Chapter Eighteen
Isi Map Biru
POV: Kaluna
Surat Kakek ditulis dengan tangan.
Bukan diketik. Bukan dengan mesin tik Olympia yang selalu dia pakai untuk hal-hal penting. Dua lembar kertas bergaris dari buku catatan rumah sakit, dengan logo RS Medistra kecil di pojok kanan atas, ditulis dengan pulpen tinta biru dan tulisan tangan yang sangat miring, sangat bergetar, dengan huruf-huruf yang kadang tumpang tindih dan baris-baris yang turun ke kanan seperti orang yang menulis sambil berbaring.
Kakek menulisnya sendiri. Dengan tangan yang hampir tidak bisa memegang pulpen.
Lun,
Kalau kamu membaca ini, berarti Radit sudah pergi tanpa membela diri.
Dia memang begitu.
Kakek minta maaf. Kakek tahu kamu marah. Kakek tahu kamu marah sejak Melbourne, dan Kakek tahu kamu menyalahkan Radit untuk semuanya. Kakek tahu karena Kakek yang merencanakannya begitu. Kakek pengecut, Lun. Kakek lebih memilih kamu membenci orang lain daripada membenci Kakek.
Kakek tidak akan menulis semuanya di sini. Kakek tidak sanggup. Tangan Kakek sudah tidak kuat, dan ada hal-hal yang harus kamu dengar langsung dari suara Kakek, bukan dari kertas. Suara itu akan sampai kepadamu di hari ke-tiga ratus enam puluh lima. Pak Wiryo yang pegang.
Tapi satu hal harus kamu tahu sekarang, malam ini, sebelum kamu tidur:
Semua yang kamu benci dari Radit, Kakek yang menyuruh.
Dia tidak meminta apa pun dari Kakek. Dia tidak menerima apa pun dari Kakek. Lihat isi map ini. Dan kalau setelah membacanya kamu masih ingin membencinya, bencilah. Tapi benci dia karena dirinya sendiri, jangan karena Kakek.
Kakek sayang kamu, bulan sabitku. Kakek sayang dia juga. Kakek minta maaf karena menitipkan kalian berdua kepada satu sama lain dengan cara yang paling sulit.
— Kakek
Di bagian bawah, tanpa tanda tangan, ada gambar bulan sabit dengan pulpen tinta biru. Patah di tengah, sama seperti di kartu ulang tahunku.
Aku membaca surat itu tiga kali.
Lalu aku meletakkannya di meja rias dengan sangat hati-hati, karena tanganku gemetar terlalu keras dan aku takut merobeknya, dan aku membuka map biru.
Dokumen pertama adalah akta notaris.
Kertas berwarna krem, dengan kop surat kantor notaris Wiryo Sasmito, S.H., M.Kn., dan stempel resmi di setiap halaman. Empat halaman. Tertanggal dua hari sebelum akad.
Aku membacanya dengan otak yang terbiasa membaca kontrak, dan karena itu aku langsung mengerti, dan karena aku langsung mengerti, aku tidak bisa berhenti membacanya.
Akta Pelepasan Hak.
Pihak Kedua, Raditya Prasetya, dengan ini menyatakan secara sadar dan tanpa paksaan dari pihak mana pun, bahwa:
1. Pihak Kedua melepaskan seluruh hak atas harta warisan almarhum Darmawan Adisurya, dalam bentuk apa pun, baik yang timbul dari wasiat maupun dari hubungan perkawinan dengan cucu almarhum.
2. Pihak Kedua tidak akan menerima, menuntut, atau mengklaim harta bersama dalam bentuk apa pun selama dan setelah perkawinannya dengan Kaluna Adisurya.
3. Pihak Kedua tidak akan menerima nafkah, fasilitas, atau pemberian materi dalam bentuk apa pun dari Kaluna Adisurya maupun dari Adisurya Group.
4. Pihak Kedua akan menyetujui permohonan cerai dari Kaluna Adisurya kapan pun setelah satu tahun perkawinan, tanpa syarat dan tanpa tuntutan.
5. Akta ini bersifat rahasia dan tidak akan diberitahukan kepada Kaluna Adisurya, kecuali atas keputusan Pihak Kedua atau atas amanat almarhum yang dititipkan kepada Notaris.
Di bawahnya, tanda tangannya. Tegak dan rapi, seperti tulisan di kertas kuning halaman empat belas.
Aku menatap poin nomor tiga.
Tidak akan menerima fasilitas dalam bentuk apa pun.
Mobil. Aku memberinya mobil, dan dia mengembalikan kuncinya dengan kertas kuning. Motor saya masih bagus. Dia tidak bisa menerima mobil itu. Dia sudah menandatangani akta yang melarangnya.
Dan poin nomor empat.
Akan menyetujui permohonan cerai kapan pun setelah satu tahun, tanpa syarat.
Satu tahun, Mbak. Setelah itu Mbak bebas.
Dia tidak sedang menghitung mundur untuk pergi. Dia sedang menghitung mundur untuk memberiku kebebasan. Dia sudah menandatanganinya. Dua hari sebelum akad. Sebelum aku menuang teh ke wastafel. Sebelum aku menyuruhnya tidur di kamar sopir. Sebelum aku memperkenalkannya sebagai teman.
Dokumen kedua adalah selembar struk kecil, kertas termal yang tintanya mulai pudar.
Palang Merah Indonesia. Unit Donor Darah DKI Jakarta.
Jenis donor: Apheresis trombosit.
Golongan darah: O Rh negatif.
Tanggal: hari Jumat, tujuh minggu lalu. Hari trombositku turun ke delapan belas ribu.
Nama donor: dicoret dengan pulpen, lalu ditulis ulang dengan tulisan tangan perawat: Keluarga pasien.
Peruntukan: Pasien a.n. Kaluna Adisurya, RS Carolus, Kamar 512.
Di sebelah struk itu, ditempel dengan selotip bening di kertas map, ada sebuah plester bulat berwarna cokelat muda. Sudah dipakai. Dilipat kecil. Dengan bekas titik merah kecokelatan di bagian tengahnya.
Aku menatap plester itu.
Dan aku melihatnya lagi. Di ujung lorong rumah sakit pukul sebelas malam, membelakangiku, dengan lengan kemeja digulung sampai siku. Plester bulat di lipatan siku bagian dalam. Aku melihatnya. Aku melihatnya dengan mataku sendiri, dan aku memaksa diriku untuk tidak memikirkannya.
Orang mendonorkan darah setiap hari, kataku kepada diriku sendiri malam itu.
Aku mengunggah foto tangan Gilang. Kamu penyelamatku.
Darahnya. Di pembuluh darahku. Dan aku berterima kasih kepada orang lain di depan empat ratus orang.
Aku tidak bisa bernapas. Aku harus berdiri dan membuka jendela kamar, dan menghirup udara malam Menteng yang lembap dan berbau knalpot, sebelum aku bisa melanjutkan.
Dokumen ketiga adalah setumpuk karton putih ukuran kartu pos.
Tujuh lembar. Semuanya diketik dengan mesin tik, dengan huruf a yang lebih tebal dari huruf lainnya. Semuanya berisi kalimat yang hampir sama. Dan semuanya salah.
Lembar pertama berhenti di baris kedua, dengan huruf yang meleset dan dicoret.
Lembar kedua selesai, tapi di bagian bawah ada catatan pensil dengan tulisan tangan yang kukenali, tegak dan rapi: Kek, “bulan sabitku” atau “bulan sabit kecilku”? Dan di bawahnya, dengan tulisan tangan yang jauh lebih miring dan bergetar: Bulan sabitku. Dia sudah bukan kecil lagi.
Lembar ketiga ada noda air di tengahnya, membuat beberapa huruf meleber. Aku tidak tahu itu air apa.
Lembar keempat sampai keenam punya salah ketik di tempat yang berbeda-beda. Di lembar keenam, ada catatan pensil lagi, tulisan tangan yang tegak: Maaf, Kek. Tangan saya gemetar.
Lembar ketujuh kosong, hanya ada gambar bulan sabit di bagian bawah, dengan pulpen tinta biru, patah di tengah. Bulan sabit yang sama dengan yang ada di kartu ulang tahunku. Latihan. Kakek berlatih menggambar bulan sabit dengan tangannya yang sekarat, berkali-kali, di karton cadangan, sampai dia cukup kuat untuk menggambar satu yang terakhir di kartu yang sebenarnya.
Di dasar tumpukan, ada sehelai kertas bergaris dari buku catatan rumah sakit, dengan tulisan tangan Kakek yang paling bergetar dari semua tulisan di map ini. Hanya satu kalimat.
Dit, kamu yang ketik, saya yang dikte. Kalau Luna tanya, bilang Kakek yang bikin sendiri. Itu benar. Kakek yang bikin. Kamu cuma tangannya.
Mesin tik seberat sepuluh kilo di rumah sakit.
Tujuh lembar karton yang salah.
Maaf, Kek. Tangan saya gemetar.
Aku menangis di lantai kamarku, bersandar ke meja rias, dengan kartu-kartu latihan itu di pangkuanku, sampai aku tidak bisa lagi membedakan suara tangisku dengan suara hujan yang mulai turun di luar jendela yang masih terbuka.
Pukul dua dini hari, aku mengirim pesan kepada Gilang.
Aku mengetiknya berkali-kali. Menghapusnya. Mengetiknya lagi. Pada akhirnya, yang kukirim hanya satu kalimat.
Lang. Waktu aku DBD, kamu yang carikan donor?
Centang dua. Tidak dibaca.
Aku menunggu sampai pukul tiga, empat, lima. Aku menunggu sampai langit di luar jendela berubah dari hitam ke abu-abu ke biru pucat, dan hujan berhenti, dan azan subuh terdengar dari masjid di belakang kompleks. Aku duduk di lantai kamar dengan map biru terbuka di sekelilingku seperti puing-puing.
Pukul tujuh lewat lima, ponselku bergetar.
Gilang: Lun. Maaf.
Gilang: Bukan aku.
Gilang: Aku sebar di grup, iya. Tapi nggak ada yang respon. Waktu suster bilang donornya sudah ada, aku juga kaget. Aku kira kamu tahu itu siapa. Aku kira itu keluargamu. Terus kamu bilang makasih ke aku, dan aku... aku nggak koreksi. Aku pengecut. Maaf banget, Lun.
Gilang: Siapa donornya?
Aku tidak membalas.
Aku menatap pertanyaan terakhir itu sampai layar ponselku meredup sendiri.
Siapa donornya.
Laki-laki yang kusuruh tidur di kamar sopir. Laki-laki yang kuperkenalkan sebagai teman, sebagai orang yang bantu-bantu di rumah. Laki-laki yang bekalnya kubuang ke tempat sampah bersama rantang ibunya. Laki-laki yang kuminta jangan pernah menyentuhku lagi di depan belasan tukang. Laki-laki yang kusebut harga yang Kakek bayar.
Darahnya ada di dalam tubuhku. Sekarang. Saat ini. Mengalir di pembuluh darahku sementara aku duduk di lantai kamar rumah yang dia tinggalkan.
Pukul tujuh lewat dua puluh, aku turun ke dapur.
Mbok Darmi sedang duduk di meja kecil dekat kompor. Meja yang selama sepuluh bulan dipakai laki-laki itu untuk makan malam. Mbok tidak memasak. Dia hanya duduk di sana dengan secangkir teh, menatap rak di seberang, tempat rantang biru berbunga putih berdiri di samping cangkir-cangkir porselen bunga biru milik almarhumah Nenek.
Dia menoleh ketika aku masuk. Dia melihat wajahku. Dia melihat map biru di tanganku.
Lalu dia berdiri, berjalan ke arahku, dan memelukku.
Aku menangis di bahu Mbok Darmi, seperti waktu aku berumur sembilan tahun, seperti di pagi ulang tahunku tiga bulan lalu, tapi kali ini tidak ada yang bisa menenangkanku, karena aku tidak sedang menangis karena kehilangan.
Aku menangis karena aku yang membuang.
“Mbok,” kataku di bahunya. “Mbok tahu? Mbok tahu semua ini?”
Mbok Darmi tidak menjawab. Dia hanya mengusap punggungku, pelan, bolak-balik, dan aku merasakan bahunya bergetar.
“Mbok nggak tahu semuanya, Mbak,” bisiknya akhirnya. “Tapi Mbok tahu cukup banyak buat sakit hati tiap kali Mbak nyakitin dia.”
Dia melepaskanku. Dia menyeka wajahku dengan ujung kerudungnya, seperti dulu. Lalu dia berjalan ke kompor, mengambil celemek dari sandaran kursi tempat dia meletakkannya tiga hari lalu, dan mengikatnya di pinggang.
“Mbok masak sekarang,” katanya, tanpa menoleh. “Mbak sudah buka map-nya.”
Dia tidak bertanya apa yang ingin kumakan.
Dia memasak perkedel kentang.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru reading
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu