Chapter Fourteen
Hal yang Tidak Cocok
POV: Kaluna
Aku memberinya mobil.
Bukan karena aku merasa bersalah. Aku menjelaskan itu kepada diriku sendiri berkali-kali, di kamar mandi, di lift kantor, di kursi belakang mobil Pak Udin. Aku memberinya mobil karena seorang laki-laki yang secara hukum terdaftar sebagai suami CEO Adisurya Group tidak pantas terlihat naik motor dengan helm tergores di depan mitra bisnis. Itu masalah citra. Itu masalah profesional.
Itu tidak ada hubungannya dengan telapak tangan kanan yang dibalut perban di teras belakang.
Aku menyuruh bagian HR menyiapkan satu unit sedan dari armada kendaraan direksi, dengan surat pengantar resmi yang menyebutnya fasilitas keluarga. Aku menandatanganinya pukul sembilan pagi. Pukul sebelas, kuncinya sudah diantar ke rumah.
Pukul tujuh malam, kunci itu kembali ke mejaku di kantor.
Bersama selembar kertas kuning kecil, dengan tulisan tangan yang rapi dan tegak yang sekarang sudah kukenali.
Matur nuwun, Mbak. Motor saya masih bagus. Mobilnya lebih berguna untuk direksi yang sering ke proyek. — R.
Bu Ratih yang meletakkannya. Dia berdiri di depan mejaku dengan wajah datar, tangan terlipat di depan perut.
“HR minta saya sampaikan, Bu,” katanya. “Ini pertama kalinya dalam sejarah Adisurya ada orang yang menolak fasilitas mobil. HR agak trauma. Mereka nggak tahu harus input di sistem pakai kode apa.”
Aku menatap kertas kuning itu.
“Bu Ratih,” kataku. “Ibu kenal dia sebelum dia nikah sama saya?”
Bu Ratih tidak langsung menjawab. Dia menatap jendela di belakangku, lampu-lampu SCBD yang mulai menyala satu per satu.
“Kenal, Bu,” katanya akhirnya. “Tiga tahun. Dia asisten Bapak.”
“Dia orangnya kayak gimana?”
Bu Ratih menatapku lama. Lalu dia menjawab dengan nada yang sangat datar, nada yang dia pakai untuk melaporkan neraca keuangan.
“Kalau Ibu mau tahu, Ibu bisa tanya langsung ke orangnya, Bu. Dia tinggal di rumah Ibu.”
Dia keluar dari ruanganku tanpa menunggu jawaban.
Sekar yang akhirnya melakukan penyelidikan. Tentu saja Sekar.
Dia datang ke rumah hari Sabtu dengan laptop, satu kantong keripik singkong pedas, dan ekspresi seorang detektif swasta yang sudah menunggu kasus ini berbulan-bulan.
“Aku nggak minta kamu cari tahu,” kataku.
“Kamu nggak perlu minta. Aku sahabatmu. Itu sudah termasuk paket.” Sekar membuka laptop di meja makan dan memutarnya ke arahku. “Lihat. LinkedIn.”
Profilnya sederhana. Foto profil hitam putih, diambil dari samping, dengan helm proyek di kepala. Nama: Raditya Prasetya, S.T. Jabatan saat ini: Senior Structural Engineer, PT Kirana Struktur Konsultan. Kantor kecil di Tebet yang belum pernah kudengar.
Lalu Sekar menggulir ke bawah, ke riwayat pekerjaan.
Adisurya Group. Project Engineer, 5 tahun.
Adisurya Group. Asisten Pribadi Direktur Utama, 3 tahun.
Tanggal berakhirnya posisi terakhir itu membuatku berhenti bernapas.
Satu hari sebelum akad kami.
“Dia resign dari Adisurya,” kata Sekar pelan, “sehari sebelum nikah sama kamu.”
Aku menatap tanggal itu.
“Lun, coba pikir. Orang yang ngincar harta keluarga Adisurya, satu hari sebelum masuk keluarga Adisurya, keluar dari Adisurya? Dari posisi asisten Dirut, yang pasti gajinya besar, ke kantor konsultan kecil di Tebet?” Sekar mengunyah keripik dengan keras. “Itu kayak orang mau nyolong bank, terus sehari sebelumnya dia keluar dari bank dan kerja di warung.”
“Mungkin dia nggak mau dicurigai.”
“Atau mungkin dia memang nggak mau apa-apa.” Sekar menggulir lagi. “Dan ini. Ini yang bikin aku nggak bisa tidur semalam.”
Dia membuka tab lain. Instagram. Akun milik SD Negeri 2 Karanganom, Klaten, akun sekolah dasar dengan dua ratus pengikut dan foto profil logo Tut Wuri Handayani yang buram.
Unggahan terakhir, dua minggu lalu. Foto atap sekolah yang baru diganti, rangka baja ringan berwarna perak di atas ruang-ruang kelas yang dindingnya dicat kuning. Di foto kedua, belasan anak SD berseragam merah putih berdiri berjajar di depan sekolah, tersenyum ke kamera.
Di tengah mereka, berjongkok supaya sejajar dengan anak-anak, dengan kaus oblong abu-abu dan topi lusuh, ada dia.
Keterangannya ditulis kepala sekolah dengan huruf kapital di mana-mana:
ALHAMDULILLAH ATAP KELAS 4, 5, DAN 6 SUDAH SELESAI DIGANTI. TIDAK BOCOR LAGI KALAU HUJAN. TERIMA KASIH YANG SEBESAR-BESARNYA KEPADA MAS RADITYA PRASETYA, ALUMNI SD KITA ANGKATAN 2004, YANG MENANGGUNG SELURUH BIAYA MATERIAL DAN SUDAH BEKERJA SETIAP AKHIR PEKAN SEJAK BULAN MARET. SEMOGA ALLAH MEMBALAS KEBAIKAN MAS RADIT. ANAK-ANAK SANGAT SENANG.
Aku menatap foto itu.
Anak kecil di sebelah kirinya, gadis kecil dengan kuncir dua, memegang ujung kausnya dan tertawa ke kamera. Anak laki-laki di sebelah kanannya merangkul bahunya. Dan dia, di tengah, berjongkok dengan topi lusuh dan wajah yang terbakar matahari, tersenyum. Bukan senyum sopan yang dia berikan kepada teman-temanku di carport. Bukan wajah datar yang dia pakai di rumah ini.
Senyum yang lebar dan bebas, seperti laki-laki yang sedang berada di satu-satunya tempat di dunia di mana dia tidak perlu menahan apa pun.
“Setiap akhir pekan sejak Maret,” kata Sekar pelan. “Lun, kamu tahu dia ke mana setiap Sabtu?”
Aku tidak tahu. Aku tidak pernah bertanya. Aku hanya tahu dia berangkat Jumat malam dengan ransel dan pulang Minggu malam, dan aku menganggap itu bagus, karena itu berarti dua hari dalam seminggu rumah ini bebas darinya.
“Dia gajinya berapa sih di kantor konsultan kecil kayak gitu?” lanjut Sekar. “Terus dia bayar rumah sakit Mbok Darmi. Terus dia bayar atap tiga kelas SD. Terus dia nolak mobil. Lun, uangnya dari mana? Dan kenapa semuanya buat orang lain?”
Aku menutup laptop Sekar.
“Aku nggak mau ngomongin ini.”
“Lun—”
“Kar. Aku nggak mau.”
Sekar menatapku lama. Lalu dia mengambil keripik singkong, memasukkannya ke mulut, dan mengunyahnya dengan sangat keras, seperti mengunyah kata-kata yang tidak jadi dia ucapkan.
Sekar pulang pukul empat sore. Di ambang pintu depan, dengan laptop di bawah lengan dan kantong keripik yang sudah kosong, dia berbalik.
“Lun. Satu pertanyaan lagi. Terakhir, janji.”
“Apa?”
“Kalau ternyata kamu salah,” katanya pelan, “kamu siap?”
Aku tidak menjawab. Sekar tidak menunggu jawaban. Dia menutup pintu, dan bunyi pintu itu terdengar lebih keras dari seharusnya di rumah yang sunyi.
Malam itu, pukul sepuluh, aku turun ke dapur.
Dia ada di sana. Duduk di meja kecil dekat kompor, menyendok sayur lodeh dari mangkuk dengan tangan kiri, karena tangan kanannya masih dibalut perban yang sekarang lebih tipis. Mbok Darmi sudah tidur.
Dia berdiri ketika melihatku. Selalu berdiri.
“Duduk,” kataku.
Dia tidak duduk. Dia menunggu.
“Aku mau nanya satu hal.” Suaraku keluar lebih tajam dari yang kumaksud. “Dan aku mau kamu jawab jujur.”
“Nggih.”
“Kamu mau apa sebenarnya?”
Dia menatapku. Lampu dapur yang kuning jatuh di wajahnya, di lingkaran hitam di bawah matanya, di perban di tangannya.
“Kamu keluar dari Adisurya sehari sebelum nikah,” lanjutku. “Kamu kerja di kantor kecil. Kamu nolak mobil. Kamu bayarin Mbok Darmi. Kamu benerin atap SD. Kamu nggak pernah minta apa-apa dari rumah ini. Kamu tidur di kamar sopir. Kamu masuk lewat pintu samping.” Suaraku naik. “Jadi kamu mau apa? Kenapa kamu setuju nikah sama aku kalau kamu nggak mau apa-apa?”
Dia diam lama.
“Satu tahun, Mbak,” katanya akhirnya, pelan. “Setelah itu Mbak bebas.”
Kalimat itu menghantamku seperti pintu yang dibanting.
“Itu bukan jawaban.”
“Itu satu-satunya jawaban yang saya punya, Mbak.”
“Kakek yang minta kamu nikah sama aku, kan?” Aku mendekat satu langkah. “Kakek minta, kamu turutin. Gampang banget kamu nurutin Kakek. Tapi waktu aku di Melbourne, waktu Kakek di rumah sakit tiga minggu, waktu aku seharusnya dikabarin, kenapa kamu nggak nurutin yang itu? Kenapa kamu nggak telepon aku? Satu telepon. Satu.”
Dia tidak menjawab.
Dia menunduk. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia menunduk dan tidak menatapku. Bahunya turun sedikit, seperti seseorang yang tiba-tiba memikul sesuatu yang sangat berat. Tangannya yang dibalut perban mengepal pelan di sisi badannya.
Dan dia tetap tidak menjawab.
Aku menunggu. Lima detik. Sepuluh detik. Kulkas berdengung. Jam dinding berdetak.
“Kamu nggak bisa jawab,” kataku, suaraku pecah. “Kan? Kamu nggak bisa jawab yang itu.”
Dia mengangkat wajah. Matanya basah. Aku tidak pernah melihat matanya basah sebelumnya.
“Maaf, Mbak,” katanya. Hanya itu.
Aku berbalik dan naik ke kamarku sebelum dia sempat melihat mataku juga basah.
Di kamar, aku mengambil spidol merah dan berdiri di depan kalender.
Hari ke-dua ratus enam puluh. Masih seratus lima hari lagi.
Satu tahun, Mbak. Setelah itu Mbak bebas.
Seharusnya kalimat itu melegakan. Seharusnya aku senang mendengarnya, karena itu yang kumau sejak malam akad. Satu tahun, lalu dia pergi, lalu rumah ini kembali menjadi milikku, kembali menjadi rumah Kakek, tanpa laki-laki yang membaca Yasin pukul satu malam.
Tapi aku membayangkan rumah ini tanpa motor yang didorong pelan-pelan keluar pagar setiap subuh. Tanpa sepatu proyek di rak dekat pintu samping. Tanpa suara rendah yang bicara dalam krama dengan ibunya di teras belakang. Tanpa perkedel di kursiku yang tidak pernah kutanyakan asalnya.
Tanpa siapa pun yang berdiri setiap kali aku masuk dapur.
Aku memegang spidol merah itu lama sekali di depan kotak tanggal hari ini.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak malam akad, aku tidak mencoretnya.
Aku menutup spidol, meletakkannya di meja, dan berbaring menatap langit-langit, dengan satu kotak tanggal yang masih putih bersih di kalender, seperti pertanyaan yang belum berani kujawab.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok reading
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu