Chapter Forty Two
Kartu dari Istrimu
POV: Kaluna
Aku butuh sebelas kartu.
Mesin tik Olympia hijau tua milik Kakek ternyata jauh lebih susah dipakai daripada kelihatannya. Tuts-tutsnya keras dan harus ditekan dengan tenaga penuh. Huruf a selalu lebih tebal dari huruf lain. Kalau aku salah tekan satu huruf, tidak ada tombol hapus, tidak ada undo, tidak ada apa-apa selain karton yang rusak dan harus dibuang.
Kakek dulu membuang kartu ulang tahunku kalau ada satu huruf yang meleset. Aku baru mengerti sekarang betapa sabarnya dia.
Kartu pertama rusak di baris pertama, karena aku lupa memasang karton dengan lurus dan semua huruf miring ke kanan. Kartu kedua rusak karena aku mengetik Mas dengan huruf M kecil. Kartu ketiga sampai kelima rusak karena aku menangis di tengah mengetik dan air mata jatuh di karton, membuat tintanya meleber.
Kartu keenam rusak karena Mbok Darmi masuk ke ruang kerja membawa teh dan bertanya dengan suara keras Mbak lagi ngetik apa?, dan aku kaget, dan jariku menekan tiga tuts sekaligus.
Kartu ketujuh sampai kesepuluh rusak karena berbagai alasan yang terlalu memalukan untuk diceritakan.
Kartu kesebelas selesai pukul dua dini hari, tiga hari sebelum tanggal sembilan belas Agustus.
Aku menatap kartu itu di bawah lampu meja Kakek. Karton putih tebal ukuran kartu pos. Ketikan yang tidak sempurna, beberapa huruf sedikit lebih tebal, satu koma yang terlalu dekat dengan kata sebelumnya. Tapi selesai.
Lalu aku mengambil pulpen tinta biru, pulpen Kakek dari tempat pulpen di meja kerjanya, dan menggambar sesuatu di bagian bawah kartu.
Bukan bulan sabit. Bulan sabit milik Kakek, untukku.
Aku menggambar sebuah bata.
Satu bata persegi panjang kecil, dengan garis-garis tipis yang menunjukkan teksturnya. Garisnya tidak lurus, karena tanganku gemetar dan aku tidak pernah bisa menggambar. Tapi bata.
Aku memasukkan kartu itu ke amplop krem dengan inisial D.A. di pojok kiri atas, dicetak dengan stempel karet Kakek yang kutemukan di laci meja. Lalu aku mengambil pulpen yang sama dan menambahkan dua huruf kecil di bawah inisial itu.
& K.A.
Pesta ulang tahun itu diadakan di rumah Menteng, hari Sabtu, dan Ibu datang dari Klaten bersama Tole dengan kereta pukul lima empat puluh lima.
Ibu membawa dua kardus mi instan yang diikat tali rafia, berisi terasi dari lapak Mbok Painem, serundeng, belimbing wuluh, dan kain batik setengah jadi yang dia jahit di kereta. Tole membawa layangan merah yang sudah robek di satu sudut, karena dia ingin menerbangkannya di Jakarta, dan dia sangat kecewa ketika tahu bahwa langit Jakarta penuh kabel listrik.
Mbok Darmi dan Ibu langsung masuk ke dapur dan tidak keluar selama enam jam.
Mereka memasak tumpeng. Bukan tumpeng kecil yang miring seperti buatanku atau buatan Mbok Darmi di dapur dua tahun lalu. Tumpeng besar, tiga kali lebih tinggi, dicetak dengan corong daun pisang yang dipegangi dua orang sekaligus.
Tidak miring sama sekali.
“Kalau dibikin berdua,” kata Ibu sambil menata telur rebus di sekeliling nasi kuning, “tumpengnya nggak akan miring.”
Tamu-tamu datang pukul enam sore.
Sekar dengan buket bunga dan pacarnya yang baru, seorang arsitek pendiam yang langsung diajak Radit bicara soal struktur atap. Bu Ratih dengan tas kulit dan sebuah kalkulator keuangan baru yang dibungkus pita merah, karena kalkulator Mas Radit yang lama tombol sembilannya macet, saya perhatikan di rapat Surabaya. Pak Wiryo dengan kemeja batik dan kacamata tebal, yang datang naik taksi karena menolak naik ojek setelah pengalaman di Klaten.
Paguyuban Meja 12 datang lengkap, dengan kemeja batik seragam perusahaan dan sebuah spanduk kain putih yang mereka bentangkan di depan pagar rumah Menteng tanpa izin siapa pun.
SELAMAT ULANG TAHUN MAS RADIT KE-33. DARI PAGUYUBAN MEJA 12 (RESMI).
Di bawahnya, dengan huruf lebih kecil yang dicat dengan sangat tidak rata:
(TAHUN LALU DIRAYAKAN DI DAPUR. TAHUN INI DI RUANG MAKAN. NAIK KELAS.)
Radit berdiri di depan spanduk itu dengan wajah yang tidak bisa memutuskan antara tertawa dan menangis. Dia akhirnya melakukan keduanya.
Kami makan di meja jati panjang. Semua dua belas kursi terisi, dan Mbok Darmi harus mengeluarkan kursi plastik dari gudang untuk sisanya. Di ujung meja, dua kursi berdampingan, dengan kursi Kakek di tengah. Ibu duduk di sebelah kanan Radit. Mbok Darmi di sebelah kiriku. Tole duduk di pangkuan Pak Slamet, yang sudah minum antimo dua butir sebelum berangkat dari rumahnya di Tanah Abang, meskipun perjalanannya cuma empat puluh menit.
Tumpeng besar di tengah meja. Lilin di puncaknya. Bukan lilin bergaris dari minimarket. Lilin angka tiga dan tiga, yang dibeli Tole dengan uang jajannya sendiri.
Semua orang bernyanyi.
Suara Pak Slamet yang bergetar. Suara Mas Jono yang terlalu keras. Suara Bu Ratih yang datar tapi terdengar. Suara Tole yang fals. Suara Ibu dan Mbok Darmi yang bergetar dan saling tumpang tindih. Suaraku, yang pecah di tengah lagu.
Dia duduk di ujung meja dengan wajah merah, menatap lilin di puncak tumpeng.
“Tiup, Mas,” kata Mbok Darmi. “Doa dulu.”
Dia memejamkan mata. Lama. Lalu dia meniup lilin.
Semua orang bertepuk tangan. Pak Udin bersiul. Tole melompat dari pangkuan Pak Slamet dan berteriak bahwa dia mau potongan pertama, dan Ibu memukul tangannya dengan sendok nasi.
Aku menunggu sampai semua orang sibuk makan.
Lalu aku mengambil amplop krem dari saku dasterku, berjalan ke sebelahnya, dan meletakkannya di samping piringnya. Miring. Dengan sudut amplop menyentuh tepi tatakan gelasnya.
Persis seperti cara Kakek meletakkan kartu ulang tahunku setiap pagi, selama dua puluh delapan tahun.
Dia menatap amplop itu. Inisial D.A. dari stempel karet Kakek. Dan di bawahnya, dua huruf kecil dengan tulisan tanganku yang miring.
& K.A.
Meja makan tiba-tiba sunyi. Semua orang berhenti mengunyah.
Dia membuka amplop itu dengan tangan yang gemetar.
Karton putih tebal. Ketikan mesin tik dengan huruf a yang lebih tebal.
Mas,
Selamat ulang tahun yang ketiga puluh tiga.
Tahun lalu aku merayakannya sendirian di teras kos, terlambat sebelas bulan, dengan tumpeng yang miring. Dua tahun lalu aku melewatkannya di rooftop, di pesta orang lain, sementara kamu meniup lilin di dapur bersama Mbok Darmi.
Tahun ini aku nggak terlambat. Tahun ini aku duduk di sebelahmu.
Kakek pernah bilang, kamu bukan anak tukang batu. Kamu anak Darno, yang memasang bata pertama rumah pertama Adisurya. Keluarga ini berdiri di atas bata bapakmu.
Mulai bulan depan, akan ada yayasan beasiswa baru. Namanya Yayasan Darno Darmawan. Untuk anak-anak tukang bangunan di seluruh Jawa yang mau kuliah teknik. Pakai dividen bagianku, bukan saham, karena aku tahu kamu akan menolak saham. Kamu sudah menolak terlalu banyak hal. Yang ini, kamu nggak boleh menolak. Ini bukan untukmu. Ini untuk anak-anak yang suatu hari akan berdiri di atas perancah dan menjatuhkan ember semen karena melihat sesuatu yang indah.
Selamat ulang tahun, suamiku.
Dari istrimu.
Di bawahnya, gambar bata yang tidak lurus.
Dia menatap kartu itu lama sekali.
Ibu, di sebelahnya, ikut membaca dari balik bahunya. Aku melihat Ibu berhenti di baris tentang yayasan. Aku melihat Ibu menutup mulutnya dengan ujung kerudung. Aku melihat bahu Ibu bergetar.
Darno. Nama suaminya. Di atas kartu ulang tahun anaknya. Di samping nama Darmawan Adisurya.
Dia meletakkan kartu itu di meja dengan sangat hati-hati.
Lalu dia berdiri. Dia berbalik ke arahku. Dan di depan dua belas kursi penuh tamu, di depan paguyuban Meja 12 dan Bu Ratih dan Pak Wiryo dan Sekar dan ibunya dan Mbok Darmi dan Tole, dia memelukku.
Erat. Seperti di peron Stasiun Klaten. Seperti di pematang sawah dalam gelap.
“Kamu ngetik sendiri?” bisiknya di rambutku.
“Sebelas kali.”
“Sebelas?”
“Kamu tujuh. Aku sebelas. Aku kalah.”
Dia tertawa di rambutku. Tawa yang pecah dan basah.
“Kamu nggak kalah,” bisiknya. “Kamu nggak pernah kalah.”
Di belakang kami, Pak Slamet menangis keras sekali, dan menyalahkan antimo. Tole bertanya kepada Mbok Darmi kenapa semua orang selalu menangis di rumah ini. Mbok Darmi menjawab karena rumah ini sudah lama nggak ada yang bahagia, Le, jadi sekarang semua orang kaget.
Bu Ratih menyedot hidungnya, menatap Pak Wiryo, dan berkata dengan suara datar:
“Pak Wiryo, akta yayasannya Bapak yang buat?”
“Saya yang buat, Bu.”
“Kali ini Mas Radit baca dulu sebelum tanda tangan?”
Pak Wiryo melepas kacamatanya dan mengelapnya dengan sapu tangan.
“Saya pastikan, Bu,” katanya. “Saya bacakan keras-keras. Dua kali.”
Malam itu, setelah semua tamu pulang, setelah Ibu dan Tole tidur di kamar tamu yang besar di depan, setelah Mbok Darmi akhirnya berhenti mencuci piring pukul dua belas, kami berdiri di kamar kami di lantai atas.
Dia memegang kartu itu. Dia belum melepaskannya sejak makan malam.
“Aku mau simpan ini,” katanya.
“Di dompet?”
“Nggak muat.” Dia tersenyum. “Dompetku penuh. Struk PMI. Plester. Kertas kuning dari lemari.”
Dia membuka laci meja rias, di sebelah kotak beludru biru tua yang sekarang kosong. Dia meletakkan kartu itu di dalamnya, di atas tujuh kartu latihan dari rumah sakit yang dulu ada di map biru, di atas surat Kakek yang ditulis dengan tangan.
“Arsip,” katanya.
Aku mengambil kalender meja dari laci yang sama. Kalender dengan lingkaran-lingkaran. Aku membuka halaman Agustus.
Tanggal sembilan belas sudah dilingkari sejak bulan Juni.
Di bawah lingkaran itu, aku menulis dengan spidol merah:
Tidak terlambat.
Dia membaca tulisan itu dari balik bahuku. Lalu dia mengambil spidol merah dari tanganku, membalik halaman kalender ke bulan-bulan berikutnya, dan mulai melingkari tanggal-tanggal secara acak.
Satu September. Empat belas Oktober. Dua puluh tiga November.
“Itu tanggal apa?” tanyaku.
“Nggak tahu,” katanya. “Hari biasa. Belum terjadi apa-apa.”
“Terus kenapa dilingkari?”
Dia meletakkan spidol merah dan memelukku dari belakang, dagunya di bahuku.
“Karena aku mau semua hari ke depan jadi hari yang dilingkari,” katanya. “Bukan dicoret.”
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu reading
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu