Chapter Seventeen
Rumah yang Tiba-tiba Besar
POV: Kaluna
Aku bangun karena dingin.
Bukan dingin udara. Udara pagi di Menteng tidak pernah dingin. Dingin yang lain, dingin yang datang dari dalam, seperti seseorang membuka jendela di dadaku ketika aku sedang tidur.
Aku masih di sofa. Masih memakai blazer hitam dari rapat kemarin. Leherku pegal karena tidur dengan posisi menekuk, dan sepatu hakku tergeletak di lantai di tempat aku melepasnya semalam.
Ada selimut di atasku.
Selimut tipis berwarna krem dengan motif kotak-kotak samar, selimut dari lemari linen dekat tangga. Aku tidak mengambilnya semalam. Aku ingat jelas. Aku duduk di sofa menatap cahaya kecil dari celah pintu kamar tamu, dan aku tertidur tanpa selimut, dengan tangan di bawah pipi.
Seseorang membentangkannya. Dari kaki sampai bahu. Dengan sangat rapi.
Aku duduk tegak. Selimut itu melorot ke pangkuanku.
Rumah sunyi. Terlalu sunyi. Bukan sunyi pagi biasa, ketika suara motor yang didorong pelan-pelan keluar pagar sudah lewat dan Mbok Darmi sedang memasak di dapur. Sunyi yang lain. Sunyi seperti rumah yang baru saja kehilangan sesuatu.
Aku melihat meja makan.
Map biru di tengah meja, di depan kursi kosong Kakek. Amplop putih di atasnya. Dua anak kunci di sebelahnya. Dan di atas map, tepat di tengah, sesuatu yang berkilau kecil dalam cahaya pagi yang masuk dari jendela.
Aku berdiri. Kakiku dingin di lantai marmer.
Aku berjalan ke meja makan, pelan, seperti berjalan ke arah sesuatu yang bisa meledak.
Cincin.
Cincin emas putih sederhana, tanpa ukiran. Pasangan dari cincin yang tergeletak di kotak beludru di meja riasku selama sepuluh bulan, yang tidak pernah kupakai sehari pun. Aku tidak tahu dia memakainya. Aku tidak pernah melihat tangannya cukup lama untuk tahu.
Aku mengambil cincin itu. Ada bekasnya di tanganku, bekas hangat yang tidak mungkin ada karena logam itu pasti sudah dingin sejak semalam, tapi aku merasakannya. Di bagian dalam lingkarannya, ukiran kecil yang tidak kuketahui ada: tanggal akad kami.
“Mbok,” kataku. Lalu lebih keras. “Mbok!”
Mbok Darmi muncul di ambang pintu dapur.
Dia memakai daster biasa dan kerudung cokelat. Matanya bengkak. Dia tidak membawa kopi. Dia tidak membawa apa pun. Dia berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan perut, menatapku dengan mata yang tidak pernah menatapku seperti itu sebelumnya.
“Dia di mana?”
“Pulang, Mbak.”
“Pulang ke mana?”
“Ke Klaten. Kereta jam enam kurang seperempat. Pak Udin yang antar.” Suara Mbok Darmi datar. Tidak bergetar. Itu yang paling menakutkan. “Sudah sampai Cirebon mungkin sekarang.”
Aku menatap cincin di telapak tanganku. Lalu menatap Mbok Darmi.
“Kenapa nggak bangunin aku?”
Mbok Darmi tidak menjawab. Dia hanya menatapku lama, dengan mata tua yang sudah melihatku tumbuh dari bayi. Lalu dia berkata sesuatu yang tidak pernah kudengar dari mulutnya dalam dua puluh delapan tahun.
“Mbok hari ini mogok, Mbak.”
Aku mengerjap. “Apa?”
“Mogok masak. Satu hari.” Mbok Darmi melepas celemek dari pinggangnya, melipatnya, dan meletakkannya di sandaran kursi makan terdekat. “Mbok sudah tua, Mbak. Mbok capek salah masak. Hari ini Mbok nggak masak sama sekali, biar nggak salah.”
Dia berbalik dan berjalan ke kamarnya di belakang. Pintu kamarnya menutup.
Aku berdiri di ruang makan dengan cincin di tangan, selimut yang melorot di lantai di belakangku, dan perut yang tiba-tiba sangat kosong.
Aku tidak membuka map biru itu.
Aku menatapnya di meja makan, lalu aku mengambilnya dan amplop putih di atasnya, dan membawanya ke kamar. Aku meletakkannya di meja riasku, di sebelah kotak beludru berisi cincin pasangannya. Aku meletakkan cincin yang dia tinggalkan di dalam kotak beludru itu juga.
Dua cincin. Satu kotak. Untuk pertama kalinya sejak akad, mereka bersebelahan.
Lalu aku mandi, berganti baju, dan berangkat ke kantor.
Aku tidak membuka map itu karena aku tahu apa isinya. Aku yakin aku tahu. Surat pengunduran diri dari pernikahan. Mungkin tuntutan. Mungkin daftar hal-hal yang dia inginkan sebagai kompensasi karena aku mempermalukannya di depan dewan komisaris. Mungkin surat perjanjian yang selama ini dia sembunyikan, bukti bahwa dia memang mengincar sesuatu, dan pergi karena sudah mendapatkannya, atau karena tahu dia tidak akan mendapatkannya.
Aku tidak mau membacanya. Aku tidak mau dia menang.
Itu yang kukatakan kepada diriku sendiri di dalam mobil, di dalam lift, di ruanganku di lantai tiga puluh dua.
Kantor hari itu dingin.
Bukan karena AC. Karena wajah-wajah. Karena cara sekretarisku meletakkan berkas di mejaku tanpa menatap mataku. Karena cara dua direktur berhenti bicara ketika aku lewat di lorong. Kabar dari ruang rapat lantai tiga puluh tiga sudah sampai ke seluruh gedung sebelum pukul sembilan. Tentu saja sudah.
Bu Ratih tidak meletakkan kopi di mejaku pukul delapan.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh bulan, mejaku kosong.
Pak Udin mengantarku pulang pukul enam tanpa menyalakan radio. Di lampu merah Bundaran HI, dia berkata dengan suara datar, tanpa menoleh:
“Mas Radit sudah sampai Klaten, Bu. Jam tiga sore tadi. Ibunya jemput di stasiun.”
Aku tidak bertanya bagaimana dia tahu.
Rumah malam itu sangat besar.
Aku tidak pernah menyadari betapa besarnya rumah ini. Tiga lantai. Tujuh kamar. Meja makan dengan dua belas kursi. Selama sepuluh bulan, aku merasa rumah ini terlalu sempit, karena ada satu orang di kamar belakang yang membuatku merasa diawasi, dibanding-bandingkan, direbut.
Malam ini, tanpa orang itu, rumah ini terasa seperti gedung kosong.
Mbok Darmi menepati janjinya. Tidak ada makan malam. Tidak ada aroma bawang goreng dari dapur, tidak ada bunyi wajan, tidak ada suara Mbok Darmi bertanya sudah makan? kepada siapa pun. Aku membuka kulkas dan menemukan sisa sayur lodeh kemarin, dan aku memakannya dingin langsung dari wadah plastik, berdiri di depan kulkas yang terbuka.
Lalu aku berjalan ke lorong belakang.
Aku tidak tahu kenapa. Kakiku yang membawa. Ke lorong sempit di dekat dapur, ke pintu kayu yang sudah sepuluh bulan tertutup untukku, ke kamar yang kuberikan kepadanya di malam pertama sebagai hinaan.
Pintunya tidak dikunci. Kuncinya ada di meja makan tadi pagi.
Aku membukanya.
Kamar itu kosong. Kasur sempit dengan seprai yang sudah dilepas dan dilipat rapi di ujung kasur. Lemari kayu tua yang pintunya terbuka, kosong, hanya ada gantungan baju yang bergoyang pelan karena angin dari pintu. Kipas angin kecil di lantai. Sajadah tidak ada. Sepatu proyek tidak ada. Foto apa pun tidak ada.
Tidak ada jejak bahwa seseorang pernah tinggal di sini selama sepuluh bulan.
Kecuali satu.
Di meja kecil di samping kasur, di bawah lampu belajar yang sudah dimatikan, ada sebuah benda yang membuatku berhenti bernapas.
Mesin tik Olympia. Hijau tua. Dengan tuts yang sedikit pudar dan pegangan besi di bagian atas.
Mesin tik Kakek.
Mesin tik yang hilang dari ruang kerja. Yang kucari di setiap lemari, setiap rak, setiap sudut gudang di malam ulang tahunku. Mesin tik yang dipakai Kakek untuk mengetik kartu ulang tahunku selama dua puluh delapan tahun.
Di sini. Di kamar sopir. Di meja kecil laki-laki yang kusebut harga yang Kakek bayar.
Ada kertas di dalamnya. Selembar karton putih tebal ukuran kartu pos, masih terjepit di gulungan mesin tik, kosong. Seperti seseorang sudah memasangnya, siap mengetik, lalu berubah pikiran.
Aku menatap mesin tik itu, dan seluruh kepalaku dipenuhi suara.
Dia mencuri mesin tik Kakek. Suara yang pertama, suara yang sudah kulatih sepuluh bulan, langsung menyimpulkan. Dia mengambil barang Kakek. Seperti dia mengambil semua hal lain.
Lalu suara yang kedua, lebih pelan, lebih menakutkan, yang tidak mau berhenti:
Siapa yang membawa mesin tik seberat sepuluh kilo ke rumah sakit, supaya Kakek bisa mengetik kartu ulang tahunmu?
Aku keluar dari kamar itu dan menutup pintunya dengan keras.
Sekar datang pukul sembilan malam. Mbok Darmi yang meneleponnya. Aku tahu karena Sekar langsung memelukku di ambang pintu tanpa bertanya, lalu menatap wajahku, lalu berkata, “Mbok bilang kamu belum makan dari pagi selain lodeh dingin.”
“Mbok mogok.”
“Aku tahu. Mbok cerita. Mbok bilang dia nggak akan masak sampai kamu buka map itu.”
Aku menatapnya. “Mbok bilang begitu?”
“Mbok bilang persis begitu.” Sekar menarikku ke sofa dan mendudukkanku. “Dan Lun, aku setuju sama Mbok. Kamu harus buka.”
“Aku nggak mau.”
“Kenapa?”
Aku tidak bisa menjawab. Karena jawabannya bukan karena aku tahu isinya. Jawabannya adalah kebalikannya. Aku tidak tahu isinya, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh bulan, aku takut kalau yang ada di dalamnya bukan sesuatu yang bisa membuatku terus membencinya.
Sekar menatapku lama, seperti dia bisa membaca semua itu di wajahku. Lalu dia memesan nasi goreng dari aplikasi untuk kami berdua, dan duduk di sebelahku sampai aku makan, dan tidak menyebut map itu lagi malam itu.
Tiga hari aku tidak membukanya.
Tiga hari Mbok Darmi tidak masak. Tiga hari Bu Ratih tidak meletakkan kopi di mejaku. Tiga hari Pak Udin menyetir tanpa radio. Tiga hari grup arisan ramai membicarakan kabar dari ruang rapat yang entah bagaimana bocor sampai ke Dinda, dan Dinda mengirim pesan pribadi kepadaku: Lun, katanya asisten gantengmu kabur ya? 😅
Tiga hari aku mencoret kalender.
Bukan menuju tiga ratus enam puluh lima. Kalender itu sudah kutinggalkan. Aku mengambil kalender meja baru, kalender kosong yang kudapat dari bank, dan mulai menghitung dari angka satu lagi. Hari pertama sejak dia pergi. Hari kedua. Hari ketiga.
Aku tidak tahu kenapa aku menghitungnya. Aku hanya tahu tanganku melakukannya setiap malam, seperti dulu, dengan spidol merah yang sama.
Hari ketiga, pukul sebelas malam, di kamarku, aku duduk di depan meja rias dan menatap map biru itu.
Amplop putih di atasnya. Tulisan tangan di bagian depan yang belum kubaca dengan benar, karena selama tiga hari aku menolak menatapnya terlalu lama.
Malam ini aku membacanya.
Dit. Kalau kamu pergi sebelum satu tahun, tinggalkan surat ini untuk Luna, bersama map biru. Jangan dibaca. Jangan dibuang. Ini perintah terakhir saya, bukan permintaan.
Tulisan tangan Kakek. Miring dan bergetar. Tulisan tangan yang sama dengan tanda tangan di wasiat.
Untuk Luna.
Kakek menulis surat untukku. Dan laki-laki yang kubenci menyimpannya selama sepuluh bulan tanpa membukanya, lalu meninggalkannya di meja makan sebelum pergi, karena Kakek memerintahkannya.
Aku membuka amplop itu dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar reading
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu