Chapter Thirteen
Tangga Perancah
POV: Kaluna
Proyek pertama yang kukunjungi setelah keluar dari rumah sakit adalah Griya Adisurya tahap tujuh di Bekasi.
Bukan proyek besar. Seratus dua puluh rumah tipe 45, satu clubhouse, satu masjid kecil, dan jalan lingkungan yang masih berupa tanah merah. Tapi letaknya hanya dua kilometer dari proyek pertama yang dibangun Kakek empat puluh tahun lalu, rumah tipe 36 yang kusebut di pidato gala dan tidak sanggup kuselesaikan. Kakek selalu mengunjungi Griya Adisurya setiap bulan, tanpa pemberitahuan, dengan kemeja lengan pendek dan sandal jepit, dan duduk di warung kopi dekat gerbang proyek bersama para tukang.
Aku tidak memakai sandal jepit. Aku memakai sepatu proyek yang kubeli kemarin, celana kargo, dan kemeja putih lengan panjang. Bu Ratih menatap sepatuku tadi pagi dan berkata datar, “Itu sepatu yang Ibu beli di mall, ya? Masih ada label harganya di tumit.”
Aku mencabut labelnya di mobil.
Pak Karto menyambutku di gerbang proyek.
Dia mandor paling tua di Adisurya Group, sudah bekerja dengan Kakek sejak proyek pertama. Rambutnya sudah putih semua, kulitnya cokelat gelap dan berkerut seperti tanah kering, dan dia memelukku tanpa ragu di depan semua orang, seperti memeluk cucunya sendiri.
“Mbak Luna. Ya Allah. Sudah sehat?”
“Sudah, Pak.”
“Kurus.” Dia menatapku dari atas sampai bawah dengan wajah tidak setuju. “Kurus banget. Bapak dulu kalau lihat Mbak kurus pasti marah sama Mbok Darmi.”
“Mbok Darmi sudah berusaha, Pak.”
“Saya tahu. Mbok Darmi ngirim pesan ke grup.” Pak Karto tersenyum lebar. “Grup Mandor Lama Adisurya. Mbok Darmi anggota kehormatan.”
Aku tidak tahu ada berapa grup WhatsApp di dunia ini yang membicarakanku tanpa sepengetahuanku. Aku mulai curiga jumlahnya lebih banyak daripada grup yang membicarakan saham perusahaan.
Pak Karto mengajakku berkeliling. Rumah-rumah contoh yang sudah jadi. Deretan pondasi yang baru dicor. Masjid kecil yang kubahnya masih berupa rangka besi. Dan di ujung, clubhouse, bangunan dua lantai dengan atap baja ringan yang sedang dipasang, dikelilingi perancah bambu dan besi.
Dan di bawah perancah itu, dengan helm proyek oranye dan gulungan gambar kerja di tangan, berdiri laki-laki yang tidur di kamar belakang rumahku.
Aku berhenti berjalan.
“Itu Mas Radit,” kata Pak Karto dengan nada bangga, seolah memperkenalkan anaknya sendiri. “Konsultan strukturnya. Kantornya dapat tender review clubhouse ini bulan lalu. Pinter, Mbak. Teliti. Kemarin dia nemu kesalahan di sambungan rangka atap yang kontraktor nggak lihat.”
“Saya tahu siapa dia, Pak.”
Pak Karto melirikku. Sesuatu di wajahnya berubah sedikit. Dia tidak bertanya. Dia malah berkata dengan suara lebih pelan:
“Mbak tahu dia anaknya siapa?”
Aku diam.
“Almarhum Darno,” kata Pak Karto. “Tukang batu kita dulu. Waktu proyek pertama, di Bekasi sana. Darno yang pasang bata di rumah contoh pertama yang Bapak bangun. Rapi banget pasangannya, Mbak, lurus kayak penggaris. Bapak sampai nyuruh semua tukang belajar dari Darno.”
Aku tidak tahu itu. Aku tidak tahu apa pun tentang keluarganya selain bahwa ibunya penjahit di Klaten dan bahwa dia penerima beasiswa yayasan Kakek.
“Darno meninggal jatuh dari perancah,” lanjut Pak Karto, lebih pelan lagi. “Proyek di Solo. Bukan proyek Adisurya. Radit masih SMP. Bapak dengar kabarnya, terus Bapak sendiri yang datang ke Klaten. Bapak yang bayarin sekolah Radit sampai lulus kuliah.”
Aku menatap laki-laki di bawah perancah itu. Dia sedang menunjuk sesuatu di gambar kerja kepada seorang tukang muda, dengan sabar, satu tangan memegang gulungan kertas, satu tangan menunjuk ke rangka atap di atas.
Jatuh dari perancah.
Dan dia berdiri di bawah perancah setiap hari, untuk pekerjaannya.
Aku memutuskan untuk melihat rangka atap itu sendiri.
Pak Karto mencoba mencegah. Katanya tangga perancahnya licin karena hujan semalam. Katanya clubhouse itu bukan bagian prioritas kunjungan. Katanya Mbak baru keluar dari rumah sakit.
Aku tidak mendengarkan. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku ingin membuktikan sesuatu kepada diriku sendiri. Mungkin karena aku tidak mau terlihat seperti CEO yang hanya berani berdiri di tanah datar. Mungkin karena dia ada di sana, di bawah perancah, dan aku tidak mau dia melihatku ragu.
Aku memanjat.
Tangga perancah itu terbuat dari papan kayu yang diikat ke rangka besi dengan kawat. Papannya basah. Aku naik satu demi satu, berpegangan pada pipa besi di samping, dengan sepatu proyek yang solnya masih terlalu baru dan terlalu licin.
Di papan kelima, aku menoleh ke bawah.
Itu kesalahan pertama.
Kesalahan kedua adalah melepas pegangan satu tangan untuk membetulkan helm yang miring.
Kakiku tergelincir.
Aku tidak sempat berteriak. Satu detik aku berdiri di papan kelima, detik berikutnya kakiku sudah tidak menapak apa pun dan tubuhku condong ke belakang, ke udara, ke tanah merah tiga meter di bawah.
Lalu sesuatu menangkapku.
Lengan. Lengan yang melingkar di pinggangku dari belakang, kuat dan tiba-tiba, menahan seluruh berat tubuhku. Aku merasakan tubuhnya menghantam rangka perancah di belakangnya. Aku mendengar bunyi besi berderit. Aku mendengar dia mendesis, pendek, seperti menahan sakit.
Lalu kami berhenti.
Aku masih di papan kelima. Atau lebih tepatnya, aku menempel di dadanya, dan dia berdiri di papan keempat dengan satu lengan melingkar di pinggangku dan tangan yang lain mencengkeram pipa besi perancah di sampingnya. Dia pasti naik di belakangku. Dia pasti naik ketika aku mulai memanjat, karena dia tahu papannya licin.
Napasnya berat di dekat telingaku.
Aku bisa merasakan jantungnya. Berdetak keras dan cepat, menghantam punggungku lewat kemeja kami yang tipis. Aku bisa mencium wanginya. Bukan parfum. Keringat, debu semen, dan sesuatu yang bersih dan hangat di bawahnya, seperti kain yang baru dijemur di bawah matahari.
Dan untuk satu detik, satu detik yang sangat panjang, aku tidak ingin bergerak.
Aku tidak ingin dia melepaskanku. Aku ingin tetap di sana, di papan perancah yang basah, dengan lengannya di pinggangku dan jantungnya di punggungku, dan aku tidak tahu dari mana keinginan itu datang, dan aku sangat, sangat takut padanya.
“Mbak,” katanya. Suaranya parau di dekat telingaku. “Pegang pipanya. Pelan-pelan.”
Aku memegang pipa. Dia melepaskan lengannya dari pinggangku, pelan, memastikan aku sudah berpijak dengan benar. Lalu dia turun satu papan, lalu satu lagi, dan menunggu di bawahku.
Aku turun dengan tangan gemetar.
Ketika kakiku menyentuh tanah merah, aku berbalik.
Belasan tukang berdiri di sekitar perancah, menatap kami. Pak Karto berdiri dengan wajah pucat dan tangan di dada. Seorang tukang muda menjatuhkan ember semennya.
Dan semua yang kurasakan di papan perancah tadi, satu detik yang sangat panjang itu, berubah menjadi sesuatu yang lain. Panas. Malu. Takut. Marah kepada diriku sendiri karena tidak ingin bergerak.
“Jangan pernah sentuh aku lagi,” kataku.
Keras. Di depan semua orang.
Dia menatapku. Helmnya miring. Ada debu semen di pipinya. Napasnya masih berat.
“Nggak akan, Mbak,” katanya pelan. “Kecuali Mbak jatuh.”
Dia berbalik dan berjalan kembali ke tempat gulungan gambar kerjanya tergeletak di tanah, memungutnya, dan melanjutkan pekerjaannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada tukang yang bicara. Pak Karto menatapku dengan mata yang membuatku ingin menghilang ke dalam tanah merah.
Sebelum aku masuk ke mobil, Pak Karto menyusulku ke gerbang proyek.
Dia berdiri di samping pintu mobil dengan helm di tangan, meremasnya, seperti Pak Udin di parkiran basement waktu itu. Matanya tidak menatapku. Matanya menatap tanah merah di bawah sepatu proyekku yang baru.
“Mbak Luna,” katanya pelan. “Maaf, Pak Karto lancang.”
“Kenapa, Pak?”
“Almarhum Bapak dulu pernah bilang ke semua tukang di proyek pertama.” Pak Karto mengangkat wajahnya. “Kalau ada yang nangkep kita waktu jatuh, jangan dibentak. Soalnya orang yang nangkep itu juga bisa ikut jatuh.”
Dia membungkuk sedikit, memakai helmnya kembali, dan berjalan pergi sebelum aku sempat menjawab.
Di mobil, perjalanan pulang, Pak Udin tidak menyalakan radio.
Biasanya Pak Udin selalu menyalakan radio dangdut dengan volume pelan. Hari itu mobil sunyi sampai tol Bekasi Barat.
“Pak Udin.”
“Nggih, Bu.”
“Bapak lihat tadi?”
“Lihat, Bu.”
Aku menunggu dia mengatakan sesuatu. Dia tidak mengatakan apa pun selama dua kilometer.
Lalu, di gerbang tol, sambil menempelkan kartu ke mesin, dia berkata dengan suara datar yang tidak seperti biasanya:
“Tangannya Mas Radit berdarah, Bu. Telapak kanan. Nyangkut kawat perancah waktu nahan Ibu. Pak Karto yang bersihin pakai air mineral. Mas Radit bilang jangan kasih tahu Ibu.”
Aku menatap tengkuk Pak Udin.
“Saya kasih tahu,” lanjut Pak Udin. “Saya sudah capek nggak kasih tahu.”
Mobil melaju. Aku menatap telapak tanganku sendiri. Tidak ada luka. Tidak ada goresan. Tidak ada apa-apa.
Malam itu, dari jendela kamarku, aku melihatnya di teras belakang di bawah lampu kecil, duduk di bangku kayu dengan kotak P3K Mbok Darmi di pangkuannya. Dia sedang membalut telapak tangan kanannya sendiri dengan perban, menggunakan tangan kiri dan giginya untuk menarik ujung perban.
Dia melakukannya dengan sangat terampil. Seperti orang yang sudah terbiasa mengobati lukanya sendiri.
Aku menutup gorden sebelum dia sempat mendongak.
Aku duduk di tepi kasur, dan untuk pertama kalinya sejak Melbourne, aku membenci diriku sendiri lebih dari aku membencinya.
Lalu aku mengambil spidol merah dan mencoret angka di kalender, menekannya terlalu keras, karena membenci diriku sendiri terasa jauh lebih menakutkan daripada membencinya.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah reading
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu