Chapter Twenty Seven

Krama

POV: Kaluna

Guru bahasa Jawaku berumur sembilan tahun, giginya ompong dua, dan memungut biaya dua tempe goreng per pelajaran.

“Pertama,” kata Tole dengan wajah sangat serius, duduk bersila di lantai teras kos Bu Darsih dengan buku tulis bergaris di pangkuannya. “Mbak harus tahu bahasa Jawa ada tiga. Ngoko, krama madya, krama inggil.”

“Tiga?”

“Tiga. Ngoko buat teman. Krama buat orang tua. Krama inggil buat orang yang paling dihormati.” Tole menulis ketiga kata itu di buku tulisnya dengan huruf besar-besar. “Om Radit kalau ngomong sama Mbah pakai krama inggil. Tole kalau ngomong sama Mbah pakai krama. Tapi kadang-kadang ngoko kalau Mbah lagi nggak lihat.”

“Kenapa?”

“Soalnya krama susah.”

Aku menatap tiga kata di buku tulis itu. Aku sudah menjadi CEO perusahaan dengan aset triliunan rupiah, menguasai bahasa Inggris dengan nilai sempurna di ujian masuk Melbourne, dan bisa membaca laporan keuangan dalam tiga bahasa. Dan sekarang aku duduk di lantai teras kos, diajari oleh anak kelas tiga SD, dan aku tidak mengerti apa-apa.

“Contoh,” kata Tole. “Makan. Ngoko-nya mangan. Krama-nya nedha. Krama inggil-nya dhahar.”

“Tiga kata buat makan?”

“Iya. Kalau Mbak ngomong sama Mbah, Mbak bilang Mbah sampun dhahar? Artinya Mbah sudah makan?”

“Mbah sampun dhahar.”

“Bagus!” Tole bertepuk tangan. “Tapi kalau Mbak ngomong soal diri Mbak sendiri, Mbak nggak boleh pakai dhahar. Itu buat orang lain yang dihormati. Buat diri sendiri pakai nedha. Jadi kula sampun nedha. Saya sudah makan.”

“Kenapa nggak boleh pakai dhahar buat diri sendiri?”

Tole menatapku seperti menatap orang paling bodoh di dunia.

“Ya soalnya itu sombong, Mbak. Masa ngehormatin diri sendiri.”

Aku terdiam.

Masa ngehormatin diri sendiri.

Bahasa yang dia pakai untuk bicara dengan ibunya adalah bahasa yang dirancang supaya pembicaranya merendahkan diri sendiri dan meninggikan orang lain. Setiap kata kerja. Setiap kata ganti. Dia tidak perlu berusaha menempatkan ibunya di atas dirinya. Bahasanya sendiri sudah melakukannya.

Dan aku menertawakan bahasa itu, di carport rumah Tasya, di bawah hujan.

Pelajaran berlangsung setiap sore selama dua minggu, di teras kos, setelah Tole pulang sekolah.

Aku membuat kesalahan setiap hari. Kesalahan yang begitu sering dan begitu konyol sampai para mahasiswi kos mulai ikut duduk di teras, menonton, dengan camilan di tangan, seperti menonton acara komedi.

Hari ketiga, aku menyapa Bu Darsih dengan sugeng enjing, Mbah. Selamat pagi, Nenek. Bu Darsih, yang umurnya baru empat puluh delapan dan sangat bangga dengan rol rambutnya, menatapku dengan mata menyipit dan berkata dalam bahasa Indonesia yang sangat jelas: “Mbak, saya belum Mbah.”

Hari kelima, aku mencoba mengatakan saya mau tidur kepada Nisa, dan entah bagaimana yang keluar dari mulutku adalah kalimat yang membuat Nisa tersedak teh dan Tole berguling di lantai teras sambil memegangi perut. Aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya kukatakan. Tole menolak menerjemahkannya. Katanya nanti Mbak malu.

Hari ketujuh, aku membeli tempe di pasar dan berkata kepada ibu penjual tempe, dengan sangat bangga, Bu, kula badhe dhahar tempe. Ibu penjual tempe tertawa sampai menepuk-nepuk lapaknya, lalu mengoreksiku dengan lembut, nedha, Mbak, nedha, sanes dhahar, dan memberiku bonus satu papan tempe lagi.

Hari kesembilan, Pak Karyo di sekolah ikut memberi pelajaran. Dia mengajariku kalimat-kalimat yang menurutnya penting untuk diketahui istri seorang insinyur. Mas, sampun wayahe ngaso. Mas, sudah waktunya istirahat. Mas, ampun kesupen ngunjuk. Mas, jangan lupa minum.

“Itu buat kapan, Pak?”

“Buat nanti, Mbak,” kata Pak Karyo sambil tersenyum ke arah perancah. “Kalau Masnya sudah mau dengar.”

Di atas perancah, dia memaku reng dengan sangat keras.

Setiap pagi, pukul delapan, aku tetap ke teras Bu Sumarni.

Bu Sumarni tidak pernah menyambutku. Dia tidak pernah mempersilakanku masuk ke rumah. Aku datang dengan terasi bakar dari lapak Mbok Painem, duduk di bangku kayu, dan dia meletakkan cobek dan ulekan di meja kecil di depanku tanpa berkata apa-apa.

Sambal bawang. Setiap hari.

Hari kedua, keasinan. Hari ketiga, kurang pedas. Hari keempat, terlalu pedas sampai Bu Sumarni batuk. Hari kelima, terasinya gosong karena aku membakarnya terlalu lama di kompor kos. Hari keenam, aku menumpahkan setengahnya ke lantai teras karena cobeknya tergelincir, dan Jago si ayam jago langsung mematuknya, lalu lari terbirit-birit ke kebun belakang dengan suara yang sangat tidak bermartabat.

Hari ketujuh, gagal lagi. Bu Sumarni bilang tomatnya terlalu matang.

Setiap hari, Bu Sumarni mencicipi dengan sendok kecil, mengunyah dengan wajah tanpa ekspresi, dan memberikan satu kalimat penilaian. Lalu dia membawa cobek itu ke dalam rumah. Lalu dia berkata besok jam delapan.

Setiap hari, aku datang lagi.

Aku tidak tahu berapa hari yang dibutuhkan untuk membuat sambal bawang yang benar. Aku mulai curiga jawabannya tidak ada hubungannya dengan sambal.

Hari keempat belas, pukul delapan pagi, Bu Sumarni tidak ada di teras.

Mesin jahitnya tertutup kain penutup bermotif bunga. Kursi rotan kosong. Meja kecil di depan bangku kayu juga kosong, tanpa cobek, tanpa ulekan.

Aku berdiri di depan pagar bambu dengan terasi bakar di tangan, tidak tahu harus berbuat apa.

Lalu dari dalam rumah, dari arah belakang, terdengar bunyi wajan. Bunyi minyak panas. Wangi bawang goreng yang menyebar sampai ke teras.

Bu Sumarni sedang memasak.

Aku berdiri di depan pagar lama. Lima menit. Sepuluh menit. Aku tidak dipersilakan masuk. Aku tidak diusir. Pintu rumah terbuka, seperti setiap hari, tapi tidak ada yang memanggilku.

Lalu aku memutuskan sesuatu.

Aku membuka pagar bambu. Aku berjalan melewati teras, melewati mesin jahit yang tertutup, melewati ambang pintu yang selama dua minggu tidak pernah kulewati. Ruang tamu kecil dengan kursi kayu dan foto-foto di dinding. Foto pernikahan Bu Sumarni dengan laki-laki berkumis tipis yang tersenyum malu-malu. Foto anak laki-laki kecil dengan seragam SD. Foto remaja dengan toga wisuda, memakai batik cokelat tua bermotif parang kecil.

Aku berjalan ke dapur di belakang.

Dapurnya kecil dan gelap, dengan lantai semen, tungku kayu di satu sudut dan kompor gas satu tungku di sudut lain. Bu Sumarni berdiri di depan kompor gas, mengaduk sayur di wajan besar. Dia tidak menoleh ketika aku masuk.

Aku berdiri di ambang pintu dapur.

Aku sudah berlatih kalimat ini dua minggu. Dengan Tole di teras kos. Dengan Pak Karyo di bawah pohon ketapang. Sendirian di kamar mandi kos dengan gayung di tangan, sampai mahasiswi yang antre di luar bertanya apakah aku sedang berdoa. Aku menuliskannya di kertas dan menyimpannya di saku, dan aku membacanya ulang setiap malam sebelum tidur.

Aku menarik napas.

“Bu,” kataku. “Menapa kula saged ngrencangi?”

Bu, bolehkah saya membantu?

Sendok sayur di tangan Bu Sumarni berhenti.

Dia tidak menoleh. Tapi dia berhenti mengaduk. Uap naik dari wajan, membawa wangi santan dan daun salam.

Aku tidak menunggu jawaban. Aku melanjutkan, dengan suara yang bergetar, dengan pengucapan yang pasti masih salah di beberapa tempat, dengan logat Jakarta yang tidak bisa sepenuhnya kuhilangkan.

“Kula nyuwun pangapunten, Bu.”

Saya mohon maaf, Bu.

“Kula sampun damel putra Ibu sakit manah.”

Saya sudah membuat putra Ibu sakit hati.

“Kula mboten saged mbalekaken menapa ingkang sampun kula tindakaken. Nanging kula badhe sinau. Sedaya. Ngantos Ibu kersa.”

Saya tidak bisa mengembalikan apa yang sudah saya lakukan. Tapi saya mau belajar. Semuanya. Sampai Ibu berkenan.

Dapur itu sunyi. Hanya ada bunyi sayur yang mendidih pelan di wajan, dan ayam yang berkotek di kebun belakang, dan napasku sendiri yang terlalu keras.

Bu Sumarni meletakkan sendok sayur di atas tutup wajan. Pelan. Dia mematikan kompor.

Lalu dia berbalik.

Matanya basah. Bibirnya terkatup rapat, bergetar, seperti seseorang yang berusaha sangat keras menahan sesuatu.

Dia menatapku lama. Menatap tanganku yang penuh luka kecil. Menatap kertas yang mencuat dari saku celanaku, kertas berisi kalimat yang kuhafal dua minggu.

“Pangapunten-nya salah,” katanya akhirnya. Suaranya serak. “Huruf ng-nya kurang. Kamu bilang kayak orang Jakarta.”

“Nggih, Bu.”

“Sakit manah juga. Itu kurang halus. Mestinya sakit penggalih. Buat orang yang dihormati.”

“Nggih, Bu. Kula lepat.”

Bu Sumarni menekan ujung kerudungnya ke mata. Lama. Lalu dia menurunkan tangannya, mengambil sebuah talenan kayu dan pisau dari rak, dan meletakkannya di meja dapur di sebelahnya.

“Kupas bawang merah,” katanya. “Sepuluh siung. Iris tipis. Jangan sampai jarimu kena lagi, tanganmu sudah kayak tangan tukang.”

Aku berjalan ke meja dapur. Aku berdiri di sebelahnya. Untuk pertama kalinya, di sebelahnya, bukan di seberang mesin jahit, bukan di bangku kayu di teras.

Aku mengupas bawang merah. Tanganku gemetar. Mataku perih karena bawang dan karena hal lain.

Bu Sumarni kembali mengaduk sayur. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Tapi setelah lima menit, tanpa menoleh, dia menyenggol bahuku dengan bahunya, sangat pelan, dan menunjuk irisan bawangku dengan ujung sendok sayur.

“Terlalu tebal,” katanya. “Tipis. Kayak gini.”

Dia mengambil satu siung bawang dan mengirisnya di depanku, setipis kertas, dengan kecepatan yang membuatku takut jarinya akan teriris.

Lalu dia menyerahkan pisaunya kembali kepadaku.

Ketika aku menoleh ke ambang pintu dapur, aku melihat bayangan seseorang di sana. Tinggi. Bahu lebar. Kaus abu-abu lusuh dan topi kain yang sudah pudar.

Dia berdiri di ambang pintu dengan tangan menggenggam kusen, menatap kami berdua di depan kompor. Wajahnya setengah tertutup bayangan, dan aku tidak bisa membaca ekspresinya.

Lalu dia berbalik dan pergi tanpa suara.

Bu Sumarni tidak menoleh. Tapi dia tersenyum ke wajannya. Senyum kecil, sangat tipis, yang hilang dalam satu detik.

“Terlalu tebal lagi,” katanya. “Ulangi.”