Chapter Thirty Three

Yang Ditunggu Pulang

POV: Radit

Tole yang memutar video itu.

Kamis malam, pukul tujuh, setelah makan malam. Aku sedang mengecilkan sambungan rak perpustakaan yang terlalu longgar di meja ruang tamu, dan Ibu sedang menjahit kancing di kemeja seragam Tole, dan Tole sedang menonton video di ponsel tua Ibu dengan volume terlalu keras, seperti biasa.

Lalu Tole berhenti tertawa.

“Om,” katanya. “Om. Ini Mbak Jakarta.”

Aku tidak menoleh. “Nggak usah nonton yang aneh-aneh, Le.”

“Bukan aneh, Om. Ini Mbak Jakarta di kantor gede. Terus ada foto Om di layar.”

Aku menoleh.

Tole menyodorkan ponsel itu kepadaku. Video berdurasi dua puluh tiga menit, diunggah di kanal resmi Adisurya Group empat jam lalu. Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan. Sudah ditonton dua belas ribu kali.

Tole sudah menggulirnya ke menit ke-delapan belas.

Ruang rapat lantai tiga puluh tiga. Meja oval sepanjang dua belas meter. Jendela kaca yang menghadap Jakarta. Aku mengenali ruangan itu. Aku mengenali kursi Kakek di ujung meja. Aku mengenali bunyi klik pintu yang kututup dengan sangat pelan tiga bulan lalu.

Dia berdiri di sana. Blazer hitam. Rambut disanggul. Tangan di atas meja, gemetar, dan aku bisa melihat gemetarnya bahkan dari layar ponsel yang kecil.

“Saya bilang dia bukan suami saya. Saya bilang dia cuma harga yang Kakek saya bayar supaya saya patuh.”

Ibu berhenti menjahit.

“Itu tidak benar. Tidak satu kata pun.”

Aku menonton semuanya. Rumah sakit. Pemakaman. Akta. Kemang. PMI. Suaranya pecah di tengah. Bu Ratih yang berkata saya saksinya.

Lalu foto di layar besar. Fotoku. Berjongkok di tengah anak-anak SD dengan kaus lusuh dan topi kain.

“Ini suami saya.”

Ponsel itu bergetar di tanganku. Bukan karena notifikasi. Karena tanganku yang gemetar.

“Bukan teman. Bukan asisten. Bukan harga. Suami saya.”

Aku meletakkan ponsel di meja dengan sangat hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah.

Ruang tamu sunyi. Hanya ada suara jangkrik dari kebun dan detak jam dinding.

Ibu menangis.

Tidak dengan suara. Ibu tidak pernah menangis dengan suara. Dia hanya duduk di kursi kayu dengan kemeja seragam Tole di pangkuannya dan jarum jahit yang masih terselip di kain, dan air mata jatuh di pipinya tanpa henti.

Tole menatap neneknya. Menatapku. Wajahnya kebingungan.

“Om. Mbah kenapa nangis?”

Aku tidak bisa menjawab.

“Om juga nangis,” kata Tole pelan, dengan nada orang yang baru menemukan sesuatu yang sangat penting. “Kenapa semua orang nangis kalau lihat Mbak Jakarta?”

Pukul sembilan, aku mengirim pesan.

Ibu nonton videonya. Tole yang putar dari HP. Ibu nangis dari tadi sore.

Aku menatap pesan itu lama sebelum mengirim yang berikutnya. Dua kata. Dua kata yang tidak pernah kukatakan kepadanya dalam setahun lebih, bahkan di perpustakaan, bahkan ketika aku berteriak dan menangis di depannya.

Saya juga.

Lalu, setelah lama menatap layar, aku mengetik pertanyaan yang sudah ada di kepalaku sejak dia bilang tiga hari.

Keretanya sampai jam berapa?

Jam lima pagi.

Saya jemput.

Ibu, yang sedang membereskan peralatan jahit, menatapku dari seberang ruang tamu.

“Le,” katanya. Matanya masih merah. “Kamu tahu apa yang barusan kamu lakuin?”

“Jemput dia di stasiun, Bu.”

“Bukan.” Ibu menggeleng pelan. “Kamu barusan nunggu dia pulang. Dulu kamu yang selalu ditunggu. Atau kamu yang nunggu di tempat dia nggak bisa lihat. Sekarang kamu nunggu di peron.” Dia tersenyum, kecil, lelah, dan sangat lembut. “Biar dia lihat kamu nunggu.”

Grup paguyuban meledak pukul sepuluh malam.

Pak Udin: MAS RADIT. SUDAH NONTON?

Mas Jono: Saya nangis di pos parkir Mas. Satpam lihat. Saya bilang kelilipan.

Pak Slamet: [pesan suara 2:34]

Pesan suara Pak Slamet berisi dua menit tiga puluh empat detik doa dalam bahasa Jawa, diselingi isakan, diselingi suara cucunya yang bertanya Mbah kenapa, dan diakhiri dengan kalimat yang sangat jelas: “Bapak pasti seneng, Mas. Bapak pasti seneng banget.”

Pak Udin: Bu Kaluna naik kereta malam, Mas. Saya yang antar ke Gambir. Sebelumnya mampir ke makam Bapak. Tabur melati. Lurus, Mas. Taburnya lurus.

Aku tidak bisa tidur malam itu.

Pukul tiga, aku sudah mandi, sudah berpakaian, sudah duduk di teras dengan jaket dan kunci motor di tangan. Ibu keluar dari kamarnya dengan daster dan kerudung, membawa termos kecil berisi teh jahe dan sebungkus roti.

“Buat di stasiun,” katanya. “Kamu pasti kepagian.”

“Masih jam tiga, Bu.”

“Makanya.” Dia menyerahkan termos itu. “Orang yang nunggu memang selalu kepagian, Le. Itu tandanya.”

Stasiun Klaten pukul tiga lewat empat puluh lima pagi masih gelap dan hampir kosong.

Hanya ada satu petugas di loket yang setengah tertidur, dua tukang ojek yang merokok di parkiran, dan seorang ibu penjual nasi kucing yang baru menggelar dagangannya di dekat pintu masuk. Peron diterangi lampu neon putih yang berdengung pelan. Rel-rel kereta berkilau samar di bawahnya, membentang ke arah barat, ke arah Jogja, ke arah Jakarta.

Aku duduk di bangku besi di peron jalur dua.

Satu jam dua puluh menit lagi.

Aku menuang teh jahe dari termos Ibu ke tutup termos dan meminumnya pelan. Lalu aku menunggu.

Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan diriku sendiri. Aku mengecek ponsel. Aku menatap rel. Aku berdiri, berjalan ke ujung peron, kembali ke bangku besi. Aku duduk lagi. Aku menuang teh jahe lagi, yang sudah mulai dingin.

Pukul empat lewat dua puluh, petugas stasiun yang tadi setengah tertidur di loket lewat di peron dengan senter, melihatku duduk sendirian di bangku besi dengan termos di pangkuan, dan berhenti.

“Nunggu siapa, Mas? Keretanya masih empat puluh menit.”

“Istri saya, Pak.”

Itu pertama kalinya kata itu keluar dari mulutku dengan keras. Kepada orang asing. Di peron stasiun yang gelap, pukul empat pagi.

Istri saya.

Petugas itu tersenyum. “Pulang dari mana?”

“Jakarta.”

“Lama di Jakarta?”

Aku memikirkan pertanyaan itu.

“Lama, Pak,” kataku. “Lama sekali.”

Pukul lima lewat tiga menit, lampu kereta muncul di ujung barat rel.

Dua titik putih yang semakin besar, semakin terang, disertai bunyi klakson panjang yang memecah keheningan subuh. Rel bergetar. Angin dari kereta yang melambat menerbangkan debu di peron dan menggoyang rambutku.

Aku berdiri. Termos Ibu masih di tanganku.

Kereta berhenti. Pintu-pintu terbuka. Penumpang turun satu per satu, mengantuk, menyeret koper, menguap. Seorang bapak dengan karung beras. Dua mahasiswa dengan ransel besar. Seorang ibu dengan anak kecil yang tertidur di gendongan.

Aku mencarinya. Gerbong demi gerbong. Pintu demi pintu.

Lalu aku melihatnya.

Dia turun dari gerbong keenam, pintu paling belakang. Satu koper kecil. Satu ransel. Blazer hitam yang sudah kusut setelah sembilan jam perjalanan, rambut yang lepas dari sanggulnya, sepatu katun putih yang sekarang sudah tidak putih lagi.

Matanya sembab. Wajahnya lelah. Ada bekas air mata di pipinya, entah dari kapan. Dari ruang rapat, mungkin. Dari makam Kakek. Dari kereta malam yang berjalan sembilan jam dalam gelap.

Dia berdiri di peron di bawah lampu neon putih, mengedarkan pandangan, mencari.

Dan dia sangat cantik.

Cantik dengan cara yang tidak bisa kujelaskan dengan kata apa pun yang pernah kupakai untuknya. Lebih dari ballroom. Lebih dari tangga perancah. Lebih dari pematang sawah dengan satu kaki berlumpur. Cantik seperti sesuatu yang kutunggu, dan akhirnya datang.

Matanya menemukanku.

Dia berhenti bergerak. Koper kecilnya berhenti di sebelah kakinya. Mulutnya terbuka sedikit.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku sudah menunggu satu jam dua puluh menit di bangku besi, dan aku tidak pernah memikirkan apa yang akan kulakukan setelah dia turun. Aku berdiri di peron dengan termos teh jahe di tangan, seperti orang bodoh.

Lalu dia bergerak.

Pelan pada langkah pertama. Lebih cepat pada langkah kedua. Pada langkah ketiga, dia melepaskan pegangan koper kecilnya dan membiarkannya tergeletak di peron. Pada langkah keempat, dia berlari.

Termos Ibu jatuh dari tanganku.

Dia menabrakku. Lengannya melingkar di leherku, wajahnya terbenam di bahuku, seluruh tubuhnya gemetar. Aku terdorong mundur satu langkah, lalu aku menangkapnya. Kedua lenganku melingkari punggungnya dan menariknya erat, sangat erat, seperti menangkap seseorang yang jatuh dari perancah, seperti menahan sesuatu yang tidak boleh lepas lagi.

Dia menangis di bahuku. Aku menangis di rambutnya.

Di peron Stasiun Klaten, pukul lima pagi, di bawah lampu neon yang berdengung, di antara penumpang yang lewat dengan koper dan karung beras, kami berpelukan seperti dua orang yang sudah sangat lama tersesat dan baru saja menemukan satu sama lain.

“Kamu nunggu,” bisiknya di bahuku. Suaranya pecah.

“Iya.”

“Kamu nunggu di peron.”

“Iya. Dari jam empat kurang seperempat.”

Dia tertawa. Basah dan tersendat di bahuku.

“Kepagian,” katanya.

“Ibu bilang orang yang nunggu memang selalu kepagian.”

Dia mengencangkan pelukannya. Aku merasakan detak jantungnya di dadaku, cepat dan keras, seirama dengan detak jantungku sendiri.

“Aku bilang di depan semua orang,” bisiknya. “Aku bilang kamu suamiku.”

“Saya dengar.”

“Aku nggak tanya kamu dulu. Aku nggak tanya kamu boleh atau nggak.”

“Nggak perlu tanya.”

Dia menarik diri sedikit, cukup untuk menatap wajahku. Matanya merah, basah, dan sangat dekat.

“Kenapa?”

Aku menatapnya. Aku menatap wajah yang kulihat pertama kali sembilan tahun lalu dari atas perancah, dengan rok putih dan es teh di tangan. Wajah yang menamparku di lorong hotel di Melbourne. Wajah yang menuang teh ke wastafel, yang tertawa di carport, yang berkata harga yang Kakek bayar. Wajah yang menangis di lantai perpustakaan dan menerima semua kemarahanku tanpa membela diri. Wajah yang berkata ini suami saya di depan seluruh dunia.

“Karena memang benar,” kataku.

Di belakang kami, petugas stasiun memungut termos Ibu yang menggelinding di peron, lalu mendorong koper kecil yang ditinggalkan Kaluna ke dekat kaki kami. Dia tersenyum lebar, mengangkat senternya sebagai salam, dan berjalan pergi tanpa berkata apa-apa.

Kaluna menyeka wajahnya dengan punggung tangan yang penuh bekas luka. Dia tertawa kecil, malu, menatap koper dan termos di kaki kami.

“Pulang ke kos?” tanyanya.

“Nggih, Mbak,” kataku.

Dia mengangkat alis. Senyumnya pelan-pelan melebar.

“Masih Mbak?”

Aku menatapnya. Aku mengambil koper kecilnya dengan satu tangan dan termos dengan tangan yang lain.

“Belum berani yang lain,” kataku.

Dia tertawa, dan tawanya menggema di peron Stasiun Klaten yang mulai terang, ketika matahari pertama muncul di atas sawah di sebelah timur dan puncak Merapi mulai kelihatan di utara, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa pulang tanpa harus pergi ke mana-mana.