Chapter Thirty Eight

Dindingnya Tipis

POV: Radit

Aku bangun pukul empat tiga puluh, seperti setiap pagi sejak SMP.

Tubuhku tidak tahu bahwa hari ini berbeda. Tubuhku hanya tahu jam empat tiga puluh adalah waktu untuk bangun, mengambil wudu, salat subuh, lalu memulai hari sebelum orang lain bangun. Di rumah Menteng, itu berarti mendorong motor pelan-pelan keluar pagar. Di rumah Ibu, itu berarti menimba air dari sumur kalau pompa listrik sedang malas.

Pagi ini, aku membuka mata, dan ada seseorang di bahuku.

Rambut panjang tersebar di atas bantal kapuk lamaku, di atas lenganku, di atas dadaku. Napas yang pelan dan teratur di leherku. Tangan kecil yang penuh bekas luka memudar, menggenggam kaus oblongku di bagian dada, seperti takut aku pergi dalam tidur.

Aku tidak bergerak.

Kamar masa kecilku dengan dinding papan dan poster tim sepak bola yang sudah menguning terasa seperti tempat yang sama sekali asing. Kasur yang terlalu kecil untuk dua orang. Jendela kecil di atas kasur, tempat semalam bulan sabit menggantung tipis di langit Klaten, sekarang menunjukkan langit yang mulai abu-abu kebiruan.

Dia tidur dengan mulut sedikit terbuka. Ada bekas lipatan sarung bantal di pipinya. Untaian melati dari sanggulnya semalam sudah layu dan jatuh di bantal, beberapa kelopaknya menempel di rambutnya.

Dia cantik. Cantik dengan cara yang tidak pernah kulihat sebelumnya, karena aku tidak pernah boleh melihatnya seperti ini. Bukan cantik di ballroom, bukan cantik di peron, bukan cantik di tikar pandan dengan kebaya putih gading. Cantik yang hanya ada di jam empat tiga puluh pagi, di kasur yang terlalu kecil, dengan melati layu di rambutnya. Cantik yang hanya milik kamar ini.

Azan subuh terdengar dari masjid desa.

Aku harus bangun. Aku harus mengambil wudu. Tapi tangannya menggenggam kausku, dan aku tidak tahu cara melepaskannya tanpa membangunkannya.

Aku menatapnya lama. Lalu aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan seumur hidup.

Aku membangunkannya.

“Luna,” bisikku. “Subuh.”

Matanya terbuka setengah. Dia menatapku dari jarak lima senti, bingung sebentar, seperti orang yang lupa di mana dia berada. Lalu dia ingat. Aku melihatnya ingat. Wajahnya berubah merah dari leher sampai ke telinga.

“Pagi,” bisiknya.

“Pagi.”

Dia tidak melepaskan kausku.

“Mas,” katanya, dengan suara serak bangun tidur.

Dia memanggilku Mas. Bukan kamu. Bukan Radit. Mas, dengan logat Jakarta yang masih sedikit kaku, seperti dia sudah berlatih di dalam kepala.

“Ya?”

“Kita salat bareng?”

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya mengangguk.

Kami salat subuh berjamaah di kamar masa kecilku, di atas dua sajadah yang digelar berdampingan di lantai papan yang dingin. Aku menjadi imam. Suaraku bergetar di surat Al-Fatihah, dan aku harus berhenti sebentar di ayat kelima, karena di belakangku ada seseorang yang mengucapkan amin dengan suara yang sangat pelan.

Masalahnya dimulai saat sarapan.

Dinding rumah Ibu terbuat dari papan kayu jati tua yang dipasang almarhum Bapak tiga puluh lima tahun lalu. Papannya kuat. Papannya awet. Papannya sama sekali tidak kedap suara.

Aku sudah tahu itu sejak kecil. Aku tahu Ibu menangis setiap malam selama setahun setelah Bapak meninggal, karena aku mendengarnya dari balik dinding. Aku tahu almarhumah Mbak Ningsih diam-diam menelepon pacarnya di malam hari, karena aku mendengar bisikannya. Aku tahu Tole mengigau soal layangan setiap malam Minggu.

Yang tidak kupikirkan semalam adalah bahwa semua orang di rumah ini juga bisa mendengar kamarku.

Ibu sudah di dapur ketika kami keluar dari kamar. Dia sedang menggoreng tempe bersama Mbok Darmi, yang menginap di kamar Ibu semalam. Dua perempuan tua itu berdiri berdampingan di depan kompor, punggung menghadap kami, dan berhenti bicara secara bersamaan ketika kami masuk.

“Pagi, Bu,” kataku.

“Pagi,” kata Ibu, tanpa menoleh.

“Pagi, Mbok,” kata Luna.

“Pagi, Mbak,” kata Mbok Darmi, tanpa menoleh.

Hening. Tempe mendesis di minyak panas.

Lalu Tole masuk ke dapur dengan rambut berdiri ke segala arah dan kaus kebesaran yang dipakai terbalik. Dia menatap kami berdua yang berdiri di ambang pintu dapur dengan wajah merah, lalu berkata dengan suara paling keras yang bisa dikeluarkan anak sembilan tahun di pagi hari:

“Om! Tadi malam Om sama Mbak Jakarta ngobrol apa? Tole dengar ketawa terus sampai jam satu!”

Tempe di wajan Ibu terlempar keluar.

Mbok Darmi tersedak udara.

Luna menutup wajahnya dengan dua tangan.

Ibu mematikan kompor. Dia berbalik dengan sutil di tangan, wajahnya tanpa ekspresi sama sekali. Dia menatap Tole lama.

“Le,” katanya dengan suara yang sangat tenang. “Ke warung Mbok Painem. Beli tempe.”

“Tempenya kan masih ada, Mbah—”

“Beli. Tempe. Sepuluh papan.”

“Sepuluh?”

“Dan terasi. Dan kerupuk. Jalan kaki. Jangan lari.” Ibu menyerahkan selembar uang dua puluh ribu. “Pelan-pelan. Lihat-lihat sawah dulu.”

Tole menatap uang itu. Menatap neneknya. Menatap kami. Wajahnya menunjukkan kecurigaan yang sangat dalam, tapi uang dua puluh ribu adalah uang dua puluh ribu, dan dia mengambilnya lalu berlari keluar, lupa larangan untuk tidak lari.

Ibu kembali ke kompor. Dia menyalakan apinya lagi. Dia mengambil tempe yang terlempar dari lantai, mencucinya, dan memasukkannya kembali ke wajan seolah tidak terjadi apa-apa.

Mbok Darmi masih membelakangi kami. Bahunya bergetar. Aku tidak tahu apakah dia tertawa atau menangis. Mungkin dua-duanya.

“Kami cuma ngobrol, Bu,” kataku. Suaraku keluar terlalu tinggi.

“Ibu nggak nanya, Le.”

“Soal... soal lagu Chrisye. Luna nggak tahu lagu Chrisye. Aku nyanyiin. Liriknya salah. Dia ketawa.”

Itu benar. Itu benar-benar terjadi, sekitar pukul dua belas, setelah lampu dimatikan dan sebelum kami tertidur. Kami berbaring dalam gelap dan bicara tentang hal-hal paling tidak penting di dunia. Lagu Chrisye. Ayam jago bernama Jago. Pak Slamet yang mabuk perjalanan. Kami tertawa sampai Luna harus menutup mulutnya dengan bantal.

Ibu menatapku dari balik bahunya. Lama. Lalu ada sesuatu yang bergerak di sudut bibirnya.

“Le,” katanya. “Kamu nggak pernah nyanyi Chrisye di rumah ini. Dua puluh tahun. Dulu bapakmu yang nyanyi Chrisye, liriknya juga salah, Ibu juga ketawa sampai jam satu.” Dia kembali ke wajannya. “Nggak apa-apa. Rumah ini sudah lama nggak ada yang ketawa jam satu malam.”

Mbok Darmi akhirnya berbalik. Matanya basah. Dia berjalan ke Luna dan memeluknya, tanpa berkata apa-apa, dengan sutil masih di tangan.

Sarapan pagi itu adalah sarapan paling canggung dan paling bahagia dalam hidupku.

Kami duduk di meja kayu kecil di dapur Ibu. Aku, Luna, Ibu, Mbok Darmi. Tole belum kembali dari warung Mbok Painem, dan aku curiga dia sengaja berjalan sangat pelan sesuai perintah. Nasi hangat, tempe goreng, sambal bawang, sayur bening.

Sambal bawangnya buatan Luna. Dia membuatnya kemarin sore, di tengah persiapan ijab ulang, karena Ibu menyuruhnya.

Ibu mencicipinya dengan sendok kecil. Seperti setiap pagi selama berminggu-minggu di teras.

Dia mengunyah. Wajahnya tanpa ekspresi.

Luna menunggu dengan napas tertahan. Aku menunggu. Mbok Darmi menunggu dengan sendok berhenti di udara.

“Pas,” kata Ibu.

Satu kata.

Luna menatap Ibu dengan mulut terbuka.

“Terasinya dibakar pas. Cabainya hancur rata. Garamnya cukup.” Ibu menyendok sambal lagi ke piringnya. “Akhirnya. Empat puluh tiga hari.”

“Ibu ngitung?” bisik Luna.

“Ibu ngitung.” Ibu tidak menatapnya. “Kayak kamu ngitung hari pakai kalender merah. Kamu pikir cuma kamu yang bisa ngitung?”

Luna menunduk ke piringnya. Aku melihat air mata jatuh di atas nasinya. Dia menyendok nasi itu dan memakannya bersama sambal yang akhirnya pas, sambil menangis dan tersenyum pada saat yang sama.

Pukul lima pagi tadi, sebelum subuh, elf sewaan paguyuban Meja 12 sudah berangkat kembali ke Jakarta. Aku mendengarnya dari kamar. Bunyi mesin diesel, klakson dua kali, dan suara Pak Udin berteriak sesuatu dalam bahasa Betawi yang tidak bisa kutangkap.

Ponselku penuh pesan ketika aku membukanya sesudah sarapan.

Pak Udin: Berangkat jam 5. Pak Slamet sudah minum antimo. Doakan.

Mas Jono: Mas, selamat. Saya nggak bisa tidur di teras, nyamuk Klaten galak. Tapi saya bahagia.

Pak Udin: Laporan perjalanan: Brebes. Pak Slamet muntah. Antimonya nggak mempan.

Pak Slamet: [pesan suara 0:58]

Pesan suara Pak Slamet berisi lima puluh delapan detik suara mesin elf, suara Pak Udin yang protes soal kecepatan, dan di detik terakhir, suara Pak Slamet yang lemah tapi sangat jelas:

“Mas Radit. Tadi malam saya lihat lampu kamar Mas mati jam sebelas. Saya cuma mau bilang, almarhum Bapak pasti lagi senyum. Sekian. Saya mau muntah lagi.”

Aku tertawa sampai harus meletakkan ponsel di meja.

Luna menatapku dari seberang meja dengan mata yang masih merah. “Kenapa?”

Aku memutar pesan suara itu untuknya. Dia mendengarkan, dan wajahnya berubah merah lagi, dan dia menutup wajahnya dengan dua tangan, dan Ibu yang mendengarnya dari kompor berkata dengan suara keras:

“Bilang ke Pak Slamet, lain kali jangan lihat-lihat lampu kamar orang!”

Siang itu, Mbok Darmi dan Ibu duduk di teras berdua, di depan mesin jahit, bertukar resep.

Mbok Darmi menuliskan resep garang asem rumah Menteng di buku tulis Tole. Ibu menuliskan resep sambal bawang dan sayur lodeh Klaten. Mereka berdebat soal belimbing wuluh, soal santan kemasan, soal apakah tempe bacem harus dimasak dengan gula Jawa atau gula pasir. Mereka berdebat seperti dua orang yang sudah berteman seumur hidup.

Luna dan aku duduk di bangku kayu di ujung teras. Bangku tempat dia pernah menunggu dua jam di bawah matahari.

Dia bersandar di bahuku. Pertama kalinya, di siang hari, di depan semua orang.

“Mas,” katanya.

“Hm.”

“Mbok bilang rumah Menteng sepi.”

Aku menatap Mbok Darmi yang sedang berdebat dengan Ibu soal gula Jawa.

“Mbok bilang kursi Kakek di meja makan masih kosong,” lanjut Luna. “Dan kamar tamu dekat dapur, kamar kamu dulu, Mbok nggak tahu harus diapain.”

“Diapain?”

Luna mengangkat kepalanya dari bahuku dan menatapku.

“Pulang sama aku?” tanyanya.

Kalimatku. Di teras kos Bu Darsih, tiga minggu lalu, dengan buku nikah di tangan.

Aku menatapnya. Lalu aku tersenyum.

“Lewat pintu depan,” kataku.

“Lewat pintu depan,” katanya.