.

Kantor notaris Pak Wiryo ada di lantai dua sebuah ruko tua di Kebayoran Baru. Aku belum pernah ke sana. Aku selalu memanggil Pak Wiryo ke rumah, atau ke kantor, seperti Kakek dulu. Hari itu aku menaiki tangga sempit yang berbau kertas lama, dengan Sekar di belakangku, dan mengetuk pintu kaca dengan stiker nama yang sudah mengelupas di ujung-ujungnya.

Pak Wiryo membuka pintu. Dia melihat wajahku. Dia tidak terkejut.

“Silakan duduk, Mbak Kaluna,” katanya pelan. “Saya sudah menunggu.”

Dia menyuguhkan teh dalam gelas belimbing dan duduk di seberang meja kayunya yang penuh tumpukan map. Ada map biru di sudut meja, sama dengan yang di tasku.

“Bapak tahu semuanya,” kataku. Bukan pertanyaan.

“Saya tahu sebagian besar, Mbak.”

“Ceritakan.”

Pak Wiryo melepas kacamatanya dan mengelapnya dengan sapu tangan. Gerakan yang sangat lambat, seperti seseorang yang sedang memilih kata pertama dari ratusan kata yang sudah dia simpan terlalu lama.

“Hari Bapak wafat,” katanya, “Mas Radit yang memandikan jenazahnya. Bersama modin dari masjid dekat rumah sakit. Mas Radit yang mengazankan di liang lahat. Mas Radit yang mengurus surat kematian, membayar biaya rumah sakit yang belum lunas, menelepon semua mandor lama satu per satu supaya mereka bisa datang ke pemakaman. Lima puluh orang datang hari itu, Mbak. Sopir, tukang, mandor. Mas Radit yang menyalami mereka satu per satu di gerbang makam.”

Aku menggenggam gelas teh terlalu kuat.

“Keesokan paginya, dia terbang ke Melbourne. Tiket ekonomi, yang paling murah, transit di Denpasar. Dia sampai di Melbourne empat jam sebelum wisuda Mbak. Langsung dari bandara ke kampus, dengan batik yang sama yang dia pakai di pemakaman, karena itu satu-satunya baju bagus yang dia bawa.” Pak Wiryo memakai kacamatanya kembali. “Itu amanat Bapak. Bapak minta Mas Radit hadir di wisuda Mbak, menggantikan Bapak. Supaya ada seseorang dari rumah yang melihat Mbak di panggung. Bapak minta dia menunggu sampai upacara selesai, baru menyampaikan kabarnya. Supaya Mbak punya satu hari itu dengan utuh.”

“Kenapa,” suaraku pecah, “kenapa dia nggak bilang? Waktu aku nampar dia. Waktu aku nyuruh dia tidur di kamar sopir. Waktu aku...” Aku tidak bisa melanjutkan.

Pak Wiryo diam lama.

“Saya pernah menanyakan pertanyaan yang sama, Mbak,” katanya. “Di kursi yang sedang Mbak duduki. Dua bulan setelah akad. Saya bilang kepadanya, ceritakan Melbourne saja, itu sudah cukup untuk mengubah semuanya.”

“Dan?”

Pak Wiryo menatapku dari balik kacamata tebalnya.

“Dia bilang, kalau dia menceritakan Melbourne, dia harus menceritakan siapa yang meminta dia diam. Dan Mbak akan membenci orang yang salah.” Pak Wiryo berhenti. “Dia bilang, sekarang Mbak membencinya, dan itu tidak apa-apa, dia bisa membawanya. Tapi kalau Mbak tahu yang sebenarnya, Mbak tidak akan membencinya lagi. Mbak akan membenci diri Mbak sendiri.”

Dia menatapku lebih lama.

“Lalu dia bilang satu kalimat yang tidak pernah saya lupakan. Benci lebih ringan dibawa daripada rasa bersalah, Pak. Biar dia bawa yang ringan.”

Aku meletakkan gelas teh di meja. Tanganku tidak bisa lagi memegangnya.

Di sebelahku, Sekar menangis tanpa suara, dengan wajah ditutup sapu tangan.

Benci lebih ringan.

Dia memilih untuk menjadi sesuatu yang bisa kubenci. Dengan sengaja. Selama sepuluh bulan. Supaya aku tidak harus membenci diriku sendiri.

Dan aku membuatnya membawa semua itu. Teh di wastafel. Kamar sopir. Ini teman saya. Rantang di tempat sampah. Meja dua belas. Logatnya yang kutertawakan. Jangan sentuh aku. Harga yang Kakek bayar.

Aku menumpuk semua itu di pundaknya, satu demi satu, hari demi hari, dan dia membawanya tanpa mengeluh, karena dia pikir itu lebih ringan daripada apa yang akan kubawa kalau aku tahu.

Dia salah.

Karena sekarang aku tahu, dan beban yang dia tanggung selama sepuluh bulan jatuh ke pundakku sekaligus, dan rasanya seperti tertimbun bangunan.

“Pak,” kataku akhirnya, dengan suara yang hampir tidak ada. “Flashdisk itu. Suara Kakek. Bapak pegang?”

“Saya pegang, Mbak.”

“Boleh saya dengar sekarang?”

Pak Wiryo menggeleng pelan.

“Amanatnya hari ke-tiga ratus enam puluh lima, Mbak. Empat puluh tiga hari lagi. Saya sudah menjadi notaris keluarga Adisurya tiga puluh tahun. Saya tidak pernah melanggar amanat Bapak.” Dia menatapku dengan mata yang lembut tapi tidak goyah. “Mas Radit juga tidak pernah. Sekali pun. Bahkan ketika itu menghancurkannya.”

Aku menunduk.

Sebelum kami pulang, Pak Wiryo mengantarku sampai ke puncak tangga sempit itu. Dia berhenti di sana, satu tangan di pegangan tangga yang catnya sudah mengelupas.

“Mbak Kaluna,” katanya. “Satu hal lagi.”

Aku menoleh.

“Malam itu, sebelum dia berangkat ke Klaten, dia menitipkan flashdisk itu ke loker kantor saya. Pukul dua dini hari. Lalu dia mengirim pesan kepada saya, dan dalam pesan itu dia tidak meminta apa pun. Dia tidak meminta saya menjelaskan apa pun kepada Mbak. Dia tidak meminta saya membelanya.” Pak Wiryo menatapku. “Dia hanya meminta saya memastikan Mbak makan malam di hari ke-tiga ratus enam puluh lima, sebelum mendengarkan rekaman itu. Supaya Mbak tidak mendengar suara Bapak dengan perut kosong.”

Aku tidak ingat bagaimana aku menuruni tangga itu.

Aku hanya ingat Sekar memegang lenganku di setiap anak tangga, dan bau kertas lama, dan cahaya matahari siang yang terlalu terang ketika kami keluar ke trotoar Kebayoran Baru, dan suara di kepalaku yang terus berulang, seperti rekaman yang terputus:

Supaya Mbak tidak mendengar suara Bapak dengan perut kosong.

Di mobil, aku membuka video wisuda itu lagi.

Aku memutarnya, dan memutarnya, dan memutarnya. Laki-laki di barisan paling belakang, dengan batik cokelat dan tangan yang menutupi wajah. Dua detik. Lalu kamera bergeser, dan dia menghilang.

Dua detik. Selama sepuluh bulan, aku memberinya dua detik perhatian di setiap hari, dan selalu dalam bentuk kebencian.

Sekar menyetir. Aku duduk di kursi penumpang dengan ponsel di pangkuan, dan menatap wajah buram yang tertutup tangan itu sampai ponselku kehabisan baterai.