Chapter Ten
Mbok Salah Masak
POV: Kaluna
Aku baru menyadari polanya setelah garang asem yang keempat.
Aku seharusnya menyadarinya lebih cepat. Aku orang yang menghabiskan hari-harinya membaca angka, mencari pola di laporan keuangan, menemukan anomali di tabel. Tapi butuh empat mangkuk garang asem, dua piring tempe bacem, tiga mangkuk sayur lodeh, dan satu kali opor ayam yang muncul di hari Selasa biasa tanpa ada Lebaran, sebelum aku mengambil buku catatan dan menuliskannya.
Garang asem — pagi setelah carport (mobil Kakek).
Tempe bacem — malam setelah aku bilang ke Tasya di telepon, keras-keras di ruang tengah, bahwa “orang di kamar belakang itu cuma numpang.”
Sayur lodeh — malam setelah aku nyuruh dia pindahin motornya dari carport karena “merusak pemandangan.”
Opor ayam — malam setelah aku nggak balas salamnya tiga hari berturut-turut.
Aku menatap daftar itu. Aku ingat malam pertama aku melihatnya makan di meja kecil dekat kompor. Sayur lodeh dan tempe bacem. Dia makan dengan pelan, dengan mata yang sedikit terpejam di suapan pertama, seperti orang yang sedang mengingat rumah.
Aku menutup buku catatan dan berjalan ke dapur.
Mbok Darmi sedang mengulek sambal di cobek batu. Dia tidak menoleh ketika aku masuk.
“Mbok.”
“Dalem, Mbak.”
“Garang asem. Tempe bacem. Sayur lodeh. Opor.”
Ulekan Mbok Darmi berhenti sesaat, lalu jalan lagi. Pelan dan teratur. Tok. Tok. Tok.
“Itu semua masakan kesukaan dia, kan?”
“Kesukaan siapa, Mbak?”
“Mbok tahu siapa.”
Mbok Darmi meletakkan ulekan di cobek dan akhirnya menoleh. Wajahnya polos sekali, sepolos wajah seorang perempuan enam puluh tahun yang sudah membesarkanku sejak bayi dan tahu persis bagaimana membuatku kalah dalam perdebatan.
“Mbok sudah tua, Mbak,” katanya. “Suka salah masak. Kemarin Mbok mau masak sop buntut, tahu-tahu jadi opor. Mbok juga bingung.”
“Mbok sengaja.”
“Masa Mbok sengaja salah, Mbak? Mbok kan dibayar buat masak yang bener.”
“Mbok.”
Mbok Darmi mengambil ulekan lagi dan melanjutkan mengulek, kali ini sedikit lebih keras. Tok. Tok. Tok.
“Mbak,” katanya tanpa menoleh. “Kalau Mbak nggak mau Mbok salah masak, Mbak jangan bikin Mbok bingung. Mbok bingungnya kalau Mbak lagi nggak baik sama orang. Kalau Mbak baik, Mbok nggak bingung. Masaknya bener.”
Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.
“Ini sambal buat apa?” tanyaku akhirnya, karena aku tidak punya argumen lain.
“Buat lalapan, Mbak. Mbok mau masak ayam goreng sama lalapan.” Mbok Darmi tersenyum tipis ke cobek. “Malam ini Mbok nggak bingung. Mbak dari kemarin belum ngapa-ngapain orang.”
Malam itu, Mbok Darmi tidak memasak ayam goreng dan lalapan.
Pukul sepuluh malam, aku sedang di ruang kerja di lantai atas, membaca draf laporan direksi tentang proyek Kemang, ketika aku mendengar suara dari dapur. Bunyi sesuatu jatuh. Bunyi panci menghantam lantai. Lalu suaranya, laki-laki di kamar belakang, memanggil nama Mbok Darmi dengan nada yang belum pernah kudengar darinya.
Panik.
Aku turun tangga dua anak tangga sekaligus.
Mbok Darmi terduduk di lantai dapur, bersandar ke lemari bawah, dengan wajah pucat dan mata setengah terpejam. Panci sayur bayam tumpah di sebelahnya, kuahnya menggenang di lantai keramik. Dia berlutut di depan Mbok Darmi, satu tangan di dahinya, satu tangan menopang punggungnya.
“Panas banget,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri. “Mbok. Mbok, dengar saya?”
“Nggak apa-apa, Mas,” gumam Mbok Darmi. “Cuma pusing.”
“Sudah berapa hari Mbok pusing?”
“Seminggu...”
Dia menoleh. Menatapku yang berdiri di ambang pintu dapur dengan piyama dan rambut berantakan.
“Mbak, tolong ambilin tas Mbok Darmi di kamarnya. Dompet sama KTP. Saya pesan taksi.”
Aku tidak berpikir. Aku tidak berdebat. Aku berlari ke kamar Mbok Darmi, mengambil tas kain lusuh di gantungan, dan kembali. Dia sudah memapah Mbok Darmi ke ruang depan, satu lengan Mbok Darmi melingkar di bahunya.
“Pakai mobil,” kataku. “Mobil Kakek. Lebih cepat dari taksi.”
Dia menatapku sesaat.
“Mbak bilang jangan sentuh mobil Bapak.”
“Ini darurat!”
“Saya sudah pesan taksi. Lima menit.” Dia menyesuaikan pegangannya di pinggang Mbok Darmi. “Mbak di rumah aja. Besok Mbak ada rapat direksi soal Kemang. Biar saya yang urus.”
Taksinya datang empat menit kemudian. Dia membantu Mbok Darmi masuk ke kursi belakang, duduk di sebelahnya, dan menutup pintu.
Aku berdiri di pagar dengan piyama, menatap lampu belakang taksi itu menghilang di ujung jalan, dan untuk pertama kalinya sejak akad, aku tidak tahu harus merasakan apa.
Diagnosisnya tifus. Mbok Darmi dirawat empat hari di rumah sakit di Salemba.
Aku tidak sempat menjenguk di hari pertama dan kedua. Rapat direksi soal Kemang berlangsung sampai malam. Setengah direksi marah karena kerugian enam puluh miliar, setengahnya lagi lega karena gedung itu tidak akan runtuh di atas kepala empat ratus keluarga. Seseorang bertanya siapa yang menemukan masalah itu, dan Bu Ratih menjawab konsultan independen dengan suara yang terlalu datar.
Hari ketiga, aku menjenguk.
Mbok Darmi sudah duduk di ranjang, wajahnya sudah tidak pucat, sedang memarahi seorang perawat muda karena bubur rumah sakit nggak ada rasanya, kayak makan kertas. Begitu melihatku, matanya berbinar.
“Mbak Luna!”
Aku duduk di sebelahnya dan memeluknya. Dia mengusap punggungku seperti biasa.
“Mbak sudah makan?”
“Mbok yang sakit, kok Mbok yang nanya aku sudah makan?”
“Kebiasaan,” katanya, lalu tertawa.
Sebelum pulang, aku mampir ke bagian administrasi untuk membayar biaya perawatan. Kakek selalu menanggung biaya kesehatan Mbok Darmi, dan sekarang itu tanggung jawabku.
“Untuk pasien atas nama Sudarmi, kamar 304,” kataku kepada petugas.
Petugas itu mengetik di komputer, lalu menatapku dengan senyum ramah.
“Sudah lunas, Bu. Deposit dan biaya tiga hari sudah dibayar. Sisanya nanti waktu pasien pulang, tapi penanggung jawabnya sudah setuju menanggung.”
“Siapa yang bayar?”
Petugas itu membaca layar. “Atas nama keluarga Ibu Kaluna Adisurya, Bu. Tertulis begitu di formulir penanggung jawab.”
“Saya nggak bayar apa-apa.”
Petugas itu mengerutkan dahi dan mengetik lagi. Lalu dia mencetak sesuatu dan menyodorkannya kepadaku. Kuitansi deposit.
Di bagian Nama Penanggung Jawab: Kaluna Adisurya (diwakili).
Di bagian Metode Pembayaran: Transfer bank.
Di bagian Rekening Pengirim: R. PRASETYA.
Aku menatap kuitansi itu.
Deposit tiga juta rupiah. Ditambah biaya kamar tiga hari. Ditambah obat-obatan. Aku tidak pernah melihat slip gajinya. Tapi aku tahu dia bekerja di kantor konsultan kecil di Tebet. Aku tahu dia naik motor ke mana-mana. Aku tahu dia hanya punya dua tas ketika pindah ke rumah ini.
Dan dia membayar biaya rumah sakit Mbok Darmi dengan uangnya sendiri, atas namaku.
Aku berjalan kembali ke lorong lantai tiga dengan kuitansi di tangan, berniat menanyakannya kepada Mbok Darmi. Lalu aku berhenti di belokan lorong.
Dia ada di depan kamar 304.
Masih memakai kemeja kerja yang kusut, dengan tas ransel di punggung dan kantong plastik di tangan. Bubur ayam dari gerobak di depan rumah sakit, aku bisa melihat stiker warungnya dari sini. Bubur yang ada rasanya, bukan bubur kertas. Dia mengetuk pintu, menunggu suara Mbok Darmi, lalu masuk.
Aku mundur ke balik pilar sebelum dia sempat menoleh.
Dari celah pintu, aku mendengar Mbok Darmi tertawa. “Mas, ini baru bubur.”
Aku pergi sebelum dia keluar lagi.
Malam itu, Sekar datang ke rumah dengan martabak manis dan tatapan seorang detektif.
Aku menunjukkan kuitansi itu kepadanya di sofa ruang tengah. Sekar membacanya dua kali. Lalu dia meletakkannya di meja, mengambil sepotong martabak, dan mengunyahnya dengan sangat pelan, seperti orang yang sedang menyusun argumen.
“Lun,” katanya akhirnya. “Aku mau nanya satu hal, dan kamu jawab jujur.”
“Apa?”
“Kamu pernah dengar ada orang matre bayarin biaya rumah sakit pembantu orang lain? Pakai uangnya sendiri? Atas nama orang yang benci dia?”
Aku tidak menjawab.
“Orang matre,” lanjut Sekar, “biasanya nyari cara biar uang keluar dari kantong kamu. Bukan dari kantong dia sendiri. Ini kebalik, Lun. Ini kebalik total.”
“Mungkin dia mau cari muka.”
“Cari muka ke siapa? Kamu nggak tahu dia yang bayar. Kalau aku nggak salah baca, dia sengaja nulis nama kamu supaya kamu nggak tahu.” Sekar menunjuk kuitansi itu dengan potongan martabak. “Orang cari muka itu pengin dilihat. Ini orang yang pengin nggak dilihat.”
Aku menatap kuitansi itu lagi. R. PRASETYA. Huruf kapital, dicetak printer rumah sakit yang tintanya sudah mulai pudar.
“Lun,” kata Sekar, lebih pelan. “Kamu yakin dia jahat?”
Itu pertanyaan yang sama yang dia ajukan di malam akad. Waktu itu aku menjawab dengan yakin. Waktu itu aku punya semua jawaban: rumah sakit, Melbourne, wasiat, bunga dari orang yang sudah mati.
Malam ini, dengan kuitansi rumah sakit di meja dan martabak yang mulai dingin, aku tidak menjawab sama sekali.
Mbok Darmi pulang di hari kelima.
Aku yang menjemputnya, dengan mobil Kakek, disetir Pak Slamet. Mbok Darmi duduk di kursi belakang di sebelahku, memegang tanganku, menatap jalan dengan wajah lega.
“Mbak,” katanya ketika kami sampai di carport. “Mas Radit nungguin Mbok tiga malam di rumah sakit. Tidur di kursi plastik. Pagi berangkat kerja, malam balik lagi.”
Aku tidak menjawab.
“Mbok cuma cerita,” kata Mbok Darmi. “Soalnya Mbak nggak nanya.”
Malam itu, Mbok Darmi sudah kembali ke dapur, meskipun dokter menyuruhnya istirahat seminggu. Dia memasak makan malam dengan gerakan yang lebih pelan dari biasanya.
Ayam goreng dan lalapan, dengan sambal terasi yang diuleknya sendiri.
Aku menatap piring itu lama. Bukan garang asem. Bukan tempe bacem. Bukan opor.
Mbok tidak salah masak malam ini.
Aku tidak tahu kenapa itu membuatku ingin menangis.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak reading
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu